
"Maaf saya sedang menunggu seseorang" Ucap pria tampan yang mengenakan kemeja berwarna hitam itu.
Arga melanjutkan kembali menenggak segelas es jeruk yang tadi ia pesan. Sementara 2 orang karyawati yang menyapanya itu duduk di meja yang tak jau darinya, kedua wanita itu terus mengamati Arga.
Tak berselang lama Sesosok wanita tinggi, yang mengenakan jilbab berwarna hitam dan blazer berwarna senada itu, membalas lambaian tangan Arga.
Dia menghampiri Arga.
"Maaf mas, lama menunggu !" ucap Cantik seraya mendudukkan tubuhnya di kursi yang berlawanan dengan Arga.
Sontak mata kedua orang tadi terbelalak melihat pemandangan itu.
"Oh, anak baru itu, pantas saja baru masuk baru masuk sudah dapat posisi yang bagus, ternyata dekengan nya Pak Arga."
Ucap salah satu dari mereka.
"Iya, aku kira hanya pak Rama, taunya Pak Arga juga, manggilnya Mas lagi, Seneng ya bisa dikelilingi pria setampan mereka"
"Pulang yu ahh ! gerah nih duduk di sini"
Mereka pergi meninggalkan Arga dan Cantik.
"Kita ngobrol disini atau di luar saja mas?"
"Kita keluar saja"
"Ayo"
Mereka berdua pergi menuju sebuah restoran cepat saji yang jaraknya tak terlalu jauh dari sana.
Sebelumnya Cantik memberi tahu Rama bahwa dia tak akan pulang pulang bersamanya. Dia berkata bahwa dia akan pergi bersama Arga.
Rama tentu saja mengizinkan, dia sangat senang jika Cantik dekat dengan lelaki sebaik Arga.
Arga berusaha mencairkan suasana yang nampak tegang antara dirinya dan Cantik.
"Kamu kenapa tak bilang padaku kalau kamu kerja di sana?"
"Belum sempat mas"
"Belum sempat atau sengaja?"
"Dua-duanya kayanya, hehe"
__ADS_1
Arga mengulum senyum di bibirnya.
"Sepertinya kita berjodoh, lihat pakaian kita warnanya sama"
Cantik tersenyum.
"Kebetulan mas, oh iya, apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Kita makan saja dulu, kamu pasti belum makan kan?"
"Iya, aku lapar" Cantik memegang perutnya, benar saja karena terlalu sibuk bekerja, siang tadi dia sampai tak sempat makan siang.
"Mau makan apa?" Arga menyodorkan menu kepadanya.
"Aku mau makan ayam goeng om" Gelak tawa pun terjadi saat cantik menirukan suara Kay, yang kalau makan selalu ingin makan ayam goreng.
"Aku jadi kangen sama anak itu" Ucap pria itu.
"Iya, apa lagi aku maminya?" Wajah yang sedari tadi tertawa lepas itu, berubah sedikit sendu mengingat anaknya.
Arga memesan 2 porsi ayam goreng paket lengkap plus minuman soda berwarna cokelat.
Setelah semua makanan itu tandas tak tersisa. Arga mulai berani mengungkapkan apa yang ia pendam selama ini.
"Kita sudah lumayan lama saling kenal, kamu pasti tau kan bagai mana perasaanku padamu?"
Cantik hanya mengangguk, dia menunduk, dia sama sekali tak berani menatap bola mata biru itu.
"Sejak pertama kali bertemu, aku sudah mengagumimu, aku kagum padamu, wanita tangguh yang sanggup membesarkan anak seorang diri. tak hanya itu, setiap hari, setiap malam yang ada di kepalaku itu kamu, aku menyayangimu Cantik, bukan hanya kamu tapi Kay juga"
Ada air yang menggenang di pelupuk mata wanita itu, mendengar ungkapan Arga. Dia bingung harus bagaimana, perasaan nya saat ini sama sekali belum bisa menerima seseorang, hatinya masih terisi penuh dengan ayahnya Kay.
"Lihat aku..!" Arga mendongakkan wajah Cantik, dia usap air mata yang menetes di pipi wanita itu.
"Aku tau, kamu masih menyimpan luka yang begitu dalam di hatimu, aku juga tau kamu masih belum bisa menerima siapapun untuk masuk kedalam hatimu. Tapi izinkan aku untuk mencoba mengobatinya, izinkan aku untuk lebih dekat dengan mu!"
Air mata wanita itu jatuh tak tertahankan, dia merasa bahwa dirinya sangat bodoh, masih terus berharap pada Arief yang tak peduli padanya, bahkan ia tak tau dimana keberadaanya saat ini.
Padahal didepannya saat ini ada lelaki yang tulus menyayanginya, bukan hanya padanya tapi pada anaknya juga.
Arga memutar tubuhnya, dia duduk di samping wanita itu, dia kembali mengusap air mata Cantik dengan tisu.
"Aku mengerti perasaanmu cantik, aku masih bisa menunggu, jika kamu masih belum siap untuk menerimaku, bahkan jika kamu menolak ku sekalipun, aku takkan merubah perasaanku padamu ataupun Kay"
__ADS_1
Cantik memberanikan diri menatap hezel biru itu, terlihat jelas di mata pria itu, ada ketulusan yang dalam darinya, ada rasa cinta juga yang dalam untuk nya.
"Aku bingung mas, saat ini jujur saja aku masih merasakan trauma untuk menjalin hubungan lagi, aku takut"
"Kamu tak perlu takut, aku tak akan meninggalkan kamu dan kay apapun yang terjadi"
Cantik sungguh bingung harus bagai mana ia saat ini, menerima Arga dan mencoba membuka hatinya untuk Arga, Atau menolak Arga, tapi jika ia menolak nya, ia sungguh tidak tahu diri mengingat kebaikan nya selama ini pada nya dan juga pada Kay.
Walau Arga yang menabrak Kay, saat itu, tapi Arga juga yang mendonorkan darahnya pada Kay, sehingga Kay bisa selamat dan sehat sampai saat ini.
"Aku akan mencoba membuka hatiku untukmu mas, kita coba untuk dekat satu sama lain" Ucapnya sambil tersenyum.
"Benarkah, jadi sekarang kita?"
"Iya, tapi jangan terburu-buru mengajakku menikah, aku masih belum siap"
"Iya, aku akan menunggu kamu sampai kapanpun" Arga begitu bahagia mendengar jawaban ibu dari satu anak itu. Dia bahkan merangkul tubuh Cantik masuk kedalam dekapannya.
Cantik tak tahu, keputusannya itu benar atau salah, dia hanya tak mau menyakiti hati pria baik itu, biarkan saja waktu berjalan pada ritme nya sendiri, biarkan hati nya perlahan menerima kehadiran Arga.
Arga membungkus beberapa porsi Ayam goreng untuk di bawa pulang ke rumah Cantik, tentu Kay akan sangat senang mendapatkan ayam goreng kesukaannya itu, apa lagi yang membawanya papi Arga, papi palsu nya Kay, atau bisa di bilang papi on the way nya Kay.
Mereka berdua keluar bersamaan, tangan kanan Arga memegang tangan Cantik, sementara tangan kirinya memegang bungkusan berwarna putih yang berisikan Ayam goreng krispi.
Mereka berjalan menuju motor Arga, Kali ini dia tak membawa motor sport yang biasanya, saat ini dia membawa motor gede milik ayahnya.
Arga memakaikan helm pada Wanita yang saat ini menjadi kekasihnya itu.
"Aku pakaikan helm nya"
Melihat perlakuan manis Arga padanya, ingatan masa lalu dengan Arief yang melintas lagi di pikirannya.
'Yang, Aku pakaikan helm nya, kamu diam saja,'
Dulu Arief selalu melakukan hal yang sama seperti Arga barusan.
Arga melajukan motornya, dia berharap orang yang dia bonceng itu mau memeluknya dari belakang, tapi mungkin itu hanya harapannya saja.
Cantik hanya memegang pundak Arga saat mencoba naik motor itu, setelah itu dia lepaskan tangannya hanya terdiam di kedua pahanya saja.
Arga mengatur rencana bagaimana supaya Wanita itu mau memeluknya dari belakang...
Arga melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
"Pegangan Cantik..!"