Jangan Panggil Aku Cantik...!

Jangan Panggil Aku Cantik...!
Bab 51 Terpisah


__ADS_3

"Cantik, namamu Cantik kan?, sesuai dengan wajahmu" Ucapnya lalu melihat Anak kecil yang memegang tangan Cantik.


Deg...


Anak itu, kenapa mirip sekali dengan Arief kecil?


Mama Galuh terus saja memperhatikan Kay dengan seksama, berulang kali di lihat tetap saja, Kay memang mirip dengan Arief saat kecil. Wajahnya, hidungnya, bibirnya, matanya, bahkan potongan rambutnya sama persis dengan Arief.


"Anak manis, sini!" Mama melambaikan tangannya kepada Kay.


Kay melihat wajah ibunya, pertanda dia meminta izin untuk mendekat, Cantik lalu mengangguk.


"Nama kamu siapa Sayang?"


"Kay" Jawabnya pendek.


"Namanya Kaede Rukawa Bu, panggilannya Kay" Jelas Cantik.


Pertama melihat wajah anak tampan itu, Mama Galuh langsung merasa jatuh Cinta, Dia seolah bernostalgia melihat Arief di masa lalu, tapi tak ada sedikitpun rasa curiga di hatinya.


Dia anak itu, anak tampan dan sopan, walau usianya belum genap 5 tahun tapi dia terlihat pintar, Mama Galuh bahkan sudah tak sabar untuk cepat-cepat menjadi Oma sambung bagi Kay.


Setelah malam menjelang, keadaan Ibu dari Arga itu membaik, ia dan Arga putuskan untuk kembali ke Bandung, mereka berpamitan.


Baru saja mobil yang Arga kendarai keluar dari gerbang Rumah Sakit, sebuah mobil mewah masuk ke dalam parkiran Rumah Sakit itu.


Arief turun dan melangkahkan kakinya lebih cepat, menuju ruangan VVIP tempat ibunya di rawat.


Jika saja Cantik lebih lama di ruangan itu, mungkin saat ini mereka akan berpapasan di sana. Tapi sekali lagi takdir belum mau mempertemukan keduanya.


"Ma, bagaimana keadaanya sekarang?" dia sangat khawatir melihat ibunya yang terkulai lemas dengan wajah yang sedikit pucat.


"Mama sudah baikan Rif"


"Syukurlah kalau begitu, maaf Ma Arief baru bisa datang sekarang!"


"Tak apa sayang, Ada Kakakmu yang menjaga Mama di sini, barusan juga Arga di sini"


"Arga? Kemana dia sekarang?"


"Dia pulang lagi ke Bandung, besok dia ada kegiatan yang tidak bisa di tinggalkan"


Arief mengerti Arga adalah orang yang terikat dengan pekerjaannya, seperti papa nya juga.


...


Di perjalanan pulang.


"Kay, Maafkan Papi ya!, papi tak sempat ajak kamu jalan-jalan, malah seharian di Rumah Sakit"

__ADS_1


"it's Oke Papi" Ucap Kay sambil menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk lingkaran.


Belakangan ini semenjak masuk sekolah, Kay mulai sering berbicara dalam bahasa Inggris, ya Walaupun masih banyak yang salahnya.


Semenjak Cantik bekerja, Kay lebih sering menghabiskan waktu dengan Diana, dan Dan Diana juga lah yang membuat anak itu banyak berbicara dalam bahasa Inggris.


Sampai di rumah kurang lebih jam 9 malam, Kay tertidur di pangkuan ibunya, sejak memasuki jalan tol.


Tangan dan kaki ibu satu anak itu terasa kebas dan kesemutan, Arga mengambil alih Kay, dan memangku nya masuk ke dalam rumah.


Sementara Cantik berusaha meredakan kesemutan di kakinya yang terasa sakit sekaligus geli.


Setelah Arga membaringkan Kay di kamarnya, ia lalu kembali ke dalam mobil. Dia melihat wanita yang ia cintai itu masih meringis di sana.


"Belum reda kesemutannya?"


"Belum"


"Ayo Aku bantu berdiri!"


Arga membopong Cantik dengan meletakan tangan Cantik di bahunya sementara tangannya melingkar di pinggang wanita itu.


Deg deg deg...


Jantung Arga berdegup kencang, saat mereka bersentuhan, bukan berpelukan tetap saja itu indah baginya.


Sementara si wanita tidak merasakan apapun, yang ia rasakan hanya kakinya yang terasa sangat tidak nyaman.


Sepanjang malam ia tak henti memikirkan wanita yang telah mengisi hatinya itu.


Perasaannya bagi Cantik semakin besar, tapi dia tau wanita itu belum benar-benar mencintainya.


Tapi sampai kapanpun dia akan bersabar menunggu dan berusaha agar Cantik menerima nya.


Sementara Cantik sebaliknya rasa lelah nya membuat wanita itu tidur lelap sampai pagi, bahkan ia sampai lupa Menganti pakaian nya.


...


Pagi hari di kantor dia mendapatkan kabar baik sekaligus kabar buruk.


Kabar baiknya ia terpilih sebagai Desainer interior terbaik di perusahaan Andini Art.


Dan kabar buruknya, ia akan di pindahkan ke Jakarta untuk menangani Mega proyek yang sempat bermasalah.


Direktur sendiri yang memilihnya, dan dia sama sekali tidak bisa menolak, karena itu tertulis di dalam kontrak kerjanya.


Seharusnya dia bahagia, jika dia pindah ke pusat, itu artinya gaji nya akan naik berkali-kali lipat, tapi bagai mana dengan anaknya. Apa bisa ia berpisah dengan Kay.


"Kak gimana ini, aku tak bisa kalau harus berpisah dengan anakku? tolong bantu aku?"

__ADS_1


"Aku sudah berusaha, bahkan aku bersedia menggantikan mu, tapi tak bisa, Direktur memilihmu"


Setelah berembuk dengan keluarga, akhirnya ia putuskan untuk pergi,walau berat tapi keluarga meyakinkannya, bahkan mereka berjanji untuk menjaga Kay, selama dirinya pergi.


Bahkan menurut Rama dia hanya di Jakarta selama Mega Proyek itu berlangsung, dan akan kembali setelah selesai.


Senin depan ia harus sudah berada di Jakarta, dan memulai pekerjaannya di sana.


Hari minggu ia pergi di antar oleh Rama, sebelumnya ia sudah mencari Kontrakan yang jaraknya lumayan dekat dengan kantor.


Arga kali ini tak bisa mengantarnya, karena dia di tugaskan untuk membantu korban banjir bandang di sebuah desa di daerah kabupaten Bandung.


Dia pergi dengan berat hati meninggalkan anaknya, beruntunglah Kay anak yang pintar, dia bahkan mencium pipi maminya saat berpamitan pergi.


Sesampainya di Jakarta, dia mengemasi barang-barangnya, dan menata pakaiannya di sebuah lemari plastik yang ia beli barusan di jalan.


Dia juga membeli sebuah kasur, kompor dan penanak nasi, serta beberapa perabotan dapur.


Setelah selesai Rama pamit pulang.


"Hati-hati ya jaga dirimu baik-baik disini, semoga semuanya Lancar"


"Ia kak, aku titip Kay ya!"


"Jangan khawatir Kami semua akan menjaganya"


Malam pun tiba, ini kali pertama ia terpisah jauh dari anaknya, rasa rindu menggunung, gelisah memikirkan bagaimana keadaan anaknya. Apakah anaknya baik-baik saja? Apakah dia bis tidur tanpa dirinya? apakah dia sudah makan? dan juga yang lainya.


Pagi menjelang, mata nya masih merah karena semalaman ia sulit tidur, karena merindukan Kay.


Tapi dia harus tetap beranjak dari tidurnya. dia bergegas membersihkan dirinya dengan air yang terasa hangat walau pun bukan air hangat. Tak seperti di Bandung Air di pagi hari akan terasa sangat dingin menusuk ke pori-pori kulit.


Dia berjalan memasuki Kantor yang lebih besar dari kantornya di Bandung.


"Selamat pagi, dengan ibu Cantik dari Cabang Bandung?" tanya seorang pria padanya.


"Benar pak"


"Ibu sudah di tunggu direktur di ruangan, mari saya Antar."


Pria yang merupakan Asisten pribadi Direktur itu mengantar Cantik menuju ruangan Direktur.


Sebelumnya mereka berkenalan, namanya Dion, pria 30 tahun berperawakan tinggi dan berkulit cokelat, khas orang Ambon.


Pintu ruangan Direktur utama itu diketuk oleh Pak Dion.


Tok tok tok.


"Masuk!" Jawab seseorang di dalam sana.

__ADS_1


Pintu terbuka, nampak Seseorang berpakaian formal duduk di kursi membelakangi meja.


Saat kursi itu berputar....


__ADS_2