Jangan Panggil Aku Cantik...!

Jangan Panggil Aku Cantik...!
Bab 58 Tak seburuk itu


__ADS_3

Deg.... Deg... Deg...


Jantung wanita itu berdetak kencang, saat duduk berdampingan dengan Arief. Rasanya hampir sama saat dulu ia sebangku dengan Arief.


Padahal Arief memperlakukannya dengan begitu buruk, tapi kenapa perasaan itu justru semakin dalam, bukannya menghilang dan menjadi benci.


Ia tak mengerti, seharusnya dengan semua rasa sakit yang Arief beri padanya, ia bisa dengan mudahnya melupakan Arief dan membencinya, tapi itu semua tak bisa.


"Heh, kau kenapa melihatku seperti itu? apa aku ini sangat tampan hah?" Ucap Arief ketus sembari menggerak-gerakan tangannya di depan wajah Cantik.


"Ma maaf pak!" Ucap Cantik kikuk.


Amar yang sedari tadi mencuri dengar menggelengkan kepalanya melihat bos nya itu bersikap ketus, ya Amar sudah tau pasti karakter Arief, dia itu akan galak pada semua karyawan yang di anggapnya tidak profesional, tapi melihat bagai mana Cantik menatap Bos nya dengan tatapan seperti itu, ada sedikit yang mengganjal bagi Amar.


"Sepertinya benar ada yang di tutupi Bu Cantik, kita lihat saja apa yang sebenarnya terjadi"


Sepanjang perjalanan mereka bertiga hanya diam tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut ketiganya, sungguh itu semua sangat tidak nyaman bagi Cantik, ingin rasanya ia memainkan gawai untuk menetralisir perasaan tidak nyamannya, tapi tentunya itu tidak sopan dan hanya akan menambah masalah baru.


"Gaji kamu di Bandung itu berapa sih? kok sampai tidak punya kendaraan, seharusnya minimal kamu punya motor" Ucap Arief sesaat sebelum sampai tujuan.


"Motor saya ada di Bandung tapi saya belum bisa mengendarainya, kalau mobil, uang saya belum cukup untuk membelinya."


"Kalau gak bisa belajar, atau kamu juga bisa kan meminta pada Arga untuk membelikan mu mobil, aku yakin Arga akan membelikan nya untuk mu"


Sakit rasanya bagi Cantik, mendengar perkataan Arief barusan.Ia Sama sekali tak pernah berpikir untuk minta ini ataupun itu dari Arga, dia dekat dengan Arga semata- mata karena kedekatannya dengan Kay, bukan karena harta nya Arga.


"Maaf pak, saya bukan orang yang seburuk itu, saya menjalin hubungan dengan mas Arga bukan karena materi, mana mungkin saya bisa melakukan hal seperti itu." Ucap Cantik dengan kesal.

__ADS_1


"Ya terserah kamu saja lah, kepalaku sakit terus-terusan bicara dengan kamu" Arief memalingkan mukanya dari Cantik, bukan karena ia benci wanita itu, tapi kepalanya benar benar terasa sakit jika melihat cantik apalagi berbincang dengannya.


Entah kapan kebenaran ini akan terungkap, cantik masih ragu apa ia harus mengatakan yang sebenarnya atau justru diam terus seperti ini.


Sungguh baginya terasa teriris sembilu saat Arief bersikap seperti itu padanya, lalu bagaimana jika nanti ia berkata yang sesungguhnya mungkin sikap Arief akan jauh lebih buruk dari itu, dan tentunya Cantik takut Arief akan menolak keberadaan Kay, biarlah semua ini terbuka seiring berjalannya waktu.


Semoga saja dengan sikap Arief seperti itu lama kelamaan perasaannya akan hilang pada Arief dan berubah menjadi benci.


Saat ini dia merasa jahat pada Arga, Arga kekasihnya tapi hatinya masih untuk Arief. Semoga waktu akan mampu membunuh perasaan nya pada Arief dan menumbuhkan rasa cinta pada Arga, Lelaki baik hati yang sudah mengganggap Kay sebagai anaknya sendiri, tak seperti ayah kandungnya yang meninggalkan mereka begitu saja, sekarang saat bertemu kembali pun, Arief seolah tak mengenalnya.


Tanda tanya besar di hati wanita 1 anak itu, bagaimana bisa Arief bisa melupakannya begitu saja, apa dirinya begitu tidak penting bagi Arief, sampai namanya pun ia lupa. atau jangan-jangan sesuatu terjadi padanya. Ya Cantik akan mencari tahu kebenarannya.


Sampai di tempat yang di tuju, klien baru dari Surabaya itu sudah ada di sana. beliau datang bersama istrinya.


"Maaf terlambat pak Dirga"


Mereka berlima berbincang membicarakan semuanya dari mulai a sampai z, hingga di dapat sebuah kesepakatan yang menguntungkan untuk semuanya.


Sebenarnya Arief selaku direktur utama tak perlu hadir langsung dalam kegiatan seperti ini, dia bisa saja mewakilkannya pada Ammar atau yang lain, tapi belakangan ini dia ingin terlibat langsung di dalamnya, untuk menambah pengalaman.


Setelah semua selesai Mereka kembali ke kantor, Cantik kembali ke ruangannya sementara Arief masuk ke ruangannya di ikuti Ammar.


"Maaf pak Arief, sepertinya Bu Cantik pernah mengenal Bapak sebelumnya, itu terlihat dari sikap dan tatapan matanya kepada bapak" Ammar mengungkapkan isi hatinya pada bosnya itu, dia sudah tak tahan menahan ke kepoan dirinya.


"Entahlah, aku tak ingat sama sekali Mar, mungkin iya mungkin juga tidak" Arief mencoba berselancar dalam pikirannya siapa tau terlintas di memorinya tentang Cantik, tapi tetap saja gelap tak ada sedikitpun bayangan di otaknya tentang karyawan baru yang selalu membuatnya sakit kepala itu.


"Tapi pak, saya melihat ada yang lain dari tatapan Bu Cantik kepada bapak"

__ADS_1


"Bukankah sebelumnya juga banyak perempuan yang memanfaatkan ke-hilang ingatan ku seperti itu, berpura-pura menjadi temanku, bahkan ada juga yang mengaku menjadi kekasihku bukan?"


Ammar mengangguk-anggukan kepalanya mengingat apa yang dikatakan bosnya itu benar adanya, banyak orang yang bersikap demikian, memanfaatkan kelemahan bosnya untuk keuntungan pribadi, tapi dalam hati kecilnya Ammar masih penasaran dengan Cantik.


Hari ini Arief habiskan waktu di dalam ruangannya, ia tak mengunjungi Mega proyek seperti biasanya karena semua sudah ia percayakan pada Ammar dan yang lainnya.


Kepala Arief semakin sakit, mengingat perkataan Ammar tadi.


Apa benar wanita itu mengenalku sebelumnya, tapi dia tak pernah berkata apapun padaku, tentangku di masa lalu, tak seperti orang yang mengenalku, yang selalu menceritakan masa laluku.


Arief bermonolog, semakin di pikirkan semakin sakit kepalanya. Dia memijat pelan keningnya mencoba menetralisir rasa sakit itu.


Jam pun menunjukan pukul 4 sore, ia pulang di antar Amar.


Mobil mewah itu memasuki gerbang di perumahan elite, Ammar membukakan pintu bosnya seperti biasa.


"Kau boleh pulang, bawa mobilnya, besok tak usah menjemput ku, aku akan membawa mobil sendiri"


"Baik pak" Amar mengangguk lalu pergi setelah sebelumnya berpamitan.


Arief melangkahkan kakinya menuju pintu besar yang masih tertutup rapat, dia menekan bel dan seorang art membukakan pintu.


Seperti biasa di rumah mewah 3 lantai itu terasa sepi, tak ada orang sama sekali, hanya ada beberapa orang art saja.


Arief berpikir, Untuk apa membangun rumah sebesar ini kalau semua anggota keluarga tak ada di rumah, semua sibuk dengan urusan masing-masing.


Arief berjalan menuju kamar, lalu membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya di ranjang empuk dengan bad cover berwarna abu-abu menutupinya.

__ADS_1


tok tok tok....


__ADS_2