Jangan Panggil Aku Cantik...!

Jangan Panggil Aku Cantik...!
Bab 23 Kawin Lari


__ADS_3

"Ma maksud ibu apa?"


aku bingung dengan ibu itu, kami sama sekali tidak mengenalnya tapi dia berkata akan membantu kami...


"begini, kalian ini masih sekolah kan? dan kamu sekarang positif, dan kalian pasti bingung bagaimana cara kalian menghadapi semua ini kan?" dia berkata sembari memainkan tangan nya menunjuk ke arah ku dan Arief..


"maksud ibu apa? jangan berbelit-belit!" Arief berkata kepada ibu itu dengan nada tinggi..


"Jadi begini, sebelumnya perkenalkan dulu, nama saya ibu Wati, saya seorang bidan, merangkap sebagai orang yg bisa menghilangkan sesuatu yg ada di perut kamu sekarang neng..!"


Mata Arief dan aku saling menatap, aku lihat ada raut tak suka di mata Arief, seketika dia berdiri dari duduknya dan menggebrak meja...


"Maksud kamu apa? apa kamu ingin kami menggugurkan bayi ini hah? jangan harap.."


Dia menuntun tangan ku dengan erat dan membawaku pergi dari ibu itu, dan.membayar makanan yg sebenarnya belum kami makan sedikit pun.


Dia membawaku pergi ke tempat makan yg lumayan terjaga privasinya, sehingga kami bisa leluasa mengobrol tanpa ada seorang pun yg akan menguping pembicaraan kami..


" Yang, jangan sampai apa yg ibu tadi bicarakan itu terjadi, walaupun kita sama sekali tak menginginkan dia ada sekarang, tapi dia tidak bersalah, dia anak kita, apa kita tega membunuh darah daging kita sendiri"


Tadi sempat terlintas di pikiranku tentang apa yg ibu tadi bicarakan, tapi Arief benar, aku tak akan tega melakukan itu..


"Apa kita harus mempertahankan dia?" aku menunjuk perutku sendiri.


"iya, kamu mau kan mempertahankannya demi aku?, perbuatan kita adalah dosa besar, apa kita akan menambah lagi dosa kita dengan menghilangkan bayi ini, dia tidak bersalah yang"


"Kamu benar Rif,"


Ya Arief benar, anak ini tidak bersalah, dia tidak tahu apa-apa, kami yg salah bukan dia, dia tidak berdosa sama sekali.


"Kita harus ke dokter memeriksa keadaan kamu sekarang"


"Ta tapi...jangan sekarang Rif, nanti saja, aku takut"


"Baiklah, tapi mulai sekarang kamu jaga dia baik-baik ya..." Dia tersenyum sambil mengelus perutku dengan lembutnya..

__ADS_1


Jika saja kami pasangan yg normal, dan sudah dewasa, mungkin aku akan jadi wanita paling bahagia di dunia ini, karena mempunyai pasangan sebaik dan seperhatian Arief.


Tapi kami ini pasangan yg seharusnya tidak berada di kondisi saat ini, kami belum pantas menjadi orang tua, bahkan belum pantas juga merubah status kami dari lajang menjadi menikah. Arief bahkan baru berumur 18 lebih, sedangkan aku satu tahun lebih muda darinya...


Arief selalu meyakinkan aku untuk mempertahankan bayi ini, dia juga yakin akan bertanggung jawab.


Dia rela kehilangan semuanya demi aku dan juga anak kami.


Begitu juga dengan ku, Aku pun akan pasrah dengan apa yg akan terjadi nanti, jika aku harus di keluarkan dari sekolah, aku siap. atau jika orang tuaku marah dan mengusirku dari rumah, aku juga akan mencoba menerimanya walau mungkin itu akan sangat menyakitkan bagiku.


Bahkan mungkin semua orang akan menggunjing ku dengan kata-kata kasar mereka aku juga siap, Aku sudah biasa di cemooh, aku akan mencoba untuk kuat, yang penting Arief ada di sampingku untuk menemaniku, dan menguatkan aku seperti biasa.


Tapi bagaimana dengan keluarga nya, apa mereka akan bisa menerimaku, apa lagi Arief sepertinya berasal dari keluarga yg berada, tidak seperti ku keluarga yang biasa saja.


Semua itu selalu merasuk dalam pikiranku, tapi lagi lagi Arief selalu meyakinkanku, jika keluarganya tak bisa menerimaku, dia akan mengajak ku pergi..


" Yang, kalau keluarga kita tak mengijinkan kita bersama, kamu ikut aku saja!"


"Maksud kamu?"


"Apa?" aku terkejut dengan penuturan Arief.


dengan entengnya dia berkata seperti itu, memangnya ini sinetron apa..


Tapi lagi dan lagi dia meyakinkan ku, bahwa dia serius dengan semuanya, dia tidak sedang bercanda, itu hanya solusi saja jika sesuatu yg buruk terjadi pada kami.


Arief memang laki-laki yg bertanggung jawab, bahkan dia mulai menabung untuk kelahiran anak kami kelak, dia mengisi rekening ku, rekening yg khusus menyimpan uang pemberiannya, dengan jumlah uang yg lumayan besar, untuk ukuran anak sekolah.


Entah dapat dari mana uang itu, mungkin orang tuanya benar-benar orang yg sangat kaya...


"Rif , kenapa banyak sekali? nanti orang tua kamu marah, kamu menghabiskan uang kamu sebanyak ini"


"Ini bukan uang dari orang tuaku, ini uangku sendiri" Ucapnya yakin.


"hah, dapat dari mana kamu uang sebanyak ini? jangan bilang kalau kamu...." Belum sempat aku selesai mengucapkan nya, dia menyela ucapan ku..

__ADS_1


" Ini uang pribadiku, aku bekerja, dan pekerjaanku halal. Kamu tak usah banyak pikiran, yg terpenting saat ini kamu dan dia baik-baik saja..."


Seperti biasanya, aku selalu menuruti perintah Arief, apapun yg dia katakan aku lakukan, apapun yg dia ucapkan aku percaya padanya.


" Rif, aku percaya kamu, apapun yg kamu katakan aku percaya, termasuk saat kamu berjanji tak akan meninggalkan ku.."


"Apapun alasannya, aku tak akan pernah meninggalkan kamu yang, aku sangat mencintai kamu, apa lagi diantara kita sudah ada dia"


" Aku juga sangat mencintai kamu"


Aku sangat sangat mencintai nya, aku tak sanggup jika harus berada jauh darinya, apa lagi dengan adanya bayi ini aku sangat ketergantungan dengan Arief...


Satu Minggu berlalu, ini saatnya Arief akan mengatakan semua ini kepada orang tuanya, entah apa respon yg akan di dapat dari orang tuanya, aku tak tahu.


Rencananya, Setelah mendapatkan kabar dari Arief, aku juga akan mengatakan yg sejujurnya kepada orang tuaku, bahkan Arief akan menghadap langsung pada orang tuaku.


Sebenarnya Arief mengajakku untuk menemui orang tuanya, tapi nyali ku begitu ciut untuk melakukan nya, biar nanti saja, aku menemui mereka, setelah mendapatkan kabar dari Arief...


Semalaman aku tak bisa memejamkan mataku sedikit pun, pikiranku begitu kacau, menerka-nerka apa yg terjadi saat Arief mengatakan semuanya pada orang tuanya..


Ingin sekali aku menelpon Arief atau sekedar memberi pesan singkat padanya, tapi sayangnya masa aktif kartuku habis dan sedang dalam masa tenggang.


Saking kacaunya pikiranku, aku sampai lupa mengisi pulsa.


Arief juga belum menghubungiku, terakhir dia mengirim pesan tadi sore saat. dan pesan itu berisi..


"Doa kan aku yang...!"


Tentunya pesan dari Arief aku balas tapi karena masa aktif nya habis jadi pesan balasan dariku tidak terkirim..


'Tentunya aku akan selalu mendoakan kamu Rif'.


Hujan semakin deras membasahi bumi, udara pun semakin dingin, aku membungkus tubuhku dengan selimut yang sangat tebal, berharap akan menghangatkan tubuhku dan membuat aku bisa terlelap dalam tidur, tapi hingga jam menunjukan pukul 02.00


dini hari, aku masih belum bisa tertidur.

__ADS_1


Entah jam berapa aku bisa tidur, Saat Adzan subuh berkumandang Mataku masih sangat berat untuk terbuka.


__ADS_2