
'Sejak kecil aku sudah terbiasa mendapatkan masalah, dan aku yakin aku akan sanggup bertahan lagi dengan masalah yang aku hadapi sekarang'
Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa kini dia baik-baik saja dan pasti ini semua akan ada jalan keluarnya.
***
Kay berjalan di gandeng oleh Diana dan Dewa. Mereka sengaja mengajak anak tampan itu berjalan-jalan ke salah satu pusat perbelanjaan yang ada kota kembang.
Senyuman terkembang sempurna di pipi chubby anak berkulit putih itu. Mereka bertiga larut dalam suasana bahagia.
Kay mengajak Umi dan Abi nya masuk ke arena permainan.
"Umi ayo kita main di sana!"
"Let's go Kay!"
Seperti saat bersama Arga, Dewa pun harus menemani anak itu bermain hampir semua permainan sementara Diana lebih memilih duduk di kursi yang terletak tak jauh dari arena permainan itu.
Diana tersenyum melihat kebahagian suami dan keponakannya itu. Dia lalu mengelus-ngelus perutnya...
"Semoga secepatnya Allah meniupkan ruh di perut ini"
Tapi senyum itu perlahan pudar mengingat penjelasan dokter beberapa waktu yang lalu bahwa dirinya mengidap kelainan hormon PCOS. Sindrom polikistik ovarium ataupolycystic ovarian syndrome adalah gangguan hormon yang terjadi pada wanita di usia subur. PCOS ditandai dengan gangguan menstruasi dan kadar hormon maskulin (hormon androgen) yang berlebihan.
Dokter mengatakan akan wanita dengan PCOS akan sulit hamil, tapi tidak menutup kemungkinan jika pengidap masih bisa hamil tapi butuh waktu yang panjang.
Mendengar penjelasan dokter, Diana seperti disambar petir, sampai saat ini ia masih merahasiakan keadaannya pada semua orang termasuk pada suami nya sendiri.
__ADS_1
Tentu saja pernikahan yang hanya baru beberapa waktu tak akan membuat nya bingung mencari alasan untuk menjawab pertanyaan orang-orang kenapa sampai saat ini dia belum hamil.
'Masih ingin menikmati waktu berdua' itu alibi baginya yang sangat tepat, tapi bagaimana jika ia tak hamil dalam 1 atau 2 tahun lagi? entahlah apa yang terjadi.
Kepergian Cantik merantau ke ibu kota dan meninggalkan Kay bersamanya, sedikit menghibur dirinya kala resah itu datang melanda.
Sehari-hari Diana dan ibu mengurus Kay bergantian, bahkan setiap hari Diana ikhlas mengantar Kay sekolah, sementara ibu, Ayah dan Dewa sibuk di perkebunan.
"Umi ayo, main sama aku!" Kay menuntun Diana, tentu saja wajah yang tadi sempat murung kini berganti kembali denab senyuman melengkung sempurna di wajah ayu gadis asal kota hujan itu.
"Iya, main apa lagi? Memang Kay gak cape apa? main terus"
Kay hanya menggeleng. Walaupun sebenarnya capek, tapi yang namanya anak-anak rasa capek pasti kalah dengan keinginan nya untuk bermain.
Setelah beberapa waktu, akhirnya anak itu menyerah juga, dia mengajak Umi dan Abi nya makan.
"Bisa lapar juga anak Abi?" Dewa terkekeh mendengar ucapan Kay.
"Ish, ya bisa lah bi, Kay itu manusia bukan robot" Ucap Diana memukul pundak suaminya.
"Iya tapi kalau sudah main, kadang kamu kaya robot yang sudah di cash batere nya pipi tembem" Abi mencubit gemas pipi chubby keponakannya itu.
Seperti biasa makanan yang Kay inginkan 'Ayam goeng' Kali ini dia makan dengan lahap, bahkan Ayam milik Diana pun tak luput ia makan.
Setelah semuanya selesai, mereka memutuskan untuk pulang, Dewa memangku anak yang sepertinya kekenyangan itu dengan sebelah tangan kanannya, lalu tangan kirinya menuntun tangan istrinya.
Mereka bertiga nampak seperti keluarga yang bahagia, orang-orang melihat nya pun begitu.
__ADS_1
Lalu beberapa orang ibu-ibu menyapa mereka.
"Mas Dewa, Neng Diana
habis bawa jalan-jalan anaknya Neng Cantik ya?" Ucap salah satu tetangga nya itu.
"Iya bu" Jawab Dewa singkat, sementara Diana hanya tersenyum.
"Neng Diana kapan atuh punya anak?"
"Balum di kasih Bu, kita juga kan masih pengantin baru, masih ingin berdua dulu" Jawab Dewa.
"Iya, yah, memang Tuhan kadang bingung, orang yang belum menikah seperti neng Cantik, sangat mudah mendapatkan anak, tapi banyak yang sudah menikah malah sulit punya anak, Saya suka sedih melihatnya" Ibu itu berkata seperti itu dengan gampangnya, dia tak tau ada hati yang tersakiti atas ucapan nya.
"Uhuk" Diana mendadak tersedak mendengar ucapan ibu itu. Ia merasa tersinggung, karena dirinya seorang penderita PCOS.
Sementara dewa tersinggung karena secara langsung ibu itu menyindir adiknya.
"Kami yang menjalaninya saja bahagia Bu, kenapa ibu yang sedih, semua ini takdir Tuhan, kita tak bisa menyalahkan takdir, walau adik saya dulu sempat berbuat salah, kami sudah memaafkan, dan kehadiran anak ini membuat kami bahagia. Dan soal kami belum diberi keturunan, biarlah dulu, ibu tak usah repot-repot memikirkan urusan kami" Ucap Dewa dengan tegas.
"Kami permisi dulu" Dewa menggenggam erat tangan istrinya, lalu menuntunnya meninggalkan ibu-ibu tukang ikut campur urusan orang itu.
"Ihh si Dewa itu, kenapa marah? padahal memang begitu kan keadaanya, anak hamil diluar nikah kok di banggakan? dasar keluarga sok suci" Ucap salah satu ibu tadi dan di amini oleh yang lainya.
Mata Diana berkaca. Ada hati yang sedikit terluka mendengar perkataan mereka.
"Tak usah di ambil hati Mi, mereka itu hanya asal bicara saja."
__ADS_1