Jangan Panggil Aku Cantik...!

Jangan Panggil Aku Cantik...!
Bab 65 Seorang ayah


__ADS_3

"Tak usah di ambil hati Mi, mereka itu hanya asal bicara saja." Dewa mengelus pucuk kepala isterinya, karena Dewa melihat ada yang tak baik di mimik muka istrinya itu.


"Kita bahkan baru beberapa bulan menikah, tapi mereka selalu bertanya kapan punya anak?, lalu bagaimana jika Tuhan belum memberikan aku anak dalam beberapa waktu ke depan Bi, apa yang akan mereka katakan?"


"Aku sudah katakan sayang, jangan di ambil hati, tak ingatkah kamu saat dulu kamu masih jomblo, orang-orang selalu bertanya. 'Kapan kamu punya pacar?' setelah kamu punya pacar, mereka juga bertanya 'Kapan menikah?' dan setelah menikah pun mereka akan bertanya lagi, 'Kapan punya anak?' bahkan setelah punya anak, mereka juga akan bertanya, 'Kapan punya anak ke-dua' dan seterusnya akan muncul berbagai pertanyaan-pertanyaan lain dari mulut mereka."


"Iya kamu benar Bi, bahkan mungkin mereka juga akan bertanya 'Kapan kita meninggal?' Nauzubillahi minzaliq"


Diana menggelengkan kepalanya ngeri.


"Sebenarnya aku juga marah, saat tadi mereka menghina adikku, ibunya Kay" Dewa mengusap kepala keponakan yang sudah ia anggap anaknya sendiri.


"Manusia tempatnya salah, mungkin benar jika Cantik dulu pernah khilaf, tapi aku yakin dia sudah bertaubat dengan sungguh-sungguh, bahkan semenjak melahirkan Kay, ia menutup auratnya, pertanda bahwa dia benar-benar bertaubat"


"Lalu ayahnya Kay dimana sekarang?" Diana mengambil alih Kay kedalam pangkuannya, sementara Dewa duduk di kursi kemudi. Mungkin Kay kecapean hingga ia tertidur di pangkuan Dewa tadi.


Dewa melajukan mobilnya perlahan menembus jalanan kota yang padat merayap. Hari sudah mulai sore, semburat jingga di ufuk timur mulai terlihat.


"Entahlah sayang, sekeras apapun kami bertanya, dia masih bergeming, enggan mengatakan pada kami siapa ayah dari anak ini"

__ADS_1


"Mungkin luka hatinya terlalu dalam, sampai ia enggan membaginya dengan orang lain"


"Iya, aku tau, sejak dulu adikku bukan orang yang terbuka, mungkin ia akan menyimpan rasa sakitnya sendiri saja"


"Kasian ya Cantik, Bi"


"Iya, kamu tau, dulu aku begitu membencinya" Ucap Dewa sembari menghela nafasnya kasar.


"Kenapa? kenapa bisa?" apa karena dia hamil di luar nikah?"


"Bukan, dulu aku iri padanya, ayah selalu memanjakannya, memberi apapun yang ia mau, dia bagaikan anak emas di keluarga ini, sedangkan aku dan Rama seperti tak di anggap apa-apa"


"Tapi lama kelamaan semua itu berubah, setelah aku tau perasaan anak itu, aku tau begitu menderitanya dia selalu di bully teman-temannya karena namanya Cantik"


"Kenapa di bully? namanya Cantik juga kan orangnya memang cantik"


"Itu sekarang, dulu itu adikku jelek, ia emang jelek si, hehe kulitnya hitam terus wajahnya jerawatan, selain di rundung teman-temannya, aku dan Rama melakukan hal yang sama. sampai kami lihat dia menangis di kamarnya seorang diri lalu dia memaki cermin dihadapannya, aku ingat betul saat itu, dari situ aku dan Rama mulai bersikap baik padanya, dan mulai menyayanginya. bahkan aku dan Rama memanjakannya seperti yang dilakukan ayah padanya"


"Setiap ayah pasti akan memanjakan anak perempuan satu-satunya, sama seperti aku, aku juga di manjakan oleh ayahku"

__ADS_1


"Iya itu benar, saat seorang anak berbuat salah se-fatal apapun, orang tua akan memaafkannya" Dewa membayangkan saat Cantik melahirkan bagaimana marahnya ayahnya pada Cantik, tapi semua tertutup karena rasa sayang yang begitu banyak untuk ayahnya.


"Mungkin nanti saat aku menjadi seorang ayah aku juga akan melakukan hal yang sama dengan ayahku dulu"


Mendengar Dewa berkata seperti itu, Diana sedih bagaimana kalau ia tak bisa memberikan seorang anak untuk Dewa...


Kay masih tertidur di pangkuan Diana, padahal sebentar lagi akan sampai rumah. Tadinya Diana akan membeli pakaian untuk Kay, tapi karena ada ibu-ibu rese tadi ia sampai lupa, apa lagi ia lupa juga membeli makanan untuk ayah dan ibu.


"Bi, coba minggir dulu gih di depan siapa tau ada tukang makanan apa gitu, kamu beli dulu buat ibu, masa habis jalan-jalan kita gak bawa apa-apa"


"Iya" Dewa meminggirkan mobilnya, lalu turun dan membeli beberapa cemilan untuk ibu dan ayahnya, tak lupa ia membeli ayam goreng tepung untuk Kay.


****


Hari terus berganti Cantik sudah kembali bekerja seperti biasa, tapi Arief belum, tapi tetap tugas tak pernah berhenti di kirim melalui e-mail pada anak buahnya itu, entah kenapa Arief sangat menyukai hasil kerja Cantik dibanding orang lain, ia lebih suka melimpahkan banyak pekerjaan gadis yang katanya sudah punya anak itu.


Leony pun sudah mulai masuk bekerja sebagai manager marketing, sikap manjanya pada Arief seketika lenyap saat bekerja, ia berubah menjadi atasan yang angkuh dan sombong, padahal dia hanya sebagai manager bukan direktur atau yang lainya.


Leony mengenalkan dirinya sebagai calon istri Arief, itu artinya dia adalah bos juga di sana, itu katanya pada siapapun orang yang ia temui di kantor.

__ADS_1


Bugh...


__ADS_2