
Arief membuka matanya perlahan...
''yang kamu kenapa disini? ini jam berapa?''
''baru jam 11''
''Kenapa sudah pulang? atau kamu bolos demi aku?''
''Gurunya ada rapat Rif, jadi anak-anak pulang lebih awal'' jelas ku pada Arief.
Arief nampak melirik kantong kresek yg aku bawa.
'' Yang wangi.. aku lapar dari pagi belum makan"
"Eh kenapa belum makan? lagi sakit harus banyak makan"
"malas"
"Ya sudah gih sana cuci muka dulu..! aku tunggu di depan"
Dia mengangguk dan segera bangkit dari ranjang nya.
Aku mengambil mangkok dan sendok untuk kita makan, dapurnya sangat berantakan, cucian piring kotor dimana-mana. aku heran kemana perginya si bibi, kenapa rumah berantakan begini.
Bukan hanya dapur yg berantakan ruang tv dan ruang tamu juga sama berantakannya..
"Mana baksonya yang..?"
"ini" aku menyodorkan bakso yg telah siap di mangkok, dan segelas jus jeruk pesanannya.
Kami duduk lesehan di karpet yg terletak di ruang tv. Dia menyesap jus jeruk yg mulai tidak terlalu dingin itu.
"Yang bibi kemana sih? aku bungkus kan bakso juga buat bibi"
"Dia, sedang ada urusan, ada saudaranya yg hajatan, jadi dari 2 hari yg lalu dia tak disini"
"pantesan saja, rumah kamu berantakan, eh tadi katanya bibi sudah beli obat buat kamu?"
"iya, sudah, obat banyak di kotak p3k, itu bibi yg beli semuanya.."
Dia menuangkan sambal begitu banyak ke bakso nya..
"Jangan banyak-banyak yang...!"
"biar saja, enak lagi pusing" Arief memegang kepalanya...
__ADS_1
"iya pusing nya sembuh, nanti malah sakit perut kamu, sini buat aku sebagian cabe nya,, kamu jangan banyak-banyak...!"
Aku mengambil sambal yg ada di mangkok milik Arief.
"Perhatian sekali kamu sama calon suami" Arief tersenyum meledek ku.
"Ihh apa an siih.. Sudah cepetan makan nanti keburu dingin...!"
Kami pun melanjut kan makan, sembari mengobrol ringan di ruangan tv, setelah selesai aku ingin membantu membereskan rumah yg lebih mirip dengan kapal pecah ini..
"Yang, aku beresin dulu rumah kamu, berantakan,"
"Biarkan saja nanti bibi saja yg mengerjakan, kamu duduk saja temani aku main ps"
"Sedang sakit main game terus, istirahat saja Rif..!"
Aku membereskan ruang tamu terlebih dahulu, merapikan kursi, meja dan buku-buku yg berserakan di sana.
Lalu kemudian aku membereskan ruang tengah tempat tadi kami makan, Arief terus saja memperhatikan setiap gerak gerik ku saat membersihkan rumah itu.
"Jangan terus melihatku, itu nanti game nya kalah.."
" Memangnya salah kalau melihat calon isteri yg begitu rajin" Arief tersenyum
"Ariiieeefff...." mataku melotot ke arahnya..
Tugasku berikutnya membersihkan dapur, mencuci piring, dan yg lainnya, sepertinya sudah berhari-hari piring berada di sini, bahkan makanan nya pun nampak sudah basi..
"Bibi kapan pulangnya yang?" Suaraku agak berteriak dari dapur..
"Mungkin besok atau lusa"
"Terus kamu sendirian di rumah, kan lagi sakit, siapa yg akan mengurus kamu"
"Iya, biar saja, aku bisa sendiri"
Tiba-tiba sebuah lengan memeluk pinggangku dari belakang, saat aku sedang mencuci piring, aku kaget..
"Atau kamu saja yg temani aku disini, kamu yg mengurusku disini, yang"
"Arief, lepaskan ihh.."
Aku berusaha melepaskan tangan nya di pinggangku, bukannya terlepas tapi malah semakin kencang. kini dagunya tepat berada di atas pundak ku, sangat terdengar jelas hembusan nafasnya di telinga ku..
"Rif, lepaskan aku engap..!"
__ADS_1
"tak mau, aku kangen sama kamu.."
"Aku bau, aku berkeringat, awas..!" lama-lama aku kesal kepadanya..
"Kamu wangi sayang"
Dalam sepersekian detik dia membalikan tubuhku, hingga mata kami berdua bersirobok dalam kekakuan, mata kami saling menatap tajam, mulutku rasanya bisu, tanganku juga kaku, aku ingin melepaskan diri dari situasi ini, tapi tak bisa, entah kenapa aku sangat menyukai keadaan ini, melihatnya dari jarak yg sangat dekat...
'Ya Tuhan,, dia tampan sekali, beruntung sekali aku bisa dekat dengannya...'
Semakin lama aku menatap matanya, jantungku semakin berdebar kencang, seperti genderang yg mau perang, wajahnya semakin dekat, terus terus saja mendekat sehingga mengikis jarak di antara kami berdua dan sesuatu pun terjadi..
Arief mengangkat daguku, dan dia mencium bibirku dengan lembut, perasaanku campur aduk antara ingin menolak tapi juga aku menyukainya, aku bingung harus bagai mana, aku hanya diam saja tanpa membalas ciuman nya,tubuh ku rasanya membatu, tak bisa di gerakan sedikitpun.
Ciuman lembut itu perlahan berubah menjadi isapan, yg sangat aneh aku rasakan, lalu lambat laun semakin dalam aku rasakan.
Bukan hanya sekarang aku di cium oleh Arief, tapi biasanya hanya sebentar saja, dan rasanya berbeda dari saat ini.
Hati dan fikiran ku ingin menolaknya, tapi tubuhku sangat menikmatinya, rasanya sangat manis, ya, bibir nya sangat manis.
Ciuman yg lembut itu kini tak lagi aku rasakan, berubah menjadi sesapan bahkan lumattan, dia juga menggigit bibirku pelan, aku tak bisa menolak keadaan ini bahkan kini aku membalas semua perlakuannya itu, lidah kami saling bertaut, memainkan irama yg tak tau apa ini, ini bukan ciuman biasa, ini berbeda, tapi aku menyukainya...
Ada sesuatu getaran di dada ini entah apa namanya, aku terlalu larut dalam suasana yg sangat manis ini..
Diluar hujan turun begitu deras, udara pun terasa semakin dingin, tapi tidak dengan kami, tubuh kami terasa gerah, panas, ini perasaan apa aku tak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya..
Kami berdua terlalu menikmati sesuatu yg sangat memabukkan ini, entah berapa lama bibir kami saling bertaut, hingga dia melepaskan sedikit bibirnya itu,,
"Aku Sayang Kamu Cantik" bisik nya lembut di telingaku..
Aku ingin menjawab perkataannya tapi
Bibirku masih terasa kebas akibat perlakuannya.
Bukannya berhenti dia malah melanjutkan aktifitas yg sempat tertunda itu.
Pikiranku seolah tak berfungsi dengan normal, aku tak lagi menolak apapun yg Arief lakukan, aku menerima setiap apa yg dilakukan nya padaku.
Tanpa disadari tanganku malah melingkar sempurna di leher nya, dan tangan nya melingkar di pinggangku, memelukku erat seperti nya, dia tak ingin melonggarkan sedikitpun pelukannya terhadapku.
Semakin lama perasan ini semakin aneh, hembusan nafas kami sudah tak beraturan, sesapan demi sesapan terjadi, bahkan tangan Arief mulai bergerilya di tubuhku, menyentuh nya satu persatu.
Aku hanya terdiam tanpa sanggup menolak, atau menyingkirkan tangannya dari tubuhku,
Tanpa kami sadari tubuhku sudah terbaring polos di ranjang milik Arief, Bagai mana mungkin anak remaja seperti kami akan melakukan hal di luar batas seperti ini..
__ADS_1
Akhirnya kesadaran ku mulai pulih, aku mencoba mendorong tubuh putih laki-laki yang sangat aku sayangi itu......
''Rif.. jangan...!"