Jangan Panggil Aku Cantik...!

Jangan Panggil Aku Cantik...!
Bab 45 Selamat Datang


__ADS_3

Besok pagi dia akan berangkat menuju negara kelahirannya, dia mengambil penerbangan pertama.


Malam pun menjelang, dia kembali ke apartemen miliknya, untung saja wanita tidak tau diri itu sudah pergi dari sana.


Dia melanjutkan mengemasi barang yang akan dia bawa, setelah tadi sempat terganggu karena kehadiran wanita itu.


Ada rasa deg-degan di hati Arief, sepertinya dia sangat ingin mengetahui masa lalunya, ya dia bertekad nanti setelah dia tiba di sana, dia akan mencari tahu jati dirinya yang dulu.


"Ini malam terakhirku di sini"


Pagi menjelang, pukul 04.00 waktu setempat, ia bangun dengan perasaan yang entah mengapa menjadi tak karuan seperti saat ini.


Penerbangan akan di laksanakan beberapa saat lagi, ia tak akan membuang waktu lagi, dia bergegas untuk mandi dan berpakaian se-santai mungkin.


Sepatu Sneakers, Celana dan jaket jeans serta t-shirt putih membalut tubuh tegap dan kekar itu.


Pria dengan tinggi 180 cm itu, berjalan dengan menenteng koper yang ukurannya tidak terlalu besar.


Penerbangan tak membutuhkan waktu yang lama, karena jarak kedua negara itu sangat dekat.


Saat tiba di bandara yang terletak di provinsi Banten itu, semua mata tertuju padanya, mata semua orang seperti melihat seorang pangeran yang baru turun dari langit.


Begitu gagah, tampan mempesona, ya mungkin kedatangannya di sana akan menjadi idola baru bagi wanita yang ada di Indonesia ini.


Perasaan lega ia rasakan saat orang yang di perintahkan untuk menjemputnya itu memanggil namanya. dan mengangkat tangannya. Arief segera menghampiri nya.


"Den Arief, Selamat datang di Indonesia kembali den, sudah hampir 5 tahun bapak tak melihat Den Arief, wah sekarang makin tampan saja" Ucap pak Wahyu pria paruh baya yang sudah menjadi sopir pribadi mama Galuh, bahkan sebelum Arief terlahir ke dunia.


"Bapak mengenal saya?"


Ucap Arief dengan dingin.


"Bukan kenal lagi den, Dari orok Aden udah bapak gendong"


"Oh gitu" Ucap nya polos tanpa ekspresi.

__ADS_1


Pak Wahyu bingung, dengan sikap yang ditunjukan Arief padanya, biasanya Arief begitu ramah padanya tapi sekarang seperti itu.Tapi pak Wahyu memaklumi semua sikap Arief.


Benturan keras di kepalanya itu yang membuat sikap nya berubah 180 derajat.


Stelah perjalanan beberapa waktu, pria itu menurunkan kakinya menginjak rumput gajah mini yang menghiasi halaman super luas milik orang tuanya itu.


Hal yang pertama ia lakukan adalah menikmati suasana hijau di halaman depan rumahnya itu.


Berbagai pohon dan tanaman hias tertata dengan apik di sana, membuat hati pria itu menjadi tenang.


Aroma dedaunan yang sejuk menembus Indra penciumannya, dia hirup udara segar di halaman rumahnya itu.


Perasaannya yang tadi nampak tak suka dengan suasana jalanan ibu kota yang macet dan berpolusi, kini berbalik, dia merasakan kenyamanan luar biasa karena suasana asri rumahnya.


Mendengar deru mobil berhenti di depan. Wanita berumur yang masih terlihat cantik membuka pintu rumah 3 lantai itu.


Dia hampiri sosok yang sangat ia rindukan itu, Dia peluk, dia rangkul.


"welcome back to Indonesia sayang"


Sudah beberapa bulan semenjak kepulangan nya ke Indonesia, mama Galuh meninggalkan Arief sendiri di Singapura.


Bukannya tega ia meninggalkan anaknya di sana, tapi pekerjaan yang menuntutnya untuk kembali ke sini.


Mama Galuh menuntun anaknya itu memasuki rumah yang begitu luas dan mewah itu.


Semua yang ada di rumah itu, dari mulai gerbang depan, sampai dekorasi semua ruangan yang ada didalamnya, adalah rancangan mereka berdua.


Semenjak SMP Arief mulai mengembangkan bakatnya di dunia arsitektur dia mulai membantu mendesain beberapa bangunan yang menjadi proyek mama nya itu.


Saat Arief mulai pulih dari kecelakaan itu, Mama Galuh selalu melibatkan Arief dalam semua urusan, dalam perusahaan nya. walau pun dari jarak jauh.


"Ma, mama sendirian di rumah sebesar ini? Pada kemana orang-orang?"


"Mereka sibuk Rif, Papa sekarang ada di luar daerah, Sedangkan Nadine tinggal di Bandung, Dan Arga sedang melakukan pendidikan militer di daerah Bandung juga sayang, mulai hari ini kamu yang akan menemani mama di sini"

__ADS_1


"ya" Jawabnya singkat.


Seperti biasa Arief hanya membalas setiap ucapan siapapun dengan sesingkat mungkin.


Mama Galuh mengerti dengan keadaan putra keduanya itu, Arief yang dulu sudah tak ada lagi, kini tinggallah Arief baru yang ada di hadapannya itu.


Saat ini perusahaan mama Galuh sedang berkembang pesat, bukan hanya di Jakarta, ada beberapa cabang yang ia dirikan di berbagai kota, salahsatunya di Bandung.


Ya di cabang itulah Rama Mahendra bekerja, dia sebagai salah satu arsitek yang sangat ia andalkan untuk mengurus cabang Bandung.


Sementara Mama Galuh sendiri mengurus cabang pusat. dengan kedatangan Arief mama Galuh yang sudah sangat kewalahan itu berharap anaknya mau mengambil alih tugas nya di induk perusahaan itu.


Rencananya satu Minggu setelah saat ini Arief akan di angkat sebagai direktur utama di perusahaan yang didirikan oleh ibunya itu.


Arief tentu menerimanya dengan senang hati, dia berjanji pada ibunya, bahwa dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk memajukan perusahaan itu.


Terselip keinginan dari dirinya untuk napak tilas siapa dirinya yang dulu, tapi ketika berusaha mengingat masa lalu nya, Arief akan merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya.


Sehingga beberapa kali mencoba, selalu ia urungkan karena sakit di kepala nya itu begitu menyiksa.


Seminggu berlalu Mama Galuh mengumpulkan semua orang pemegang saham dan beberapa staf penting di perusahaan nya itu.


Hari ini Arief di angkat sebagai direktur utama dari perusahaan itu. Semua mata mengagumi sosok direktur baru itu.


Wajahnya tampan berkarisma, tubuh kekar nya di balut setelan jas semi formal, membuat siapapun terpana melihatnya.


"Selamat pagi semuanya, Nama saya Arief Putra Wijaya, saya putra kedua dari pemilik perusahaan ini, ibu Galuh Putri Andini, saya harap kedepannya kita semua bisa bekerja sama dengan baik" Ucap Arief tegas. tak ada sedikitpun senyum yang ia lampirkan dalam pengenalan singkat dirinya itu.


Hari pertama bekerja di perusahaan itu image pemimpin tegas dan galak sudah sangat melekat pada dirinya.


Kasak-kusuk tentang direktur baru menyeruak di seluruh divisi perusahaan.


"Haduh, tadi aku kena semprot pak Arief di depan karena aku tak sengaja menabrak dirinya, padahal sudah minta maaf, tapi tetap saja dia marah" Ucap salah satu karyawan di sana.


"Iya Bu, saya juga tadi di marahin gara-gara, kopi yang saya buat terlalu manis 'heh kamu, kamu mau bunuh saya apa? kamu mau buat saya diabetes, dengan kopi semanis ini' tadi pak Arief bilang gitu Bu sama saya, haduh baru hari pertama saja udah bikin sport jantung." timpal salah satu ob yang yang sedang berbincang dengan staf yang meminta diantarkan kopi ke ruangannya.

__ADS_1


Bukan hanya mereka berdua saja masih ada yang lainnya yang menjadi sasaran kemarahan Arief di hari pertama ia bekerja di sana.


__ADS_2