
Nadin mengetuk-ngetuk meja kafe dengan kesal, dua jam sudah ia menunggu tapi orang yang di tunggunya belum juga datang. Sesekali dia membuka handphone berharap ada pesan masuk, tapi nihil. Wajahnya semakin di tekuk, air jus di depan matanya sudah habis separo dan dia masih dalam keadaan menunggu. Dalam hati ia bicara sepuluh menit lagi jika orang itu tidak datang maka ia akan pergi.
Tapi akhirnya niat itu di urungkan juga, saat matanya melihat seorang gadis masuk kedalam kafe dengan tergesa-gesa, gadis itu menatap sekeliling kafe dan saat mata mereka beradu pandang, senyum di bibir gadis itu merekah seraya menghampiri Nadin. Mely duduk di hadapan Nadin dan tanpa ijin meminum jus milik Nadin yang hanya tinggal setengah.
"Sory banget ya, lu tau sendiri kan jakarta macetnya kayak apa? lu tau tau juga kan gue gak pernah ingkar janji" ucap Mely setelah ia berhasil mengatur nafas.
"Gue tau lu gk pernah telat kalau janjian, yang bikin gue kesel kenapa handphone lu gak bisa di hubungin? kan gue jadi bingung, bayangin Mel dua jam lho gue duduk di sini" jawab Nadin dengan nada kesal.
"Iya iya, kan gue udah minta maaf, handphone gue lowbat makanya mati, terus mana buku yang gue minta, lu bawa kan?"
"Nih"
Di sodorkannya sebuah buku dengan sampul merah yang menyala. Mely menatap buku itu dengan penuh semangat dan gembira.
"Aduuuhhh, thanks ya din. koleksi buku gue akhirnya nambah lagi"
"Iya sama-sama, eh ngomong-ngomong lu mau ikut gak sama gue? "
"Kemana? "
"Keliling jakarta"
"Apa? keliling jakarta? ngapain? kitakan tinggal di jakarta, males ah mening gue baca buku "
"Ya elah, kita keliling Jakarta naik motor, kita kunjungin tempat-tempat asik di Jakarta, dari pada lu betelor di kos-an, baca buku mulu, lagian yang lu baca buku horor pinter kaga parno iya ntar deh lu"
Mely hanya mendengus menjawab ucapan Nadin.
"Ayo donk Mel, putus cinta tuh jangan menutup diri justru lu harus membuka diri"
"Apaan sih lu, gue udah lama moveon tau"
jawab Mely ketus karna merasa tersinggung dengan ucapan Nadin.
Satu bulan yang lalu Mely putus dengan pacarnya karna terhalang restu orang-tua sang pacar, padahal mereka sudah berniat akan melanjutkan hubungan keduanya ke jenjang pernikahan. Tapi apa daya saat di pertemukan dengan orang tua pacarnya, Mely mendapat respon yang kurang baik.
Awalnya mereka berdua bertahan, terus berjuang untuk mendapatkan restu, tapi lama-lama Mely putus asa juga karna tak kunjung mendapat restu juga, akhirnya mereka berpisah secara damai. Di mulut Mely berkata sudah moveon, ia sibukan diri dengan bekerja dan membaca buku, tapi baik Nadin maupun Mely mereka sama-sama tahu bahwa kenyataannya melupakan orang yang teramat di cintai bukanlah hal mudah.
__ADS_1
"Ayo dong Mel, yaelah masa lu gak mau sih, hari sabtu ini mumpung gue libur kerja, lu kan tahu sendiri gue susah dapat liburnya" bujuk Nadin, tapi Mely tetap tak bergeming.
"Ayo Mel, kalau gak gue gak mau cariin buku-buku lagi"
"Lho ko lu ngancem sih"
"Ya makanya lu mau ya.. ya... "
Akhirnya Mely pun menyerah, dia menganggukkan kepala dan Nadin bersorak atas keberhasilannya membujuk.
Pukul 09.35 WIB Mely baru bisa berbaring di tempat tidurnya. Badannya lelah, tapi matanya masih segar dan belum mengantuk, di ambilnya satu buku dari sekian banyak buku di dalam rak kecil. Di buka-bukanya setiap lembar dari buku itu tanpa dia baca, semua buku yang ia miliki bergenre horor misteri, karena memang Mely lebih suka cerita horor ketimbang percintaan, tapi yang lucu dalam kehidupannya ia hampir tidak pernah mengalami kejadian horor, yang selalu tragis justru masalah percintaannya. Terkadang ia merasa problema percintaannya sangat tragis dan lebay seperti di film-film atau novel tapi itu sungguh terjadi pada kehidupannya. Cinta yang terhalang restu orang-tua, terkadang ia merasa seperti juliet saja, tapi tentu ia cukup berfikir logis untuk memutuskan hubungan dan berkelana lagi mencari cinta yang sesungguhnya daripada mati begitu saja.
"Kira-kira kapan datangnya pangerangku, bukankah setiap gadis memiliki pangerannya, yang akan membawanya pergi bersamanya menaiki kuda putih yang gagah " gumam Mely di tengah lamunannya.
Lamunan yang ternyata membawanya ke alam mimpi.
Matahari bersinar terik di atas langit saat Mely bersama karyawan lainnya keluar pabrik untuk istirahat.
"Hai Mel, ke kantinnya bareng ya" sapa ocha dari belakang punggung Mely.
"Eh elu, ayo bareng" balas Mely.
"Eh weekend ini main yu" ucap Dewi.
"Main kemana?" tanya ocha.
"Belum dapet ide juga sih, tapi sabtu ini kalian gak ada acarakan?" semua menggeleng menanggapi pertanyaan Dewi.
"Nah kalau gitu cocok"
"Eh tapi, sabtukan jadwalnya gue jalan sama pacar gue" ucap Siska
"Lu gimana sih tadi katanya gak ada acara" tanya Dewi kesal
"Tau nih " tambah Ocha ikut kesal juga
"Ya sory gue kan baru inget" jawab Siska
__ADS_1
Tiba-tiba Mely juga teringat akan janjinya dengan Nadin.
"Eh iya, gue juga baru inget, gue udah ada janji duluan sama temen gue"
"Yaaaaahhh" erang Ocha dan Dewi barengan
"Gagal donk jadinya" ucap Dewi
"Gak juga kok, kalau kalian mau ikut juga boleh. Makin banyak orang kan makin rame" ucap Mely.
"Yang bener? mang lu mau jalan sama siapa sih?" tanya Ocha penasaran.
"Nadin, temen sekolah gue dulu. Dia ngajakin jalan-jalan keliling Jakarta, cari tempat-tempat yang asik gitu, yah dari pada gak ada tujuan banget, lagian kan Jakarta lumayan luas juga, seharian full nyari dan singgah di tempat yang asik kan seru juga"
" Wah boleh tuh idenya" ucap Dewi
"Tapi bener kita boleh ikut?" tanya Ocha memastikan
"Iya boleh lah, kan tadi gue udah bilang lebih banyak orang lebih seru "
"Terus gue sama pacar gue juga boleh ikut Mel? " tanya Siska
"Boleh kalau pacar lu mau di ajak"
"Gak ah, lu gak boleh ikut" ucap Dewi membantah Siska
"Iiihhh ko lu jahat sih" rengek Siska
"Ya abisnya, ntar kita malah nontonin lu pacaran lagi " semua tertawa mendengar alasan Dewi
"Ya elah jomblo ngenes, yang bawa pacar kan Siska doang, gue sama Mely kan gak, jadi lu gak jomblo sendirian kali kan kita temenin" ucap Ocha masih setengah tertawa
"Oh iya, ya udah deh lu boleh ikut Ka"
"Ya udah jadi fix yaa kalian ikut, jadi ntar gue tinggal kabarin temen gue aja" ucap Mely mengumumkan.
Dia sadar ucapan Nadin memang ada benarnya, dia butuh keluar dari zona nyamanya, dia harus pergi bersosialisasi dan menikmati hidup karna dengan begitu kepedihan hatinya sedikit demi sedikit akan terobati.
__ADS_1
Mely jadi tak sabar menunggu hari weekend, ia merasa hari itu akan menyenangkan baginya, entah kenapa. Tapi dia merasa akan terjadi sesuatu dan semoga itu adalah sesuatu yang baik yang sedang dia tunggu.