
Aku berlari sekencang mungkin menyusuri koridor dan hampir menabrak beberapa suster, di jalan bercabang aku menengok ke kiri kanan mencari-cari diantara banyak orang di sana.Tepat di bangku yang menyandar ke tembok akhirnya aku menemukan Sely tengah menangis sendirian, tanpa ancang-ancang ku berlari menghampirinya.
"Sely... " panggil ku terengah-engah.
"Kak Mel... " teriaknya sambil memelukku.
"Gimana ibu?"
"Kata dokter ibu harus di operasi" jawabnya di tengah-tengah isakan.
"Terus udah operasinya?"
"Belum, aku belum tanda tangan persetujuan aku nunggu Kakak dateng"
"Kenapa harus nunggu aku, ya udah sekarang aku udah dateng sebaiknya kamu cepat tandatangan biar ibu bisa cepat di operasi"
"Tapi kak Mel.... " ucap Sely ragu.
"Ada apa lagi?"
"Aku gak punya uang buat biaya operasi ibu"
"Kamu ini ngomong apa sih, lantas kamu mau biarin ibu meregang nyawa? saat ini yang paling penting adalah keselamatan ibu kamu masalah biaya operasi kita pikirin nanti"
Sely masih diam membisu dan berfikir, membuatku kesal dan mengguncang bahunya.
"Kamu mikir apa lagi Sel? kamu liat aku.... kamu gak sendiri, aku pasti bantu kamu... kamu percaya sama aku kita pasti bisa bayar operasi ini maka dari itu kita harus cepat sebelum semuanya terlambat."
Sely mengangguk dan pergi menandatangani suratnya, ku hempaskan tubuhku di bangku dan kembali memikirkan berita kecelakaan ibu Sely yang jatuh di kamar mandi, tak di sangka luka di kepalanya cukup serius hingga harus di bawa ke UGD dan kini harus di operasi pula.
Sely datang dan duduk disampingku dia mengabarkan dokter mulai menyiapkan ruang operasi dan tentu akan bekerja sekeras mungkin menyelamatkan nya.Ku raih bahunya agar kepalanya bisa bersandar di bahuku, tentu kejadian ini sangat mengguncangnya.
Sely masih muda dan tidak terlalu cepat tanggal juga dalam situasi ini aku bersyukur dia menelpon ku hingga aku tak hanya bisa menemaninya tapi juga membantunya.Kakak Sely tinggal di luar kota Ayahnya juga kerja di luar kota di rumah dia hanya tinggal dengan ibu dan adiknya, tentu dia sangat kebingungan. Adiknya masih kecil hingga tak bisa banyak membantu saat ini pun dia titipkan adiknya ke tetangga.
Sebuah nada pesan masuk membuyarkan lamunanku, rupanya dari kak Deni ia mempertanyakan kenapa aku tidak masuk kerja, ku jawab aku sedang menemani Sely di rumah sakit karna ibunya kecelakaan.Pesan itu di akhiri dengan ucapan kak Deni yang akan mampir nanti sore setelah pulang kerja.
Detik-detik menegangkan akhirnya telah berakhir, cukup lama bagi kami menunggu dan untungnya dokter datang membawa kabar baik.Operasi ibu Sely berjalan lancar namun dia masih belum boleh di tengok, tak begitu masalah bagi kami yang penting ibunya telah selamat.
"Sel kamu pasti belum makan, aku beliin sesuatu ya buat kamu"
__ADS_1
"Gak usah ka, aku gak laper ko"
"Jangan gitu ini udah siang, meski kamu gak laper tapi kamu tetap harus makan"
Aku pun pergi meninggalkannya dan membeli beberapa roti dan eskopi kesukaannya, dia memang tetap tidak mau makan meski aku sudah membelikannya makanan. Apa boleh buat dalam keadaan begini tentu nafsu makannya hilang, untung saja beberapa jam kemudian ibunya siuman sehingga ia kembali ceria dan mau makan.
Sesuai pesan yang di kirimkan Kak Deni datang sore hari menjenguk, Sely kelihatan senang dengan kedatangannya entah karna orang yang menemaninya bertambah atau buah-buahan yang di bawa kak Deni, yang jelas aku bersyukur dia sudah bisa tersenyum lagi.
"Aku kaget waktu kamu ngabarin kalau ibu Sely masuk rumah sakit" ucap kak Deni saat kami duduk berdua di luar sedangkan Sely di dalam menemani ibunya.
"Aku juga kaget dan langsung datang kesini setelah mendapat telpon Sely yang sedang menangis"
"Benarkah? Sely menelpon mu sambil menangis?" tanyanya tak percaya.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Wah, kamu pasti lebih kaget dari aku"
"Tentu saja" ucapku singkat.
Kami terdiam membisu hingga yang terdengar hanya suara orang-orang di sekitar kami sampai Sely keluar dan berkata kepada kami.
"Ya ampun sel, fungsinya aku emang apaan kalau bukan jagain kalian. Ya udah kamu pulang aja gak usah khawatir aku pasti jagain tante"
"Makasih kak Mel, kakak emang yang terbaik"
Aku tersenyum membalas pujiannya, Sely hendak pergi sendiri tapi Kak Deni bersikeras ingin mengantarnya.Aku mengerti Sely memang masih agak sungkan tapi dengan bantuan paksaanku akhirnya dia mau juga di antar.
Selama Sely pergi ibunya tidur cukup pulas sehingga aku hanya duduk di samping ranjangnya sambil memainkan handphone. Ini sudah malam sesuai dugaanku kak Afdal bertanya kenapa kami tidak ada kabar, biasanya masih sore kami sudah mengajaknya main dengan kak Damar dan janjian di suatu tempat. Hilangnya satu kebiasaan tentu membuat satu pertanyaan besar pula.
Di telpon ku ceritakan semua kepada Kak Afdal tentang keberadaanku di rumah sakit dan ibunya Sely. Tak ku sangka sebelum Sely kembali kak Afdal dan Kak Damar sudah datang duluan.
"Gimana kabarnya tante Mel?" tanya Kak Damar.
"Sekarang udah agak baik, tapi yah tentu tante harus mendapatkan perawatan setelah menjalani operasi"
"Gue turut prihatin ya Mel?" ucap ka Afdal tulus yang justru membuatku geli.
"Makasih, tapi sebenarnya yang harusnya mendapatkan ucapan itu Sely karna ini ibunya Sely buka ibu aku" jawabku menahan tawa.
__ADS_1
"Oh iya gue lupa"
Kami tertawa mendengar ucapan kak Afdal yang polos, tak lama barulah Sely datang tentu masih di antar kak Deni.Melihat Sely dan Kak Deni jalan bareng entah kenapa aku merasa Kak Damar tidak suka melihatnya, ia kelihatan cemburu melihat kebersamaan mereka entah hanya perasaanku saja atau memang ada sesuatu.
Kak Deni hanya ikut mengobrol sebentar dan pamit pulang, meninggalkan kami berempat yang sudah sepakat akan menginap di rumah sakit menemani ibu Sely.
Rupanya jika sudah malam anginnya terasa lebih dingin membuat kami cukup kedinginan, dengan mesra ku lihat Kak Damar memakaikan jaketnya kepada Sely. Ini bukan sekedar perasaan tapi mataku cukup jeli melihat cinta yang tumbuh.
"Kak Damar anter aku kedepan yu kita beli kopi panas biar anget" ucapku.
"Oh boleh ayo... "
"Eh sama makanan juga dong Mel, gue laper" timpah Kak Afdal.
"Mana duitnya" ucapku seraya menyodorkan tangan.
"Yaelah pake duit aja dulu.. "
"Gak ah tar gak di gantiin lagi"
"Pelit amat sih lu, ntar gue gantiin"
Aku hendak memulai pertengkaran tapi belum sempat kak Damar sudah melerai kami, Sely hanya tertawa melihat tingkah kami yang jarang akur. Karna Kak Damar yang bilang akan membayar akhirnya kami pun pergi.
Kami membeli empat kopi dan beberapa snak juga jagung bakar, dalam perjalanan pulang kembali dengan hati-hati aku bicara.
"Kak... menurut kak Damar Sely itu orangnya gimana?"
"Kenapa? ko tiba-tiba kamu nanya Sely?" tanyanya heran.
"Aku cuma pengen tahu aja kalau Sely di mata cowok gimana, soalnya kalau di mata aku dia adalah seorang adik yang harus di lindungi. Dia polos seperti kertas dan ceria seperti bunga-bunga."
Kak Damar tertawa kecil mendengar perkataanku, membuatku merasa aneh karna ucapanku sendiri.
"Menurutku juga begitu, dia manja dan kekanak-kanakan tapi itulah sifat yang justru aku sukai darinya karna sifatnya itu membuatku merasa menjadi lelaki sejati, seorang pria yang bisa diandalkan. Saat dia manja bukan berarti dia lemah tapi justru saat itulah seorang pria harus menunjukan sikap melindungi"
"Jadi itukah yang membuatmu menyukai Sely?"
Kak Damar menghentikan langkahnya dan memandangku dengan penuh arti.
__ADS_1