Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
Spesial epe : Duri 20


__ADS_3

Aku tak sanggup menjawab pertanyaan yang di ajukan Sely, aku hanya bisa terdiam saat kedua mata Sely dan Kak Afdal menatapku.


"Mely, apa itu benar? lu... pacaran sama Deni?"


"Bukankah ada yang lebih penting dari itu?" tanyaku dingin dengan wajah datar meski rasanya aku tak kuat menahan ini semua.


"Apakan kita akan membiarkan Reni tetap di sini, dan mencoba membunuhku lagi?" ucapku lagi.


Kak Afdal mengangguk pelan dan membawa Reni keluar, meski dia berontak dan mencoba menggapaiku.Sely masih menatapku dengan penuh tanya tapi ku ucapkan aku ingin istirahat dan di tinggal sendirian.


Apa yang harus ku lakukan? apa yang harus ku katakan? tidak mungkin aku menyimpan rahasia ini selamanya.Kak Deni datang saat sore menjelang, raut wajahnya mengisyaratkan kekhawatiran yang sangat.Dia memelukku di hadapan Sely, Kak Damar dan Kak Afdal menanyakan bagaimana kabar dan perasaanku saat ini.


"Aku udah baikan ko kakak gak perlu khawatir lagi"


"Syukurlah kalau begitu, aku sangat khawatir aku gak nyangka Reni bisa melakukan ini padamu"


"Saat ini dia sedang di proses di kantor polisi, dan polisi juga akan datang kemari meminta keterangan Mely" ucap Kak Afdal menjawab.


"Mel, kalau kamu ngerasa belum siap aku bisa minta polisi datang nanti saja" ujar kak Deni masih khawatir.


"Gak apa-apa ko, aku bisa.Lagi pula lebih cepat pihak berwajib memproses Reni itu lebih baik"


"Ya kamu benar, aku juga janji Reni akan mempertanggung jawabkan perbuatannya, aku akan pastikan Reni mendapatkan ganjarannya" ucap Kak Deni serius.


Di balik janji kak Deni ku lihat Sely seolah percaya aku memiliki hubungan dengannya, perhatian dan kasih sayang yang kak Deni berikan begitu tulus tentu Sely bisa percaya begitu saja kalau kami pacaran, padahal kenyataannya dialah ratu di hati kak Deni.


"Oh ya Mel, ini ponsel lu tadi sewaktu lu lagi pingsan ada orang yang namanya Nadin dia telpon dan gue kasih tahu kalau lu masuk rumah sakit, katanya dia mau dateng ke sini gue udah ngasih tahu alamatnya, mungkin bentar lagi dia datang" ucap kak Afdal memberi tahu.


"Thanks" ujarku sambil mengambil handphone yang di berikannya.

__ADS_1


Ku lihat ponselku dan memang ada pemberitahuan Nadin beberapa kali menelponku, takut ia masih khawatir aku pun menelpon dia.


"Hallo" ucapku saat Nadin sudah menjawab telpon ku.


"Hallo, Mel ini lu?"


"Iya Din, ini aku Mely"


"Oh.... Mel lu kenapa? gue di kasih tahu temen lu katanya lu masuk rumah sakit"


"Iya Din"


"Lu kenapa sih, ko bisa masuk rumah sakit Mel? temen lu bilang lu di tusuk orang" tanya Nadin dengan penuh khawatir.


"Biasalah gue ngejajal ilmu gue kira ilmu kebal gue udah sempurna taunya di tusuk piso masih tembus ke daging berarti ilmu kebal gue masih ecek-ecek" candaku.


"Eh dasar somplak, masih bisa becanda aja lu, tapi syukur deh berarti lu udah baikan, gue masih di jalan nih tapi bentar lagi nyampe ko"


"Ah ada aja nih mintanya, ya udah gue tutup dulu telponnya bye"


"Bye" jawabku dan menutup telponnya.


"Kenapa kak?" tanyaku pada Kak Deni yang rupanya sedari tadi memperhatiakanku sambil tersenyum.


"Gak apa-apa, aku cuma seneng liat kamu udah bisa becanda dan tertawa" jawabnya tulus.


"Kalau gitu aku tunggu di luar aja ya" ucap Sely terlihat canggung melihat kedekatan ku dengan kak Deni.


"Eh Sel gue ikut, sekalian gue mau nyari minuman" ucap pula Kak Afdal dan Kak Damar juga akhirnya ikutan keluar, hingga akhirnya tinggalah aku berdua saja dengan Kak Deni.

__ADS_1


Sepanjang malam Kak Deni tak beranjak dari sampingku, ia mengelus lembut kepalaku, menyuapiku makan dan mengajakku becanda.


Mungkin jika adik Kak Deni waktu itu sempat di selamatkan mungkin seperti inilah perhatian yang ia berikan, hingga ia tak peduli pada pujaan hatinya, hanya adiknya, adik tersayangnya yang akan ia perhatikan.


Nadin datang saat malam sudah larut bersamaan dengan pihak kepolisian yang akan meminta keteranganku, aku menyetujui permintaan polisi dan meminta hanya di temani Nadin saat proses introgasi di mulai.


Semua yang di tanyakan polisi ku jawab tanpa mempertimbangkan apa pun karna memang sebelum kedatangan polisi aku sudah menyusun semua jawaban yang kemungkinan akan ditanyakan.Dan tentu jawaban yang ku berikan semua akan memberatkan Reni menjadi tersangka percobaan pembunuhan.Dengan banyak saksi aku yakin Reni akan di jebloskan ke dalam penjara.


Dengan begitu hidup Sely akan aman, semua tindak tanduk ku dalam kasus ini dan sedikit bumbu-bumbu sandiwaraku rupanya dapat terbaca mudah oleh Nadin, tentu saja dia adalah orang yang paling mengenalku.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" satu pertanyaan Nadin yang harus ku jawab dengan sebuah cerita panjang lebar.


Meski aku berusaha sekuat apa pun menyembunyikan hal ini tapi rahasia ini tak mampu sedikit pun tersembunyi dari Nadin.Dengan suara pelan agar tak ada seorang pun yang mendengar, setelah pihak kepolisian pergi dan berpura-pura ingin tidur aku yang hanya di temani Nadin saja ku cerita kan semua.


"Beban seberat ini lu tanggung sendiri? lalu untuk apa semua teman yang selalu ada buat lu?" tanya Nadin dengan penuh emosi.


"Ini tentang mereka Din, aku harus melindungi mereka"


"Lalu ngorbanin diri lu sendiri? sampai kapan lu mau ngalah? sampai kapan lu bakal melindungi orang lain dan mengorbankan diri lu sendiri? lihat akibat kebaikan lu, lu hampir meregang nyawa!"


"Ini bukan pertama kalinya aku menghadapi kematianku, pertama kali aku menyia-nyiakannya maka kali ini jika memang harus mati maka setidaknya nyawaku tak akan terbuang sia-sia, ada orang-orang yang telah ku lindungi aku bisa pergi dengan rasa bangga"


"Lalu gimana sama gue? gue yang selalu ngarepin lu akan make gaun pengantin yang cantik?"


Air mata mengalir di pipi Nadin yang dengan lembut ku hapus, kedekatakan kami sebagai sahabat telah melebihi segalanya, perasaan ingin saling melihat kebahagiaan masing-masing menjadi impian terdalam setelah semua suka duka yang kami lewati.


"Nyatanya hari ini aku masih bernafas, kau tidak akan kehilangan aku semudah itu, aku tidak mau berjanji tapi aku akan berusaha" jawabku untuk menenangkannya.


Nadin memelukku dan tangisnya pun tumpah, ku belai punggungnya dengan lembut, menenangkannya agar ia bisa menghentikan airmatanya.

__ADS_1


"Terimakasih kamu udah mau khawatir dan perhatian, satu lagi jika bisa tolong beri aku dukungan, agar aku bisa kuat menghadapi semua ini, agar aku bisa menyelesaikannya, agar semua orang bisa bahagia"


"lu gak perlu khawatir, bukan cuma ngedukung tapi gue juga pasti akan ikut andil dalam perjuangan lu" jawab Nadin tegas.


__ADS_2