Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
Eps. 51


__ADS_3

Pintu depan di ketuk dengan keras, suara dari luar membuat ibu Jordan berlari kecil untuk membuka pintu.Tak di sangka Nadin yang berkunjung dengan membawa sekeranjang buah-buahan segar.


"Halo tante, apakabar?"


"Nadin... tante kira siapa, ayo masuk" jawabnya sambil melebarkan pintu agar Nadin dapat masuk.


"Kabar tante baik, gimana kabarmu sendiri?"


"Baik ko tan, gimana kabar Jordan? ini aku sengaja bawain buah-buahan buat dia"


"Aduhh.. jadi ngerepotin, Jordan juga udah mulai baik ko.Silakan kamu duduk dulu biar tante panggilkan mereka" jawabnya.


Mereka, sudah pasti yang di maksudnya adalah Jordan dan Mely.Nadin menunggu dengan santai sampai Jordan dan Mely benar-benar datang.Apa yang di ucapkan kak Afdal rupanya memang benar Mely masih tinggal di sini.


"Hai Din, gimana kabar lu?" sapa Jordan.


"Gue baik kok, dari yang gue liat lu juga udah sehat kayaknya"


"Kalau fisik sih gue udah bisa kerja lagi, cuman gue masih belum inget apa pun tentang masalalu gue itu"


"Oh, ya sabar aja, cepat lambat juga lu pasti inget"


"Iya, makasih Din.Untungnya Mely selalu ada buat gue" ucap Jordan sambil melirik Mely dan tersenyum padanya.


Nadin yang memperhatikan Mely dengan seksama sadar bahwa ada yang salah dengan Mely.Entah apa yang terjadi padanya tapi Mely yang ini terasa asing bagi Nadin.


Jordan membiarkan Mely dan Nadin mengobrol berdua saja, Jordan yang perhatian tentu memberi waktu agar Mely bisa bebas bercanda dgn sahabatnya itu.


"Gue denger kabar dari Afdal katanya lu gak pulang semenjak datang ke sini, jadi gue mutusin buat nengokin lu" ucap Nadin khawatir.


"Jordan masih butuh aku, jadi aku belum bisa pulang"


"Jordan yang butuh lu, atau lu yang butuh dia?" tanya Nadin sarat akan makna.


Sejenak Mely menatap Nadin, tersirat sebuah kepedihan yang ingin ia lontarkan.Tapi sampai kapan ia akan meminta uluran tangan Nadin?, keputusan yang dia ambil takkan pernah berubah.

__ADS_1


"Tentu saja Jordan selalu membutuhkanku, dia tak bisa jauh dariku" jawab Mely akhirnya.


"Mel, kali ini apalagi yang lu rencanain?" tanyanya curiga.


"Apa yang ku rencanakan? aku hanya menjalani takdir yang telah Tuhan putuskan" jawab Mely seraya tersenyum.


Mata itu, sendu dan gelap.Mata yang pernah Nadin lihat saat nyawa Mely gentayangan entah kemana, sampai-sampai ia kehilangan akal sehatnya.


Untuk keduakalinya Nadin melakukan kesalahan dan itu fatal.Ia kembali menjerumuskan Mely ke dasar jurang kegelapan, bahkan lebih mengerikan dari sebelumnya.Tak ada teriakan, tak ada tangisan, tak ada keputusasaan.Ia menemukan sebuah tawa yang nyaring dan melengking, simpul senyum dingin, dua tanduk mencuat diantara selah rambut.


Nadin cukup pandai untuk membaca keadaan, meski dia baru sehari tinggal bersama mereka.Mely, telah berubah menjadi iblis dengan tujuan menyesatkan.


"Hai Din" sapa Jordan di malam itu.


"Eh, hai juga" jawab Nadin kaget karena lamunannya buyar.


"Hmmm, gue mau nunjukin sesuatu sama lu"


"Apaan?"


"Wah bagus banget" ujar Nadin terpukau.


"Menurut lu bagus ya... " kata Jordan semangat melihat ekspresi Nadin.


"Menurut lu Mely juga bakal suka gak ya sama cincinnya?" tanya Jordan yang membuat Nadin kaget.


"Mely? cincin ini buat Mely?" tanya Nadin pelan.


"Iya, gue berencana buat nikahin dia.Dan cincin ini bakal gue berikan buat ngelamar dia secara khusus, gue udah lupain semua kenangan gue sama Mely dan untuk menebus dosa itu gue mau bikin kejutan yang bakal buat dia seneng sampai terharu" ujar Jordan menjelaskan.


Nadin tak mampu berkata-kata, kabar baik menurut Jordan justru adalah kabar buruk baginya, bagaimana mungkin Jordan bisa menikahi Mely sedang dia sudah memiliki anak dan istri.Dan Dina tidak mungkin menyetujui hal ini.


"Jadi gimana? menurut lu Mely bakal suka gak?" desak Jordan.


Nadin hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.Dengan tergesa-gesa ia segera menemui Mely yang berada di kamarnya.

__ADS_1


"Jadi ini rencana lu?" tanya Nadin tanpa basabasi.


"Maksud kamu apa?" tanya balik Mely yang belum mengerti ucapan Nadin.


"Sadar Mel, sadar.Jordan udah punya keluarga sendiri, meski sekarang dia amnesia tapi bagaimana kalau suatu hari nanti dia inget dan lu akan di buang lagi"


"Kamu ngomong apa sih Din, sumpah aku gak ngerti"


Nadin bergerak cepat mendekati Mely dan mencengkram kedua lengan Mely dengan kuat.


"Gue nyuruh lu datang ke sini bukan buat ngerebut Jordan dari Dina, tapi supaya dia berhenti aja manggil-manggil nama lu kayak orang gila.Jelasin kalau kalian udah gak punya hubungan apa-apa lagi dan lu.... balik lagi ke Bogor, nikmatin semua kebahagiaan yang Tuhan kasih buat lu di sana"


Mely diam membisu, kalimatnya tersekat di tenggorokan, pembelaan yang ingin ia lontarkan tertelan kembali bersama airmata yang coba ia taha agar tak terjatuh.


"Mel, gue mohon.Kita pulang ya!" ajak Nadin kini dengan suara lebih pelan.


"Gak, aku gak bisa pulang begitu saja" jawab Mely yang membuat Nadin kembali murka.


"Jadi lu lebih milih tinggal di sini dan nerima lamaran Jordan meski lu tahu akhir cerita ini selalu lu yang tertindas? apa sih mau lu Mel? apa lu mau ngerebutin Jordan sama Dina lagi? mengulang masalalu dan terluka lagi?"


"Tidak Nadin, kali ini endingnya adalah bahagia.. aku yang akan menang" jawab Mely dengan airmata yang telah membasahi pipinya.


Nadin menggeleng, kepedihan yang ia rasakan membuatnya ikut menangis dengan pelan ia mencoba membujuk lagi.


"Tuhan.... udah kasih tahu lu, Jordan bukan jodoh lu, meski dia amnesia dan lupa siapa Dina tapi bukan berarti lu bisa miliki dia lagi Mel, lu tahu? mungkin aja jodoh lu adalah kak Afdal.Kalian sangat cocok dan dia selalu buat lu tertawa, iya kan?"


"Aku tahu, Jordan mungkin bukan jodohku, tapi pada cerita ini aku bukanlah seorang pujangga yang siap memetik cintanya, tapi sebuah karma yang akan mengambil hak ku yang terabaikan.Aku datang dan bertahan di sini, hanya demi satu tujuan... mereka.... harus merasakan kesakitan yang aku rasakan" janji Mely.


Entah setan apa yang telah merasuki Mely, tapi kekejaman nampak jelas di raut wajahnya.Entah hukuman apa yang akan Mely berikan pada orang-orang yang berdosa padanya, yang Nadin tahu Mely takkan melepaskan mereka dengan mudah.


"Tidak bisakah kita pulang saja? kita lanjutkan hari bahagia kita seperti biasa" tanya Nadin untuk terakhirkalinya.


Senyum Mely merekah, ia terlihat cantik tapi sekaligus menyeramkan dengan sebuah bisikan ia menjawab.


"Kau belum melihat adegan terbaiknya"

__ADS_1


__ADS_2