Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
Eps. 55


__ADS_3

Dina menuntun Jordan pergi ke kamarnya, meski ragu tapi Jordan tetap menurut.Di dalam kamar, ia segera mengeluarkan sebuah berkas dari dalam lemari.


"Aku ingin mas Jo melihat ini" ujar Dina menyerahkan berkas tersebut.


Dengan penuh tanda tanya Jordan menerimanya dan membuka apa isi berkas tersebut, alangkah kagetnya ia saat di temukannya dua buah buku nikah dimana foto dan namanya terpampang jelas.


"Apa maksud semua ini?" tanya Jordan heran.


"Apalagi mas? kau pun bisa melihat dengan jelas bahwa kau dan aku adalah suami istri, kita sudah menikah" jawab Dina sembari meneliti ekspresi Jordan, takut tiba-tiba dia akan pingsan karena syok.


"Tapi... tapi... bagaimana bisa... aku hanya ingat Mely-lah satu-satunya wanita yang ingin aku nikahi" ujarnya gusar.


Dina telah memperhitungkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi, bila suaminya harus sakit lagi karena mendengar kenyataan yang terlalu mendadak ini, jiwa dan raganya telah siap menanggung semua kesalahan yang akan tertuju padanya.


Baginya itu lebih baik dari pada melihat Mely terus menindas kebahagiaannya, namun di lihat dari respon yang di berikan Jordan Dina yakin suaminya akan baik-baik saja.


"Aku tidak mengerti.... aku harus kembali.... ke kamarku... aku tidak bisa berfikir jernih" ujar Jordan lemah.


"Tidak apa-apa mas, aku mengerti.Biar aku antar kau ke kamar" jawab Dina.


Dengan di bopong Dina, Jordan kembali ke kamarnya dan istirahat meski otaknya penuh dengan pertanyaan yang ia tahu akan membuatnya tak bisa tidur.


Dina pamit pergi, meninggalkan suaminya dan tersenyum penuh arti.Satu langkah yang bagus baginya, kini ia punya kesempatan untuk merebut kembali keluarganya dalam dekapan.


* * *


Sudah lewat jam makan malam tapi Jordan tak kelihatan keluar kamar, Nadin berfikir mungkin dia tengah berduaan dengan Mely di kamarnya tapi ibu Jordan memberitahu bahwa Mely seorang diri di kamar.


Mengetahui ada yang tak beres ibu Jordan segera pergi mengecek ke dalam kamar putranya.Nampak Jordan sedang diam terduduk di atas kasur, matanya fokus menatap sesuatu yang di pegang tangannya.

__ADS_1


"Jordan, kenapa tidak ikut makan bersama kami? apa perutmu bermasalah?" tanya ibunya khawatir.


"Bukan perutku bu, tapi hatiku" jawabnya pelan.


"Ada apa dengan hatimu?" tanya lagi ibunya sambil mendekati dan alangkah kagetnya ia saat tahu Jordan sedang memegang sebuah buku nikah.


"ibu... saat ini, di rumah ini tak ada satu orang pun yang aku percayai kecuali ibu.Hingga kapan pun aku yakin ibu tak akan pernah berdusta kepadaku, jadi tolong katakan yang sejujurnya apa yang telah terjadi selama setahun yang ku lupakan, apakah Dina.... memang benar istriku? apakah aku memang sudah memiliki keluarga?" tanya Jordan memelas.


Cukup sulit menjawab pertanyaan putranya, terlebih karena ia takut Jordan akan ngedrop dan kondisi kesehatannya menurun.Namun, rasanya ia tak mampu juga berbohong lagi.


"Dalam hati kecilmu yang paling dalam, siapakah yang paling kau percayai? apakah Dina? atau Mely?"


"Ibu, baik Dina maupun Mely saat ini tak bisa ku percaya, aku hanya akan percaya pada ibu seorang, jadi tolong katakan padaku apa yang sebenarnya telah terjadi" jawab Jordan mulai gusar.


"Hhhhhhh... baiklah nak, ibu akan katakan yang sebenarnya" jawab ibunya menghembuskan nafas.


"Jadi..... benar, Dina adalah istriku? dan bayinya adalah anakku" ujar Jordan ternganga mendengar jawaban ibunya.


Ia hampir gila akibat kaget mendengar kenyataan yang baru saja ibunya katakan, sejak awal ia memang sudah merasa curiga kepada Dina.Tidak mungkin jika Dina hanya sebatas sepupu karena ibunya memperlakukan Dina cukup istimewa, ia pun memang sempat merasa memiliki ikatan istimewa terhadap bayi itu.


"Ibu, aku ingin sendiri dulu, bisakah ibu meninggalkan ku?" tanya Jordan pelan.


Meski ia tak ingin meninggalkan putranya apalagi dalam kondisi seperti ini tapi apa boleh buat, Jordan memang butuh waktu sendirian untuk mencerna berita yang cukup mengagetkannya.


Nadin yang sedari tadi diam di balik pintu kamar Jordan, mendengarkan apa yang telah ibu dan anak itu bicarakan cepat-cepat pergi saat tahu tantenya akan keluar dari kamar Jordan.


Tanpa fikir panjang ia segera menemui Mely di kamarnya, tanpa permisi Nadin segera menghambur masuk kedalam.


"Nadin ada apa?" tanya Mely kaget melihat temannya yang seperti di kejar hantu.

__ADS_1


"Mel, gue punya berita buruk buat lu, eh mungkin berita bagus juga sih buat gue" ujar Nadin sedikit linglung.


"Maksud kamu apaan sih? emang kamu punya berita apa?"


"Ya bener, ini berita bagus buat gue karena dengan berita ini mau gak mau lu harus ikut gue pulang ke Bogor" ucap Nadin yakin.


"Astaga Nadin... emang berita apaan?"


"Gue baru aja nguping pembicaraan tante sama Jordan, dan lu tau apa yang mereka obrolin? Jordan baru tahu kalau Dina adalah istrinya, tante yang cerita kalau Jordan emang udah punya keluarga"


"Jordan baru tahu? dan tante yang ngasih tahu?" tanya Mely memperjelas ucapan Nadin.


"Iya, tapi.... gue rasa ada seseorang yang ngasih tahu Jordan deh, karena Jordan yang nanya apa bener Dina itu istrinya."


Dengan jawaban yang di berikan Nadin Mely sudah paham betul bahwa pasti Dina yang memberitahu Jordan akan hal ini, karena itu dia bertanya kepada ibunya untuk mencari tahu kebenarannya.


"Ko lu gak kaget sih?" tanya Nadin yang rupanya sedari tadi menunggu ekspresi kaget Mely dan berharap Mely menjadi gusar hingga mampu dia bujuk untuk pulang, tapi yang di temukannya adalah wajah dingin Mely.


"Heh, aku sudah memperkirakannya" jawab Mely sedikit tersenyum.


Entah apa yang di fikirkan Mely, tapi ekspresinya ini membuat Nadin ketakutan.Mely yang saat ini bukan lagi sahabatnya, tapi orang asing.Nadin memiliki firasat buruk terhadap masa depan yang akan mereka lewati di sini.


"Kamu lihat saja, adegan terbaiknya akan di mulai sebentar lagi" ujar Mely.


"Gak Mel, gue gak bisa tinggal di sini lebih lama lagi, gue harus balik.Gue gak punya waktu buat liat drama yang lu buat di kehidupan nyata ini" jawab Nadin.


Ia memang sangat khawatir kepada Mely, takut sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.Setidaknya itulah yang ada di otaknya saat tahu Mely masih tinggal di Bali, tapi setelah ia bertemu Mely kini ia malah merasa iba kepada Dina dan Jordan.


Mely yang sekarang terlalu menakutkan, kekhawatiran yang dulu berubah menjadi ketakutan.Nadin sudah tidak bisa lagi membujuk Mely untuk pulang, bahkan ia tak sanggup melihat kekejaman apa yang akan di lakukan Mely selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2