Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
Eps. 64


__ADS_3

Selama yang ia ingat, ini adalah untuk pertama kalinya dia melihat Mely marah dan berteriak kepadanya.Tidak, selama ini Mely tidak pernah kasar atau marah kepada siapapun, yang ia tahu bahkan Mely selalu di tindas oleh Dina.


Lalu hal apa yang tidak ia ketahui hingga membuat Mely marah padanya seperti ini?. Mely menyerahkan KTP kepadanya, dan ternyata itu adalah KTP miliknya.


"Aku menyembunyikan KTP mu dengan sengaja, karena dalam kartu itu terpampang jelas bahwa kau sudah menikah.Aku sengaja merahasiakannya darimu bukan karena takut kesehatan mu akan terganggu karenanya, tapi takut kau akan tahu bahwa Dina adalah istrimu walah kenyataannya akhirnya Dina juga yang memberanikan diri untuk memberitahumu, aku takut rencanaku akan gagal hanya karena kau mengetahui identitas Dina yang sebenarnya" ucap Mely menjelaskan.


"Rencana apa?"


"Rencanaku menghancurkan rumahtangga kalian."


Ia kira telinganya salah dengar, tapi ekspresi Mely yang dingin cukup menguatkan bahwa pendengarannya berfungsi dengan baik.


"Apa? kenapa?"


"Karena kau telah membuangku, sama seperti kau telah membuang Dina."


Jordan mencoba mencerna setiap kalimat yang Mely ucapkan tapi tak ada satu pun yang ia mengerti.


"Mely aku mohon, jelaskan padaku apa yang telah terjadi, aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang kamu katakan"


"Aku akan mengatakannya! bayi itu adalah anak kandung mu, dia adalah anak hasil perselingkuhan mu dengan Dina, satu bulan sebelum hari pernikahan kita kau memilih untuk pergi membuangku dan menikahi Dina karena dia telah mengandung anakmu, padahal aku telah banyak berkorban untukmu, aku yang setia malah kau duakan dan kau buang begitu saja.Maka saat kau amnesia dan hanya ingat padaku, ku manfaatkan momen ini untuk membalas dendam.... dan aku berhasil" jelas Mely.


"Tidak mungkin, Mely bercandamu tidaklah lucu" ucap Jordan menolak kenyataan.


"Cobalah lakukan tes DNA lagi, kali ini hasilnya pasti positif kau adalah ayah kandungnya.Kerena hasil tesmu yang dulu adalah salah, aku yang sudah merubah hasil tesnya" ujar Mely pelan.


"Sekarang biarkan aku pergi, aku harus mengejar cintaku sebelum dia pergi untuk selamanya"


"Apa? cintamu? siapa?" tanya Jordan kaget.


"Kak Afdal" jawab Mely pelan.


Dengan tergesa-gesa Mely segera pergi dari hadapan Jordan yang hanya bisa diam membisu.


"Pak tolong ke bandara ya, dan tolong percepat jalannya" ujar Mely kepada supir taxi.


Mobil melaju dengan cepat, tapi bagi Mely masih kurang cepat.Ia ingin segera tiba di bandara lalu pulang keJakarta, tiba di sana ia akan segera pergi menemui kak Afdal.


Batinnya sudah tak tahan ingin bertemu, ada banyak kata yang ingin ia ucapkan, tentang bagaimana senyum yang menghiasi setiap malam, tentang tangis yang ia bagi dalam duka, tentang betapa jutaan bintang masih sedikit bila dibandingkan dengan kerinduannya, dan yang paling penting tentang cinta yang baru ia sadari.

__ADS_1


Kini Mely sudah berada di dalam pesawat, setiap pramugari yang lewat ia tanyai kapan pesawat akan lepas landas dan dengan murah hati mereka menjawab sebentar lagi.


* * *


"Udah duapuluh menit lagi, sebaiknya gue siap-siap sekarang" ujar Kak Afdal.


"Yelah duapuluh menit mah masih lama" ujar Sely.


"Nahan-nahan aja lu dari tadi, gak mau kehilangan gue ya?" tanyanya bercanda.


Dengan kasar Sely menepuk pundak kak Afdal dan mereka tertawa, memang rasanya berat melihat teman yang akan pergi, tapi kak Afdal memang harus tetap pergi.


"Ya udah kamu siap-siap gih, cek lagi barang-barangnya ada yang ketinggalan gak?" tanya ibunya.


Kak Afdal menurut, mumpung masih ada waktu ia kembali mengecek semuanya dan memang barang yang dia butuhkan ada semua, yang tak ada hanya Mely, dan itu yang terus mengganjal hatinya.


"Dal, gue harap lu baik-baik aja di sana dan lu gak usah khawatir soal surat itu, gue janji Mely pasti bakal terima suratnya" bisik Nadin pada Kak Afdal.


"Makasih Din" jawabnya.


* * *


Kaki jenjangnya berlari secepat yang ia mampu, tanpa memikirkan kata-kata kasar atau teriakan seseorang yang memarahinya karena tak sengaja ia tabrak.Yang ia pikirkan hanya satu, ia harus segera bertemu kak Afdal.


Beberapa kali ia sempat terjatuh karena tak sengaja menginjak gaun yang ia kenakan, meski lututnya berdarah tapi Mely tak peduli ia terus berlari dan mencari dimana kak Afdal.


Semua tempat sudah ia jelajahi tapi hingga saat ini matanya belum juga menemukan Kak Afdal, lelah, sakit dan hampir putus asa akhirnya Mely memutuskan untuk menghubungi Nadin.


* * *


Dering telpon mengejutkan Nadin yang dalam perjalanan pulang, saat di lihat itu dari Mely ia segera mengangkatnya.


"Halo Din, kamu dimana? aku udah di bandara tapi aku gak bisa nemuin kak Afdal atau kalian" ucap Mely setengah ngos-ngosan karena lelah berlari.


"Apa lu di bandara? oke tunggu gue di situ" jawab Nadin yang segera menutup telpon.


"Siapa Nad?" tanya kak Damar.


"Mely, kita harus puter balik ke bandara, soalnya Mely ada di sana"

__ADS_1


"Apa? oke kalau gitu kita samperin sekarang" jawab Kak Deni yang berperan sebagai supir dan langsung tancap gas.


* * *


Gaun yang indah telah kusam dan bernoda darah, gadis cantik yang dengan wajah merah dan mata yang tak henti mengalirkan airmata mengundang banyak tanya orang yang melewatinya.


"Mely.... " panggil seseorang dari kejauhan.


Segera Mely mengangkat kepala yang sedari tadi menunduk lemah, dari kejauhan dia melihat Nadin yang di susul oleh kak Damar.Dengan senang Mely bangkit dan berlari menghampiri Nadin.


Kedua sahabat itu berpelukan erat saat bertemu, kak Damar yang melihat hanya bisa tersenyum dan membelai dua gadis yang sangat berarti baginya itu.


"Aku udah tanya orang... katanya pesawat ke Jepang udah berangkat dari tadi" ucap Mely sambil menangis.


Nadin hanya bisa membelai rambut Mely dengan penuh sayang, kenyataannya Mely memang sudah terlambat.


"Tak apa, kita ada di sini buat lu" jawab Nadin.


"Aku terlambat Din,... aku udah terlambat" ucap Mely lagi menyesal.


Dengan susah payah Nadin menenangkan Mely hingga ia berhenti menangis, saat sampai yang lain Mely akhirnya bisa menguasai dirinya meski tak ada kata yang sanggup ia ucapkan.


Kak Deni dan Sely memeluk Mely dengan erat, melepaskan kerinduan masing-masing.Karena kondisi Mely yang masih lemah mereka memutuskan untuk membawa Mely pulang ke rumah Nadin dan bermalam di sana sampai keadaan Mely membaik.


Sedangkan yang lain pulang ke Bogor meski ingin sekali bercerita banyak dengan Mely dan yang paling penting mereka ingin mendengar jawaban atas pertanyaan kemana Mely pergi selama ini.


"Aku selalu terlambat" ucap Mely suatu hari pada Nadin.


Di kamar Nadin, Mely menghabiskan waktu untuk istirahat dan berfikir jernih.Memikirkan cerita apa yang harus dia karang jika tante Isma bertanya atau yang lain perihal kepergiannya.


"Mely, penyesalan itu memang selalu datang terakhir"


"Andai aku mendengarkanmu waktu itu, aku pasti tidak akan terlambat, saat waktunya tiba kak Afdal pergi saat itu pula aku baru sadar kalau aku mencintainya.Aku ini pengecut Nadin, aku takut untuk jatuh cinta lagi padahal selama aku bersamanya aku tidak pernah berduka.Kini setelah dia pergi aku berduka atas kehilangan ku."


Airmata kembali mengalir di pipi Mely untuk kesekian kalinya, dengan tabah mencoba untuk tegar Mely menghapusnya meski air itu kembali membasahi pipinya.


Nadin yang tak tega melihat Mely akhirnya menyerahkan sebuah amplop dan berkata.


"Sebelum Afdal pergi, dia nitipin ini sama gue dan nyuruh gue buat ngasihin ke lu."

__ADS_1


__ADS_2