
Mely tahu kupingnya baik-baik saja, apa yang baru saja ia dengar adalah jelas bahwa kak Deni baru saja melamar Sely tapi ia tak bisa percaya pada apa yang barusan terjadi.
Dalam bisu ia menatap kak Damar, tatapan penuh rasa bersalah karna ia pun mendukung kak Damar. Ia tahu dalam hati kak Damar pasti ia sangat sedih dan itu memang benar, melihat orang yang di cintai di lamar orang lain di depan mata tentu bagai pukulan keras di dada tapi mau bagaimana lagi takdir Tuhan tak pernah ada yang tahu.
Mely dan kak Damar saling bertatapan, Mely menyesal hal ini harus terjadi di depan kak Damar, ia pun tak tahu kak Deni akan melamar Sely sekarang juga andai ia tahu ia pasti akan membuat kak Deni menunda niatnya demi menjaga perasaan kak Damar.
"A... aku... " ucap Sely terbata.
"Terima... te-ri-ma... te-ri-ma" ucap kak Damar yang lama-lama suaranya semakin nyaring menyemangati.
Mata Mely semakin tajam menatap kak Damar, ia tak menyangka kak Damar akan mendukung kak Deni, Nadin dan kak Afdal ikut meyeruakan kata terima ikut mendukung hanya Mely seorang yang masih lekat di kebisuan.
Sely mengangkat tangan meminta semua orang diam, setelah hening itu datang Sely pun berkata.
"Aku tak percaya aku akan mengatakan ini tapi... aku sudah memikirkannya... jawabannya ku adalah.... iya"
Suara sorak bergemuruh di dalam ruangan, Mely menghela nafas menahan sakit di dada senang karna kakaknya telah berhasil mendapatkan pujaan hatinya sekaligus berduka demi sahabatnya, Kak Damar bertepuk tangan sambil memandang Mely sambil tersenyum saat Kak Deni melingkarkan cincin indah itu di jari manis Sely.
Kebahagiaan kak Deni akhirnya lengkap sudah, dia mendapatkan adik dan cintanya juga kedua sahabat yang mendukungnya, setelah semua waktu yang ia korbankan dalam kesabaran.Langit malam yang penuh bintang itu akhirnya membuat moment romantis juga.
Setelah mengucapkan selamat Mely memaksa dua sejoli itu untuk menghabiskan waktu berdua dengan makan malam romantis, awalnya tentu kak Deni tak setuju karna Mely masih terbaring di rumah sakit yang mana masih membutuhkannya tapi di dukung Nadin yang akan menemani Mely dan yang lain akhirnya mereka pergi juga.
"Maafkan aku" ucap Mely menyesal pada kak Damar setelah kak Deni dan Sely pergi.
"Hei, kenapa kamu minta maaf"
"Padahal aku udah janji, tapi aku melanggarnya" mata Mely mulai berkaca-kaca dan jika rasa sedih itu terus berlanjut maka airmata itu pasti akan tumpah dengan mudah.
__ADS_1
"Siapa bilang kamu ingkat janji? hanya karna Sely lebih memilih Deni bukan berarti kamu ingkar janji. Justru kamu sudah berlaku sangat adil kamu dukung kami berdua dengan cara kamu, ini bukan salah kamu hanya aku saja yang belum siap untuk menikah, kalau pun Deni gak menyatakan cintanya tetap aku gak bakal bisa miliki Sely karna aku belum siap Mel.Masih ada ibu yang harus aku perhatikan, justru aku senang Deni menyatakan cintanya dengan begitu aku tidak akan terombang ambing lagi dalam ketidakpastian karna Sely sudah ada yang memiliki"
Senyum indah terlukis di wajah Mely, ia sangat bersyukur kak Damar tidak menyalahkan nya atau lebih buruk membencinya.Tentu saja mana mungkin kak Damar membencinya yang jelas-jelas berjasa bagi semua orang, saat Mely mengatakan Sely tidak ingin pacaran dan ingin langsung menikah saat itulah nyalinya langsung ciut.
Bayangan ibunya yang masih membutuhkannya menghalangi tekadnya, sebesar apa pun cintanya pada Sely tetap ibunya lah yang nomor satu.Karna itu pula ia tidak berusaha mengesankan Sely padahal Mely sudah berapa kali berusaha mendekatkan mereka berdua.Justru kak Damar merasa bersalah pada Mely karena Mely sudah sangat berusaha membantunya tapi ia malah tak serius, bersyukur rupanya kak Deni pun menyukai Sely dan dengan jantan melamarnya.
* * *
Sepekan sudah Mely di rawat dan akhirnya ia di ijinkan pulang juga, sorak sorai enam sekawan itu menggema di ruangan.Tentu saja mengundang amarah suster karna sudah mengganggu ketenangan rumah sakit, mereka hanya tertawa dan meminta maaf.
Keluarnya Mely dari rumah sakit dan lamaran Sely adalah dua kabar baik yang akan mereka rayakan di rumah tante Isma, tantu dengan ijin tante Isma pula.Kak Afdal langsung pergi belanja kepasar di temani kak Damar.Sedang yang lainnya membereskan rumah tante Isma.
Dari siang hingga sore rumah yang selalu sepi itu mendadak jadi ramai, tawa canda diantara mereka memperlihatkan kebahagiaan yang berbunga-bunga.Mely yang ingin ikut masak karena tergoda kericuhan yang di buat Kak Afdal di dapur malah di kurung di kamar oleh kak Deni karena dokter bilang Mely masih perlu banyak istirahat.
Akhirnya ia berteriak-teriak di dalam kamar yang membuat geli hati, tak tega Nadin pun mengeluarkannya.
"Bodo amat" teriak Mely dan yang lain pun tertawa.
"Ya udah sini kamu bantuin Sely bikin jus aja ya, kupasin buah-buahannya" ucap kak Deni akhirnya.
"Nah gitu dong, aku juga kan pengen ikutan"
Di ruang tamu yang berubah menjadi ruang kosong tanpa meja dan hanya ada satu kursi untuk duduk Mely saja, Sely sibuk dengan pisaunya mengupas beberapa jenis buah-buahan.
Sambil berbincang-bincang tentang rencana pernikahan Sely dan kak Deni, Mely dan Nadin terlihat serius.Rupanya kak Deni sudah bertemu kedua orang tua Sely begitu pun sebaliknya, diam-diam mereka melakukannya saat Mely masih di rawat.
Kedua orang tua masing-masing sudah memberi restu tinggal kapan Kak Deni akan menyelenggarakan niat baik itu.
__ADS_1
"Jadi kak Deni, kapan kalian akan menikah?" teriak Mely pada Kak Deni karena kak Deni sedang berdiri di pintu dapur lumayan jauh dari tempat ia duduk sekarang.
"Nanti juga kamu tahu, pokoknya kakak mau kamu sembuh dulu karena nanti kamu ikut bantuin beresin serahan lho, kamu nanti bakal sibuk juga"
"Lah ko aku jadi ikut beresin serahan?"
"Lah iya dong kan kamu nanti sebagai adik aku bukan temen Sely, jadi kamu nanti sebagai tamu bukan tuan rumah" jelas kak Deni.
"Enak dong lu Mel, gak banyak kerjaannya tibang beresin serahan" teriak kak Afdal dari dapur.
"Nanti kamu temenin aku belanja ya, buat serahan barang-batangnya sengaja aku sendiri yang pilih biar kepake semua nah nanti barang-barangnnya di taro di kamu terus kamu hias nanti biar bagus, biar cantik jadi deh serahannya tinggal kamu bawa pas nikahan kita" ucap Sely.
"Ohhh... tapi barang serahan kan banyak masa aku bikin sendiri" keluh Mely.
"Tenang kalau lu kesulitan nanti gue bantuin deh" ucap Nadin menawarkan diri.
"Bener Din? aduh... thanks Din kamu emang sahabat sejatiku"
"Nanti kamu juga dateng ya Din pas hari pernikahan kami" ucap Sely.
"Iya kamu harus dateng lho, karena berkat kamu juga kita bisa jadian sekarang" tambah kak Deni.
"Iya, nanti gue usahain" jawab Nadin.
"Jangan hanya usaha tapi kamu harus dateng lho, siapa tahu nanti pas nikahan kak Deni sama Sely kamu ketemu jodohmu, kamu kan udah lama ngejomlo Din gak ngerasa iri apa ama orang lain?" ucap Mely.
"Apaan sih lu?" tutur Nadin sambil tertawa tapi matanya melirik pada kak Damar.
__ADS_1
Semenjak mereka mengobrol berdua di rumah sakit, semenjak itu Nadin merasa cocok dengannya.Setiap kak Damar melihantnya tiba-tiba ada rasa malu yang hadir begitu saja, untuk pertama kali dalam hidupnya apakah saat ini ia sedang jatuh cinta?.