Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
eps. 3


__ADS_3

Rabu malam Mely dan Nadin asik di ngobrol di kamar Mely. Karna besok Nadin libur kerja dia memutuskan untuk menginap di kos-an Mely, menemaninya di sepanjang malam yang panjang.


"Mel menurut lu, Jordan gimana orangnya?"


"Gimana? ya... gak gimana-gimana" dari nada bicara Mely sudah ketahuan ada sesuatu terjadi yang membuatnya salting.


"Maksud gue, dia baik, asik, atau gimana?"


"oh ya. Dia baik, perhatian juga orangnya."


Nadin tersenyum menggoda menatap Mely yang mulai bertingkah aneh. Dia tahu sesuatu telah terjadi diantara Mely dan Jordan. Sesuatu yang memang dia rencanakan.


"Semalam habis Jordan nganterin lu pulang dia cerita sama gue"


"Hah? masa? cerita apaan?"


"Katanya lu baik, cantik, nyenengin, ya.. pokoknya dia terus muji-muji lu, gue paham dia tertarik sama lu"


"Masa? lu berlebihan ah" bantah Mely, walau sebenernya ia senang mendengar hal ini, rupanya hatinya tak bertepuk sebelah tangan.


"Serius, Jordan sendiri yang ngomong sama gue, dan lu juga pasti ngerti omongan gue ngarah nya kemana"


"Kemana emang"


"Ya ampun Mel gak usah **** kenapa sih, Jordan tuh suka sama lu, dan guw yakin sebentar lagi dia juga pasti nembak lu" ucap Nadin kesal.


Mely merenung, ia sadar sejak perjumpaan pertama dengan Jordan ia mendapat kesan yang positif. Sejak hari itu pula ia mendapat warna baru dalam hidupnya, pun ia kembali bahagia seperti sediakala. Tapi selain kebahagiaan, dia pun cukup takut saat mendengar berita ini. Karna bayang-bayang masalalunya belum hilang sepenuhnya. Seakan mengerti apa yang ada di hati Mely Nadin berkata


"Lu sendiri yang bilang kalau lu udah moveon, jadi sekaranglah saatnya lu benar-benar moveon. Jordan orangnya nyenengin dan baik, lu cocok sama dia jadi gue harap lu bisa terima dia Mel"


"Gue belum siap Din, sebuah luka memang bisa sembuh tapi bekasnya tidak akan pernah hilang, bekas luka ini pula yang membuat gue lebih berhati-hati lagi dalam memilih. Gue belum siap untuk hubungan yang baru, gue takut apa yang gue harepin cuma bakal jadi mimpi aja"

__ADS_1


"Mel, terluka karna cinta obatnya adalah cinta juga, lu kan putus secara baik-baik jadi gak ada alasan buat lu trauma donk, jujur sebagai sahabat lu gue gak bisa liat lu terus sendiri dan ngelamun"


"Makasih lu udah perhatian banget sama gue"


"Jadi lu mau kan nerima Jordan?"


"Biar gue pikir-pikir dulu."


Jawaban singkat Mely adalah harapan besar bagi Nadin. Minggu lalu Nadin memang sudah di beri kabar bahwa Jordan akan ikut tinggal dulu karna ia baru saja berhenti dari pekerjaannya, awalnya Jordan berniat mengadu nasib di Jakarta, tapi Nadin yang melihat Jordan kini sudah tumbuh dewasa percaya bahwa dia cocok dan mampu membuat Mely kembali bahagia.


Untuk itulah Nadin menyiapkan rencana ini, mengajak mereka jalan-jalan untuk mendekatkan mereka berdua. Walau awalnya Nadin sempat bingung karna Mely meminta ijin agara teman-teman kerjanya dapat ikut. Nadin sempat takut Jordan akan melirik teman Mely, tapi Nadin pun percaya kecantikan Mely pasti dapat memikat mata Jordan agar tertuju padanya, dan binggo Nadin berhasil.


Kini semua tergantung pada keputusan Mely dan takdir Tuhan. Nadin hanya bisa berdo'a demi kebaikan sahabatnya itu.


***


Langit begitu cerah tapi hati Mely justru sangat mendung, hari ini pekerjaannya sangat melelahkan juga mengesalkan. Baginya memang hati ini dia sedang sial karna hampir sepanjang pekerjaannya dia kena marah atasannya terus, memang wajar juga dia kena marah karna Mely terus saja melamun saat bekerja.


saat di ruang loker Mely bertemu Ocha dan Dewi mereka sempat menawarkan pulang bareng karna mereka berencana mau ngopi-ngopi di kafe. Tapi Mely menolaknya karna dia cukup lelah hari ini. Saat itulah Mely juga mendapat pesan dari Jordan yang berisi


"Aku nunggu kamu di depan gerbang, jika kamu ngijinin aku mau nganter kamu pulang."


Mely sempat tak percaya pada apa yang dia baca, maka dari itu untuk memastikan Mely segera pergi ke depan dan ternyata memang benar Jordan sedang menunggunya.


"Hai" sapa Mely saat ia tiba, senyum manis terlukis di wajah Mely, senyum yang di sukai Jordan yang seingat dia pun senyum itu juga yang memikat hatinya.


"Jadi... aku boleh nganter kamu pulang?"


"Tentu, hari ini cukup melelahkan aku pengen cepet-cepet tidur"


"Oh" jawab Jordan, Mely tahu dara nada ucapanya Jordan mengharapkan sesuatu.

__ADS_1


"Apa ada yang salah?"


"Hah? tidak ada"


Mely mengangguk. Sebenarnya Jordan memang mengharapkan sesuatu, ia tidak datang hanya sekedar untuk mengantar Mely pulang seperti tukang ojek. Dia berharap dia bisa pergi ngdate atau sekedar jalan-jalan biasa pokoknya menghabiskan waktu dengan gadis cantik itu.


Tapi Jordan pun tidak bisa memaksakan kehendaknya, dari wajah Mely yang lesu ia sudah cukup tahu kalaw Mely benar-benar memang lelah. Mungkin bukan saatnya tapi suatu hari nanti di waktu yang tepat Jordan pasti akan mengajaknya jalan.


***


Laju motor Jordan berhenti tepat di dapan kos-an Mely. Mely segera turun dan sebelum pergi masuk tentu ia mengucapkan terimakasih, namun ia sadar ucapan terimakasih pun tak cukup.


"Hai Dan, sabtu ini aku libur kerja. Aku berencana untuk pergi nonton apa kamu mau ikut?"


Jordan tentu sangat antusias mendengar ajakan Mely dan tentu iya berkata ya.


"Boleh, siapa saja yang pergi?"


"Hanya aku, dan kamu jika kamu mau ikut"


Mely menatap mata Jordan dengan lekat, di sana, di mata itu ia melihat keinginan untuk memulai sesuatu yang ia takutkan, tapi ia sadar ia tak mungkin hidup dalam kondisi ini terus menerus.


"Baiklah, sabtu sore aku jemput"


Mely mengangguk tanda setuju, dengan wajah senang Jordan berpamitan dan pergi. Mely masih menatap lelaki itu yang mulai menjauh dan hilang dari pandangan. Dalam hati ia berkata mungkin inilah saatnya ia melepas keraguan.


Malam semakin larut dan Mely masih memikirkan ajakannya pada Jordan, dalam hatinya bercampur aduk, ada rasa senang, takut, was-was, penasaran yang bercampur jadi satu.


Bila dia memulai hubungan ini, akankah semuanya berjalan dengan lancar, apakah harapannya dapat terwujud? dan apapun yang terjadi dapatkah ia melewatinya.


Untuk seorang gadis mandiri yang hidup sendiri dan bekerja Mely memang cukup penakut untuk mengambil keputusan, ia terlalu takut untuk terluka, takut kecewa. Semua orang yang memuji ketabahan dan kesabaran hatinya dalam menghadapi cobaan ternyata tak tau bahwa di balik itu ada hati yang rapuh, di hati itu ada banyak bekas luka yang terus menjadi mimpi buruk.

__ADS_1


__ADS_2