
Mely mencium amplop itu dan menemukan aroma kak Afdal yang khas, wangi yang selalu membuatnya tersipu malu.Debar jantungnya bahkan sama saat dimana tubuh kak Afdal begitu dekat dengannya.
Mely mulai membuka amplop itu dan menemukan dua kertas yang berbeda, dalam satu kertas dia melihat lukisan dirinya yang sedang menatap pada selembar kertas penuh takjub.Tanpa waktu lama ia sudah ingat ini gambar dirinya saat kak Afdal memperlihatkan karya-karyanya.
Kak Afdal selalu membuatnya takjub, tak di sangka diam-diam kak Afdal melukis dirinya dan lukisannya sangatlah indah.
Dalam kertas lainnya Mely menemukan sebuah surat tangan dari kak Afdal, dalam hati dia mulai membaca.
"Aku tidak tahu apa itu cinta, aku juga tidak mengerti bagaimana rasanya, aku tidak tahu apakah mencintai itu perlu atau tidak.Jika orang bilang cinta itu satu getaran yang dirasakan dalam hati saat melihat sesuatu maka aku pikir aku jatuh cinta pada tiket pesawat.Karena setiap aku melihat tiket pesawat aku selalu gugup dan gemeteran.
Ah, memang cinta tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, begitulah setidaknya yang dikatakan para pujangga.Aku tidak tahu aku mencintaimu atau tidak hanya saja, aku benci jika harus kehilanganmu.Aku sangat menikmati masa-masa saat kita bertengkar, berkelahi, lalu bercanda dan tertawa lagi.
Hei, apa lukisanku bagus? jika aku melihat sesuatu yang indah aku selalu ingin melukisnya.
Ya, diam-diam aku melukismu, jangan marah ya! lukisan ku soalnya bagus, he he. Aku harus pergi ke Jepang untuk menggapai cita-cita, kau tahu? aku sedikit bersyukur karena kepergianku tanpa ada hadirmu.Kerena aku takut kau akan menangis di kaki ku dan tentu membuatku malu.
Jika masih bisa bertemu lagi aku hanya ingin katakan, mari kita masak bersama lagi, kali ini kau yang harus belanja.Coba tawar semurah mungkin soalnya aku tidak tega menawar pada penjual tapi ingin dapat harga murah."
Mely mendekap surat itu dan kini ada senyum menghiasi wajahnya.Ia kira ia akan mendapatkan kata-kata indah, rupanya hanya obrolan biasa yang membuatnya tertawa.
Kak Afdal tidak pernah romantis, dan itu adalah hal spesial yang dia sukai darinya.Berkat surat dari kak Afdal ia menemukan kembali semangatnya, segera mengatakan pada Nadin bahwa dia akan kembali ke Bogor dan melanjutkan pekerjaannya.
Nadin senang tak ada duka yang menyelimuti Mely, dengan begitu ia semakin yakin kak Afdal adalah pangeran yang di tunggu Nadin untuk Mely.
* * *
Luapan amarah tante Isma tak dapat di hindarkan saat Mely pulang, beralasan pergi ke Bali dengan Nadin untuk satu urusan tak sempat memberi kabar itulah jawaban yang Mely katakan kepada tante Isma, kak Damar, kak Deni dan Sely.
Nadin yang terbawa skenario Mely hanya bisa mengiyakan.Sebagai hukuman dari tante Isma Mely di pindahkan ke toko yang baru dan di sana dia bertugas sendiri karena toko itu hanya toko kecil di dalam pasar tradisional.
Karena bekerja di dalam pasar tradisional Mely mencoba belanja sayuran dan belajar menawar harga seperti yang di inginkan kak Afdal, ia baru mulai tapi dalam waktu dua hari ia sudah kenal beberapa tukang sayuran dan punya beberapa teman di sana.
Kadang Sely dan kak Deni menengok Mely ke toko, sekalian belanja.Mereka bercanda dan ngobrol seperti biasa.Kadang Nadin dan kak Damar yang menengok dan alangkah terkejutnya ia saat tahu mereka sudah menjalin hubungan.
"Serius? kalian pacaran?" tanya Mely lagi.
"Iya, masih baru sih, jadi baru lu doang yang kita kasih tahu" ucap Nadin.
__ADS_1
"Kok bisa.... " tanya Mely lagi masih tak percaya.
"Namanya jodoh, ya bisa aja kan" ucap kak Damar menjawab.
"Terus kalian mau seriusin juga sampe nikah?"
"Kita belum kepikiran ke situ sih, tapi ya... daripada nanti Nadin di embat ma orang lain ya mening gue pacarin aja dulu iya gak Mel?" ujar kak Damar bercanda, tapi mereka tahu hal itu memang serius.
"Iya sih, lagian kalau belum siap nikah nanti malah gak bener lagi"
"Terus gimana perkembangan toko lu ini?"
"Ya gitu lah kak, namanya juga baru seminggu, belum banyak pelanggan, terus aku juga kan gak biasa kerja kayak gini, harus pinter nawar-nawarin"
"Sabar aja nanti juga ada kok yang beli" ucap Nadin menyemangati.
Cukup lama Nadin dan kak Damar di sana dan pulang saat sore akan menjelang.Kembali Mely sendirian, mencoba menjajakan pakaian pada setiap orang yang melewatinya.Hari ini cukup melelahkan, meski pembeli hanya beberapa orang saja sisanya hanya tanya-tanya dan mengobrak-abrik jualannya.
Dengan sabar Mely membereskan lagi dagangannya, saat sore hari kala semua orang toko hampir sudah tutup, ia masih seorang diri bersih-bersih.
"Permisi mbak, tokonya sudah mau tutup ya.. " ucap seseorang di belakangnya.
"... pa.. " ujarnya melanjutkan kalimat yang belum selesai itu, tubuhnya tertegun menatap sang pelanggan.
Sejenak tak ada kata yang bisa ia ucapkan, matanya mulai berkaca-kaca hendak menangis tapi raut wajahnya berubah seketika dan berteriak marah sampai memukul-mukul.
"Dasar jahat, jelek, tidak berperikemanusiaan, tidak punya hati.Main pergi pergi aja"
"Aduduh, sakit Mel sakit, lu bunuh gue jangan gini caranya dong" jawab Kak Afdal.
Ya, pelanggan yang bertanya rupanya adalah kak Afdal.Hampir mati Mely tak percaya, tapi pukulannya tepat mengenai dada hingga menimbulkan suara bum bum.
Ia tak bermimpi, kak Afdal hadir di hadapannya, dan kini tengah memeluknya.Tak kuasa menahan perasaan airmata tumpah begitu saja dalam dekapan.
"Aku tahu... aku tahu kak Afdal pasti pulang, kak Afdal gak mungkin ninggalin aku gitu aja" ucap Mely setelah mampu menghentikan tangisan.
"Gue juga yakin lu pasti pulang, dan gue gak nyangka lu ngejar pesawat yang gue tumpangi, meski akhirnya lu gak nemuin gue waktu itu.Makanya gue pulang, lagian gue gak nemuin univ yang cocok"
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Iya, gue kan kesana cuma mau nyari univ yang cocok karena di Jepang tempat para komikus yang paling terkenal, gue kira kalau gue kuliah di sana mimpi gue jadi komikus bakal lebih deket.Tapi biaya hidup di sana gak murah, jadi ya udah gak jadi kuliah di sana"
"Apa?" tanya Mely kaget.
"Apa? emang kenapa?" tanya pula Kak Afdal lebih kaget melihat reaksi Mely.
"Ihhhh.... sebel.... dasar... Nadin sialan, bilangnya kak Afdal mau pergi ke Jepang dan gak balik lagi, katanya kemarin itu hari terakhir ketemu, makanya yang lain nganterin.Ih dasar tahu gitu gak usah cape lari-lari ngejar ampe berdarah-darah nih lutut, "
"Apa? jadi lutut lu berdarah gara-gara ngejar gue, ko bisa?"
"Ya bisalah, orang lari pake gaun, gak mikirin ganti baju dulu gak mikirin apa-apa yang penting bisa sempet kakak"
Tawa kak Afdal meledak seketika mendengar keluhan Mely, bahkan hingga wajahnya merah.Mely yang tak mengerti malah merasa tersinggung.
"Kenapa sih ko malah ketawa?"
"Gimana gue gak ketawa? abis lu lucu sih.Coba aja gue bisa liat momen itu pasti klasik banget ya, udah kayak film aja.Ngejar cinta sebelum hilang dari pelupuk mata.Setakut itu ya lu kehilangan gue?"
Pertanyaan kak Afdal membuat Mely malu, segera ia berbalik dan berpura-pura akan membereskan dagangan padahal hatinya yang tak karuan hingga salah tingkah.
"I love you" ucap Kak Afdal pelan.
"Gue sadar bahwa gak bisa kehilangan lu, gue juga gak tahu gimana perasaan lu sama gue, tapi gue pengen lewatin hari kita lagi"
"Aku mau" jawab Mely.
Mata bertemu mata, dan tangan menggenggam tangan.Begitu banyak warna warni hidup Mely, mulai dari memilih menjauh dari cinta karena tak punya restu, kemudian cinta yang hadir dengan mimpi besar tapi kandas di tengah jalan hanya karena godaan setan.
Tak di sangka, ketika ia putus asa untuk mencari cinta yang ia temukan bukanlah hanya sekedar cinta, tapi juga teman sepermainan.
Hilangnya arah dalam langkah kaki, musnahnya mimpi di tengah lelap, pada akhirnya Mely memilih untuk percaya pada apa yang ada di hadapannya.
Entah bagaimana perjalanan cintanya kali ini, mungkin akan berjalan lancar seperti yang ia harapkan, mungkin juga akan penuh cobaan seperti biasa.Apa pun itu ia memilih untuk percaya, karena ia pun pantas untuk bahagia.
* * *
__ADS_1
TAMAT