
Kamar Mely begitu gelap ia sengaja tak membuka gorden meski pagi telah datang, di hadapannya terpampang poster nama ALLAH SWT dan ROSULULLAH. Dari malam hingga pagi ia terus menatap nama itu dengan penuh kehampaan, dalam hatinya ia menjerit dan menangis sejadi-jadinya.
Aku berdiri di lorong-Mu, dengan penuh ketiberdayaanku. Bukankah cinta-Mu lebih luas dari samudra? lalu kenapa tak kau sisihkan walau setetes untukku? apa kesalahan ku hingga Kau hukum aku sekejam ini. Cinta yang ku banggakan memberi imbalan sebuah kehinaan, sekarang aku berdiri di depan-Mu sebagai hamba yang miskin.Jika aku memang tak pantas mendapatkan cinta itu maka aku pun tak pantas mendapat derita, sekarang aku pinta keadilan-Mu. Kemurahan hati-Mu sebagaimana yang telah kau sabdakan, kebalikan semua yang telah kuberikan padanya.Tahta, jabatan, harta, dan nyawa jika tidak turunkan karma-Mu kepada mereka dan jika Kau merestui biarkan aku yang menjadi karma itu.
Mely tak pernah merasa hidup yang seperti ini, kehidupan yang penuh rasa ingin membunuh.Tapi ia pun tahu ia cukup waras untuk menolak keinginan itu, maka dari itu ia memilih jalan yang lebih rumit jalan yang lebih kreatif.
Setelah memberi tahu Nadin tentang apa yang terjadi padanya saat di Bali, Mely memilih untuk berhenti bekerja dan menganggur sebentar.Tentu keputusannya di pertanyakan oleh Ocha, Dewi dan Siska tapi Mely memilih diam dan hanya menjawab ia ingin pulang ke Bandung.
Tentu tak semua orang harus tahu apa yang telah terjadi pada kecintaannya, hanya orang kepercayaannya saja yang boleh tahu.Nadin yang tahu kini Mely kembali ke rutinitasnya dulu yang berkecimpung dengan film, dan buku-buku horor tentu lebih sering menengok nya dan mengajaknya bicara.
Ada hal yang berbeda dari Mely saat ini dari apa yang Nadin tahu Mely cukup tegar menghadapi cobaan ini, ia memang kembali sibuk dengan buku horornya tapi ia tak galau seperti dulu.Mely sesekali keluar hanya untuk jalan-jalan atau nonton dan bahkan ia keluar dengan riasan wajah yang sempurna yang membuatnya terlihat lebih bersinar.
Meski ia tak membuka hati untuk pria saat ini, tapi ia cukup terbuka untuk mendapat teman baru.Bahkan Nadin merasa Mely menjadi orang yang berbeda mungkin nakal adalah kata tepat untuk menggambarkan Mely saat ini.
Tanpa sepengetahuan siapa pun Mely memang mulai merokok entah dimulai kapan tapi ia memang sering melakukannya di kamar saat sendiri dan melamun, bahkan ia juga menjadi boros dengan menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang. Memang Mely tak pergi ke klab malam dan meneguk barang haram, tapi ia pergi kemana pun ia suka meski sudah larut malam.
Nadin yang khawatir akan keadaan Mely lebih resah lagi melihat keadaan Mely saat ini yang tak karuan. Hingga akhirnya ia menemukan Mely di kamar gelapnya telentang di bawah ranjang dengan luka sayatan di nadi.
__ADS_1
Darah segar mengalir dari luka yang masih baru itu, Nadin mengguncang Mely dengan keras dan meneriakkan namanya tapi Mely tak bergeming sedikitpun, wajahnya pucat dan lemah ia tak menyangka Mely bisa berbuat bodoh seperti ini.
Untungnya nafas Mely masih ada meski sudah lambat, ia segera menghubungi ambulans dan membawanya ke UGD.Dokter bertindak cepat begitu Nadin sampai, butuh beberapa jam yang terasa lama sebelum Dokter keluar dari ruangan dan mengabarkan kepada Nadin.
"Dia baik-baik saja, keadaannya sudah stabil. Untuk saat ini yang paling dia butuhkan adalah dukungan orang-orang di sekitarnya karna yang sakit tentu mentalnya, saya harap kamu bisa memberi dia semangat untuk hidup dan terus menjaganya agar ia tidak melakukan hal-hal sperti ini lagi"
Nadin masuk kedalam ruangan dan dilihatnya Mely tengah tidur pulas,keadaan Mely sungguh menyiksa hatinya bagaimana tidak ia berperan besar dalam kisah asmara Mely.Ia yang sudah bangga bisa membuat Mely bahagia dengan mempertemukan nya dengan Jordan justru ternyata telah membuat Mely berusaha mengakhiri hidupnya.
Kini dalam hatinya Nadin pun menyimpan dendam kapada Jordan, ia tak menyangka sepupunya bisa berbuat hal seperti ini.Nadin menghapus air matanya dan berjanji akan melakukan apapun asal Mely bisa menjadi sahabat nya yang dulu, Mely yang ceria dan sabar.
"Hai gimana keadaan kamu sekarang? udah ngerasa baikkan? "
Mely hanya mengangguk perlahan sebagai tanda jawaban, selama ia di rawat Nadin tak ada sedikit pun menyinggung soal niat nya yang ingin mengakhiri hidup. Beruntung Mely hanya perlu di rawat sehari semalam saja dan di ijinkan pulang esok harinya.
sesuai saran dokter Nadin menemani Mely selama dia memiliki waktu meski Mely menolak saat Nadin ingin menginap tapi akhirnya Mely tak bisa berkutik lagi setelah Nadin bersikeras.
Hari demi hari mereka lewati dengan penuh pertanyaan dalam hati masing-masing, meski Nadin sangat ingin memberi nasihat agar Mely bisa menghargai hidup lebih baik tapi ia selalu urungkan niat itu melihat kondisi Mely yang semakin suram.
__ADS_1
Tak ada perubahan yang berarti terjadi pada diri Mely, dengan semua masalah yang dia dapatkan Mely akhirnya memutuskan untuk pulang ke Bandung. Tentu Nadin menyetujui di sana ada orang tuanya yang bisa duapuluhempat jam setia menemaninya.
Dan perihal kejadian ini tentu mereka rahasiakan dari siapa pun.
* * *
Hidup memang tak adil saat masalah terus menerpa mu, tak ada tempat untuk mengadu menjadi alasan mengapa harus tetap tinggal di dunia. Mely ingin mencoba mengakhiri hidupnya sekali lagi, tapi kedua orang tuanya begitu memanjakannya.
Mungkin karna mereka tahu putrinya sedang di rundung duka yang begitu dalam, setiap hari yang Mely lakukan hanya melamun dan merenung berfikir apa yang harus dia lakukan. Sudah tak ada gairah untuk hidup tapi tak mampu balas dendam dengan baik,bernyawa tapi tak hidup.
Semakin lama waktu yang terus berjalan mengungkap tabir lain tentang penderitaan, orang tua Mely tiba-tiba mendapati tubuh Mely kaku, ia masih hidup tapi susah untuk bernafas. tangan dan kakinya sedingin es melintir seperti orang kena struk.
Mely segera di bawa ke rumah sakit dan Dokter menyatakan Mely mengidap penyakit magh kronis, sedang kaku yang di alami tubuhnya Dokter mendiagnosis adalah reaksi dari Asam lambung yang naik lalu terjadi penghimpitan pada pernafasan sehingga tidak ada oksigen yang masuk, tubuh yang tidak mendapatkan oksigen dengan baik akhirnya membuat laju darah tidak berjalan semestinya sehingga kaki dan tangannya menjadi kaku dan dingin.
Hanya isak tangis sedih yang bisa ibu Mely lakukan melihat putri kesayangannya terbaring lemah dengan selang oksigen di hidungnya agar ia bisa bernafas. Nadin yang di beri tahu keadaan Mely saat ini cepat-cepat menengok ke Bandung.
Hatinya ikut perih melihat keadaan Mely yang semakin memburuk, Dokter menyatakan penyakitnya bisa di sembuhkan dan dia bisa hidup dengan normal lagi, tapi jika Mely sendiri tak ada niat untuk hidup bagaiamana mungkin usaha Dokter menyembuhkannya bisa berhasil.
__ADS_1