
Hari itu telah tiba. Nadin menyetujui permintaan Mely yang mengajak teman kerjanya ikut main. Nadin akan menunggu mereka di kafe, dan tentu Nadin lah yang pertama kali sampai. Namun ternyata dia tidak sendirian. Saat Mely sampai ia melihat Nadin di temani seorang lelaki, wajahnya cukup rupawan, dengan kulit putih dan mata coklat.
" Hai Mel, mana teman-teman? " tanya Nadin.
" Mungkin masih di jalan, sebentar lagi mereka sampai koko" jawab Mely sambil tersenyum ramah kepada lelaki di samping Nadin, lelaki itu membalas senyuman Mely dan anggukkan pelan.
" Oh ya, perkenalkan. ini Jordan, dia sepupuku. Kebetulan dia baru berhenti dari pekerjaannya dan tinggal di sini untuk beberapa hari "
" Hai aku Jordan "
" Mely "
Mely menyambut tangan Jordan dan tersenyum ramah, senyum yang menurut Jordan sangat manis terlebih di akuinya bahwa Mely mempunyai parah yang cukup cantik.
" Jadi, kalau boleh tau kalian ini teman main, teman kerja atau teman dari mana? " tanya Jordan basa-basi.
" Kami teman sekolah saat SMA, walau pun sebenernya agak aneh juga karna kami tidak pernah sekelas dari kelas satu sampe kelas tiga, tapi ya kami berteman sampai sekarang, walau pun kami juga tidak satu pekerjaan, tapi kami sering meluangkan waktu untuk main bareng " jelas Mely.
" Mely itu tipe pekerja keras, beda sama gue yang gak bisa capek-capek atau begadang, makanya gue milih kerja di toko kalau Mely kerja di pabrik "
" Lu manja sih din " ejek Jordan menggoda, dan Nadin hanya membalas dengan erangan, mereka tertawa mendengar erangan Nadin yang tak terima di ejek.
" Oh ya, ko gue baru tau sih kalau lu punya sepupu cowok " tanya Mely mengingat memang selama ini Nadin tidak pernah cerita tentang sepupunya, padahal Mely cukup akrab dengan keluarga Nadin, bahkan Mely sudah di anggap anak sendiri oleh ibu Nadin.
" Ya mereka tinggal di bali, dan ketemu cuma setahun sekali. sebenarnya kita lumayan deket sih sebagai sepupu cuma karna jarak jadi jarang ketemu deh "
Mely mengangguk tanda mengerti, tak lama Ocha, Siska dan pacarnya Erick, serta Dewi datang bersama. Mereka saling memperkenalkan diri, lalu mengobrol dan merencanakan perjalanan mereka hari ini.
" Ok jadi semua udah fix ya, kita mulai dengan ke ancol dulu, naik beberapa wahana, makan, nonton dan malamnya kita santai di kafe " ucap Dewi mengumumkan.
semua mengangguk tanda setuju, mereka pun pergi ke tempat yang di tuju. Hari itu cukup menyenangkan, mereka bercanda, tertawa, dan menikmati kebersamaan itu.
Dan tak hanya itu, Mely merasakan sesuatu terjadi padanya, lebih tepatnya pada hatinya. Selama perjalanan Jordan menaruh banyak perhatian padanya, sikapnya yang ternyata dapat di terima Mely bahkan membuatnya senang.
Kebersamaan itu juga yang membuat mereka saling mengenal lebih dekat. Terutama pas mereka nonton.
" Jadi kita mau nonton apa nih? " tanya Ocha.
" Kalau gue apa aja sih terserah, film apa aja boleh ko, gue mah ngikut aja " balas Dewi.
Ternyata semua punya pikiran yang sama, mengikuti yang lain. Dan karena tidak ada yang mau ngasih ide akhirnya Mely yang memutuskan mereka akan menonton film horor.
" ko film horor sih Mel, kan gue takut " protes Siska kurang setuju.
__ADS_1
" Tadi bilangnya pada terserah, ngikut aja. Sekarang gue putusin kita nonton horor gak mau, gimana sih yang jelas dong "
" Yah dasar Mely maniak horor, udah deh Ka lu ikut aja, kalau lu takut gak usah di liat lu tutup aja mata lu, dari pada kita bingung terus mau nonton apa " ucap Ocha.
Akhirnya Siska mengalah, dan mereka pun pergi. Di sinilah sesuatu terjadi yang cukup menggelitik hati Mely, selama menonton sesekali Mely melihat Jordan. Walau pun gelap tapi Mely sanggup melihat ekspresi Jordan yang cukup takut, rupanya dia memang tidak seberani kelihatannya.
selesai nonton hari semakin senja, tour terakhir mereka menikmati secangkir kopi panas di kafe. Ngobrol-ngobrol santai sampai badan mereka cukup letih dan butuh istirahat. Siska, Erick, dan Dewi pamit untuk pulang duluan.
" Yah ini mang udah malem, gue juga butuh istirahat jadi gue juga pulang duluan ya " ucap Ocha yang di jawab oleh anggukan semua orang.
" Eh tunggu gue boleh nebeng gak sampe halte aja gapapa " tanya Nadin
" Lah ko ikut Ocha, ya lu bareng lah pulang nya sama Jordan " tanya Mely.
" Gapapa, biar Jordan nganterin lu pulang aja, lu kan cewek udah malem masa lu pulang sendiri sih , gak masalah kan dan? lu mau kan nganter Mely pulang? "
" gak masalah, tentu gue bisa ko nganter Mely pulang "
" Noh bisa, ya udah biar Nadin pulang bareng gue, gak usah sampe halte sampai rumah aja gapapa " ucap Ocha menyetujui.
" Oh, ya udah kalau gitu " jawab Mely. Ocha dan Nadin pun pamit, tinggalah Jordan dan Mely berdua menikmati kopi di hari yang semakin larut.
Beberapa menit mereka diam dalam kebisuan, sampai tiba-tiba Mely tersenyum geli mengingat ekspresi Jordan yang takut menonton film horor.
" Gak ko, gak ada apa-apa " jawab Mely namun dengan senyum yang berganti dengan tawa kecil.
" Tapi ekspresi kamu ini menunjukkan kalau memang ada hal yang lucu "
" Gak, aku tuh... aku cuma tiba-tiba keinget sesuatu yang memang sedikit lucu sih.. "
" Memangnya apa yg lucu "
" Gak ada, bukan apa-apa ko "
" Ayo dong, bagi- bagi ceritanya, jangan ketawa sendirian dong"
" Oke-oke tapi jangan marah ya!"
" Marah? ko marah sih emangnya ada apa? " tanya Jordan semakin penasaran.
" Gapapa, cuma tadi tuh pas kita lagi nonton aku gak sengaja liat muka kamu, dan.... dan ekspresi kamu tuh lucu, muka kamu kayak agak pucat dan takut gitu "
Jordan beringsut, mukanya sedikit merah karena malu. Rupanya Mely memperhatikan nya sampai tahu bahwa Jordan memang takut saat nonton.
__ADS_1
" Yaaa.... aku memang gak terlalu suka sih sama hal- hal yang berbau mistis atau horor gitu" ucap Jordan sebagai pembelaan.
" Sory, tapi kamu gak perlu malu ko, wajar ko semua orang juga pasti takut kalau ngeliat hantu serem kayak gitu, akunya aja yang memang maniak horor, aku justru suka sama hal-hal yang berbau horor dan mistis "
Jordan mengiyakan ucapan Mely, dia memang masih malu tapi senang juga karena dia dapat membuat Mely tertawa, karena rupanya saat tertawa pun Mely terlihat lebih cantik dan manis.
Karena malam yang semakin larut, meski mereka masih betah berduaan Mely harus pulang. Tentu Jordan yang mengantarnya pulang.
" Ok, kita udah sampai dan... thanks udah mau nganterin pulang " ucap Mely saat mereka udah sampai di kos-annya.
" Jadi kamu tinggal di sini "
" Ya.. aku ngekos di sini karena setelah aku lulus sekolah orangtua aku pindah ke Bandung, dan aku mutusin untuk tetap tinggal di Jakarta walau pun harus ngekos "
" Kamu ini memang tipe cewek yang mandiri ya, kamu mau kerja dan tinggal sendiri, hebat "
" Terimakasih " jawab Mely malu atas pujian yang di lontarkan Jordan.
" Kalau gitu aku masuk dulu ya " pamit Mely dan berbalik hendak pergi tapi.
" Tunggu Mel... " ucap Jordan memegang tangan Mely menahannya untuk beberapa detik yang di rasa cukup lama.
" Iya...? " tanya Mely pelan.
Dengan masih menggenggam tangan Mely Jordan bertanya.
" Kira-kira kita bisa ketemu lagi gak? "
Mely tidak langsung menjawab, karena ia pun bingung harus menjawab apa.
" kalau boleh aku ingin ketemu dan jalan bareng lagi sama kamu " ucap Jordan.
Mely semakin bingung harus berkata apa, ia justru merasakan pipinya panas saat mata Jordan meneliti wajahnya. Antar senang dan malu Mely akhirnya menjawab agar mukanya tak semakin memanas.
" Aku gak tau, tapi mungkin bisa. kita liat aja ntar ya, sekarang udah malam aku harus masuk ".
Sebenarnya Jordan tak puas akan jawaban Mely tapi akhirnya ia mengangguk juga dan melepas genggamannya.
Mely masuk dengan cepat tanpa menengok ke belakang lagi. Setelah ia menutup pintu di dengarnya suara motor yg di nyalakan lalu pergi menjauh, dari balik jendela ia mengintip rupanya Jordan memang sudah pergi.
Pipinya masih terasa panas, entah apa yang terjadi pada hatinya ia belum tau pasti. Namun yang tau ia menyukai Jordan entah suka yang seperti apa, tapi melewatkan hari bersamanya cukup menyenangkan hingga ia lupa kesakitan yang sempat membuatnya cukup stres.
Mely hanya berharap apa pun yang terjadi setelah ini, semoga itu adalah hal yang baik. Karna siapa yang tau takdir seseorang.
__ADS_1