
Masih terasa di hatiku kesepian yang di alami Kak Afdal, meski di depan ku dia bersikap biasa saja tapi aku yang terlanjur tahu masa lalunya tak bisa menutupi perhatian ku padanya.
"Kamu ngelamunin apa sih kak Mel?" tanya Sely saat kami sedang makan siang bersama.
Terlalu larut dalam pikiranku sendiri aku hampir lupa bahwa aku sedang menghadapi masalah besar, aku belum memutuskan siapa yang harus ku dukung sepenuhya, gelang dan surat yang di tujukan kepada Sely dari kak Deni masih ku simpan, aku pun belum mengatakan apa pun tentang hal itu.
"Gak apa-apa ko, eh semalam kamu jalan sama kak Damar kemana?"
"Cuma ke tempat biasa ko" jawabnya.
Mumpung kak Deni tak ikut makan bersama kami aku ingin mengorek lebih dalam tentang hati Sely, siapakah yang paling dia suka Kak Deni atau kak Damar.
"Terus ngapain aja?"
"Ya biasa, ngopi, ngobrol"
"Oh... " jawabku mengangguk-anggukan kepala.
Dari jawaban yang di berikan nya sepertinya kak Damar tidak berusaha membuat Sely terkesan.
"Sel, nanti malam kita jalan yu biasa kita ajakin kak Damar sama kak Afdal, biar aku yang kasih tahu mereka"
"Oh ok, aku tunggu di tempat biasa ya" jawabnya.
Kami kembali bekerja setelah jam istirahat berakhir, di sela-sela pekerjaan sempat ku lihat kak Deni dengan raut wajah sedih.Sepertinya dia sadar bahwa Sely tak memakai gelang itu yang artinya bagi kak Deni Sely sudah menolaknya.
Sebenarnya aku tak tega melihatnya dan ingin memberitahu yang sebenarnya terjadi tapi aku pun tak bisa melakukannya, jam kerja berakhir begitu saja dan seperti biasa Sely mengantarku pulang.
Sesuai janji Kak Damar yang menjemputku ke rumah, di perjalanan menuju rumah kak Afdal aku bertanya bagaimana ngdate mereka kemarin malam dan jawaban yang di berikan ka Damar sama seperti jawaban Sely hanya ngopi dan ngbrol dengan kesal aku bertanya.
"Kak Damar gimana sih, serius gak sih sama Sely? harusnya tuh ka Damar bikin satu moment gitu yang bisa bikin Sely terpukau, buat dia terkesan sama Kakak"
"Ya mau gimana lagi Mel, aku harus gimana dong" tanya kak Damar.
__ADS_1
"Ya bikin sesuatu dong, bikin surprise ke, aku udah bantuin kak Damar lho aku udah tanyain Sely dan dia tuh gak ada masalah sama sekali dengan anak Vespa, tapi Sely maunya tuh langsung nikah aja, dia gak mau pacaran"
"Jadi Sely jawab gitu Mel?"
"Iya, makanya kalau kak Damar emang cinta serius sama Sely gak usah pake basa basi langsung lamar ajalah, Sely juga pasti Terima secara dia kenal baik kakak tapi kalau kak Damar cuma niat main-main mending mundur aja dari sekarang"
Ucapku mengancam dengan kesal, dan Kak Damar tak menjawab apa pun sampai kami tiba di rumah kak Afdal.Rupanya Sely sudah tiba sedari tadi dan sedang main catur dengan Kak Afdal.
"Bosen gak sih?" tanyaku setelah cape mendukung Sely yang tanding dengan kak Afdal.
"Kenapa emang Mel? lu bosen?" tanya kak Afdal.
"Iya, Jalan-jalan yu ah" usul ku.
"Jalan kemana?" tanya Sely.
"Gimana kalau kita taman malam?" usul kak Damar.
"Taman malam? dimana tuh ka?" tanya Sely penasaran.
"Wih kayaknya seru juga, boleh yu main ke sana"
ucapku.
Kami pun memutuskan untuk pergi, aku di bonceng ka Afdal dan Sely dengan Kak Damar, tentu ini adalah strategiku agar mereka bisa terus berduaan.
Setelah tiba di tempat aku langsung menarik tangan ka Afdal berlari menuju keramaian dan terpisah dengan kak Damar juga Sely, bagaimana pun caranya tujuanku masih sama demi keselamatan Sely aku harus menyatukannya dengan kak Damar.Jadi tentu aku harus membuat momentum agar kak Damar bisa menyatakan perasaannya.
"Kak haus, beli minum yu" ucapku yang kelelahan dengan suara pelan karna tenggorokan yang terasa kering.
"Lagian sih lu malah lari-larian terus dari tadi, ya udah tunggu di sini gue beliin minum dulu" ujar kak Afdal membentak ku.
"Ah gak mau di tinggalin ikut dong" teriakku mengejarnya yang sudah berjalan.
__ADS_1
Begitu minuman sudah di tangan aku langsung menghabiskannya dengan sekali minum, tanpa tahu kalau kak Afdal juga ingin minum, jadi ya seperti biasa dia marah padaku dan kami pun main kejar-kejaran sampai kak Afdal tak sanggup lagi berlari karna lelah.
Sambil tertawa aku menepuk pundaknya dan berkata.
"Cape ya kak?"
"Bodo amat" jwabnya kesal.
"Ya udah gantian deh, biar aku yang beliin minum" ucapku dan pergi meninggalkannya.
Baru berjalan beberapa langkah darinya aku langsung masuk dalam keraiaman yang juga ingin membeli minum.Tiba-tiba Saat berjalan di kerumunan aku merasakan seseorang memelukku dan lalu sesuatu yang tajam menusuk perutku, semakin dalam dan semakin sakit.Ku pegang tangan orang yang menusuk perutku dan melihat wajahnya.
Meski ia memakai topi dan sedikit menunduk tapi aku bisa melihat wajahnya dan aku sangat mengenalnya.
"Reni... " panggil ku lirih
"Ini bukan salahku, tapi salahmu... kenapa kau merebutnya dariku" bisiknya di telingaku.
Lalu dia mencoba mencabut pisau yang tertanam di perutku tapi aku menahannya, ku pegang erat tangannya meski secara perlahan rasa sakit itu semakin terasa dan kepalaku juga mulai pening.
"Meski aku harus mati hari ini, sungguh dia bukan milikmu" ucapku padanya, tentu dengan nada ancaman buka pemberitahuan.
Sejenak dia mengerutkan kening dan masih mempertahankan tangannya, tapi karna orang-orang di sekitar kami mulai berpencar dia pun memilih untuk pergi, meninggalkan pisau yang masih separuh menancap di perutku.
Darah segar keluar secara perlahan dari luka tusukan, kepalaku semakin pening hingga aku tak mampu berbuat apa-apa.Hanya diam memegang gagang pisau itu dan akhirnya tumbang.
Ku dengar suara seseorang memanggil namaku, setengah tersadar samar-samar ku lihat kak Afdal. Tangannya merangkulku, mendekap dalam pelukannya, mengguncang ku dengan keras.
Memanggil-manggil namaku, menyuruhku untuk tetap sadar.Dasar bodoh, jika kau bicara sekeras itu beruang pun pasti akan bangun dari hibernasinya.Dasar bawel, sesekali teriakannya menyuruh orang-orang untuk memanggil ambulans.
Ada sesuatu yang hangat menetes di pipiku, aku ragu, tapi kesadaran yang meski tak sepenuhnya ini ada memberitahuku kak Afdal menangis, tanganku yang sudah berlumuran darah perlahan ku angkat dan menghapus airmata yang mengalir di pipinya.
Apa yang sedang kau tangisi kak? aku baik-baik saja. Apakah kau takut akan kehilangan lagi? dalam dekapannya aku bisa mendengar kalimat terakhir yang dia ucapkan sebelum kesadaranku sepenuhnya hilang.
__ADS_1
"Mely aku mohon jangan pergi."