Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
Eps. 42


__ADS_3

Undangan telah di sebar ke semua teman dan saudara, persiapan tinggal 50% seminggu lagi Sely dan kak Deni akan memulai hidup yang baru.Namun Mely belum juga menyiapkan kado apa yang akan dia berikan.


Untung saja kak Afdal juga belum menyiapkan kado yang akan dia berikan nanti jadi Mely masih ada teman dan karna hanya tinggal mereka berdua saja maka mereka berniat mencari kadonya bersama.


Malam minggu itu Mely di jemput sehabis gelap datang, mereka pergi berkeliling sambil membicarakan kado apa yang akan mereka berikan.


"Eh kak kita ke karnaval yuk!" teriak Mely di tengah bisingnya kendaraan.


"Ngapain? emang mau beli apa di sana?"


"Gak tahu, tapi ke sana aja dulu dari pada muter-muter gak jelas"


"Hhhhh ya udah deh" jawab kak Afdal pasrah.


Setibanya di karnaval Mely malah tergoda dengan semua permainan yang ada sehingga bukannya mencari kado mereka malah menghabiskan waktu dengan memainkan wahana yang ada.


Meski hanya berdua Mely dan Kak Afdal tetap saja ribut dan rame seperti biasanya, kadang bertengkar lalu berbaikan lagi.Tertawa bersama dan saling meneriaki, sampai mereka lelah dan duduk menatap langit malam tanpa bintang.


"Kayaknya malam ini bakal hujan ya" ucap Mely


"Kayaknya sih, soalnya dari sore tadi udah mendung"


"Yah.. gimana dong, kita belum dapet kadonya" keluh Mely.


"Lagian lu sih, di ajakin nyari kado malah naik wahana mulu"


"Abis aku setres mikirin terus harus ngasih kado apa, dari pada jadi gila mening refresing dulu kan"


"Bodo amat" jawab kak Afdal dingin.


Mely tak bicara lagi, perhatiannya teralihkan oleh setitik air yang menetes mengenai tangannya, tangannya membuka dan kepalanya menengadah mencari air apa yang baru saja mengenainya, rupanya air hujan yang lama kelamaan semakin deras.


"Eh ka hujan" teriak Mely.


"Hah?" tanya kak Afdal ikut menatap langit.

__ADS_1


"Deras Mel, ayo berlindung" teriak kak Afdal sambil menarik tangan Mely.


Mereka berlari mencari perlindungan, meski hujan yang deras itu telah berhasil membuat tubuh mereka basah kuyup tapi mereka tetap berlari hingga akhirnya menemukan satu tempat untuk berteduh.


Mely menggosok-gosok tangan dan mencoba menyibakkan pakaian agar tak terlalu basah, hujan yang kian menderas itu di barengi guntur dan kilat yang membuat Mely berteriak ketakutan.


"Lu takut kilat Mel?" tanya kak Afdal mendekati Mely yang menutup telinga.


"Gak ko cuma, cuma kaget aja" jawab Mely so berani.


Duuuuut, sebuah suara yang tiba-tiba keluar kembali membuat Mely menutup telinga.


"Lu takut juga ma suara kentut Mel?" tanya kak Afdal heran.


"Hah? suara kentut?" tanya Mely dengan wajah polos.


"Hahaha... baru kali ini gue liat orang dengar suara kentut gue tutup telinga bukan hidung" ucap kak Afdal sambil tertawa dan mengusap perutnya.


"Ihhhh.. dasar jorok" teriak Mely kesal sambil mendorong kak Afdal.


"Abis, aku kira suara guntur lagi makanya tutup telinga kan aku gak denger jelas tadi kan suara guntur yang ada" gumam Mely.


Kak Afdal masih menertawakan Mely, tapi akhirnya dia berhenti dan memeluk Mely dengan satu tangan, di elus-elusnya bahu Mely meski sedikit kasar tapi itu membuatnya lebih hangat.


"Kalau takut ngomong nanti pas ada kilat lagi lu bisa berlindung di dada gue" ucap kak Afdal tanpa melihat Mely.


Hanya di saat momen ini Mely menemukan kak Afdal yang dewasa lagi, orang baru yang berbanding terbalik dengan kak Afdal yang biasa dia temui.Sosok pria dewasa yang sanggup membuat degup jantungnya berdetak kencang.


"Astaga... jantungku.... apa kak Afdal bisa mendengarnya" batin Mely.


Hujan masih mengguyur bumi, menebar bau dingin dan tanah.Membuat Mely terperangkap dalam satu kondisi romantis dengan orang yang tak pernah di duga, meski badannya mengigil tapi hatinya terasa hangat.Namun malam yang semakin larut itu memaksa kak Afdal dan Mely pulang menerjang hujan.


Jika terus berlindung entah sampai kapan mereka akan terjebak dalam kedinginan, karena hujan tak juga memberi tanda akan berhenti.


"Sini masukin tangan lu ke baju gue" ucap kak Afdal sambil menarik tangan Mely hingga masuk ke dalam kaosnya.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Biar tangan lu gak kena hujan, biar anget juga"


Mely pun menurut, memang tangannya pasti akan sakit terkena air hujan yang deras untung pula dia memakai helm sehingga kepala dan wajahnya terlindungi.


Di balik kaos itu, tangannya terasa sedikit hangat dan rupanya karna hal ini pula Mely tahu bahwa kak Afdal suka olahraga, terasa dari otot perut yang tersentuh tangannya.Entah mengapa imajinasinya dapat membayangkan tubuh kak Afdal yang tinggi kekar dengan otot perut dan tangan di tambah wajah manisnya.


Senyum malu menghiasi wajah Mely, untung saja ia memakai helm hingga orang lain tak bisa melihat wajahnya yang saat ini pasti merah padam.


"Lho di sini hujannya udah berhenti ya" ucap kak Afdal saat tiba di rumah tante Isma.


Langit malam masih mendung namun dari tanah yang ia pijak memang becek tanda hujan yang telah mengguyur, Mely turun dan melepas helmnya.


"Kak Afdal mau masuk dulu? seenggaknya keringin baju kakak, biar aku buatin teh anget juga supaya gak masuk angin" kata Mely menawarkan.


"Gimana ya, gue gak enak ah Mel udah malem soalnya.Gakpapa lah gue pulang aja toh rumah gue juga gak jauh amat"


"Oh gitu, ya udah deh"


"Ya udah gue balik dulu, eh besok lu libur kerja gak?" tanya kak Afdal


"Libur sih, emang kenapa?"


"Kita nyari kadonya besok aja gimana? siang hari, takutnya kalau malam kayak gini lagi"


"Oh, ya boleh aja sih" jawab Mely.


"Ya udah kalau gitu besok gue jemput lagi, gue balik ya... bye" ucap kak Afdal menghidupkan motor dan pergi.


Mely segera masuk ke dalam rumah, membersihkan diri dan berbaring di ranjang.Malam yang sunyi itu mengantarkannya pada lamunan tentang kak Afdal, wajah manisnya saat tertawa apalagi tersenyum, karakternya yang menyenangkan, aroma wangi tubuhnya sanggup membuat jantung Mely berdegup kencang, dan kini ia tahu tubuh kak Afdal yang atletis.


Senyum mengembang di mulut Mely, di tutupnya wajahnya dengan bantal dan ia berteriak namun suaranya teredam hingga tak ada orang yang bisa mendengar.Jika di fikir lagi kak Afdal selalu ada untuknya, bahkan saat kematian datang menjemputnya kak Afdal-lah yang memanggil namanya memohon agar ia tak pergi.


"Oh Tuhan, apa aku jatuh cinta?" batin Mely

__ADS_1


__ADS_2