
Ku hempaskan tangan kak Deni dan berlari meninggalkannya.Harusnya aku menjauhinya tapi Kak Deni justru malah terus saja mendekatiku, kini Reni melihat dengan mata Kepalanya sendiri tentang kedekatan kami, apa yang harus aku lakukan? yah biar semua berjalan apa adanya.
Sesuai perkiraan ku Reni mendatangiku di jam istirahat, kali ini dia sendirian tanpa pengikut.Dengan kasar dia mendorong bahuku dan berlagak sok kuat.
"Baru berapa minggu kamu kerja di sini, udah berani bikin gara-gara rupanya"
"Maaf aku gak tahu maksud kamu apa, aku ke sini cuma mau kerja" balas ku seraya mencoba pergi tapi Reni menahanku.
"Kalau kerja ya kerja gak usah genit sama cowok orang lain deh"
"Maksudnya apa ya... aku gak ngerti tuh"
"Deni itu pacar aku jadi kamu cebol gak usah sok cantik ngaku-ngaku pacar dia"
Kehabisan kesabaran ku dorong balik bahunya sampai dia terjatuh di lantai dan dengan lantang ku katakan.
"Sedikit pun aku gak ada maksud buat genit sana sini, dan masalah kak Deni kamu denger sendiri dia yang ngaku-ngaku bukan aku.Jadi berhenti ngusik kehidupan aku"
Ku tinggalkan dia seorang diri dan pergi mencari Sely tapi yang ku dapat malah Kak Deni, raut wajahnya serius menatapku dengan pelan dia bertanya
"Kamu di gangguin Reni?"
Ku hembuskan nafas kesal,rupanya kak Deni tau Reni datang mengusikku karna itu dia datang padaku.
"Iya, gara-gara kakak yang ngaku-ngaku pacar aku"
"Maaf Mel aku gak bermaksud.... aku cuma bercanda dan orang lain juga tahu kalau aku bercanda" ucapnya menyesal.
"Tapi di mata Reni itu bukanlah sebuah candaan, dan di mata dia apapun yang aku lakukan jika itu ada sangkut pautnya sama kakak dia pasti marah.Makanya, lain kali kalau ada masalah selesain dulu baru putus secara baik-baik"
__ADS_1
"Jadi kamu tahu kalau kami dulu pernah punya hubungan?"
"Satu toko juga tahu"
Jawabku ketus, aku pun pergi meninggalkan nya tanpa menunggu kalimat selanjutnya yang hendak ia katakan.Untung saja aku bisa bertemu Sely dan bercanda dengannya sehingga amarahku dapat mereda.
Tak banyak waktu yang bisa kami gunakan untuk ngobrol karna jam istirahat sudah selesai, andai saja tadi Reni dan Kak Deni tidak mengusik ku sudah pasti jam istirahat ku lebih banyak.
Aku kembali bekerja namun kali ini aku terus menghindari Kak Deni meski ia terus mencoba mendekatiku.Sampai waktu pulang tiba dia datang lagi padaku meminta waktu sebentar untuk bicara.Awalnya aku menerima ajakannya karna ada Sely yang bisa ikut menemaniku.
Tapi Kak Deni malah meminta bicara empat mata yang akhirnya membuat Sely pergi meninggalkan kami berdua.Kak Deni mengajakku pergi dan mentraktir ku segelas jus tentu agar aku setia mendengarkannya.
"Reni dulu orang yang baik, setidaknya di mataku dia pacar yang baik.Sifat yang paling menonjol dari dirinya adalah ambisinya untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan.Awalnya aku mendukungnya karna semua hal yang positif seperti mendapatkan pekerjaan, tampil lebih baik, tapi semakin lama aku semakin sadar dia tak sebaik yang ku fikirkan"
ucap Kak Deni memulai ceritanya, dengan tenang aku mendengarkan.
"Dulu dia sempat bercita-cita ingin jadi model, aku mendukungnya sampai dia berhasil di lirik oleh seorang fotografer. Dia berhasil menjadi model meski baru mengisi majalah biasa, tapi tak ku sangka dia malah selingkuh dengan fotografer itu"
"Aku memutuskannya, tapi dia tidak terima.Karna aku juga masih sayang ku terima dia kembali dengan syarat dia harus mengorbankan cita-citanya dan dia menyanggupinya"
"Hah? setelah dia selingkuhin kakak, dan semua pengorbanan kakak? ka Deni masih mau nerima dia?" tanyaku tak percaya pada apa yang baru saja aku dengar.
"Cinta ku lebih besar dari amarahku, lagi pula tidak ada salahnya memberi kesempatan kedua semua manusia kan pernah berbuat salah"
Tiba-tiba aku teringat Jordan, kisah kami hampir sama.Tapi tidak, aku di perlakukan lebih buruk.Jordan yang telah memilih wanita itu jadi kesempatan apa yang harus ku berikan sedangkan aku yang dia buang begitu saja.Kutepis kenangan yang sempat hadir sesaat itu, masa itu telah berlalu kini aku punya hidup yang lebih baik. Konsentrasi ku kembali pada cerita Kak Deni.
"Terus yang bikin kalian bener-bener putus apa?" tanyaku
"Reni yang ku kenal dulu telah berubah, entah apa motifnya tapi dia menjadi sering mengekangku.Dia sangat protektif hingga membuatku stres, sampai aku tak tahan lagi dan memutuskan nya.Dia tidak terima dan sejak itu bahkan dia menjadi lebih gila lagi, dia tidak membiarkanku dekat dengan perempuan lain. Saat aku bekerja di toko ini pun dia ikut-ikutan ngelamar dan bekerja di sini juga"
__ADS_1
"Bukankah sikap berlebihan itu bisa kakak laporin ke polisi?"
"Apa yang harus aku laporin? aku tidak punya bukti apa pun"
Ada nada putus asa dalam kalimat yang Kak Deni ucapkan.Aku mengerti situasi nya memang serba salah.
"Tapi setelah tahu Reni bisa melakukan apa pun agar tak ada seorang wanita pun bisa mendekati Kak Deni, kenapa dengan sengaja Kak Deni berkata bahwa aku pacar kakak di depan orang banyak yang bahkan Reni bisa mendengarnya dan menbully aku"
"Awalnya aku tak sengaja bercanda, tapi saat melihat kamu tidak tinggal diam menerima perlakuan Reni aku sadar kamu istimewa, kamu kuat, dan cuma kamu satu-satunya orang yang bisa nolong aku"
"nolong apa?" tanyaku
"E-eh bukan apa-apa, maksudku bisa jadi temen cewek aku.Yah siapa tahu lambat laun Reni bisa berubah dan sadar tidak semua cewek bisa dia bully" jelasnya.
Ada hal yang ganjil, Kak Deni seolah menutupi sesuatu dariku.Tapi aku tak mencoba bertanya apa itu, karna jawabannya pasti tidak akan dia beritahukan padaku.
Ada sedikit rasa kasian pada Kak Deni, hidupnya pasti tidak tenang.Aku jadi ingin menolongnya, tapi aku bingung juga apa yang harus aku lakukan? haruskah aku pergi ke psikiater dan berkonsultasi?.
Kami berganti topik setelah kisah cinta itu selesai, sesuai dugaanku Kak Deni orang yang menyenangkan.Dia seperti kakak laki-laki yang sedia untuk adiknya, kini aku tak mencoba menghindari nya lagi.Setelah apa yang aku dengar aku tahu aku mampu menghadapi Reni, biar lah semua berjalan apa adanya.
Hari masih sore tapi Kak Deni sudah mengantar ku pulang, katanya anak gadis tidak boleh pulang malam-malam padahal waktu tinggal di Jakarta aku sering pulang malam, Tante Isma yang melihat aku di antar pulang tersenyum dan menggoda.
"Kemarin katanya temen yang ngater pulang, sekarang kalau gak salah Deni udah dua kali ya nganter kamu pulang.... hemmm....... perasaan keponakan tante ini ada aja anak cowok nganter pulang"
"Tante apaan sih" tanyaku sambil mencoba menahan senyum.
"Emang bener ya kata ibu kamu, kecantikan Mely selalu mampu memikat"
"Tante.... " teriak ku dan mulai mengejar tante yang berlari sambil tertawa kegirangan.
__ADS_1
Tak di sangka saat aku bercanda dengan tante Isma aku mendapat telpon dari orang yang tak di duga.