
Sely... surat ini untuk dia.Jadi firasat ku benar, selama ini Kak Deni menyukai Sely.Tunggu jangan-jangan bunga dan coklat waktu itu pun dari kak Deni dan uang biaya operasi ibu Sely, kenapa aku begitu bodoh, kenapa aku tak bisa melihat cinta di mata Kak Deni untuk Sely.
Lalu kedekatan yang di katakan Sely tadi adalah benar mereka memiliki hubungan dulu, tapi sebatas perasaan masing-masing atau benar mereka memiliki hubungan dulu.
Sepertinya kak Deni dan Sely saling menyukai tapi tak mampu untuk mengungkapkannya karna terlalu takut pada ancaman Reni, jadi inikah maksud kak Deni yang minta dukungan ku?.
Aku sudah berjanji akan mendukungnya, haruskah ku berikan surat ini pada Sely? tapi bagaimana jika Sely menerima cinta Kak Deni? bagaimana bila Reni tahu masalah ini lalu mengincar Sely? tidak, aku tidak mungkin membiarkan Sely dalam bahaya.
Kak Damar, ya jawabannya adalah kak Damar, aku harus menyatukan Sely dengan kak Damar agar ia selamat dari Reni.Memikirkan hal ini membuat dadaku terasa sesak, dalam satu waktu Sely di cintai oleh dua pria yang mana aku sudah berjanji akan mendukung keduanya.Terlalu sulit untuk ku pikirkan sendiri, mungkin aku harus cerita pada orang lain tapi siapa yang bisa ku percaya?
Tenggelam dalam lamunan yang begitu dalam dering telpon mengagetkanku sampai jantungku berdegup kencang, rupanya kak Afdal yang menelpon agak aneh karna biasanya dia menelpon sore hari tapi sedikit lega juga karna ada teman yang mungkin bisa menghilangkan setres yang baru ku hadapi.
"Halo Mel?" tanya kak Afdal setelah ku angkat telpon itu.
"Iya ka ada apa?"
"sore nanti lu bisa dateng ke rumah gue gak, tapi sendiri"
"Emang kenapa?"
"bantuin guem masak"
"Hah masak?" tanyaku seolah tak mengerti ucapannya.
"Emang ada apa? ko ngajakin masak" tanyaku
"Udah pokonya lu dateng kemari ntar ya"
"Kalau aku gak mau?"
"Ucapan raja itu mutlak Mel" jawabnya yang seketika mengingatkanku akan permainan truth ordare yang kami mainkan dulu, aku baru ingat aku berhutang menyelesaikan tantangan darinya.
__ADS_1
"Kak Afdal udah belanja bahan-bahannya?" tanyaku yang tak mungkin menolaknya dan lagi saat ini aku sedang butuh teman.
"Belum kenapa emang?"
"Kebetulan hari ini aku gak kerja, jemput aku ke rumah sekarang ya kita ke pasar dulu belanja"
"Ohh gitu, ok gue jemput sekarang ya lu siap- siap"
Tanpa mengucapkan kata apapun lagi Kak Afdal langsung segera menutup telpon.Aku masih belum memutuskan siapa yang akan ku pilih untuk mendampingi Sely, lagi pun Sely juga tidak ingin pacaran jadi untuk sementara waktu aku akan terus mendukung kak Damar, ku kirim pesan padanya aku akan di rumah kak Afdal malam ini dan memintanya untuk jadikan kesempatan ini untuk bisa jalan berdua saja dengan Sely.
Ku masukan gelang beserta surat itu kembali ke dalam kotak dan menyimpannya di dalam lemari, tentu aku sangat menyesalkan tindakanku ini, sebagai adik yang seharusnya mendukung tapi aku justru menghancurkannya.Apa boleh buat semua ini kulakukan demi kebaikan yang lain juga.
Kak Afdal datang menjemput di waktu yang tepat setelah aku selesai berpakaian, kami langsung menuju pasar untuk membeli bahan-bahan seperti sayuran, daging, bumbu dapur dan lain lagi.
"Kak emang di rumah kakak mau ada acara apa? ko pake masak banyak segala?" tanya ku di tengah perjalan kami yang masih belanja.
"Keluarga gue mau dateng"
"Ohhh.. emang kalau keluarga kak Afdal mau dateng suka masak banyak ya"
"Kak Afdal kenapa sih?" tanyaku kesal
"Kenapa apanya?" ucapnya kebingungan melihatku kesal.
"Dari tadi jawabnya singkat-singkat terus biasanya juga bawel"
Bukannya menjawab ia malah tertawa sambil mengacak-acak rambutku, dengan kesal ku tepis tangannya dari kepalaku tapi ia masih tertawa.
"Sory deh, gue lagi fokus milih sayuran yang bagus nih jadi jawabnya singkat, lagian tibang begitu doang langsung marah emang tempramen ya lu orangnya dikit-dikit kesel dikit-dikit marah nanti cepet tua lho"
Tak ku gubris ucapannya karna masih kesal, kak Afdal pun terlihat tak peduli lalu kembali memilih sayuran yang bagus.Dengan seksama ku perhatikan cara dia memilih sayuran, setelah beberapa bulan aku tinggal di Bogor dan berteman dengan mereka jika di pikir-pikir baru kali ini aku bisa memperhatikannya dengan seksama.
__ADS_1
Di mataku dia seperti pria biasa lainnya, makanya aku lebih tertarik pada kak Damar yang dewasa dan Kak Deni yang tampan, tapi jika di perhatikan lagi Kak Afdal memiliki wajah manis yang menyenangkan.Memang benar, selama ini pun dia teman bercanda yang paling seru dia selalu menyebalkan tapi menyenangkan.
Melihatnya belanja aku seolah bertemu Kak Afdal yang baru, dia terlihat sudah biasa belanja.Dia tahu bahan yang bagus dan harga yang bagus juga, aku jadi teringat dia tinggal sendiri di rumah sudah tentu di balik Kak Afdal yang menyebalkan ada sosok pria dewasa yang manis, saat wajahnya dulu pernah begitu dekat denganku, membuat jantungku berdegup kencang karna harum tubuhnya dan nafasnya yang bisa ku rasakan.
Astaga apa yang tengah ku pikirkan? Tiba-tiba kini jantungku kembali berdegup kencang memikirkan hal itu, kenapa aku jadi malu begini?
"Ayo Mel udah semua" ucap kak Afdal membuyarkan lamunanku yang sempat membuatku kalut.
"Oh e.... iya"
"Lu kenapa sih, ko jadi aneh gitu" tanyanya yang jelas pasti melihat kecanggungan ku.
"Gak apa-apa ko, ya udah ayo pulang" jawabku cepat sadar wajahku yang terasa panas.
Kak Afdal membawakan semua barang belanjaan ke dapur dan tentu aku mengikutinya dari belakang, ia kelihatan sangat gesit saat mengeluarkan semua barang dan mencuci semua bahan.
"Oh iya hampir lupa" ucapnya saat mencuci sayuran.
"Apa?" tanyaku melihatnya membuka laci dan mengeluarkan sebuah celemek.
"Nih pake biar baju lu gak kotor" ucapnya sambil memakaikan celemek itu di badanku.
Mataku tak bisa berpaling dari wajahnya yang tiba-tiba dekat karna dia sedang mengikatkan tali celemek di belakang punggungku, aku bisa menghirup aroma tubuhnya yang wangi lagi dan merasakan nafasnya yang berhembus di pipiku.Dan lagi, jantung ku berdegup kencang.
"Lu kenapa Mel?" tanyanya dengan sedikit tersenyum yang justru membuat wajahku terasa panas.
"Gak kenapa-kenapa?" jawabku mencoba memalingkan muka.
"Tapi ko wajah lu merah?"
"Ah ini karna udaranya yang panas" aku tahu ucapanku terdengar bodoh dan tidak masuk akal, tapi Kak Afdal tak mempertanyakan nya lagi.
__ADS_1
Dia kembali pada pekerjaannya dan aku pun kembali pada pekerjaanku, rasanya aneh kenapa setiap wajahnya mendekat jantungku selalu berdegup kencang.Tapi tak ada waktu memikirkan hal itu dengan keisengannya kak Afdal terus membuat onar, hingga aku marah dan ingin pulang tapi sebatang eskrim di berikan nya untuk merayuku lagi dan akhirnya kami kembali baikan seperti biasa.
Jam makan malam sudah tiba, makanan yang kami masak pun sudah siap di meja.Tepat saat itu juga tak lama kemudian pintu rumah di ketuk, aku menawarkan diri untuk membukanya itu pasti keluarga kak Afdal, tapi saat aku membuka pintu tak di sangka aku bertemu orang yang tak pernah terlintas di pikiran ku.