Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
Eps. 48


__ADS_3

Seperti inikah rasanya menjadi seorang pemenang? Mely sudah berhasil membuat Jordan benci pada Dina sekaligus mendapat kepercayaan Jordan sepenuhnya, hanya dalam sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.


Mely membaringkan badannya di atas ranjang, senyum puas menghiasi wajahnya sambil menatap langit-langit yang putih, tapi yang di lihatnya adalah wajah Dina yang penuh emosi dan kecewa.


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan Dina masuk tanpa permisi, dengan santai Mely bangun dan menghadapi Dina yang sedang terbakar api cemburu.


"Tidakkah kau di ajari sopan santun? jika tidak baiklah akan ku ajari, sebelum masuk kamar orang kau harus mengetuk pintunya dulu" ucap Mely santai.


"Ini rumah suamiku yang artinya rumahku juga, aku berhak masuk ke kamar siapa saja tanpa mengetuk pintu"


"Benarkah? kalau begitu coba masuk ke kamar Jordan tanpa mengetuk pintu, bukankah itu kamar mu juga" balas Mely dengan menyeringai licik.


"Kau, kau pasti sengaja melakukan hal ini" jawab Dina menahan emosi.


"Aku tahu kau pintar, tanpa ku beritahu aku yakin kau pasti sudah tahu maksud dan tujuan ku datang ke sini"


"Sudah ku kira, harusnya ibu tidak pernah memintamu datang, sebuah kesalahan ku yang tidak bisa meyakinkan ibu agar tidak pernah meminta mu datang, seharusnya aku tidak membiarkanmu menemui mas Jordan" ucap Dina menyesali.


"Tidak, kau salah.Jika aku tidak datang apa kau yakin Jordan akan baik-baik saja, dalam tidurnya yang dia panggil adalah namaku, dalam bangun yang dia tanyakan adalah keberadaanku, dalam hatinya hanya ada diriku.Apa kau yakin Jordan akan baik-baik saja tanpa aku?" tanya Mely menggoyahkan batin Dina.


Tentu Dina pun tidak bisa membiarkan suaminya menggila karena tidak bisa menemui Mely, tapi mempertemukan mereka pun sebuah kesalahan karena Mely datang bukan untuk menyembuhkan Jordan tapi demi suatu hal yang mengerikan.


"Apa pun yang terjadi aku tidak akan membuat mas Jordan terluka, dan dengan cara apa pun aku pasti akan menyingkirkanmu dari hatinya" ancam Dina yang malah membuat Mely tertawa.

__ADS_1


"Oh astaga kau membuatku tertawa" ucap Mely di sela-sela tawanya, Dina hanya bisa melihat dengan raut wajah heran.Mely akhirnya berhenti tertawa dan bicara dengan wajah serius dan nada dingin.


"Tidak kah kau mengerti? kau sudah tamat, sejak awal Jordan adalah milikku dan tidak akan pernah menjadi milikmu, sejak awal cintanya padamu hanya sebuah dusta karena itu Tuhan mengembalikan apa yang memang menjadi hak ku, Dia menghilangkan ingatan tentangmu karena kau memang tidak berharga untuknya"


Dina menggelengkan kepala tak setuju, dengan keras ia membatah.


"Kau yang salah, aku tahu Tuhan sedang menguji cintaku.Cintaku suci dan murni, cintaku butuh pengorbanan karena itu Tuhan memberikan cobaan ini padaku, kau lihat saja aku pasti akan bisa membuat mas Jordan ingat lagi padaku"


Dengan emosi Dina pergi meninggalkan Mely sendiri, dalam derap langkahnya terbawa hati yang terluka hingga mencucurkan air mata.Terus ia coba hapus meski terus mengalir keluar.


"Mungkin saja itu bisa terjadi, aku tahu kau kuat tak bisa kupungkiri kau mampu melakukannya, tapi sebelum hal itu terjadi akan ku buat kalian merasakan kesakitan yang selama ini menggerogoti ku dari dalam" batin Mely.


* * *


Lukisan wajah Mely nampak indah di bawah sinar rembulan, entah sudah berapa lama kak Afdal menatapnya dan matanya tak jua lelah.Ada rasa sakit yang mengganggunya dan ia tak suka ini, di sisi lain ia melihat tiket pergi ke Jepang terpampang tanggal bulan dan tahun keberangkatan.


Tinggal seminggu lagi dan kesibukan apa yang harus ia kerjakan agar waktu tak terasa lama.Dipandangnya lagi lukisan wajah Mely.


"Kalau ada lu pasti sekarang kita lagi main di luar, entah itu ke karnaval atau sekedar ngopi di tempat biasa.Terus lu pasti bikin gara-gara ampe gue kesel, kita marahan lalu baikan lagi" ucapnya mengenang.


* * *


Pawana menyapa rambut yang terurai, membisikkan kata-kata rindu yang berasal dari hati, rembulan sempurna terlihat cantik meski tanpa bintang.Malam yang cerah itu mengantar bayangan Mely pergi ke Bogor, tempat di sahabat-sahabatnya selalu membuatnya tertawa bahagia, diamana ada orang yang selalu membuatnya jengkel tapi selalu hadir di saat ia butuh.

__ADS_1


Mely sudah rindu pada mereka terlebih pada kak Afdal, ia ingin segera pulang dan pergi main bareng lagi dengan mereka tapi ke egoisan merantai kakinya di sini.


Ia hanya bisa melamun, membayangkan apa yang sedang mereka lakukan, mungkinkah mereka pergi bersenang-senang tanpa dirinya? Tiba-tiba seikat bunga hadir di depan wajahnya membuyarkan lamunan.


Jordan tersenyum sambil memegang bunga itu di smaping Mely, tanpa ia sadari Jordan sudah berada duduk entah berapa lama.


"Jordan... " panggil Mely pelan.


"Bunga ini untuk kamu, aku sengaja memesannya.Aku gak tahu gimana perlakuan aku sama kamu selama ini, aku takut aku pernah buat kamu sakit hati karena ini sekarang aku akan buat kamu senanng terus" ucap Jordan tulus.


"Terimakasih" jawab Mely.


Di ambilnya bunga itu dan di ciumnya, wangi harum memenuhi rongga hidungnya, dan kata-kata tulus yang di lontarkan Jordan akan di terima sebagai ucapan romatis bagi kuping dustanya.Namun bagi hatinya itu hanyalah panah beracun, bagaimana tidak kenyataannya Jordan memang telah membuatnya sakit hingga ke tulang.


"Mel, kita udah lewatin satu tahun dan gak ada sedikit pun hal yang aku ingat, aku penasaran apa aja yang udah kita lewatin?" tanya Jordan.


"Kamu kerja di sebuah restoran di Jakarta, seiring berjalannya waktu atasan liat potensi kamu dan akhirnya kamu di pindahkan ke sini dan jabatan kamu pun di angkat jadi kepala koki, karena itu mau tidak mau kita menjalani hubungan jarak jauh" jelas Mely mengatakan sedikit kebenaran.


"Owh, apa karena hal itu aku belum juga ngelamar kamu?" tanyanya lagi.


"Kamu bilang, nikah butuh biaya besar karena itu kamu sibuk kerja dan nabung buat biaya pernikahan kita" jawab Mely lagi menahan kepedihan.


Masa lalu memang itulah yang terjadi, tapi pada akhirnya uang yang ia tabung ia gunakan untuk menikahi Dina dan inilah kenyataan terpedih yang Mely pendam.

__ADS_1


"Jadi karena itu ya, jujur sejak awal ketemu kamu aku udah berniat pengen nikahin kamu langsung tapi aku gak punya apa-apa, karena itu aku gak berani bilang" ujarnya menyesal.


"Tapi, sekarang aku udah kerja, aku pasti punya uang dan tabungan yang kamu bilang pasti sekarang sudah lumayan banyak.... sayang.... sekarang... kita bisa menikah" lanjut Jordan semangat.


__ADS_2