Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
eps. 8


__ADS_3

Jam weeker berdering dengan kencang membangunkan Mely dari tidur pulsanya, dengan malas ia menekan jam itu hingga berhenti berbunyi, kini tiba-tiba ruangan jadi terasa sepi kaget akan ingatannya semalam Mely segera mengecek handphonenya dan ia mendapat banyak pesan dari Nadin.


Rupanya Jordan sudah pulang ke rumah Nadin dan urusan tabrakan itu pun sudah di selesaikan oleh ayah Nadin. Kini Mely bisa bernafas lega, dengan cepat Mely bangun dari tempat tidur dan bergegas menjenguk Jordan.


Hari itu ia tampil dengan sangat cantik dengan riasan wajah yang sempurna tentu untuk menutupi matanya yang sayu dan wajah puncatnya. Ia tak ingin Jordan melihat dirinya dalam keadaan kusut, tentu itu akan menimbulkan rasa bersalah pada diri Jordan maka dari itu Mely terlihat cantik dan energik agar Jordan berpikir bahwa ia baik-baik saja.


Tak butuh waktu lama bagi Mely untuk sampai di rumah Nadin, dan yang pertama kali menyambutnya tentu sang tuan rumah. Nadin memeluk Mely dan berkata bahwa Jordan baik-baik saja, tapi ucapan Nadin tentu ingin di pertanggungjawabkan. Mely segera masuk kedalam memastikan bahwa Jordan memang baik.


Ia melihat Jordan tengan terbaring tapi dari luar memang tidak ada luka serius, hanya lecet di kening tangan dan punggung saja. Mestinya Mely bersyukur tapi ia tak tega melihat Jordan walau hanya luka lecet saja.


"Hai sayang, kamu udah dateng"


"Gimana kabar kamu sekarang, apa udah enakan? maafin aku karna aku gak nemenin kamu di rumah sakit, aku malah pulang dan tidur"


Ucap Mely menyesali perbuatannya semalam, memang keinginannya menemani Jordan sangat kuat tapi ternyata trauma yang derita pun cukup parah hingga ia butuh istirahat.


"Kamu ngomong apa sih Mel, kalau aku gak tidur pun aku pasti bakal nyuruh kamu pulang karna kamu juga butuh istirahat dan kamu gak boleh cape, kamu gak usah minta maaf... kamu gak salah.. yang salah aku andai aku gak ngebut pasti kecelakaan itu gak bakal terjadi"


"Ko kamu ngomongnya kayak gitu sih, gak lah kamu juga gak salah ya.... ini memang takdir kita aja, dan kita harus terima"


"Makasih sayang... kamu memang pacar yang baik, aku bener-bener beruntung bisa dapetin kamu"


"Ok sekarang gimana kalau kamu makan dulu, kamu pengen makan biar aku buatin"


"Buatin? kamu mau masak buat aku?"


"Ya kenapa gak? kan kamu lagi sakit dan aku emang gak pinter masak kayak kamu tapi aku bisa usahain ko, aku bisa bikin makanan yang enak buat kamu"


"Ya udah aku minta yang simpel aja, tolong buatin aku sambel goreng kentang"


"Oke, aku masakin kamu tunggu di sini ya"


Mely meninggalkan Jordan seorang diri, lalu pergi mencari Nadin. Ia sampaikan niatnya yang ingin memasak untuk Jordan dan tentu ia butuh Nadin untuk meminjam dapurnya, dengan senang hati Nadin mempersilahkan bahkan memberikan bahan-bahan yang di perlukan.


Mely memang tidak pandai memasak tapi ia orang yang mau berusaha keras dan bila pacarnya hanya meminta sambal goreng kentang maka itu hal yang kecil bagi Mely.

__ADS_1


Jordan pun angkat kedua jempol untuk hasil masakan Mely, ia tak menyangka Mely bisa memasak se enak ini karna setaunya Mely jarang memasak bahkan Jordan tidak pernah melihat Mely memasak.


Kini ia tak ragu lagi, semua hal yang ia cari dalam diri seorang wanita ada pada diri Mely. Setelah sehat dan dapat bekerja dengan normal lagi, tiga minggu kemudian Jordan memutuskan untuk memberikan kejutan pada Mely.


* * *


Jam dinding Seolah mengoloknya sedari tadi, pantulan dirinya di cermin seolah mengatakan semua hal buruk tentang nya. Mely sudah tak tahan lagi ia pergi mencuci mukanya dan mengganti pakaiannya, kini ia berbaring di kasur dengan setumpuk buku horor yang siap ia baca sampai habis.


Semalam Jordan memberi pesan bahwa ia akan mengajak Mely jalan-jalan, paginya ia kembali memberi pesan agar Mely bersiap-siap tapi saat Mely sudah siap Jordan tak kunjung datang, Mely berusaha menelpon Jordan tapi selalu di rijek.


Cukup lama Mely menunggu sampai hari sudah beranjak siang dan matahari sudah terik di luar sana tapi Jordan belum kelihatan juga batang hidungnya. Saat Mely sudah prustasi Jordan baru membalas pesannya dan berkata ia punya urusan mendadak yang harus di selsaikan. Tak tahan akan semua ini Mely memutuskan membaca beberapa novel yang ia punya.


Dering telponnya berbunyi, Jordan mengrim pesan lagi bahwa dia akan menjemput tentu Mely senang sekaligus marah ini sudah sore hari. Dengan malas Mely akhirnya bersiap kembali.


Saat marah Mely ingin sekali memaki, berceloteh tak jelas untuk melupakan kekesalannya tapi saat Jordan tiba Mely tak sanggup mengatakan apa pun, ia hanya diam seribu bahasa dengan wajah cemberut meski Jordan sudah berkali-kali meminta maaf Mely masih tak mau bicara.


Jordan membawa Mely ke sebuah kafe disana Jordan banyak bicara tentang pekerjaannya, cukup lama hingga membuat Mely bosan. Ia berfikir tak bisakah Jordan melihat Mely yang ingin di perlakukan istimewa setelah ia di buat menunggu begitu lama.


Karna banyak minum Jordan harus permisi ke toilet sebentar dan Mely hanya mengangguk ganti ucapan, tak lama dari Jordan pergi Mely di kejutkan dengan kehadiran Dewi yang membawa seikat bunga.


seikat bunga itu di serahkan nya kepada Mely tanpa bicara Dewi menarik tangan Mely agar mengikutinya, awalnya Mely menolak tapi Dewi sangat berusaha keras dan pada akhirnya Mely menurut.


Dewi mengajak Mely ke parkiran di sana Mely di beri sebuah kertas yang harus dia baca.


"Menjalin hubungan itu tak mudah, ada banyak hal yang harus di pertimbangkan sebelum menyetujui untuk menjalin hubungan, jika kamu percaya pada sahabat-sahabatmu ikutlah kemana mereka membawamu dan temukan hal besar yang menantimu, tapi jika kamu tak percaya pulanglah dan lupakan semuanya"


Begitulah isi pesan yang tertulis di kertas itu, sejenak Mely terdiam dan hanya melihat Dewi yang sedari tadi tersenyum padanya. Iaulai berfikir apa yang menantinya di sana, Mely harus segera membuat keputusan akankah ia ikut dengan Dewi atau kembali kepada Jordan yang sedari tadi membuatnya kesal.


"Aku ikut"


ucap Mely singkat, Dewi tersenyum menanggapi jawaban Mely.Di perjalanan Mely terus berfikir apakah keputusannya ikut sahabatnya adalah yang benar? ada rasa sedikit rasa bersalah karna meninggalkan kekasihnya tapi ia pun berfikir lagi. Biarlah Jordan mencarinya anggap saja pembalasan atas perilaku Jordan yang membuatnya kesal.


Dewi membawa Mely ke sebuah taman, di sana Ocha sudah menunggunya dengan senyuman dan sebatang coklat, Mely menghampiri Ocha dan bertanya ada apa tapi Ocha tidak menjawab ia malah memberikan sepucuk surat yang harus Mely baca lagi.


"Terimakasih karna sudah percaya pada sahabatmu, tidak perlu terburu-buru karna hal besar itu cepat atau lambat pasti akan kau temukan, sekarang percayakah kau pada sahabatmu untuk menuntunmu pergi ke suatu tempat dengan mata tertutup?"

__ADS_1


Mely agak ragu karna sekarang dia harus menutup mata, di lihatnya Dewi dan Ocha bergantian selama ini mereka bersahabat cukup baik dan tidak pernah sekali pun mereka berniat atau berbuat jahat, jadi Mely memutuskan untuk percaya.


Ocha menutup mata Mely dengan sebuah kain dan mulai berjalan tentu di tuntun oleh Ocha. Mely merasa mereka sudah berjalan cukup jauh sepanjang jalan tadi Mely berusaha bertanya ada apa dan mau dibawa kemana dia tapi Ocha benar-benar tutup mulut.


Setelah perjalanan yang cukup panjang menurut Mely akhirnya mereka sampai, dan Mely di suruh membuka kain yang menutup matanya. Begitu Mely membuka mata ia melihat Nadin, Siska, Dewi, Ocha dan kekasih Siska berdiri di depannya.


Mely melihat berkeliling di tepi danau dengan sebuah dekor yang indah, ada banyak bunga, balon lampu-lampu dan matanya kembali melihat ke arah ke sahabatnya itu, jelas di tangan mereka ada sebuah papan yang terbalik Nadin orang pertama yang membuka papannya dan di situ tertulis namanya.


Lalu Siska dan yang lain secara berurutan membuka papan yang di pegang mereka hingga Mely datang membaca kesempurnaan kalimat itu dengan kelas.


"Mely will you merr me"


Mely tak menyangka dengan apa yang dia baca, lalu kelima orang yang berbaris rapi itu kini bergeser ke kiri dan kanan agar Mely dapat melihat orang di balik semua ini.


Jordan berdiri tegak memandang pujaan hatinya dengan penuh rasa cinta, perlahan ia menghampiri Mely yang tengah kebingungan.


"Aku tau aku udah bikin kamu kesel, aku tau kamu orang yang gak suka nunggu lama dan perlu kamu tau kenapa aku terlambat jemput kamu.. karna aku harus nyiapin semua ini demi pujaan hati aku, demi kamu.... Satu-satunya kecintaan ku"


Jordan berlutut di hadapan Mely yang sedari tadi masih tidak bisa bicara apa-apa.


"Jadi... aku minta jawaban kamu untuk aku yang udah nyiapin ini semua dan sekali lagi aku mau tanya sama kamu.Mely... will you merry me?"


Jordan mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin tepat saat bicara. Mely tak bisa membendung air matanya, seolah di bawa terbang ke surga bersama merpati-merpati elok kegembiraan yang ia rasakan begitu dalam dan indah, Mely hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala sembari terus menghapus air mata bahagianya.


Jordan bangkit dan melingkarkan cincin itu di jari manis Mely, semua sahabatnya bertepuk tangan ikut bahagia melihat kebahagiaan Mely saat ini.


"Kalau liat orang pacaran gue jadi panas sendiri, astaga... kapan ya gue punya pacar kayak gitu, romantis, baik, cakep lagi"


Ucap Ocha melihat Mely dan Jordan yang tengah berpelukan bahagia.


"Ya entar juga lu dapet, sabar aja"


Timpal Siska yang juga sedang menggenggam erat tangan pacarnya, Dewi, Ocha dan Nadin melihat dengan tatapan sebal.


"Nonton aja yu, dari pada kita liat orang pacaran yang merasa dunia hanya milik mereka aja"

__ADS_1


Ucap Dewi mengajak Ocha dan Nadin, mereka setuju dan pergi tanpa pamitan. Siska yang di tinggal cuma bisa tertawa dan ia pun memilih pergi juga bersama pacarnya meninggalkan dia insan yang sedang Tuhan satukan dengan anugrah terindahnya.


__ADS_2