Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
Eps. 62


__ADS_3

Semua barang yang di perlukan sudah dia kepak rapi di dalam tas, satu tarikan nafas panjang dan menghembuskannya dengan berat dilakukan Kak Afdal sebelum melangkah pergi keluar kamar.


"Kak... lu udah siap belum? temen-temen lu udah dateng nih" teriak Ocha memberitahu.


"Iya gue keluar sekarang" jawabnya.


Begitu dia keluar kamar rupanya apa yang di ucapkan Ocha memang benar, awalnya kak Afdal hanya akan di antar oleh orangtua dan adiknya saja tapi kak Damar, kak Deni, Sely, bahkan Nadin hadir untuk mengucapkan salam perpisahan dan mengantar sampai bandara.


"Kalian pada ngapain sih ke rumah gue? bikin sumpek aja tahu gak sih" tanya kak Afdal dengan wajah merengut.


Mereka hanya bisa tertawa mendengar omelannya karena tentu saja Kak Afdal tidak bersungguh-sungguh, cukup berat hatinya meninggalkan kota kelahiran dan teman-temannya tapi tekadnya sudah cukup bulat hingga ia hanya bisa terharu atas apa yang di lakukan yang lain untuknya.


"Gue belum mau bener-bener pergi kok, gue cuma mau liat-liat dulu, belum tentu juga gue dapet univ yang cocok" lanjutnya.


"Yaelah, mau liat-liat doang ke, mau cuma jalan-jalan ke, atau langsung tinggal di sana ke pokoknya kita bakal tetep nganterin.Karena baru kali ini lagi kita bisa kumpul bareng kayak gini" jawab Sely.


"Bener, semenjak Sely dan Deni nikah, terus Mely ilang gitu aja kita jadi jarang banget kumpul, padahal dulu hampir setiap hari kita main bareng.Hhhhhhn gue jadi kangen masa-masa itu" ujar kak Damar menambahkan, dan yang lain ikut mengangguk setuju.


"Mely kemana ya? gue kangen berat sama dia" ucap kak Deni bersungguh-sungguh.


"Kamu udah sampein ke Mely belum kalau hari ini kita mau nganter Afdal ke bandara?" tanya kak Damar pada Nadin.


"Udah ko, tapi Mely gak jawab apa-apa"


"Mely kemana sih Din? kok tiba-tiba pergi dan sampe sekarang gak ada kabar gitu" tanya Sely penasaran.


"Dia ke Bali, ada sodaranya yang sakit dan Mely harus ngerawat dia" jawab Nadin.


"Masa sih? ko Mely yang ngerawat sodaranya emang dia gak punya orangtua gitu?" tanya Kak Deni yang tidak mudah percaya begitu saja.


"Aku gak tahu" jawab Nadin singkat.


Ia sadar dia tak bisa berbohong lebih dari ini, karena itu justru akan menimbulkan lebih banyak pertanyaan dan curiga.Nadin hanya bisa menatap Kak Afdal dengan senyum pahit karena hanya mereka berdua yang tahu tentang Mely saat ini.


"Udah siap semuanya? ayo kita berangkat" ujar ibu kak Afdal.


Mereka menjawab siap dan segera masuk kedalam mobil, namun sebelum pergi tanpa sepengetahuan yang lain kak Afdal menyerahkan sebuah amplop kepada Nadin.

__ADS_1


"Tolong berikan surat ini sama Mely" bisiknya dan segera pergi sebelum ada yang melihat.


Dengan segera Nadin menyimpannya kedalam tas, ia tak ingin peduli apa isinya tapi yang jelas tanpa sepengetahuan yang lain Nadin mencoba menghubungi Mely.


* * *


Mely bangun pagi sekali, tentu karena dia harus Mengurusi anak Dina.Ia tak keberatan, dengan senang hati ia menikmati peran sebagai ibu.


"Mely, hari ini biar ibu yang ngurusin bayi itu, sebaiknya sekarang kamu cepat mandi dan pakai pakaian yang sudah ibu persiapkan" ujar ibu Jordan dengan membawa sebuah kotak besar.


"Memangnya ada apa?"


"Nanti juga kamu tahu, pokonya sekarang kamu siap-siap aja dulu."


Meski tidak mengerti tapi Mely menurut juga, setelah ibu Jordan pergi membawa bayi itu Mely segera mandi dan mengenakan gaun yang sudah disiapkan.


Di depan cermin yang besar Mely menatap pantulan dirinya, gaun itu terlihat indah dan cocok ia kenakan.Cukup dengan riasan sederhana Mely sudah tampak menawan.


Ibu Jordan saja sudah terpukau melihat Mely yang cantik dan anggun begitu Mely keluar kamar, tak ada pujian yang bisa menggambarkan kecantikan Mely selain kata cantik yang di ucapkan ibu Jordan.


Dengan intruksi Ibu Jordan Mely masuk ke dalam sebuah mobil yang membawanya ke sebuah pantai.Begitu turun dari mobil, gadis-gadis manis menyambutnya dengan seikat bunga dan secarik kertas warna merah muda yang berisi puisi indah.


Ada hal yang lebih sejuk dari udara pagi


Ada hal yang lebih cantik dari ombak di tepi


Ada hal yang lebih putih dari pasir


Yaitu dirimu...


Bahkan merdunya kicauan burung


Kalah oleh suaramu


Seingatku aku telah jatuh di bawah kakimu


Sejak waktu yang hilang dari ingatan

__ADS_1


Aku tak menyesal sedikitpun


Meski keindahan itu telah kulupakan


Aku hanya pasir yang terbawa angin


Hingga kau yang mengambil


memberiku satu tempat


Lebih dari sekedar layak*"


Mely tertegun, puisi yang indah ini mengingatkannya pada kak Deni, seorang kakak yang selalu khawatir padanya.Kira-kira apa yang sedang dilakukannya saat ini? mungkin menikmati masa bulan madunya.


Andai ia tahu apa yang sedang Mely lakukan saat ini tentu ia akan marah besar dan dengan kasar menariknya pulang, hanya senyum lucu di wajah cantiknya saat membayangkan kak Deni.


Mely kembali berjalan dan seseorang mengintruksikannya untuk duduk di sebuah kursi yang telah di siapkan.Satu meja makan dan dua kursi di bawah tenda putih penuh karangan bunga di tepi pantai, sudah pasti Jordan yang menyiapkan semua ini.


Dia adalah pria yang romantis, siapapun bisa saja luluh padanya dan begitu mendambakan pria seperti Jordan.Berbeda dengan kak Damar yang bahkan tidak tahu bagaimana cara menyatakan cinta.


Ingatannya kembali mengenang, tentang bagaimana dia sangat geram pada kak Damar yang lambat mengambil keputusan, ia yang sudah sangat berusaha keras menjodohkan kak Damar dengan Sely akhirnya malah tak berhasil.


Mengucapkan nama Sely didalam hati mau tak mau ia juga ingat sahabatnya itu, Sely yang dia anggap sebagai adiknya sendiri yang kini sudah lebih dulu menikah.Satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul, apakah Sely sudah hamil?.


Jordan datang mengenakan setelan jas yang senada dengan gaun Mely, rupanya Jordan memang sudah mempersiapkan semuanya dengan matang.


"Kamu terlihat sangat cantik" puji Jordan kagum.


Meski setiap hari melihat Mely, tapi matanya tak pernah bosan dan saat Mely mengenakan gaun hasil pilihannya meski hanya sedikit riasan Mely terlihat lebih cantik dan anggun.


Seorang pelayan datang menyajikan minuman dan menyimpan hidangan pembuka di hadapan Mely dan Jordan.


"Kamu sengaja menyiapkan ini semua?" tanya Mely.


"Ya, aku ingin kita memulai semuanya dari awal lagi, dan aku ingin kita mengawalinya dengan sesuatu yang indah" jawab Jordan.


Mely hanya tersenyum dan mengangguk pelan, mereka mulai makan hidangan pembuka.Menikmati setiap suapan penuh makna, tapi tentu hal itu hanya di rasakan Jordan tidak dengan Mely.

__ADS_1


Seperti dejavu, ia pernah diberi kejutan indah oleh Jordan, dan kini ia ingat setiap detik yang terjadi pada masa itu.Bagaimana hatinya terharu dan cintanya tumbuh semakin besar hanya untuk Jordan.


Detik ini, gaun indah, tempat indah, bunga-bunga harum, dan semua kejutan yang telah Jordan persiapkan hanya untuknya tak dapat lagi menarik hatinya.


__ADS_2