Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
Eps. 58


__ADS_3

Meski Mely terlihat baik-baik saja dan bahkan ia telah berubah menjadi jahat, tapi Nadin tahu jauh di dalam dirinya Mely sangatlah rapuh.Kekuatan untuk balas dendam di dapat dari cintanya yang suci dan tulus telah ternoda dengan ketidakikhlasannya terbuang begitu saja.


Meski kenyataannya Mely tidak sepenuhnya terbuang, waktu itu Jordan masih ingin menikahi Mely hanya saja ia perlu menyelamatkan bayinya agar terlahir kedunia dengan keluarga yang utuh.Meski hasil dari dosa tapi bayi itu tak mesti harus menanggung kepedihan hidup tanpa seorang ayah.


Sikap Jordan yang ingin bertanggungjawab telah membuat iblis di hati Mely bangkit untuk membalas dendam.


Dalam lamunan panjang memikirkan sahabat dan sepupu yang sedang di landa masalah serius itu Nadin di kejutkan dengan kabar bahwa Kak Afdal akan pergi ke Jepang untuk menimba ilmu.


Kabar ini di dapatnya tentu dari Kak Damar yang saat ini tengah dekat dengannya.


"Kapan Afdal mau berangkat?" tanya Nadin di telpon.


"katanya sih lusa, makanya aku kasih tahu kamu sekarang, rencananya kami mau nganter Afdal ke bandara aku mau ngajakin kamu siapa tahu kamu mau ikut dan sekaligus aku mau minta bantuan" jawab Kak Damar.


"Minta bantuan apa?"


"Udah lama aku gak denger kabar tentang Mely, kamu tahu dimana dia sekarang? kalau kamu tahu tolong kamu kasih tahu dia sekaligus ajak Mely juga buat nganter Afdal, soalnya udah lama aku coba hubungi nomor ponselnya tapi gak pernah aktif"


"Oh, masalah itu, ya nanti aku coba hubungi Mely"


"Oke, makasih ya Din, kalau gitu aku tutup telponnya"


"Oke, bye."


Telpon pun di tutup, memang sudah cukup lama Mely tinggal Bali dan selama itu teman-temannya di Bogor pasti sudah kangen berat padanya.Apalagi Kak Afdal, mereka adalah teman yang tak terpisahkan, setiap bertemu mereka selalu bercanda kadang bertengkar tapi berkat itu Mely selalu tampak bahagia.


Senyum dan tawa yang selalu ingin Nadin lihat di wajah Mely, hanya bisa dia temukan saat berada di dekat kak Afdal.


"Benar juga, pasti Afdal mampu melakukannya" gumam Nadin yang menemukan ide bagus.


Segera diambilnya kembali ponselnya dan mencoba menghubungi kak Afdal, butuh waktu beberapa menit sebelum akhirnya kak Afdal menjawab.


"Halo, Dal.Ini gue Nadin"


"Halo, iya gue tahu, ada apa Din tumben telpon gue" jawab kak Afdal.


"Lu punya waktu gak? ada yang mau gue omongin, bisa gak ya kita ketemuan sekarang?"


"Ada sih, emang lu mau ngomongin apaan?"


"Udah deh pokoknya yang penting bisa gak kita ketemuan sekarang?"

__ADS_1


"Hmmmm, kayaknya bisa"


"Oke, kalau gitu tempatnya gue kasihtahu lewat pesan"


"Oh Oke" jawab Kak Afdal dan telpon pun di tutup begitu saja.


Rasa penasaran membuat Kak Afdal segera berangkat setelah menerima pesan dari Nadin yang berisi tempat pertemuan mereka.


* * *


Segelas kopi panas menemani Nadin yang masih menunggu kedatangan kak Afdal, sembari menunggu dalam hati ia berdoa agar kak Afdal dapat membantunya membujuk Mely.


Ia sangat tahu betul mengenai Mely dan dia juga cukup peka untuk sadar bahwa Mely menyimpan perasaan khusus kepada Kak Afdal yang bahkan tak di sadari Mely sendiri.


"Udah lama nunggu Din?" tanya seorang pria menghampiri Nadin yang tak lain adalah kak Afdal.


"Enggak ko, paling cuma berapa menit" jawab Nadin.


"Oh, emang lu mau ngomongin apaan sih sampe ngajak ketemuan?" tanya kak Afdal tak mampu menyembunyikan rasa penasaran.


"Udah nyantai aja, pesen minuman aja dulu."


Karena tidak mendapat jawaban yang diinginkan kak Afdal pun menurut, di pesannya secangkir kopi expresso.


"Dapet kabar dari mana?"


"Damar yang ngasih tahu gue"


"Yaelah Damar, diem-diem mulut ember.Baru rencana doang, lusa niatnya gue mau pergi ke Jepang buat liat-liat dulu situasi dan kondisinya.Rencanya gue mau liat dulu univ mana yang mau gue masukin dan abis itu gue cari tempat gue tinggal"


"Oh... kirain lu udah mutusin mau kuliah di Jepang"


"Belum, emang kenapa?"


"Gak kenapa-kenapa, cuma nanya doang" jawab Nadin sambil menggeleng.


Kopi pesanan kak Afdal pun datang, dengan hati-hati dia mulai mereguk kopinya yang masih panas.


"Terus lu mau ngomongin apa?" tanya kak Afdal lagi.


"Ee... ini tentang Mely" ujar Nadin sedikit ragu.

__ADS_1


Mendengar nama Mely membuat kak Afdal tertegun, teringat bagaimana terakhir kali dia bertemu Mely dan saat itu dia tahu bahwa Mely masih memiliki cinta kepada orang lain.Dan yang membuatnya misterius saat dia menanyakan perihal siapa Jordan kepada Nadin, saat itu juga Nadin tak menjawab.


"Kenapa sama Mely?" tanya kak Afdal pelan.


"Dia.... sedang sakit dan butuh pertolongan"


"Apa? Mely sakit? sakit apa? terus kenapa lu malah ngajakin gue ngopi kalau Mely butuh pertolongan, ya udah ayo kita berangkat sekarang" ujar Kak Afdal kaget dan dengan ricuh mengajak Nadin pergi.


Nadin hanya tersenyum melihat kekalutan yang melanda kak Afdal dengan santai dia malah bertanya.


"Sesayang itu ya lu sama Mely, sampe-sampe gak pake nanti lu udah mau maen pergi aja, apa... karena lu udah cinta sama Mely?"


"Lu ngomong apa sih? bukannya pergi malah nanya yang enggak-enggak" jawab Kak Afdal menahan malu.


"Lu tenang aja, yang sakit bukan fisiknya tapi jiwanya, dan pertolongan yang dia butuhin bukan cuma sekedar duduk di samping dia, tapi nyadarin dia dari masalah yang sedang dia hadapi"


"Maksud lu apa?" jawab Kak Afdal tak mengerti.


"Apa lu inget, waktu itu lu pernah nanyain soal Jordan sama gue?"


"Ya, gue masih inget"


"Jordan adalah sepupu gue, dan dulu dia adalah tunangan Mely.Mereka hampir menikah tapi tiba-tiba Jordan pergi ninggalin Mely gitu aja" jawab Nadin.


Kini kak Afdal mengerti, kenapa saat itu Mely nangis dan bilang kalau dia masih cinta sama Jordan, rupanya mungkin Mely sudah melupakan masalalunya tapi tiba-tiba Jordan datang lagi ke kehidupan Mely.


"Terus apa hubungannya sama gue? Mely masih cinta sama orang itu, gue rasa Mely bakal hidup bahagia sama cinta lamanya" ujarnya yang tak bisa menutupi rasa sedih juga.


"Lu salah besar Dal, Mely sama sekali gak bahagia.Jordan kecelakaan dan yang dia sebut adalah nama Mely karena itu Mely pergi ke Bali buat nemuin Jordan, tapi masalahnya Jordan udah nikah dan punya anak"


"Apa? terus gimana?" tanyanya mulai tertarik pada cerita Nadin.


"Dulu Jordan ninggalin Mely karena dia nikahin perempuan yang selama ini jadi selingkuhannya, lu bayangin sakit hatinya Mely waktu itu.Bahkan rasa sakit dihatinya udah bikin fisik Mely ikutan sakit, butuh waktu beberapa bulan buat Mely sembuh dan yang gue lihat cuma setelah dia ketemu lu Mely bisa tertawa bahagia."


Tak ada kata yang bisa Kak Afdal ucapkan, ia tak mengira Mely sempat melewati masa sulit seperti itu.Mely yang selalu terlihat ceria, kadang usil, dan kadang dewasa bahkan ia mampu melindungi orang-orang yang dia sayangi mengingat kasus Reni Mely begitu kuat di matanya.


"Mely yang udah nemuin kebahagiaannya tiba-tiba terusik lagi dengan kedatangan Jordan yang tak di sangka-sangka, gara-gara Amnesia Jordan hanya ingat masa pacarannya dengan Mely karena itu yang dia panggil cuma nama Mely padahal dia udah punya keluarga sendiri" lanjut Nadin.


"Terus, hubungannya sama gue apa? meski Jordan udah beristri kenyataannya Mely masih mencintainya dan gue rasa gue gak punya hak buat ikut campur masalah hati Mely"


"Gak Dal, gue yakin Mely udah gak punya perasaan apa-apa sama Jordan, kemarin gue nengokin Mely dan lu tahu? Mely terus saja buat istri Jordan cemburu, dia udah berubah jadi jahat.Dan gue cerita hal ini sama lu karena gue yakin kalau lu yang bujuk Mely buat pulang ke Bogor Mely pasti mau" ucap Nadin bersikeras.

__ADS_1


"Din, wajar kalau Mely bikin istri Jordan cemburu, Mely masih cinta sama Jordan dan masih berharap bisa ngelanjutin hubungan mereka dulu.Menurut gue memperjuangkan sebuah cinta bukanlah sebuah kejahatan"


"Kalau gitu tolong perjuangin cinta lu sama Mely, meski lu anggep Mely masih mencintai Jordan karena gue kenal baik Mely dan gue yakin Mely cuma mau balas dendam aja sedangkan cintanya saat ini udah jadi milik lu andai lu mau perjuangin"


__ADS_2