
Tak ada kata yang bisa Mely ucapkan sebagai jawaban, ia tidak ingin berkata ya tapi juga tidak bisa berkata tidak.Bagi Jordan inilah kesempatannya untuk menebus satu tahun yang sudah ia lupakan.
"Tentu saja, tapi pernikahan itu tidak mudah, seperti yang kamu bilang kita butuh banyak persiapan, lagi pula keadaan kamu saat ini masih belum sehat betul.Jadi sekarang kamu fokus aja dulu kesehatan kamu ya" jawab Mely akhirnya.
"Iya aku ngerti ko, tapi pokoknya yang jelas, aku.... pasti bakal nikahin kamu.... " ucap Jordan tersenyum.
"Ya udah sekarang kita masuk yu, ini udah malam gak baik buat kesehatan kamu."
Dengan mengangguk pelan Jordan mengikuti Mely masuk ke dalam dan beristirahat di kamarnya, ia tidur cepat setelah berbaring di ranjang.Tapi Mely sekejap pun tak bisa tidur malam itu.
Keinginan Jordan untuk menikahinya adalah bahaya besar bagi niat balas dendamnya, seandainya ia benar-benar ingin menikahi Mely tentu ia harus mengumpulkan data pribadinya seperti KTP, sedangkan dalam data pribadinya statusnya sudah kawin.Tentu itu akan menimbulkan banyak pertanyaan bagi Jordan.
"Tidak, Jordan belum boleh tahu kalau dia sudah menikah, bisa berantakan rencanaku" kata berfikir keras.
Esoknya, Mely meminta Jordan keluar kamar dulu dan berjemur di sinar matahari pagi, sedang dia sendiri mengatakan akan membereskan kamar Jorda.Kesempatan ini di gunakan Mely untuk mencari KTP Jordan dan buku nikahnya.
Ia sudah mencari di dalam lemari pakaian tapi tak kunjung menemukannya, akhirnya saat semua laci ia bongkar juga di temukannya dompet Jordan yang tentu isinya ada KTP.
"Kamu lagi apa?" tanya Dina yang tiba-tiba masuk ke kamar dan mengagetkan Mely.
"A, aku sedang memberesakan kamar Jordan" jawab Mely sambil menyembunyikan dompet Jordan di balik punggungnya.
Dina yang melihat gerak gerik Mely tak langsung percaya begitu saja, di tatap nya mata Mely lekat-lekat.
"Kamu sendiri lagi ngapain di sini?" tanya Mely balik.
"Terserah aku dong mau ngapain, inikan kamar suami aku" jawab Dina jutek.
__ADS_1
"Hhhhhhhh, kalau kamu nyari Jordan dia di halaman, udah sana jangan ganggu aku.Aku harus cepet-cepet beresin kamarnya biar Jordan bisa tidur lagi di sini" ucap Mely mengusir dengan nada menyebalkannya.
"Kamu ya, makin sini makin bikin gara-gara tau gak?" jawab Dina mulai emosi.
"Denger ya, kamu mau terus di sini ngajak berantem aku atau pergi? kalau kamu masih mau ngajak berantem aku bakal aduin kamu sama Jordan biar dia makin benci sama kamu."
Ancaman Mely rupanya berhasil, Dina keluar dengan kesal tanpa mengatakan apa-apa.Setelah di rasa aman Mely akhirnya bisa menghembuskan nafas lega, di keluarkannya dompet Jordan yang sedari tadi ia sembunyikan.
Dan benar saja KTP Jordan ada di dalamnya, segera Mely ambil dan menyimpan dompetnya di tempat semula.Namun sudah lama mencari ia tak juga menemukan buku nikahnya.
"Mungkinkah Dina yang menyimpan buku nikah mereka? masuk di akal juga, tapi.... haruskah aku pergi mencarinya juga di kamar Dina? ah tidak, tidak perlu, itu terlalu beresiko dan lagi aku yakin Dina masih tak kan mau membuka rahasia pernikahan mereka" gumam Mely.
Setelah membereskan kamar Jordan Mely pergi menemuinya di halaman dan mengatakan kamarnya sudah siap, hanya dengan tindakan ini saja Mely mendapat banyak perhatian dan cinta dari Jordan.
Saat makan pun dengan mesra Jordan menyuapi Mely tanpa rasa malu, dengan senang hati Mely menerima suapan dari Jordan tentu karena di hadapan Dina.
"Kita harus mengatakan pada mas Jordan bahwa aku adalah istrinya" ucap Dina dalam saat mengajak ibu Jordan bicara.
"Ibu tahu, tapi kita bisa mengatakannya sekarang, kamu tahu sendiri bagaimana keadaan Jordan, ibu tidak ingin berita ini membuatnya syok dan sakit lagi"
"Tapi bu, kita tidak bisa membiarkan Mely terus berada di sampingnya mas Jordan, mas Jordan tidak boleh memiliki perasaan lebih padanya, karena kenyataanya mereka itu kan sudah tidak memiliki hubungan" ucap Dina bersikeras.
"Dengar Dina, ibu tahu dan ibu mengerti, tapi Jordan butuh waktu.Lagi pula Mely pun tidak keberatan dengan pemikiran Jordan saat ini, justru dengan senang hati dia mau melayani Jordan dan kamu lihat semakin hari kesehatan Jordan semakin baik"
"Ibu tidak mengerti, itulah yang di inginkan Mely, ia sengaja melakukan ini semua dan aku yakin kebaikan Mely ini hanya pura-pura, bagaimana kalau dia justru ingin menycelakai mas Jordan?" tanya Dina gusar.
"Cukup Dina, kamu sudah keterlaluan, ibu tahu kamu cemburu tapi kamu tidak perlu menjelek-jelekkan Mely seperti itu" jawab ibu Jordan marah dan pergi begitu saja.
__ADS_1
"Ta, tapi bu..... " ucapan Dina tersekat di tenggorokan, ia tak mampu menyelesaikan kalimat yang hendak ia ucapkan karena Ibu mertuanya sudah pergi.
Dengan kegusaran yang melanda hati, Dina sadar ia hanya seorang diri dan tak ada tempat untuk perundungan.Air mata hendak keluar mengalir tapi sebuah tawa ejekan menahannya, Dina mencari sumber suara dan ia menemukan Mely yang rupanya sedari tadi mendengar percakapan mereka dari balik tembok.
Tawa ejekan yang Mely tujukan untuk Dina cukup membuatnya emosi hingga ingin merobek mulut itu, dengan nada dingin ia bertanya.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Apa yang aku lakukan? heh, tentu saja tertawa, tertawa atas kemenanganku" jawab Mely sumringah.
"Kau, beraninya kau.... " ucap Dina menahan emosi.
"Dina.... oh Dina, rupanya sampai sekarang kamu masih belum mengerti, sebaiknya kamu pergi saja dari rumah ini karena tidak ada seorang pun yang akan membela kamu"
"Tidak, aku tidak akan pernah pergi, aku tahu kamu pasti punya niat jahat sama mas Jordan, aku akan tetap di sini dan melindunginya" jawab Dina menolak.
"Begitukah? kalau begitu tetap lah tinggal dan lihat penderitaan yang akan ku berikan padanya" ucap Mely dan berlalu begitu saja.
Selangkah demi selangkah skenario yang Mely buat dalam niat balas dendamnya sudah ia laksanakan, dan semua berjalan sesuai keinginannya.
Setiap malam, tidurnya yang selalu bermimpi buruk, hatinya yang tak pernah damai, otaknya yang tak pernah berhenti berfikir.Bagaimana lagi cara yang bagus untuk membalaskan kesakitannya.
Waktu yang telah ia berikan, perhatian, cinta, bahkan nyawa yang ia pertaruhkan untuk kecintaannya yang ternyata di balas racun pengkhianatan.
Saat ini, saat Tuhan memberinya kekuasaan untuk menghukum jiwa-jiwa berdosa, cambuk dan jarum atau sekedar pena di tangan harus mampu memberi pelajaran.
Mely menatap bayangan dirinya di cermin, harus berapa lama ia menghukum, haruskah lama agar menyakitkan secara perlahan? atau sebentar tapi langsung mematikan?.
__ADS_1