Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
eps. 9


__ADS_3

Akhirnya mimpi itu tak hanya sekedar mimpi, kepercayaan yang dia tanam telah berbuah manis. Mely mengajak Jordan ke Bandung bertemu keluarganya dan tentu sekaligus meminta restu, itikad baik Jordan di sambut baik oleh keluarga Mely.Tanpa menunggu lama setelah mendapat restu Jordan meminta ijin untuk membawa Mely ke Bali, mempertemukannya dengan keluarga Jordan.


Benar apa yang di katakan Nadin waktu itu, Jordan memang sudah berniat serius kepada Mely bahkan saat jumpa pertama.Dan kini setelah ia punya muka di hadapan orangtua Mely, ia segera membawanya ke Bali.


Orangtua Jordan terbilang bersifat terbuka, tidak menutup-nutupi kekurangan keluarga mereka.Dan untuk masalah jodoh kedua orangtua Jordan sepenuhnya menyerahkan hal ini pada anaknya.


Sebagai anak tertua Jordan memiliki sifat penyayang, terlebih kepada adik-adiknya. Rupanya Jordan memiliki dua adik perempuan tak heran jika dia tau cara memperlakukan wanita dengan baik.Kedua adik Jordan sangat senang kepada Mely, dalam waktu singkat mereka menjadi akrab saat Mely berpamitan pulang adik Jordan meminta Mely untuk sering" menghubungi mereka lewat telpon.


Namun rasa senang yang Mely rasakan harus di bayar dengan kesabaran, karna kini Jordan lebih fokus pada pekerjaannya.Ia tak bisa berjanji untuk selalu bisa bertemu Mely, bukan tak mau tapi ia mendapat kabar bahwa bangku SPV koki sedang kosong dan Jordan tentu mengincarnya.


Jika ia mendapat jabatan itu tentu perekonomiannya lebih baik, wajah Mely murung mendengar hal ini dan tentu Jordan tak membiarkan senyum indahnya hilang dari paras cantik Mely.


"Sabar ya sayang... aku lakuin inikan demi kamu juga, kalau aku udah dapetin jabatan itu aku pasti akan punya banyak waktu buat kamu dan aku juga bisa kasih apa pun yang kamu mau"


"Aku tau... aku ngerti... tapi yang aku ingin cuma kamu, kamu gak perlu sampe berusaha sekeras ini buat dapetin jabatan itu, setelah kita nikah aku juga masih kerja kan kita gak mungkin sampe hidup kekurangan"


"Kamu kan tau sendiri biaya nikah itu gak murah, aku gak pengen orang-orang berfikiran buruk tentang kamu, kita tau kalau nikah sederhana nanti pasti ada gosip yang aneh-aneh, kayak hamil duluan lah, apalah aku pengen ngasih yang terbaik buat kamu"


"Sayang, nikah itu ibadah kita niat baik mau nikah yang jalanin kita bukan orang lain, kenapa harus mikirin omongan orang lain, aku gak masalah kita nikah sederhana"

__ADS_1


"Ya kamu mungkin gak bermasalah, tapi aku gak.Sebagai cowok aku punya harga diri dimana aku harus kerja dan aku mampu kasih yang istimewa buat calon istri aku"


Mely ingin terus menampik perkataan Jordan tapi ia sadar itu tak kan merubah apa pun, Jordan sudah pada keputusannya dan itu tak kan bisa di ubah jadi sia-sia Mely berdebat.Saat ini ia hanya mengangguk, mendukung apa yang jadi keputusan calon imamnya.


* * *


"Yang mau nikah bukannya pasang wajah sumringah malah cemberut, kenapa sih lu Mel"


Tanya Ocha, Dewi dan Siska ikut duduk bersama Ocha yang menghampiri Mely dalam kemurungannya.


"Gak ada apa-apa"


"Yaelah lu gak apa-apa muka di tekuk, curhat napa Mel, bilang sini bilang sama kita"


"Serius, gue cuma lagi mikirin konsep pernikahan gue aja"


Sebenarnya Mely sangat ingin bercerita tentang kegalauannya yang sudah tidak bisa bertemu Jordan sesering dulu, tapi Dewi punya sifat yang suka bergosip ia takut Dewi akan keceplosan bercerita hal sepele itu kepada yang lain selain mereka, tentu itu akan menimbulkan gosip-gosip baru di kalangan karyawan lain.


Ocha dan Siska berusaha membujuk Mely agar bicara terus terang, tapi Mely bersikukuh bahwa ia hanya memikirkan pernikahannya.Karna tak berhasil mereka memilih percaya saja dan menasehati bahwa dia tak perlu mengkhawatirkan yang tidak perlu.

__ADS_1


* * *


Dua minggu tak bertemu akhirnya Jordan meluangkan waktu untuk Mely, mereka memilih pergi kencan ke kafe biasa saja karna Jordan butuh istirahat untuk kembali bekerja esok harinya.


"Aku udah tanya-tanya sama temen aku, dia seorang fotographer mungkin memang belum profesional tapi dia bisa diandalin.Aku mau nanti kita foto prewedding minta bantuan sama dia aja, selain bebas milih konsep dia juga menyanggupi segala permintaan kita demi foto yang bagus, harganya pun cukup bersahabat.Kalau kamu suka nanti di acara pernikahan kita biar dia lagi yang jadi fotographer nya"


"Aku terserah kamu aja, kalau menurut kamu bagus ya udah kita pake aja"


"Ok dan untuk konsepnya aku udah punya planing buat foto prewedding nya aku pengen konsep alam gitu, jadi backgroundnya kayak hutan gitu dan kamu pake longdress warna coklat ataw pink"


"Kayaknya bagus"


Jordan terus membicarakan tentang pernikahannya dengan Mely, tanpa lagi memperhatikan bahwa Mely bosan.Ia senang Jordan begitu antusias akan pernikahan mereka tapi tidak harus seserius ini, Mely rindu akan perhatian meski sekecil apa pun yang selalu di berikan Jordan, tapi ia pun harus sadar bukankah ini yang ia inginkan.Dan harusnya ia pun senang kini mimpinya akan terwujud.


Meski hati tak bisa di bohongi, ia merasa Jordan terlalu berlebihan karna nyatanya mereka baru bertunangan dan belum memutuskan kapan mereka akan menikah.


Jordan tak lagi menunggu Mely masuk ke dalam rumah, ia pulang begitu saja setelah mengantar Mely sampai ke kos-annya.Dalam hati ia bertanya apa yang sudah terjadi pada Jordan? ia merasa kecewa tapi tak mampu berkata apa-apa.


Dalam keheningan malam yang semakin larut air matanya mengalir, entah kenapa dan bagaimana bisa tapi ia merasa sedih.Jordan yang dulu telah berubah tak seperti yang dulu lagi, pria yang telah menariknya dari jurang kelam kini mengurungnya dalam kerinduan.

__ADS_1


Meski raganya masih mampu ia sentuh meski suaranya masih bisa ia dengar, tapi jiwanya tak selangkah lagi dengannya, hembusan nafasnya tak seirama lagi dengannya.


Ada firasat buruk yang membelenggu hatinya tapi Mely mencoba menepis nya, mungkin hanya rasa rindu yang membuatnya mimpi buruk.Tapi selama hidupnya firasatnya tidak pernah salah, entah kenapa ia merasa akan ada badai besar yang hendak menerpa kebahagiaannya.Dan itu telah di mulai.


__ADS_2