
Hari itu cerah tapi Mely merasakan kilat baru saja menyambar hatinya hingga terbakar dan jika tidak di padamkan maka sedetik kemudian hatinya akan berubah menjadi abu.
"Lalu apa urusannya denganku?" tanyanya dalam perih.
"Kemarin ibunya datangin gue, dia memohon-mohon supaya lu mau dateng ke Bali nemuin Jordan karena lu adalah kunci kesembuhan buat dia"
"Kenapa aku? lalu kemana Dina? bukankah dia istri sahnya? apa wanita itu pergi meninggalkannya begitu saja hingga harus aku yang menyembuhkannya?" balas Mely marah, bahkan nama wanita yang merusak mimpinya masih dia ingat dengan jelas begitu pun wajahnya yang membuat bekas luka itu kembali terasa perih.
"Jordan hilang ingatan" jawab Nadin singkat namun menjawab semua tanya Mely.
"Dia tidak ingat bahwa dia sudah menikah, dia hanya ingat masalalu sampai kecelakaan yang menimpa kalian waktu itu, setelah itu dia tidak ingat apa pun, karena itu ibunya minta gue ngajak lu pergi nengok Jordan karena setelah dia siuman dia cuma nanyain lu, dia teriak-teriak nyebutin nama lu" lanjut Nadin.
Ingin rasanya Mely tak percaya pada ucapan Nadin, tapi atas dasar apa pula Nadin bila berbohong.Jelas-jelas Nadin pun mengharapkan Mely sudah memiliki kekasih lain yang bisa setia membahagiakannya.
"Gue tahu lu pasti gak mau pergi, gue ke sini karena gak tega liat tante gue mohon-mohon sama gue.Andai gue kasih tahu alamat lu di sini dia pasti udah dateng nemuin lu tapi sengaja gue gak kasih karena sebelum lu pergi ke Bali dia pasti bakal terus gangguin hidup lu, terserah lu mau pergi atau gak yang penting gue udah kasih tahu lu" ucap Nadin.
Hanya berita itu yang ingin di sampaikan Nadin maka setelah pesan itu tersampaikan Nadin pun pergi begitu saja meninggalkan Mely untuk merenung.
Cintanya yang Agung, yang suci dan indah hilang bak di telan bumi kini hadir kembali sebagai kenangan yang menggores luka, bila pergi sanggupkah matanya melihat cintanya yang berncicin kawin? sanggupkah hatinya menahan marah berpura-pura menebar senyum?.
Sepanjang hari antara pikiran dan hati terus bergelut keresahan, antara pergi dan tidak.Lalu angin malam berbisik bukankah ia dulu sempat meminta karma kepada Tuhan, mungkin inilah jawaban hati yang tersakiti.
Meski sudah malam Mely memberanikan diri menelpon kak Afdal bertanya apakah dia mau menemani Mely pergi ke Bali, dengan alasan menjenguk saudara dan tak ada teman di perjalanan kak Afdal rupanya setuju.
__ADS_1
Keadaan mengharuskannya berbohong, dalam hati ia hanya tak sanggup melihat kenyataan seorang diri, ia butuh orang yang mampu membuatnya tersenyum dan jawabannya adalah kak afdal.
Mereka naik pesawat siang, di perjalanan itu kak Afdal mencoba menghibur Mely tapi senyum yang di berikannya hanya senyum paksaan, bagaimana ia bisa tenang sedang ia akan bertemu cintanya yang berkhianat.
Nadin sudah memberikan alamat rumah sakitnya, meski Nadin bilang ibu Jordan akan menjemput di bandara tapi Mely menolak ia tetap katakan akan pergi ke rumah sakit sendiri.
Begitu sampai di rumah sakit rupanya ibu Jordan sudah menunggunya, ia berlari menghampiri Mely dan memeluknya sambil menangis.
"Terimakasih..... oh Tuhan, tante gak percaya kamu mau datang, terimakasih... terimakasih" ucapnya dalam isak tangis.
Kak Afdal yang tak tahu apa-apa hanya bisa bengong melihat tingkah Mely yang dingin meski di sambut dengat pelukan hangat.Ia sadar ada sesuatu yang Mely sembunyikan darinya.Mely terus berjalan menuju ruangan tempat Jordan di rawat dan mendapati wanita yang sangat ia kenal duduk di luar ruangan sambil menggendong bayi yang tidur.
Mely dan wanita itu saling bertatapan, rupanya alasan Jordan menikahi wanita ini memang benar, belum genap setahun pun wanita itu sudah melahirkan bayi haram mereka.Rasanya baru kemarin Jordan memutuskannya dan baru kemarin juga Mely mendengar kabar mereka menikah kini bayi itu sudah keluar dari rahimnya.
"Terimakasih kamu sudah mau datang" ucap wanita itu kepada Mely yang tak lain adalah Dina.
Di susul ibunya Jordan dan Kak Afdal, mereka masuk dan menemukan Jordan yang sedang terbaring lemah namun dalam keadaan sadar.Wajah pucatnya berbalik ke arah Mely dengan tatapan sendu ia melihat Mely, senyum sumringah mengembang dan memanggil Mely.
Meski ragu Mely menghampiri Jordan, dengan susah payah ia menelan ludah kepahitan.Tangannya gemetar tapi ia berhasil menguasai diri hingga sampai di tempat tidur Jordan dan duduk di sampingnya tak sangka Jordan langsung memeluknya erat.
"Kamu kemana aja sayang, aku khawatir banget.Kamu gak apa-apa kan? ada yang luka? ada yang sakit?" tanya Jordan dengan penuh perhatian.
"Aku.... gak apa-apa... " jawab Mely pelan.
__ADS_1
"Aku terus nanyain kamu ke semua orang tapi gak ada yang jawab, aku takut kamu kenapa-napa dan kalau kamu sampai luka aku gak bakal maafin diri aku sendiri" lanjut Jordan.
Apa yang di katakan Nadin memang benar, Jordan telah kehilangan ingatan.Ekspresinya penuh kekhawatiran tanpa di buat-buat apa yang dia ucpakan juga tulus dari hatinya, Jordan yang ia kenal dulu, kecintaannya telah hadir kembali di depan matanya.Air mata tumpah begitu saja, kerinduan akan sosok pemuda yang membuatnya jatuh cinta kini ia curahkan dengan balasan pelukan.
* * *
Di satu ruangan yang hanya di tempati Mely, kak Afdal dan ibu Jordan Dokter mulai bicara apa yang sedang di alami Jordan terkait Amnesia yang di deritanya.
"Kecelakaan yang kalian alami waktu itu cukup menekan mentalnya, dan sekarang saat dia mengalami kecelakaan lagi ingatannya terjebak pada masalalu dimana ia hanya ingat kejadian sebelum kecelakaan pertama sedangkan semua hal yang ia alami setelah kecelakaan pertama hingga kemarin ia kecelakaan lagi sama sekali ia tak ingat, bisa di sebut ia mengalami Amnesia Retrogen" jelas sang Dokter kepada Mely.
"Apakah penyakit itu parah?" tanya Mely pelan.
"Aku tidak bisa katakan ya atau tidak, karena beberapa kasus ada orang yang ingatannya kembali dalam waktu satu malam dan ada juga yang sama sekali tidak kembali, namun mengingat keadaan Jordan saat ini, dia mengalami trauma yang cukup parah.Kamu adalah orang yang penting dalam hidupnya saya minta untuk sementara kamu berpura-pura dulu demi kebaikan Jordan" ucap Dokter.
Saat Jordan siuman nama pertama yang ia sebut adalah Mely, dan Dina yang tak pernah beranjak sampai ia siuman tentu menanyakan hal ini pada Dokter karena Jordan tidak mengenali istrinya sendiri.
Dokter yang di beritahu Mely adalah nama mantan pacar Jordan meminta untuk menjemput Mely, mau tidak mau Mely harus berpura-pura menjadi kekasih Jordan seperti dulu, demi kesembuhan Jordan.
"Tante tahu ini berat buat kamu, tapi tante mohon demi Jordan.Berapa pun uang yang kamu minta tante akan siapkan, apa pun yang kamu minta pasti tante berikan asalkan kamu bisa menyembuhkan Jordan" ucap Ibu Jordan memohon.
Namun Mely tak mengacuhkan ucapan itu ia malah pergi meninggalkan mereka, kak Afdal yang kebingungan segera mengejar Mely dan menemukannya tengah menangis di taman.
"Mely, ada apa?" tanya kak Afdal lembut.
__ADS_1
Mely segera memeluk kak Afdal yang duduk di sampingnya dan terus menangis mencurahkan segala perasaan yang membuat dadanya sesak.
"Kecintaanku, dia pergi menggores luka mengapa harus datang dengan membuat luka yang baru, kenapa? kenapa? bahkan setelah habis hati ini masih saja ada ruang untuknya, aku masih menginginkannya.Aku...... aku masih mencintainya" ucap Mely dalam isakan tangisnya