
Hingga pagi menjelang, meski sinar mentari tajam masuk lewat kaca jendela.Kamar yang telah terang itu tetap saja gelap di mata Mely.
Sepanjang malam dia memikirkan kabar yang di sampaikan Nadin, teringat pada masa-masa bahagianya bersama teman-temannya di Bogor, setiap hari tiada dia lalui tanpa tawa dan canda.
Setiap hari begitu menyenangkan hingga ia ingin waktunya berakhir di sana, terlebih bagaimana kak Afdal memperlakukannya dengan spesial.Saat nyawanya hampir meregang karena sebilah pisau yang menancap di perutnya, Kata-kata takut kehilangan yang di ucapkan Kak Afdal hingga saat ini terngiang di telinganya.
Kini ia sadar bahwa kak Afdal tak sekedar menyukainya, akhirnya ia tahu bahwa selama ini kak Afdal mencintainya, dan yang memilukan ia sadar di waktu yang terlambat.
Andai ia sadar lebih awal mungkin haus akan balas dendam tidak akan pernah di mulai, dan pertengkaran ini juga takkan terjadi.
Namun, meski ia sudah tahu isi hati kak Afdal padanya, Mely masih belum yakin tentang perasaannya sendiri.Mungkin Nadin benar, tapi Mely terlalu takut untuk memulai hubungan lagi, ia terlalu takut untuk jatuh cinta.
* * *
Tak bisa menunggu lebih lama lagi, akhirnya Jordan memutuskan untuk bicara serius dengan Dina, di temani ibunya mereka bertiga duduk saling berhadapan.
"Aku tidak tahu bagaimana sikapku sebagai suami dan aku juga tidak tahu bagaimana sikapmu sebagai istri.Aku tahu usia pernikahan kita masih seumur jagung, tapi untuk apa mempertahankan rumahtangga jika kita berdua sama-sama tidak bahagia" ujar Jordan memulai.
Tak ada kalimat yang di lontarkan Dina untuk menjawab Jordan, kini kepalanya sudah dingin dan dia sudah pasrah pada apa yang akan terjadi padanya.Ia sadar sebesar apa pun cintanya jika Jordan sudah tidak menginginkannya maka semua sia-sia.
"Aku tahu kau mengerti, aku akan menceraikanmu dan mengambil hak asuh atas bayi itu" ucap Jordan langsung pada intinya.
"Baiklah.. " jawab Dina pelan yang justru membuat heran ibu Jordan.
__ADS_1
Tentu saja karena setaunya Dina sangat mencintai Jordan dan akan melakukan apa pun untuk mendapatkannya.
"Kamu... tidak sedang mencoba merencanakan sesuatu kan?" tanya Ibu Jordan curiga.
Dina tersenyum tipis, mengangkat kepalanya memandang Jordan dan mertuanya lalu menjawab.
"Aku berencana akan pulang ke rumah orangtuaku, dan memulai hidup yang baru"
"Benarkah? kamu tidak berupaya membujuk Jordan agar tidak menceraikanmu?"
"Setiap cinta membutuhkan pengorbanan, selama aku mencintai mas Jo aku selalu berkorban untuknya, dan pergi menjauh dari kehidupannya atas permintaannya sendiri adalah pengorbanan terbesar yang akan ku lakukan demi kebahagiaan mas Jo, aku tidak keberatan" jawab Dina.
Hari itu juga Dina kembali merapihkan pakaiannya, kini dengan hati penuh kepasrahan satu demi satu barangnya ia masukkan kedalam tas.Dan di tengah kesibukannya itu Mely masuk menghampiri.
"Aku tidak menginginkan Jordan" jawab Mely.
Dina berbalik mengahadap Mely, dengan heran ia kembali bertanya.
"Lalu untuk apa semua ini jika kau tidak menginginkan mas Jo, bukankah kau juga mencintainya?"
"Aku masih ingat hari itu, Jordan dengan lantang mengatakan akan menikahimu dengan alasan kau sudah mengandung anaknya.Aku tidak berfikir Jordan bersungguh-sungguh, aku kira dia memang sudah tidak mencintaiku.Aku fikir dia lelah menghadapi keegoisan ku dan sifat cemburuku.Yang membuatku paling membencinya adalah dia menawarkan akan tetap menikahiku karena itu adalah impian kami tapi setelah menikahiku dia akan menikahimu, jika aku menolak menikah dengannya dia juga tetap akan menikahimu, lalu untuk apa kami menikah jika Jordan tetap akan menikahimu?" ujar Mely mengenang.
Tak di sangka, saat itu Jordan memang membelanya dan sepenuhnya berada di pihaknya, Jordan merelakan kehilangan cintanya demi menikahi Dina dan memberikan keluarga utuh untuk putrinya, mendengar kenyataan ini tentu Dina merasa terharu.
__ADS_1
"Kau fikir sendiri, yang aku inginkan adalah dia meninggalkanmu tapi dia malah tetap berdiri di sampingmu dan memberikan semua hal yang seharusnya menjadi milikku, aku tidak ingin menikah dengannya jika pada akhirnya harus di madu.Yang membuatku murka karena aku telah banyak berkorban untuknya, aku yang menemaninya dari nol, aku yang setia mendampinginya di kala susah jadi kenapa harus aku yang di buang?" lanjut Mely yang mulai menangis.
"Satu-satunya alasanku berdiri di sini hanya untuk merenggut apa yang menjadi hakku, saat pertama kali bertemu denganku dia bukanlah siapa-siapa dan tidak punya apa-apa, maka saat dia meninggalkanku maka dia harus kembali seperti saat kami bertemu, aku tidak peduli kalian masih bersama atau berpisah karena kau sudah menebus semua rasa sakitku.Kini giliran Jordan."
Tanpa menunggu jawaban Dina, Mely pergi begitu saja.Sebagai seorang wanita tentu Dina mengerti, bahkan sebagai wanita yang mencintai pria yang sama Dina pun paham betul amarah yang di rasakan Mely, karena dia pun sudah banyak berkorban juga.
Satu langkah mengawali banyak langkah yang akan membuat Dina pergi jauh meninggalkan suami dan anaknya, yang paling berat baginya tentu saat harus berpisah dengan buah hatinya.
Di saat-saat terakhir itu Jordan mengijinkan Dina menggendong dan memeluk bayinya sebagai ungkapan selamat tinggal.Airmata sedih tak mampu di tahannya mengingat kebodohan yang pernah ia lakukan.
Andai Mely tidak masuk dan melihatnya yang sudah gila itu, tentu anaknya sekarang sudah di liang lahat.Rasa bersalah dan penyesalan membuatnya ingin kembali membesarkan bayi itu sebagai pengganti permohonan maaf.Namun dia sudah kehilangan kesempatan itu.
"Maafkan mamah sayang, padahal kamu adalah satu-satunya bukti cinta mamah, padahal kamu sudah memberikan mamah banyak kebahagiaan, tapi mamah tidak berlaku adil padamu, kelak jika kamu sudah besar mamah harap kamu bersedia menemui mamah agar mamah bisa meminta maaf lagi" ucap Dina ditengah isak tangis.
Tak mampu melepas pelukan, Jordan yang ikut terjebak suasana sedih itu mengambil sang bayi dari Dina.Semakin berlama-lama menggendong memang rasanya semakin berat untuk melepas, maka dengan pasrah Dina menyerahkannya pada Jordan.Dan hanya dengan satu lambaian dan senyum pengharapan kepada Mely Dina pun akhirnya pergi hingga jejaknya pun ikut hilang.
Mely menghapus airmata dan ikut masuk ke dalam rumah bersama Jordan dan ibunya, butuh beberapa waktu agar suasana hati mereka membaik dan melupakan Dina yang sudah pergi.
"Sayang, sekarang kita bisa hidup bahagia tanpa ada seorang pun akan memisahkan kita lagi" ujar Jordan berniat menghibur Mely.
Dan hanya anggukan serta senyum yang Mely berikan sebagai jawaban.
"Sebaiknya sekarang kamu pergi istirahat karena besok adalah hari besar buat kita, aku... punya kejutan untuk kamu"
__ADS_1