
Andai jika Mely seorang aktris pasti kamarnya sudah penuh dengan piala berkat aktingnya yang mumpuni, kebencian yang dalam mampu di terbalut rapi di tawa dan senyum.
Ujaran kutukan di hati mampu di saring menjadi rangkaian kalimat manis nan manja begitu mulutnya terbuka.Tak ada yang tahu isi hati dan kepalanya selain dirinya sendiri.
Kakinya yang jenjang berlari kesana kemari, rambut panjangnya berterbangan di terpa angin.Tawa yang renyah, senyum yang indah seolah bidadari sedang turun ke bumi untuk menikmati indahnya dunia.
Jordan sadar, dalam situasi apa pun Mely selalu tampak cantik.Tapi satu teriakan membawanya kembali ke dunia, Mely jatuh tersungkur dan mengaduh kesakitan.
"Sayang kenapa?" tanyanya kaget.Tentu Jordan segera merangkul Mely dengan sigap.
"Kaki ku.... ada sesuatu yang tak sengaja ku injak dan rasanya menancap di kulit" erang Mely tak mampu bangkit.
Jordan segera memeriksa, rupanya Mely menginjak kerang yang mengakibatkan kakinya terluka dan berdarah.Tanpa basa-basi dia segera menggendong Mely menuju tempat duduk.
"Mely, lu kenapa?" tanya Nadin yang heran karena Mely di gendong.
"Dia gak sengaja nginjek kerang, kakinya terluka lu bisa bantuin gue gak ambilin kotak p3k?" ujar Jordan.
"Ya ampun, ko bisa sih? ya udah gue ambilin dulu" jawab Nadin dan pergi.
Dengan cekatan di temani Dina yang hanya diam memperhatikan, Jordan mencabut sisa kerang yang masih menempel di kaki Mely.Perlahan dia mencucinya agar bersih dan dapat melihat sedalam apa lukanya.
"Aww... " erang Mely menahan perih.
"Maaf, sakit ya sayang" ucap Jordan.
Mely hanya tersenyum sedikit dan Jordan tahu tanpa Mely berkata apa pun ia memang tengah merasakan kakinya yang perih, dengan lembut Jordan meniup luka di telapak kaki Mely yang masih mengeluarkan darah.
"Maaf, harusnya tadi kamu gak perlu telanjang kaki, kalau kamu pakai sandal pasti gak akan terluka begini" ucap Jordan menyesal.
"Kenapa kamu minta maaf, kamu kan gak salah" tanya Mely.
"Aku salah sayang, aku gak bisa jagain kamu dengan benar"
"Kamu ngomong apa sih, aku baik-baik aja.Cuma luka dikit aja"
"Tapi tetep aja aku ngerasa bersalah aku gak bisa jagain kamu dengan benar, coba kalau aku jagain kamu sungguh-sungguh pasti kamu gak bakalan luka kayak gini"
Mely hanya tersenyum tanpa mengatakan apa pun, sedang Dina terus saja menelan kepahitan dalam kebisuan nya.
"Apa masih sakit?" tanya Jordan.
__ADS_1
"Ya, masih perih" jawab Mely seraya menganggukkan kepala.
Jordan kembali meniup lukanya dengan pelan-pelan agar rasa sakitnya sedikit berkurang.
"Mungkin kamu harus menciumnya agar lukanya sembuh" gurau Mely mengejutkan Dina yang sedari tadi di anggap patung.
Jordan menatap dan tersenyum, dengan tatapan menggoda ia menuruti gurauan Mely dan mengecup luka di telapak kaki Mely.
"Sudah baikan?" tanya Jordan seraya tersenyum.
"Jauh lebih baik" jawab Mely.
Setelah kedatangan Nadin mereka pun memutuskan untuk pulang saja, tentu Mely masih di gendong Jordan begitu turun dari mobil dan di antar pergi ke kamar.Meski kakinya sudah di balut perban Mely tetap tidak bisa berjalan dengan normal.
"kau sengaja melakukannya" ucap Dina yang masuk kamar Mely tanpa permisi.
"Maaf, aku sedang tidak berminat bicara apa pun" jawab Mely cuek.
"Silahkan lakukan apa pun yang kau mau, yang jelas apa pun yang kau lakukan mas Jo tetap suamiku" teriaknya marah karena kesal atas tindakan Mely yang tidak perduli padanya.
"Tak peduli sekeras apa pun dan sesering apapun kau mengatakannya itu tak akan berpengaruh apa-apa padaku, Jordan tetap hanya tunduk padaku" ejek Mely.
Tak ada kalimat yang bisa membalas penghinaan yang Mely ucapkan, Dina hanya bisa terdiam tak mampu membalas bahkan tak mampu berjalan pula untuk pergi.
"Apakah keberanianmu luntur bersamaan dengan hilangnya kehormatanmu? mana pembelaan atas dasar nama cinta yang Agung? kemana Dina yang berbahu kokoh dan berpegang teguh pada keyakinannya? apa lututmu sudah goyah?" tanya Mely bertubi-tubi.
"Sedikit pun tak ada rasa takut atau pikiran ku akan mundur, perlu kau ketahui diamku adalah tameng untuk keluarga kecilku.Dalam diam ini, keluarga ku masih utuh dan bahagia" balas Dina.
"Kalau begitu teruslah diam hingga hari pernikahan ku dan Jordan di laksanakan"
"Apa? kau akan menikah dengan mas Jo?" tanya Dina kaget.
"Tentu saja, meski sekarang dia sudah menjadi pengangguran lagi tapi dia masih punya cukup uang untuk membiayai pernikahan kami dan setelah menikah kami akan pergi ke Jakarta untuk memulai hidup baru kami di sana"
"Heh, jangan bermimpi terlalu tinggi, aku takut saat jatuh kau tak akan bisa bangkit" ujar Dina sembari tersenyum mengejek.
"Mimpi? bukankah selama ini kau yang terus bermimpi dan belum bangun juga"
"Mas Jo adalah suamiku dia tidak akan pernah menikahimu, saat ku beritahu bahwa aku adalah istrinya dan kami telah memiliki anak saat itulah mimpi mu telah hancur selamanya" ancam Dina.
"Astaga Dina... ancamanmu itu tidak artinya, sekalipun ingatan Jordan sudah kembali bukan berarti aku akan di buang begitu saja, ingat meskipun dia sudah berkeluarga tak akan ada hukum yang melarangnya untuk poligami.Jadi, kami masih bisa menikah"
__ADS_1
"Tidak, itu tidak mungkin terjadi" ujar Dina mencoba tegar meski dalam hatinya ada ketakutan yang mengkhawatirkan.
Tak ada kalimat lagi yang mampu menyangkal ucapan Mely, karena apa yang di ucapkan Mely bisa menjadi kenyataan.Dalam gusar Dina pergi ke kamarnya, memeluk buah hati yang selama ini menjadi kekuatannya.
Sudah cukup baginya melihat suami tercinta bermesraan dengan wanita lain di hadapannya, Mely terlalu licik untuk di biarkan.Ia pun sadar mertuanya tak bisa dia andalkan, mungkin karena mertuanya ikut terpengaruh oleh Mely.
"aku harus melakukannya sendiri" gumamnya.
Setelah berfikir keras akhirnya Dina memutuskan akan mencoba mengatakan siapa dia sebenarnya, melihat situasi yang cukup aman Dina pergi ke kamar Jordan.Di dalam sesuai perkiraannya Jordan tidak tidur.
"Permisi mas Jo" ucap Dina setelah mengetuk pintu.
"Kamu? ada apa?" tanya Jordan membuka pintu kamarnya.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya iseng membuatkanmu teh, aku fikir kamu mau menemani ku mengobrol"
"Oh, baiklah mari kita bicara di depan."
Dengan masih membawa nampan di tangan Dina berjalan lebih dulu ke ruangan, di atas meja kaca dengan cekatan dia menata teko kecil dan dua gelas untuk menuang teh.
"Silahkan mas ini teh-mu" ucap Dina memberikan segelas teh hangat.
"Terimakasih"
"Bagaimana perasaanmu sekarang? dengan semua cobaan yang datang aku yakin kamu masih butuh istirahat tapi semoga kedepannya segala urusanmu terselesaikan dengan baik" ujar Dina basa basi.
"Yah kamu tahu sendiri, terimakasih sudah mendoakan kebaikan untukku"
"Sama-sama, hmmmm... mas fisikmu sudah sembuh total, bagaimana dengan ingatanmu yang hilang? apa..... apa kau masih belum mengingat seuatu?" tanyanya penuh kehati-hatian.
"Tidak Dina, sampai sekarang aku masih belum ingat apa pun... tapi itu tidak penting, sekarang yang penting adalah menata masa depanku"
"Bagaimana jika dalam ingatanmu yang hilang itu ada sesuatu yang penting yang harus kamu ingat"
"Memang apa yang harus aku ingat?" tanya Jordan heran.
"Mungkin sesuatu.... atau.... seseorang" jawab Dina.
Jordan hanya bereaksi dengan mengkerutkan kening, mencoba mengingat apa yang telah dia lupakan.Awalnya Dina yang hanya ingin mengobrol saja, mencaritahu sebatas mana ingatan Jordan tentang masalalunya.Akhirnya, ia tak bisa menahan diri lagi.
"Mas Jo ada yang ingin aku perlihatkan padamu" ujar Dina mengumpulkan semua keberaniannya.
__ADS_1