
Sely baru bisa menjenguk Mely lagi saat matahari telah terbit, dimana dia baru pulang kerja di jemput oleh kak Damar dan mereka pun pergi bersama ke rumah sakit, meski ada rasa canggung dalam hatinya melihat kedekatan Mely dan Kak Deni tapi tetap saja Sely harus pergi dan memastikan Mely baik-baik saja.
Terbayang dalam pikirannya tuduhan Reni yang mengatakan mereka pacaran terlebih Mely samasekali tidak menapik tuduhan itu membuatnya yakin bahwa mereka memiliki hubungan.
Sebagai teman yang baik harusnya Sely merasa senang dan mendukung hubungan itu, terlebih mereka menghadapi masalah yang besar yaitu Reni.Tapi hatinya seolah teriris, begitu sakit dan sedikit terkhianati, mungkinkah karna ia pernah memiliki rasa kepada kak Deni dan perasaan itu masih tersimpan rapi di satu bagian hatinya.
Segera di tepisnya bayangan kelam tentang perasaan sepihak itu, dia sudah tiba di rumah sakit dan harus memasang wajah ceria demi sahabatnya.
Di dalam mereka hanya menemukan Mely yang di temani Nadin dan Kak Afdal, saat di tanya kemana kak Deni tak seorang pun yang tahu.
"Mel, gue di luar dulu ya perasaan sumpek di dalam terus sekarang kan udah ada Sely gak apa-apa ya Sely yang gantian nemenin lu" ucap Nadin.
"Gak apa-apa, aku ngerti ko aku juga kadang ngerasa sumpek di ranjang terus" jawab Mely.
Kak Damar pun ikut memilih di luar saja, sedang kak Afdal setia tetap menemani Mely di sampingnya.
Nadin dan kak Damar duduk berdampingan di kursi luar, awalnya mereka hanya saling membisu tenggelam dalam lamunan masing-masing hingga kak Damar memulai percakapan dengan menanyakan sejak kapan Nadin dan Mely berteman.
Obrolan berlanjut seputaran Mely, tentang bagaimana sifatnya, masa-masa indah pertemanan mereka, hingga masa kelam yang harus di lewati Mely karna dirinya, tentu dalam hal ini Nadin hanya menyebutkan kemalangan Mely yang di khianati hingga berakhir sakit.
"Mely sangat beruntung punya sahabat seperti kamu, yang selalu ada setiap di butuhkan" puji kak Damar.
"Yang beruntung bukan Mely tapi aku, jika kamu tahu sifat Mely yang sesungguhnya kamu akan terus mau menempel padanya, dia tidak hanya menyenangkan tapi juga memberi keberuntungan"
"Maksud kamu?" tanya Kak Damar tak mengerti.
"Aku mengenal Mely lebih lama, aku sangat mengenal dia.Dulu saat masa sekolah aku sempat di bully karna berasal dari keluarga tak mampu, hanya dia seorang yang membela ku, berdiri di garis depan melindungiku sampai ayahku memiliki pekerjaan yang lebih baik, meski aku masih tak bisa lanjut kuliah tapi hidupku jauh lebih baik, dan perlakuan Mely padaku tak pernah berubah sedikit pun"
Kembali teringat dalam pikiran Nadin bagai sebuah siluet masa itu tampak jelas, punggung Mely yang kecil tapi kokoh, wajah cantiknya yang sering terluka akibat menghalau segala benda yang akan memukul Nadin.Ia tak pernah peduli pada dirinya, Mely yang ia kenal selalu seperti itu.
Dalam mata kak Damar menatap Nadin, wanita hebat yang penuh solidaritas.Ia yang biasanya menyukai gadis imut dan manja tiba-tiba terpukau oleh Nadin dalam sekejap, mungkin karna sekilas Nadin mirip ibunya.Wanita yang penuh perhatian dan semangat.
__ADS_1
Malam yang semakin larut itu di tandai dengan kemunculan bintang-bintang kecil yang cantik, malam yang sepertinya akan berjalan romantis itu bubar karna derap langkah kaki kak Deni yang berat penuh emosi.
"Eh Den lu dari mana aja" tanya Kak Damar begitu melihat kak Deni mendekat.
Namun kak Deni tak menghiraukan pertanyaan kak Damar, matanya yang merah dan tangan terkepal membuat kak Damar sadar Kak Deni sedang dalam suasana hati yang tidak baik.Nadin dan kak Damar pun segera mengikuti kak Deni masuk kedalam menemui Mely.
Tanpa basa basi Kak Deni menghampiri Mely dan plak, satu tamparan tepat mengenai pipi Mely yang mulus, bekas tamparan yang memerah terasa perih bagi Mely dan mengejutkan semua orang yang ada di sana.
"Eh Den lu apa-apaan sih?" tanya Kak Afdal emosi dan kaget.
"Kenapa? kenapa kau tidak bilang sedari awal?"teriak kak Deni.
Mely hanya bisa terpaku, bibirnya seolah terkunci dan tak mampu menjawab.Di lihatnya lekat-lekat kak Deni dan ia sadar bahwa rahasia yang ia simpan rapi sudah terbongkar.
" Dasar bocah yang selalu bertingkah dewasa" ucap kak Deni sembari menghampiri Mely.
Di peluknya Mely dengan penuh kasih sayang dan airmata kedua orang itu pun jatuh, Mely membalas pelukan hangat itu dan berkata.
"Aku ingin melindungimu, sudah ku katakan bahwa aku pasti akan mendukungmu, siapa pun wanita yang kau pilih aku pasti akan melindungi kalian"
"Tidak, jangan katakan itu, aku tidak akan memaafkan diriku jika kakak sampai berbuat seperti itu" ucap Mely sambil melepaskan pelukannya.
"Dasar bodoh, kalau begitu jangan lakukan lagi hal semacam ini"
Mely menundukkan kepala ia tahu ia tak akan bisa berjanji, jika ada orang yang harus berkorban maka dialah orangnya.
"Kau tidak perlu khawatir, ancaman itu sudah berlalu.Reni mengakui kesalahannya dan akan menebusnya"
"Tidak mungkin" ucap Mely tak percaya.
"Apa yang tidak mungkin? semua yang ada di bumi ini mungkin saja, dan apa kau tahu? dia akhirnya sadar berkat rahasia yang kau buat telah terbongkar"
__ADS_1
"Tapi bagaimana mungkin?"
"Tentu saja mungkin" ucap pula Nadin, senyumnya mengembang yang membuat Mely mengerti.
"Aku menemukan surat itu di lemari pakaian mu dan menyerahkannya pada Reni, karna itu Reni meminta bertemu dengan Deni dan akhirnya semua rahasia mu terbongkar sudah" jelas Nadin.
"Rahasia? rahasia apa yang sedang kalian bicarakan ini?" tanya Sely mewakili kak Damar dan kak Afdal yang sama-sama tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Mely dan kak Deni saling bertatapan, selama ini penghalang cinta kak Deni adalah Reni setelah penghalang itu sirna maka sepertinya inilah waktunya kak Deni mengungkapkan perasaannya.
"Rahasia kalau aku menyukaimu sejak dulu, sejak kita pertama kali bertemu di toko, sejak dulu sebelum kehadiran Mely dan hingga sekarang" ujar Kak Deni pada Sely akhirnya setelah ia mempertimbangkan.
Sely tak menjawab, pernyataan cinta ini terlalu mendadak baginya terlebih setelah ia mempercayai jika kak Deni dan Mely pacaran, tak hanya Sely tentu saja kak Damar lebih kaget mendengar hal ini karna ia sama-sama menyukai Sely sejak dulu.
"Tapi... tapi... kak Deni dan kak Mel kan pacaran" tanya Sely tergagap.
"Tidak, Satu-satunya hubungan yang mereka jalin adalah persaudaraan, cinta yang ada pada di mereka pun hanyalah cinta seorang adik kepada kakaknya begitu pun sebaliknya" jawab Nadin.
Masih tak mengerti pada keadaan Nadin pun menceritakan semua yang telah terjadi, menjelaskan kesalah pahaman antara mereka.Bagaimana Mely menyimpan rahasia itu demi keselamatan mereka hingga akhirnya ia berujung di ranjang rumah sakit.
"Maafkan aku Sel, aku tidak bermaksud... aku tidak ingin kau celaka karna itu aku melakukan semua ini" ucap Mely menyesal setelah Nadin selesai dengan ceritanya.
Airmata tumpah dari mata Sely ia segera memeluk Mely dan menangis tersedu-sedu.
"Kak Mel, harusnya kak Mel cerita gara-gara aku kak Mel jadi sakit seperti ini" ucapnya di tengah tangisan.
"Tidak apa-apa, semua sudah selesai, dan sebentar lagi juga aku sembuh"
Kak Damar menatap Mely dengan kagum, kini ia mengerti kenapa Nadin begitu sayang kepada Mely, sifatnya ini akan terus membuat orang-orang di sekitarnya bahagia dan tak hanya itu tapi merasa berharga.
"Aku sempat ragu saat kau tak memakai gelang yang ku berikan, aku pikir kau menolakku.Tapi setelah tahu yang sebenarnya terjadi aku rasa tak salahnya mencoba sekali lagi" ucap Kak Deni pada Sely.
__ADS_1
Semua orang yang ada di ruangan itu kini menjadi saksi hidup,kak Deni mengeluarkan sebuah kotak kecil yang ia buka dan memperlihatkan sebuah cincin indah di dalamnya.
"Aku selalu membawa benda ini kemana pun aku pergi dengan harapan benda ini bisa membuat cintaku lebih dekat dengan ku, tak ku sangka di sini hari ini aku akan mengatakannya.Sely... maukah kamu.... menikah denganku?"