Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
Spesial eps : Duri 6


__ADS_3

Aku kurang paham apa maksud Kak Afdal tapi aku juga bersyukur aku bisa lolos kali ini.Kami kembali melanjutkan permainan kali ini Sely yang kena dan dia memilih dare, tak di sangka aku yang mendapat tanda merah. Aku diam terpaku memikirkan tantangan apa yang harus ku berikan padanya, jujur karna aku masih baru berteman dengan Sely tak banyak yang aku tahu tentangnya sehingga membuatku bingung.


"Ayolah ka apa tantangannya?" desak Sely tak sabar


"Iya iya, tunggu sebentar" jawabku masih memikirkan


"Baiklah aku tahu, aku ingin kamu keluar dan teriak aku cinta Mely bagaimana?" ucapku akhirnya setelah berfikir keras.


"Malam-malam begini?"


Sely hendak protes tapi kami kompak menjawab bahwa ucapan raja adalah mutlak, akhirnya dia menurut dan pergi keluar dengan kencang ia berteriak 'aku cinta Mely' tak di sangka terdengar suara seseorang membalas teriakan Sely.


"Berisik woy, udah malam ini"


Kami tertawa melihat Sely cepat-cepat masuk dengan wajah merah karna malu, permainan terus berlanjut hingga larut malam.Tepat tengah malam aku mengusulkan untuk menghentikan permainan dan pulang, bukan aku bosan tapi besok aku harus bangun pagi dan berangkat kerja jika malam ini aku bergadang takutnya besok pagi performa kerjaku menurun.


Rupanya yang lain setuju karna mereka pun juga harus bekerja besok.


"Sel kamu gak usah nganterin aku ini udah malam jalur kita kan beda nanti kamu balik lagi sendirian"


"Terus kak Mel pulang naik apa?"


"Gampang gak usah mikirin aku, mening kamu pulang duluan gih.Anak kecil gak boleh di jalan malam-malam nanti di bawa setan lho"


"Dih kak Mel ada aja, aku udah gede tau"


"Ya udah pulang gih, kamu pasti capek besok kan kita kerja"


"Ih ya terus kak Mel pulang naik apa?"


"Naik angkot juga bisa"

__ADS_1


"Kak Mel tengah malam gini mana ada angkot"


Kami terdiam sejenak, ku lihat Sely begitu keras berfikir sampai Damar dan Afdal keluar menghampiri kami.


"Oh iya, aku baru inget Kak Damar kan satu arah sama Kak Mel.Jadi Kak Mel pulangnya bareng aja sama kak Damar"


"Emang iya?" tanya ku dan Damar berbarengan, kami saling pandang dan tertawa karna ucapan kami sendiri


"Barengan, salaman Mel" ucap Damar seraya mengulurkan tangan, kusambut tangan itu seraya tersenyum.


"Iya bener, kalau rumahnya mah aku gak tahu. Aku kan belum pernah ke rumah Kak Damar selama ini kita kumpul selalu di sini kan di Rumah kak Afdal itu juga kalau rumahnya lagi sepi, tapi aku tahu rumah kak Mel satu arah sama rumah kak Damar"


"Ya udah kalau begitu, ayo Mel gue antar pulang"


"Gak ngerepotin emang Kak? "


"Gaklah, kalau berat badan lu seberat gajah baru ngerepotin soalnya gue ngeboncenginnya berat" ucap Damar bercanda


"Makanya gue bilang gak ngerepotin juga, udah naik"


Aku pun menurut, kami saling berpamitan dan berpisah pulang ke rumah masing-masing.Di sepanjang jalan aku dan Kak Damar saling mengobrol, saling bertanya berasal dari mana dan menanyakan seputar keluarga masing-masing.


Rupanya Kak Damar dan Kak Afdal dulunya teman satu Club motor vespa, namun Kak Damar memutuskan keluar dari Club saat ayahnya sakit dan meninggal.Dia adalah anak pertama tentu dialah kini yang menjadi kepala keluarga mengganti kan ayahnya, meski yang ia hidupi hanya ibunya seorang tapi ia sudah tidak punya waktu bermain yang banyak mengingat ia hanya memiliki satu adik perempuan yang sama-sama bekerja.


Alhasil mereka bergantian mengurusi ibunya, meski ibu Kak Damar tergolong masih muda tapi ibunya mengidap penyakit bronkitis jadi mereka harus selalu ada untuk ibunya.


Aku sungguh salut pada Kak Damar, ia begitu dewasa dan bisa di andalkan.Pantas saja sedari tadi ku perhatikan cara bicara dan bercandanya beda dari yang lain.


Ada yang lucu dari pertemanan mereka bertiga, rupanya Sely bisa berteman dengan kak Damar dan kak Afdal karna Sely adalah mantan pacar teman se-club dengan mereka.Saat ada acara apapun Sely selalu setia menemani pacarnya dulu, karna itu Sely jadi sering ketemu dengan kak Damar dan kak Afdal.


* * *

__ADS_1


Jam weeker berbunyi dengan nyaring di telingaku, bersamaan dengan ketukan pintu yang kencang.Rupanya aku kesiangan sampai Tante Isma ikut membangunkanku begitu malunya aku sampai tak tahan menampakan muka di hadapan tante Isma tapi beliau hanya tersenyum dan bergumam


"Dasar masa muda"


Untung aku masih sempat datang tepat waktu ke toko dan bisa memulai pekerjaan dengan tenang.Hari ini toko cukup ramai sampai aku pun lumayan kewalahan melayani pengunjung, ikut mencari pakaian yang di inginkan pelanggan belum lagi membereskan pakaian yang sedetik kemudian berantakan lagi.


"Mely....keluarin dress anak yang queen" perintah seorang senior padaku.


Untuk seorang helper saat toko ramai memang kami yang paling sibuk, mondar-mandir membawa barang yang di inginkan pelanggan. Ku percepat langkah ku ke gudang dan mencari rak tempat menyimpan dress anak, setelah ketemu aku langsung mencari kursi agar bisa mengeluarkan barangnya yang di atas.


Tapi sebelum sempat aku mendapatkan kursi Kak Deni sudah berdiri memegang barang yang ku butuhkan.


"Sudah aku bilang kan? lain kali minta bantuan orang lain jangan main ngambil sendiri nanti kalau jatuh bagaimana?" ucapnya seraya menyerahkan barang itu padaku.


"Aku gak liat siapa-siapa di sini lagian aku lagi di buru-buru jadi ya kepaksa aku ngambil sendiri"


"Anak gudang selalu stanby di rak ujung, aku juga selalu di sana jadi lain kali pergi kesana dan minta bantuan anak gudang, rak ini tinggi-tinggi dan barangnya juga berat-berat, itulah kenapa anak gudang pasti cowok dan kamu boleh minta bantuan kami karna ini memang pekerjaan kami"


"Iya ka, terimakasih bantuannya maaf aku harus cepat kembali" jawabku seraya hendak berlari meninggalkannya tapi ia malah meraih tanganku dan menahannya.


"Tunggu dulu"


ucapnya, di ambilnya barang yang tadi di berikan nya padaku.Lalu satu tangannya yang lain tetap memegang tanganku dan menarik ku berjalan seraya berkata.


"Biar aku yang bantu kamu bawain, ayo sama siapa kita serahin barangnya"


Semua mata karyawan tertuju pada kami karna Kak Deni yang tak melepaskan genggamannya. Bahkan sampai dia menyerahkan barangnya kepada karyawan lain.


"Woy Den kalau pacaran jangan di sini napa.. kita lagi kepanasan tambah panas liat lu pacaran" teriak seorang senior pria pada kami, yang lain tertawa santai mendengarnya dan Kak Deni malah menjawab


"Namanya juga orang lagi pacaran wajarlah dunia serasa milik berdua"

__ADS_1


Tawa geli bertambah seketika, di saat-saat sibuk seperti ini bercanda memang jalan yang tepat agar tidak stres.Tapi sepasang mata justru menampakan tingkat stres yang tinggi, bahkan amarah yang membara begitu terasa dari sorotan mata itu.Aku melihatnya dengan jelas Reni menatapku dengan penuh kebencian.


__ADS_2