Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
Eps. 46


__ADS_3

Terjawab sudah segala pertanyaan tentang sikap Mely, Jordan bukanlah saudaranya melainkan orang yang ia cintai.Betapa sakit hatinya mendengar keluh kesah Mely, tapi ia mencoba tegar meski dengan jawaban itu juga ada pertanyaan lain yang muncul di permukaan.


Dengan segala cara Kak Afdal berusaha membuat Mely merasa tenang dan ia berhasil, ia hanya cukup membelai lembut rambutnya dalam pelukan hangat dan sesekali berkata tenang.


Mely kembali ke dalam ruangan Jordan, dengan penuh perhatian dia mengusap pipi lelaki itu dan menyuapi nya makan.Sampai kondisi Jordan membaik baik secara mental maupun fisik secara perlahan mereka akan mengatakan yang sebenarnya, dan sampai waktu itu tiba Dina tidak boleh mengatakan apa pun terkait rumah tangga mereka.


Saat ini hanya Mely yang berkuasa atas diri Jordan, baik kesembuhan atau sakitnya.Kak Afdal yang dalam seharian itu melihat Mely begitu perhatian kepada Jordan memutuskan untuk pulang ke Bogor.


"Kenapa harus sekarang? inikan udah malam kak, besok kan masih bisa" tanya Mely saat kak Afdal berpamitan.


"Gue gak bisa ninggalin rumah lama-lama, kerjaan gue masih banyak lagian sekarang lu udah nyampe kan udah banyak temen di sini"


Mely diam seribu bahasa mendengar ucapan kak Afdal, andai dia tahu bahwa semua orang yang dia anggap teman Mely adalah orang yang dulu menyakitinya akankah dia tetap pergi?.


"Baiklah kalau gitu, hati-hati di jalan ya" balas Mely tak sanggup menahan kepergiannya.


Dengan kaki yang terasa berat melangkah kak Afdal pun pergi, hingga dia naik pesawat tak ada senyum menghias bibirnya.Akhirnya tekad Cita-cita untuk menjadi komikus dan kuliah di Jepang pun kembali muncul kepermukaan hatinya dan menjadi perisai, kak Afdal sudah membulatkan tekad ia akan pergi.


* * *


Senyum yang sama, ekspresi yang sama, dan perlakuan yang sama.Mely mendapatkan kebahagiaannya yang dulu di renggut, saling perhatian dan mencintai betapa angin kebohongan ini sudah membawa Mely terbang jauh hingga ke bumantara.


Lupa akan kesakitan yang hampir merenggut nyawanya, ia terbuai.Dina sang istri sah hanya mampu menatap tawa mereka dengan kepedihan, mengingatkan akan kado mengerikan yang ia terima saat hari pernikahan mereka.Malam itu ia membukanya dan tak menyangka seseorang tega menghadiahkan dua buah boneka santet padanya.


Ia tak tahu siapa yang mengirimkan hadiah itu tapi besar kemungkinan itu adalah kiriman Mely mengingat ia yang sangat bernafsu ingin menghabisinya dan Jordan, kini ia tengah tertawa di atas penderitaannya.Tertawa bersama suaminya yang lupa akan dirinya yang bahkan sekarang ia di kenal hanya sebagai saudara jauh demi kesehatan Jordan.


Dua hari telah Mely lalui di rumah sakit menemani Jordan dan akhirnya setelah kondisi Jordan membaik dokter pun mulai membicarakan kecelakaan yang ia alami.


"Bagaimana perasaan mu hari ini?" tanya dokter ramah.


"Baik dok, saya sudah merasa jauh lebih sehat" jawab Jordan sambil melihat Mely yang setia di sampingnya terus.

__ADS_1


"Baiklah, aku hanya menanyakan beberapa hal kecil kita mulai dari siapa namamu?"


"Jordan, Jordan Anggara"


"Umur?"


"duapuluh lima"


"Tahun berapa sekarang?"


"Dua ribu tiga belas"


Mely dan dokter saling bertatapan, dengan senyum tipis dokter pun mulai bicara lagi.


"Jordan sekarang tahun dua ribu empat belas, dan usiamu sudah duapuluh enam tahun"


"Apa? a, aku tidak mungkin salah, apa aku koma selama setahun?" tanya Jordan kebingungan.


"Lalu apa yang terjadi? bagaimana bisa aku bangun dalam tahun yang berbeda"


"Kamu mengalami amnesia, ingatan kamu tentang kecelakaan yang menimpa kita adalah kejadian setahun yang lalu, dan saat kemarin kamu kecelakaan untuk yang kedua kalinya kamu lupa semua hal yang sudah kamu lalui selama setahun" jelas Mely.


"Lalu apa yang sudah aku lupakan? Mely aku berniat untuk menikahimu, apa aku mengatakannya padamu? apa kita menikah?" tanya Jordan gusar.


Hanya dua hari dan kebahagiaan yang ia rasakan sudah hancur berkeping-keping hanya karena pertanyaan yang Jordan berikan.Benar, apa untungnya memiliki dan mencintainya saat ini toh cepat atau lambat kenyataan itu akan terungkap.


"Tidak" jawab Mely tegas.


"Kita tidak pernah menikah" lanjutnya.


"Oh, sayang.. aku sangat menyesal aku begitu mencintaimu, dan aku berniat untuk menikahimu tapi... tapi... aku merasa belum pantas" ucap Jordan menyesal.

__ADS_1


"Sebaiknya sekarang anda istirahat, cek up hari ini cukup sampai di sini saja dulu" ujar Dokter yang melihat respon Jordan tidaklah baik.


Jordan di biarkan istirahat sendiri sedang Mely mengikuti dokter keluar karena ada beberapa hal yang ingin ia tanyakan, di ruangan lain Mely mulai bertanya serius tentang keadaan Jordan.


"Apa menurut dokter kita harus menyampaikan kebenaran tentang hubungan kami?"


"Saya rasa untuk saat ini jangan dulu, biarkan dia dengan asumsi bahwa kalian masih berhubungan karena saya lihat dia belum bisa menerima kenyataan yang sebenarnya, saya tidak tahu masalah apa yang sudah kalian hadapi tapi untuk kesembuhan pasien tolong biarkan seperti ini dulu kalian boleh memberitahunya secara bertahap, dan kabar baiknya lusa dia boleh pulang" jawab dokter.


Mely mengangguk tanda mengerti dan pergi keluar, di taman dia merenung seorang diri.kebahagiaan yang ia rasakan saat ini hanya sebuah kepura-puraan dan demi apa dia mau lakukan semua ini, demi pria yang sudah mengkhianati nya atau demi hati yang masih ingin bermimpi?.


Jelas-jelas cepat lambat dia harus pergi lagi dan melupakan semua ini untuk yang kesekian kalinya, Mely menggelengkan kepala dengan keras.


"Tidak, aku harus kuat, aku tidak boleh terbuai oleh cintanya yang semu aku harus mengakhiri semua ini, aku sudah punya kehidupan ku sendiri yang bahagia" ucapnya pada diri sendiri.


Mely beranjak dan hendak pergi menemui Jordan, ia tak peduli apa yang akan menimpa pria itu.Ia akan mengatakan bahwa hubungan mereka telah lama berakhir namun di tengah jalan dia bertemu Dina.


"Aku tahu kamu melakukannya dengan sengaja, kau tertawa diatas penderitaan ku tapi tak apa.Aku yakin kau pun tahu bahwa cintaku pada mas Jordan lebih besar dari apa pun, jangan kira dengan melakukan semua ini kau bisa membuatku patah hati dan pergi meninggalkannya, tidak Mely... tidak akan pernah" ucap Dina dingin.


Sepasang mata penuh ambisi, tangan mengepal dan hati yang tak gentar.Mely tahu Dina memiliki semangat yang sama dengannya, rasa tidak mau mengalah yang membuat mereka saling membenci.Benar, wanita yang telah menghancurkan mimpinya masih bisa berdiri dengan gagah.


Seorang wanita yang tanpa rasa bersalah telah merenggut posisinya masih bisa mengancamnya.Dendam yang telah lama hilang datang lagi dan semakin besar.


"Aku tidak tertawa di atas penderitaanmu, aku hanya menikmati apa yang menjadi hak ku" jawab Mely dingin.


"Dengar, aku adalah istri sahnya, meski dalam pikirannya kau adalah cintanya tapi buku nikah kami tak kan berubah, statusku sebagai istrinya tidak akan pernah bisa menjadi hak mu" balasnya dengan penuh emosi.


"Kalau begitu kenapa tidak kau katakan bahwa kau istrinya? kenapa malah diam dan sembunyi? kenapa tidak kau ambil dia dari sampingku, seperti yang kau lakukan dulu" tanya Mely yang rupanya tak bisa Dina jawab.


"Tidak Dina... kau tidak akan melakukannya kau tidak berani mengatakannya karena itu akan membuat cintamu mati" lanjut Mely dan dia pun pergi.


Setahun dia membangun pondasi untuk menguatkan hatinya dari cinta yang mungkin saja datang kembali menggores luka, dan akhirnya setelah dia mampu menghargai hidupnya kenangan lama tidak boleh menjadi palu penghancur.

__ADS_1


"kau tidak bisa hidup tanpa Jordan, maka akan ku buat dia menderita agar kau pun menderita, Dina perlu kau tahu Mely yang hadir di depanmu bukan sebagai malaikat yang akan menyembuhkan suami mu tapi karma penebus dosa" batin Mely


__ADS_2