
Hati ini milik Tuhan, tapi aku yang merasakan.Jika ada bahagia kenpa harus menderita, jika ada pertemuan kenapa harus berpisah.Aku milik ku makan aku mengendalikan atas kehendak ku.
Untuk pertama kalinya dalam hidup ku, aku melihat ibu menangis dan sebabnya adalah penyakit yang ku derita. Untuk pertama kalinya pula aku melihat ayah marah dan sebabnya adalah penyakit ku.
Untuk pertama kalinya di umurku yang sudah dewasa ibu memandikan ku, terlalu lemah untuk bangkit tapi aku sudah tak betah dengan lengketnya kulit ku, dengan sigap ibu membantuku mandi dan ia juga membatu ku berpakaian.
Untuk pertama kalinya dalam hidup ku aku melihat Nadin menangis karna penyakit ku atau nasib buruk ku. Untuk pertama kalinya aku sadar aku masih punya orang tua dan sahabat, untuk pertama kalinya aku menyadari betapa bodohnya aku.
"Nadin, aku ingin keluar kamar, sepanjang hari aku terbaring di sini sangat bosan... aku ingin keluar sebentar saja.. apa kau mau membantuku?"
"Tentu saja aku akan membantumu"
Dengan sigap Nadin langsung membawa kursi roda, membantuku untuk duduk di kursi itu dan membawaku keluar kamar terus berjalan melihat taman rumah sakit tempat yang bagus untuk ku yang ingin menghirup udara segar.
"Apa orangtua ku tau apa yang telah terjadi padaku?" tanya ku tentu perihal tindakan ku yang mencoba bunuh diri.
"Aku tidak tahu, tapi tentu aku tidak mengatakan apa pun.Mungkin mereka hanya tau tentang penyakit magh mu"
"Nadin..... sejak kapan lu ngomong lembut kayak gini? biasanya lu kalau ngomong nyolot mulu"
tanya ku dengan nada bercanda.
"Lu yang ngomong duluan pake kata aku bukan gue, biasanya lu yang ngomongnya kasar sekarang bangun dari koma jadi lembut"
__ADS_1
Kami tertawa mendengar ucapan Nadin, aku bisa melihat dari matanya ia merasa lega melihat ku bisa tertawa.
"Setelah bangun gue baru sadar, ternyata gue punya banyak hal yang harus gue syukurin daripada gue sesalin.Mungkin yang salah emang gue... terlalu banyak berharap pada orang salah, mungkin emang harusnya gue gak perharap lebih"
"Lu gak salah, semua udah takdir Tuhan. Lu jangan terus-terusan nyalahin diri sendiri" Nadin mengusap lembut tanganku dan tersenyum memberiku semangat baru yang aku balas senyum itu dengan tulus.
"Mungkin gue terlalu terpengaruh dengan omongan orang, usia gue baru 22 dan ini tuh usia yang masih muda tapi karna banyak temen gue yang udah nikah dan punya anak gue malah jadi ikut kepanasan dan pengen cepet-cepet ketemu jodoh gue, menjalani rumah tangga yang gue kira bakal bahagia padahal semua orang punya waktu masing-masing dan waktu ini bukan milik gue buat nikah"
"Lu gak sendiri Mel, masih ada gue kan? gue juga belum merit ko jadi jangan ambil keputusan dengan cepat, lu harus pikirin dulu mateng-mateng"
"Lu tau sendiri gue sifatnya gak suka nunggu, jika bisa sekarang kenapa harus nanti? yah tapi dengan semua yang udah terjadi sama gue sekarang gue udah Gak se gegabah dulu, gue tau ko apa yang harus gue lakuin"
"Gue percaya sama lu"
Yah, perjalanan hidup ku masih panjang.Yang sudah terjadi biarlah sudah menjadi cambuk pengingat untuk setiap langkah yang akan ku lalui nanti, sekarang yang harus aku lakukan adalah mematuhi perintah dokter agar bisa pulang cepat.
Nadin tak bisa menemaniku terus menerus, ia punya pekerjaan dan kehidupan pribadi dan ia juga memberitahuku bahwa seminggu lagi Jordan akan menikah tentu dengan selingkuhannya Dina, ada sedikit getaran marah di hatiku saat mendengar nama itu, tapi aku berhasil mengatasinya karna pernikahan itu pula Nadin harus ikut orang tuanya ke Bali.
Aku menyertai kepergian Nadin senyuman dan tak lupa aku menitipkan sebuah kado kecil sebagai hadiah pernikahan Jordan dan Dina.Aku meminta Nadin untuk jangan menyerahkan kado itu secara langsung karna isi kado itu adalah hatiku yang hancur.
Aku juga tak memberi nama pada kado itu karna saat Jordan membuka isi kado itu ia pasti tahu kado itu berasal dari mana. Dua boneka jerami yang di balut kain kafan dengan noda darah segar serta paku yang menancap tepat di jantung masing-masing boneka, itulah isi dari kado yang kuberikan cukup mengerikan untuk di buka pasutri baru.
Tak banyak yang bisa ku lakukan di Bandung, selain istirahat dan dan membaca beberapa buku lama.Aku mulai bosan dengan rutinitasku yang tidak berarti, aku ingin pergi mencari kerja lagi tapi ibu dan ayah belum mengijinkan tentu saja aku baru sebulan di rumah dengan badanku yang kurus dan mata panda muka pucat siapa juga yang mau menerima pegawai sakit seperti ini.
__ADS_1
Beruntung beberapa tetangga punya anak gadis yang masih sebayaan denganku sehingga aku tak begitu kesepian, sehari-hari aku main dengan mereka hanya sekadar mengobrol dan makan jajanan khas kota Bandung.
Teman baru, tempat baru, suasana baru inilah yang aku butuhkan untuk memulai hidup baru, mungkin baru dua bulan aku tinggal bersama orangtuaku tapi dengan kesehatan ku yang semakin membaik akhirnya aku bisa mengambil kepercayaan mereka.
Aku putuskan untuk ke kota lagi dan mencari pekerjaan tapi karna ibu tidak mengijinkan aku tinggal sendirian akhirnya ibu menitipkan aku ke tante Isma di bogor, kebetulan dia seorang janda yang tak memiliki anak jadi memang cocok jika aku tinggal bersamanya.
Tante Isma menjemputku di pemberhentian bus, aku langsung mengenalinya dengan pakaiannya yang selalu serba warna ungu, bagiku dia tante kocak yang baik hati saat kecil ia sering mengajak ku jalan-jalan dan membelikan ku mainan.Aku bahkan punya julukan untuknya yaitu MANGU singkatan dari Isma Ungu.
Waktu kecil aku sering memanggilnya dengan panggilan Mangu jika ingin bermanja padanya.
"Gimana bahasa Sunda kamu Mel?" tanya tante di tengah perjalanan kami pulang ke rumah
"Gak lancar tan, aku cuma tau beberapa kata aja"
"Padahal orangtua kamu udah lumayan lama lho tinggal di Bandung"
"Yah tante yang tinggal di Bandung kan ibu sama ayah, aku kan tetep di jakarta"
Tante Isma tertawa mendengar jawabanku, kami sampai di rumah tante yang tentu saja serba ungu juga. Tante membawaku masuk ke rumah dan ternyata sudah menyiapkan kamar untuk ku.
"Tante sudah di kasih tau ibu kamu, katanya kamu ke sini mau nyari kerja dan tante juga udah di peringatkan soal penyakit kamu jadi tante saranin kamu mening kerja di toko tante aja, yah toko kecil sih tapi daripada kamu kerja di tempat orang lain tante jadi gak bisa ngawasin kamu, lagi pula jika kamu kerja di toko tante kan kamu bebas kerja nya"
"Mely gak keberatan ko tan, kerja di mana aja gak masalah yang penting Mely kerja soalnya Mely kan gak betah diem tan"
__ADS_1
"Ya sudah jika kamu setuju besok tante ajak kamu ke toko hari ini kamu istirahat aja pasti kamu cape kan abis perjalanan jauh"
Tante Isma meninggalkanku di kamar, akhir nya aku akan memulai hidup ku yang baru.Aku tak akan meminta banyak pada Tuhan aku pun tak mengharapkan impian ku akan tercapai aku hanya ingin mulai hari ini dan seterusnya aku menjadi diriku yang baru yang bahagia dengan caraku meski itu sederhana.