
Reni menatapku dengan penuh kemarahan tangannya menggenggam ember dengan kencang.
"Berani sekali kau.. " bisiknya.
Aku berteriak sekencang mungkin meluapkan kekesalanku dan tanpa ku sadari airmata menetes begitu saja, aku terisak dan jatuh terduduk.
"Reni apa yang kau lakukan?" tanya kak Anggi yang tiba-tiba masuk.
Matanya melotot pada Reni mempertanyakan apa yang telah terjadi, Reni hanya diam mematung masih memegang ember. Kak Anggi berjalan cepat melewatinya dan menghampiriku yang masih terisak.
"Kamu gak apa-apa? bisa bangun?" tanya ka Anggi dan membantuku bangun.
Dengan di papahnya aku di bawa di ke ruang kesehatan. Setelah di beri baju ganti aku di biarkan sendiri agar bisa istirahat tapi tak lama Kak Deni datang, wajahnya mengisyaratkan kekhawatiran dan setelah ku katakan aku baik-baik saja dia baru merasa tenang.Tak ku sangka Reni datang padaku dan kaget melihat aku yang tengah berduaan dengan Kak Deni.
Awalnya kulihat wajahnya memerah pasti karna menahan marah dan cemburu tapi beberapa detik kemudian dia bisa menguasai dirinya lagi dan berkata ingin bicara berdua saja, awalnya Kak Deni tentu tidak mengijinkan tapi setelah berhasil ku yakinkan bahwa aku akan baik-baik saja ia pun pergi.
"Jadi kau datang untuk meminta maaf?" tanyaku.
"Aku datang karna Mba Anggi yang menyuruhku datang padamu, jika bukan karna dia aku tidak mungkin tunduk padamu" jawabnya dingin.
"Meski begitu kau tenang saja aku pasti memafkanmu, kita lupakan saja yang sudah terjadi bukankah kita bisa berteman?"
"Heh.. berteman atas dasar apa kita harus berteman?" tanyanya dengan tawa sinis.
"Kak Reni kau adalah seniorku bagaimana pun juga kita satu pekerjaan jadi bukankah lebih baik kita berteman"
"Aku tahu kau sedang mempermainkanku, pertama kau buat dirimu lebih banyak di sukai orang lalu kau menjadikan dirimu terkenal, sekarang setelah menggeser posisiku kau pun merebut kecintaanku.Aku hanya membuat mu basah kuyup tapi kau berlagak seolah aku telah menganiaya mu"
"hei hei bukan salahku menjadi cantik dan pusat perhatian orang, bukan salah ku juga jika Kak Deni menyukai ku dan lagi kau memang hanya membuatku basah tapi kau sudah menyakiti hatiku itu yang paling penting" jawabku dengan nada polos dan santai.
Aku tahu aku telah membuatnya marah matanya begitu tajam menatap seakan siap mengiris ku menjadi potongan tipis.
"Ini hanya permulaan Mely.... ingat ini hanya awal... aku akan membuat lebih dari ini jika kau berani berulah" ancam nya dan pergi begitu saja.
Ya, ini hanya permulaan.Ketahuilah ini bukan pertama kalinya aku berurusan dengan wanita sepertimu, dulu aku pun pernah bertarung melawan hati yang sama kuat hingga aku akhirnya mengalah tapi itu tak akan terjadi lagi, meski aku tidak tahu bagaimana perasaan kak Deni terhadapku tapi aku tetap akan menghadapimu.Reni.
__ADS_1
Sely akhirnya masuk kerja setelah ayahnya pulang dan ibunya mulai membaik, hanya saja kini ia belum bisa bermain dengan kami tak jadi soal bagiku justru dengan begitu aku dan Kak Damar bisa menyusun rencana agar membuat mereka lebih dekat lagi.
Sekarang makan siangku bersama dua orang yaitu Sely dan Kak Deni, yap Kak Deni menjadi ikut makan siang bersama kami.Awalnya Sely merasa takut Reni akan melihat dan membuat onar dengannya tapi lambat laun ia sadar Reni hanya terfokus padaku, siapa pun yang Kak Deni ajak bicara ia tak terlalu peduli tapi jika melihat aku dan Kak Deni bersama ia langsung berubah menjadi macan yang siap menyerang.
"Ka Mel sebenarnya apa yang udah terjadi antara kakak sama Kak Deni dan Reni? aku lihat Kak Deni semakin dekat sama Kakak dan Reni semakin memperlihatkan ketidaksukaannya" tanya Sely dengan khawatir
"Kamu tahu kan aku sama Kak Deni temenan dan kamu juga tahu Reni pasti gak suka kalau aku deket sama Kak Deni" jawabku santai.
"Aku tahu tapi... " Sely tak menyelesaikan Kalimatnya karna Kak Deni datang dan mengajakku pulang bareng.
Aku ikut Kak Deni dan Sely akhirnya pulang sendiri, meski sebenarnya aku ingin pulang bareng Sely seperti dulu lagi tapi aku sudah terlanjur memulai perangku jadi aku harus menuntaskan nya, Reni tidak boleh berfikir gertakan nya berhasil dan membuatnya menang.
Aku tak langsung pulang karna Kak Deni mengajakku ke alun-alun kota, kami berhenti di pinggir dan duduk.
"Kok berhentinya nanggung banget sih ka, pinggir jalan gini apa gak sebaiknya kita cari tempat duduk yang enak atau nyari warung kopi gitu?" tanyaku.
"Aku mau nunjukin sesuatu sama kamu"
"Apa?" tanyaku penasaran.
"Apa? jalan? pohon? apaan sih kak?" tanyaku tak mengerti.
"Di jalan itu adikku meninggal, saat itu dia masih berumur limabelas tahun dia bilang dia ikut keanggotaan paskibra dia masih kelas satu SMA dan punya mimpi besar, setelah upacara bendera di alun-alun ini aku yang mewakili kedua orang tuaku dengan bangga memeluknya, dia bilang ingin menjadi pramugari dan terbang mengelilingi dunia tapi dalam perjalanan pulang kami kecelakaan di jalan itu"
Dari mata yang kosong itu airmata mendobrak keluar mengisyaratkan penyesalan yang mendalam, tak ku sangka ada kisah pedih di balik senyumnya selama ini.
"Karna ku dia tidak terbang mengelilingi dunia tapi dia terbang ke langit menuju tempat Tuhan"
Kak Deni menatap ke arahku dan senyumnya mengembang meski masih di barengi airmata, tangannya lembut membelaiku dan berkata.
"Dia sangat mirip denganmu, kadang ceroboh, penuh semangat, kadang baik dan selalu mengalah kadang malah egois tak ingin kalah, aku melihatnya ada pada dirimu. Anak ingusan yang selalu bersikap dewasa"
Aku membalas dengan senyuman, sekarang aku tahu kenapa Kak Deni mau mendekatiku, mau berteman denganku, dan aku sadar selama ini perlakuannya terhadapku adalah kasih sayang seorang abang terhadap adeknya.
"Jika begitu maka tidak salah lagi, aku adalah adikmu... Kakak.. " ucapku.
__ADS_1
Selesai bernostalgia pada tempat yang menyedihkan Kak Deni mentraktirku makan sepuasnya dan mengajakku belanja pula.Di toko Aksesoris dengan antusias ku lihat macam-macam anting-anting yang cantik.
"Mel menurut kamu ini bagus gak?" tanya Kak Deni memperlihatkan sebuah gelang dengan manik-manik yang indah.
Ku ambil gelang itu dan melihatnya lebih teliti, rupanya gelang itu lebih indah jika di lihat dari dekat, ada batu berwarna jingga yang bila terkena sinar maka akan terpantul cahaya yang indah.
"Bagus ini bagus banget ka" komentarku.
"Begitu ya, jadi kalau aku kasih gelang ini ke cewek kira-kira dia bakal terima gak ya?" tanyanya.
Sadar tengah ku perhatikan dengan curiga kak Deni berbalik dengan malu dan berkata.
"Ah sebaiknya aku cari gelang lain"
"Eh tunggu" cegahku.
"Gak usah malu gitu, masa sama adek sendiri malu" ucapku, kak Deni berbalik ke arahku dan tersenyum sambil menggaruk kepala.
"Jadi cewek mana yang mau kakak kasih gelang?"
"Bukan siapa-siapa ko"
"Ayolah jangan main petak umpet, suatu saat juga pasti Kak Deni kenalin sama aku jadi ayo bilang siapa ceweknya biar aku pilihin gelang yang paling bagus"
"Hmmmm, dia sangat periang, mudah bergaul dan manis" jawabnya malu-malu.
"He-em lalu?"
"Yah nanti juga kamu tahu ko"
"Dih ko gitu, ayo dong ka bilang siapa orangnya"
"pokoknya nanti juga kamu tahu"
Meski ku desak terus nyatanya Kak Deni sangat teguh pendirian dia sama sekali tak terusik untuk bicara, ia hanya bertanya siapa pun wanita yang ia sukai apakah aku akan mendukung sepenuh hati, dan tentu saja aku menjawab iya.
__ADS_1
Dan karna ia tak mau bilang siapa dia hanya menyebutkan karakternya saja maka ku berikan gelang berbentuk dua rantai yang di satukan dengan batu berbentuk hati warna merah menyala, dengan prinsip dua hati satu cinta rupanya dia berniat menulis sebuah surat cinta dan memberikannya kepada wanita itu tentu di bungkus kado karna gelang itu akan ada sebagai hadiahnya.