Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
Spesial eps : Duri 17


__ADS_3

"Mely.. " panggilnya.


Matanya menggambarkan keterkejutan yang sama denganku, aku tak mampu berkata-kata hanya bisa diam memandangnya.


"Ibu, ayah kalian udah sampe.Dan lu boncel sini masuk gue udah masakin makanan kesukaan lu" ucap kak Afdal yang datang ikut menyambut.


"Mely, ko lu ada di sini?" tanyanya masih dengan nada kaget.


"Lah lu ngapain ke sini?" tanyaku balik.


"Siapa Cha?" tanya seorang wanita di belakang Ocha yang ku yakin ibunya.


Kami saling pandang satu sama lain, masih dalam kondisi kaget terlebih aku yang tak menyangka bahwa Ocha adalah adik kak Afdal.


Sungguh takdir yang aneh, aku bahkan sudah hampir melupakan kawan-kawanku di Jakarta ya kecuali Nadin karna dia sahabat abadiku.Sekarang bisa bertemu Ocha di sini bagaikan sebuah mimpi.


"Jadi sekarang lu tinggal di sini Mel?" tanya Ocha saat kami sedang makan malam bersama.


Aku mengangguk sebagai jawabanku.


"Jadi Mely ini teman kerja Ocha di Jakarta, dan setelah pindah ke Bogor ternyata temenan juga sama Afdal tapi tanpa tahu kalau Afdal dan Ocha itu sodara, lucu juga ya pertemanan kalian" ucap Ibu Ocha memperjelas.


"Iya tante, aku gak tahu kalau ternyata Ocha adeknya Kak Afdal soalnya dia gak pernah cerita apa-apa"


"Lagian ngapain cerita gak penting juga kan?" tanya kak Afdal.


"Ya pentinglah ka, seandainya aku tahu kalau Ocha adik Kakak mungkin aku bisa ketemu Ocha lebih cepat" bantah ku yang sama sekali tak di gubris olehnya.


"Eh Mel, sekarang lu kerja apa? dimana?" tanya Ocha.


"Di toko baju, gak jauh juga ko dari sini"


"Hmmmm.. terus kenapa dulu lu tiba-tiba ilang sih Mel? gak ada kabar apa pun tau-tau gue denger kabar lu pulang ke Bandung katanya"


"E-hmm, iya Cha... aku sakit, jadi harus berhenti kerja dan pulang ke Bandung" jawabku yang sebenarnya tak ingin mengungkit masalah itu karna ujung-ujungnya pasti kisah cintaku yang kandas mau tak mau pasti terungkap.


"Oh, kamu sakit apa Mel?" tanya ibu Ocha pula.


"Magh"


"Ya ampun kamu pasti ini gak teratur makannya,terus kecapean banget ya.. suka pedes gak? kurangin dulu ya makan pedes sama asemnya"

__ADS_1


"Iya tan, makasih. Sekarang udah meningan ko udah jarang kambuh lagi"


Selintas aku melihat Kak Afdal melihat ke arahku dengan pandangan yang tak biasa entah apa maksud dari pandangan itu aku tak tahu.


Selesai makan Ocha mengajak ku ngobrol di kamarnya, dan betapa kagetnya aku saat melihat kamarnya yang seperti musieum foto.


"Aneh ya Mel?" tanyanya sambil tertawa.


"Ko semua foto di pajang di kamarmu sih Cha?"


"Abang gue itu orang nya pemalas, males banget buat beres-beres jadi semua foto dan barang yang kecil-kecil gitu di simpen nya di kamar gue, biar gue yang bersihin sendiri paling lama ya dua minggu sekali lah"


"Gimana aku mau tahu kalian sodara, pertama kalian gak bilang kalau kalian sodara yang ke dua setiap aku main ke sini aku gak pernah liat foto keluarga"


"Kak Afdal emang orangnya penutup kalau masalah keluarga, dia gak suka cerita soal keluarga"


"Jadi sebenernya keluarga kamu kayak gimana sih cha? ko kalian tinggal di jakarta sedangkan Kak Afdal tinggal sendiri di sini?" tanyaku penasaran.


"Ayah kami meninggal waktu kami masih kecil, bahkan gue gak tahu gimana wajah ayah gue saking karna gue masih kecil ya sekitar dua tahun lah, terus ibu gue mutusin nikah lagi sama suaminya yang sekarang waktu gue umur tiga tahun, kami pindah ke Jakarta karna kerjaan ayah tiri gue tapi Kak Afdal gak mau ikut"


"Kenapa?"


"Dia lahir di sini Mel, di rumah ini banyak kenangan sama ayah dan ketika kak Afdal tahu ibu mau nikah lagi dia marah besar, dia fikir ibu udah lupa tentang ayah akhirnya kak Afdal tinggal di sini sama nenek.Ketika kak Afdal lulus SMA nenek meninggal dan itu adalah pukulan terberat dalam hidupnya"


"Lu sendiri Mel, waktu itu kan pernah cerita mau merit ma Jordhan ko sekarang lu malah kerja di sini sih?" akhirnya keluar juga pertanyaan itu.


"Kami gak jodoh Cha, semenjak aku sakit dan tinggal di Bandung aku udah gak tahu lagi gimana kabar dia" jawabku yang tentu tak ingin masalalu ku kembali mencuat ke permukaan, apa gunanya? toh semua sudah berakhir.


Ocha tak lagi bertanya, sepertinya jawabanku meski tak memuaskan rasa penasarannya tapi ia tahu aku tak berminat untuk bercerita.


"Hai kalian, keluar yu kita ngobrol di luar sambil ngeteh" ajak Ibu Ocha datang ke kamar.


Kami mengangguk dan menyusul ke ruang tamu, di sana sudah ada ayah tirinya yang sedang sibuk dengan handphone nya.Kami bercerita banyak lebih mengenang bagaimana pertemanan aku dan Ocha waktu di Jakarta.


"Seandainya tante tahu kalau Ocha mainnya sama kamu gak mungkin pulang-pulang tante marahin dia, abisnya tante takut dia salah gaul.Ocha juga nih gak pernah ngajakin Mely main ke rumah"


"Males ah bu, kalau ibu tahu Mely orangnya baik begini yang ada justru Mely yang gak ibu ijinin pulang" jawab Ocha Ketus.


"Lho ko gak di ijinin pulang" tanyaku tak paham


"Iya Mel, ibu nih kalau udah ngerasa cocok sama satu orang pasti bakal terus di ajakin ngobrol gak berhenti-berhenti, jadi ya kalau gue ajakin lu ke rumah ntar lu gak bisa pulang lagi nih"

__ADS_1


Aku hanya tertawa mendengar penjelasan Ocha, tapi syukurlah dengan begini aku tahu ibu Ocha menyukai ku sehingga aku tak canggung, kami memang banyak mengobrol bahkan sampai larut malam, hanya kami berdua aku dan ibu Ocha.


"Tante senang sekali kamu sering main sama Afdal, di depan tante dia jarang sekali tertawa bahkan sikapnya sering cuek.Terimakasih kamu udah buat dia tertawa sepanjang hari" ucap Ibu Ocha saat kami tengah membicarakan Kak Afdal.


"Apaan sih tante, gak usah ngucapin terimakasih gitu.Lagian justru Kak Afdal yang sering ngajak aku becanda dia yang selalu ada buat teman-temannya, selalu menghibur"


Ternyata memang benar, di balik orang yang suka tertawa, yang kocak, yang nyebelin, yang selalu buat suasana jadi rame justru dia adalah orang yang paling kesepian.Tak ku sangka di balik semua candaan Kak Afdal dia sedang menutupi kesedihan nya sendiri.


"Mel, ini udah malam kamu nginep aja di sini ya!" tawar ibu Ocha.


"Gak usah tante, aku pulang aja.Toh rumah aku gak jauh"


"Maaf ya tante ajakin ngobrol ampe malam banget, kamu juga udah ikut masakin buat tante sekeluarga"


"Gak apa-apa tan, aku juga seneng ko berkat bantuin kak Afdal ternyata bisa ketemu Ocha dan ngobrol sama tente juga"


"Ya udah kamu tunggu dulu ya biar tante panggilin Afdal buat anter kamu pulang."


Tak lama Kak Afdal datang bersama ibunya.


"Lu mau pulang sekarang Mel?" tanya Kak Afdal, aku hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Padahal udah malem lho Mel, kamu nginap aja tidur bareng sama Ocha" ucap Ibu Ocha masih mencoba membujuk.


"Gak usah tante aku pulang aja ya, mungkin lain kali aja"


"Ya udah hati-hati di jalan ya"


"Iya tante"


Setelah berpamitan aku pun pulang di bonceng kak Afdal, entah mengapa rasanya kali ini lain.Seolah bertemu orang baru aku merasa canggung duduk di belakang kak Afdal, setelah tahu keluarganya, masa lalunya, rasanya masalahku tak sebanding dengannya.


"Mel lu tidur" tanya Kak Afdal


"Gak ko, kenapa?"


"Ko diem?"


"Terus aku harus gimana? loncat-loncat gitu?"


"Ya jungkir balik lah Mel, masa lu gak bisa?" ujarnya.

__ADS_1


"Huuuu" teriak ku kesal, dia hanya tertawa dan mendengarnya aku pun ikut tertawa, Kak Afdal mengapa kau sangat pintar bersandiwara? di depanku kau mampu berbuat onar dan tertawa tapi di belakangku kau selalu kesepian.


__ADS_2