
Sepucuk surat datang menandai hari yang suram, nama Jordan tertulis jelas dalam isinya.Sebuah pemberitahuan ia harus menemui atasannya besok siang di kantor.
Mely yang di beritahu dengan penuh kasih sayang semunya mengantar Jordan pergi, diiringi tatapan cemburu Dina di depan pintu.Setelah kepergian mereka Dina segera menemui mertuanya ada apa gerangan yang membuat Jordan di panggil atasannya.
"Ibu tidak tahu, Jordan hanya mengatakan bahwa dia harus pergi ke kantor dan memenuhi panggilan atasannya"
"Memang isi suratnya apa sih bu?" tanya Dina yang masih penasaran.
"Ibu bilang ibu tidak tahu, Jordan tidak kasih ibu lihat suratnya."
Putus jawaban dari mertua tak lantas membuat Dina berdiam diri, segera ia mencari-cari surat tersebut di kamar Jordan namun sialnya ia tak menemukannya.
"Dimana mas Jo simpan suratnya? Jangan-jangan dia bawa juga" gumamnya.
"Dina? lu lagi ngapain?" tanya Nadin mengejutkan Dina setengah mati.
"Ka, kamu! aku... aku gak lagi ngapa-ngapain" jawabnya gugup.
"Terus kenapa lu di kamar Jordan?" tanya Nadin heran yang justru menyulut api di hati Dina.
"Kamu ya, sama aja kayak temen kamu yang gak tahu diri itu, emang kenapa kalau aku di kamar mas Jo? aku ini istri sahnya, jadi aku bebas dong mau tidur di kamar ini juga gak masalah"
"Terserah lu deh, gue kan cuma nanya doang" jawab Nadin tersinggung.
"Terus kamu sendiri mau ngapain ke sini?"
"Gue cuma lewat doang, gak sengaja liat pintu kamar Jordan kebuka dikit ya otomatis gue penasaran dong gue cek siapa yang masuk kan Jordan lagi pergi"
"Hhhh... udah deh gak usah banyak alesan, mening kamu pergi deh dari sini" ucap Dina mengusir.
Sebenarnya Nadin ingin sekali beradu mulut dengan Dina karena baik dari intonasi maupun dari kata-kata yang ia ucapkan semuanya begitu mengesalkan baginya, tapi tak ada untungnya bertengkar jadi Nadin lebih memilih pergi saja.
Dalam hati ia bergumam dan berfikir, betapa bodohnya Jordan bisa jatuh kepelukan yang salah. Dari segimana pun Mely lebih unggul, tapi nasi sudah menjadi bubur penyesalan bukanlah hal yang patut di pikirkan.
__ADS_1
* * *
Hampir sejam lebih Mely menunggu di luar tapi Jordan belum juga kelihatan batang hidungnya, rasa penasarannya sama dengan Dina, ia pun tidak diberitahu apa isi surat itu dan kenapa Jordan sampai di panggil.
Pagi itu Jordan hanya meminta Mely untuk menemaninya pergi menemui atasannya di kantor dan setelah tiba ia malah di suruh menunggu di luar.
penat, lelah, dan penasaran bercampur jadi satu membuatnya mengantuk, hampir saja ia ketiduran jika Jordan tidak datang dan duduk di sampingnya.Wajahnya kelihatan muram, bahkan seakan ia sedang menahan air mata.
"Jordan... ada apa? apa semua baik-baik saja?" tanya Mely mencoba terdengar peduli.
Jordan hanya menghembuskan nafas panjang dan menutup wajah dengan kedua tangan.Dengan lembut Mely mengusap punggungnya.
"Ayolah, jangan diam aja.Ceritakan ada apa? kamu tahu aku pasti bakal terus ada buat kamu"
Sejenak Jordan menatap Mely, dan dari tatapannya ia tahu Jordan sedang mengharapkan sesuatu darinya.
"Apa kamu bersungguh-sungguh? apa pun yang terjadi, kamu bakal terus di samping aku?"
"Kamu pasti tahu jawabannya meski aku gak bilang" jawab Mely.
"Memangnya atasan kamu bilang apa?" tanya Mely penasaran.
"Bos aku baru saja bilang, hhhhhhh... aku baru saja... di pecat" jawab Jordan kecewa.
Mely tidak tahu harus berkata apa, kabar yang baru ia terima ini tentu kabar baik baginya.Tapi, ia harus berusaha menutupi rasa senang dan menggantinya dengan wajah prihatin.
"Padahal aku baru aja nabung dan berniat bakal nikahin kamu tapi... sekarang aku gak punya muka buat mewujudkan niat aku itu, aku gak ngerti juga kenapa aku di pecat.Aku udah minta penjelasan dan dia cuma jawab aku butuh istirahat total aja, itu gak masuk akal kan Mel" ucap Jordan mencurahkan kekesalannya.
"Ya udah, udah.Sekarang mening kita pulang dulu yuk, gak enak kalau sampe di liat sama orang" bujuk Mely.
Dengan pasrah Jordan menurut dan tak bicara sepatah kata pun lagi hingga mereka tiba di rumah.
Baik Jordan maupun Mely tak ada yang bicara, mereka hanya diam dan menjawab ingin isirahat dulu saat di tanya.Namun Nadin tak akan diam begitu saja, di kamar Mely ia mendesak meminta jawaban.
__ADS_1
"Apa? kok bisa?" tanya Nadin kaget.
"Mana aku tahu" jawab Mely santai.
"Tapi kinerja Jordan kan bagus, selama ini juga dia gak pernah ada masalah di kerjaan karena itu juga kan dia diangkat jabatannya.Ko sekarang tiba-tiba di pecat gitu aja"
"Mungkin karena jabatan yang dia kejar itu hasil dari nyakitin hati yang tak berdosa, maka dari itu Tuhan ambil kembali yang bukan haknya" jawab Mely sarat akan makna.
Nadin tak bisa lagi bicara mendengar jawaban Mely, ia tahu apa maksud dari perkataan Mely.Selintas ia berfikir juga Mely berperan atas terpecatnya Jordan dari pekerjaannya, namun sehebat apa pun Mely bagaimana mungkin dia bisa mempengaruhi atasan Jordan agar memecatnya.
Mungkin itu hanya fantasi gila akibat sifat Mely yang berubah, mungkin ini hanya takdir Tuhan sebagai ujian untuk Jordan.Atau memang karma baru saja di mulai?.
* * *
Butuh waktu seharian bagi Jordan untuk bisa mengabarkan berita ini pada ibunya, tentu karena ibunya langsung syok setelah tahu putranya baru saja di pecat.Semua orang tahu dan mengakui bahwa Jordan adalah karyawan teladan karena hal itu dalam waktu singkat ia sudah bisa naik jabatan, tapi tak ada yang mengira secepat ini pula karirnya habis.
"Yang sabar ya nak, ibu tahu kamu kecewa dan marah.Tapi kita sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain bersabar dan pasrah, lebih baik kamu sekarang fokus aja dulu sama kesehatanmu" ujar ibunya menenangkan.
"Iya bu, aku gak habis fikir aja kenapa tiba-tiba aku di pecat dan alasannya itu yang gak bisa aku terima" jawab Jordan setengah marah.
"Ya sudah, mau gimana lagi? protes pun toh gak di tanggepin, seperti yang ibu bilang tadi mening kamu fokus dulu sama kesehatan kamu.Kalau kamu udah sehat kan kamu bisa cari pekerjaan lagi"
"Apa? mas Jo di pecat?" tanya Dina yang tak sengaja mendengar obrolan ibu dan anak itu.
"Kamu, ibu kira siapa!" ujar Ibu Jordan kaget.
"Bener mas? kamu baru aja di pecat?" tanya Dina lagi tak percaya.
"Iya, aku baru aja di pecat dari pekerjaan aku" jawab Jordan malas.
"Ko bisa sih mas? kenapa kamu bisa di pecat?"
"Ya mana aku tahu, aku tanya pun bosku malah nyuruh aku istirahat total" jawab Jordan lagi kini dengan suara lebih lantang tanda kesal.
__ADS_1
"Ya ampun mas, terus kalau kamu di pecat kamu mau dapet uang dari mana? terus gimana dengan masa depan bayi kita?" tanya Dina khawatir.
"Bayi siapa?" tanya Jordan.