Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
Spesial eps : Duri 8


__ADS_3

Aku masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, di layar handphoneku tertulis nama Nadin.Ada sedikit rasa penasaran dalam hatiku, untuk apa Nadin menelpon ku malam-malam begini.


"Halo.. " ucap Nadin setelah ku angkat telpon itu.


"Hai din, apa kabar?" sapaku.


"Hai Mel baik ko, lu sendiri gimana?"


"Aku juga baik ko, ada apa Din nelpon?"


"Gak ada apa-apa ko, gue cuma kangen doang sama lu, rasanya kita udah lama gak ketemu dan jalan bareng.Dulu biasanya kita ngabisin waktu bareng terus"


Ada nada kehampaan dalam kalimat yang ia ucapakan, aku mengerti setelah aku bisa keluar dari rumah sakit Nadin pamit pulang ke Jakarta dan sejak hari itu kami belum bertemu lagi dan bahkan ini adalah telpon pertama setelah sekian lama.


"Aku juga kangen kamu Din... "


"Katanya lu sekarang tinggal di Bogor ya?"


"Iya, aku ikut kerja di toko tante aku"


"Pasti lu udah punya temen baru di sana"


"Adalah beberapa, aku juga kan udah mau sebulan tinggal di sini masa iya belum punya temen juga"


"Ketahuan dari logat bicara lu yang udah berubah, lu kan gitu cepet akrab sama orang dan dimana lu tinggal pasti nada bicara lu ngikutin orang-orang di sekitar lu"


Aku tertawa mendengar ucapan Nadin, memang benar aku mudah mendapatkan teman.Tapi tema seperti Nadin hanya ada satu di dunia, dia adalah teman, sahabat dan sudah ku anggap sadari ku sendiri, dialah yang ada saat susah maupun senang.


"Kapan-kapan lu main dong ke Jakarta, gue kangen pengen jalan bareng lu lagi"


"Iya Din, aku juga kangen. Kalau ada waktu aku pasti main ngajak temen baru aku di sini"


"Sip deh, ya udah gue tutup dulu telponnya ya. Bye"


"Iya bye"


Telpon pun terputus, aku kira Nadin akan memberitahuku sesuatu tentang Jordan ternyata buka. Oh tidak, kenapa aku harus berfikir seperti itu. Jordan sudah lama mati bagiku kenapa pula aku harus masih penasaran dengan kehidupannya sekarang.Aku sudah punya kehidupan ku sendiri.


* * *

__ADS_1


"Kak malam ini kita main yu!" ucap Sely saat kami tengah menyantap makan siang kami.


"Kemana?"


"Yah angkringan aja, aku lagi pngen main nih"


"Oh ya udah"


"Kita ajakin kak Damar sama Kak Afdal juga yuk"


"Terserah kamu, kalau mereka bisa ya ajak aja"


"Ah mereka mah pasti bisa, nanti biar aku yang ngasih tahu mereka."


Mungkin memang sejak hari itu aku, Sely, kak Damar, dan Kak afdal jadi sering bertemu dan sering jalan bareng.Kami juga semakin dekat hingga jika bercanda sudah ke batas keterlaluan tapi tak ada satu pun di antara kami yang marah.


Aku telah menemukan semangat hidupku yang dulu pernah sirna, kini aku ingin hidup lebih lama lagi karna aku baru sadar ada banyak tempat yang belum ku kunjungi, ada banyak hal yang belum ku ketahui, ada banyak cerita yang belum ku dengar, jadi untuk apa aku memikirkan hal yang hanya akan menyakiti hati.


Ibu dan ayah juga jadi lebih tenang melihatku seperti ini, kadang ibu bertanya kapan aku akan membawa calon menantu untuknya, umurku semakin bertambah dan umur ibu semakin berkurang dia ingin melihatku duduk di kursi pelaminan mumpung masih sehat dengan santai aku menjawab.


"Ibu jodoh itu sudah ada yang ngatur, sekeras apa pun aku berusaha mendapatkan nya jika dia buka jodohku Tuhan tetap akan memisahkan kami.Tidak perlu terbur-buru yang penting ibu sehat terus ayah sehat terus dan aku juga sehat terus, karna aku yakin Tuhan sudah memberikan jodoh yang terbaik untukku hanya saja pertemuan kami butuh waktu"


Aku sudah merasakannya dua kali, merasa dia jodohku tapi ternyata bukan.Sekeras apa pun aku berusaha mempertahankan tetap saja dia pergi dari sampingku, aku tidak ingin terluka untuk ketiga kalinya.Aku punya teman-teman yang begitu baik dan membuatku lebih baik, jadi aku ingin menghabiskan waktu bersama teman-teman ku dulu.


* * *


"Apa ini?" tanyaku seraya membaca kertas itu.


"Karnaval, buka mulai malam ini pergi yuk pasti seru deh kak"


Aku tersenyum melihat tingkah Sely yang seperti anak kecil, aku mengangguk dan dia langsung bersorak.


"Tapi aku pulang ke rumah dulu ya, nanti biar Kak Damar yang jemput aku kamu tunggu bareng kak Afdal aja ya"


"Siap bos."


Selesai kerja aku langsung pulang ke rumah, aku juga sudah memberi tahu ka Damar maka dari itu aku mandi dengan cepat dan bersiap. Tante Isma tersenyum melihat aku yang keluar kamar dengan pakaian rapi dan wangi.Ia bersiul dan mencoba menggodaku.


"Udah rapi udah wangi, bentar lagi pasti cowoknya jemput"

__ADS_1


"Apaan sih tante, temen aku yang jemput kan tante udah kenal" jawabku seraya menahan tawa.


"Temen apa temen"


"Temen tante, temen main"


Tante Isma masih ingin menggodaku tapi suara motor sudah menepi di depan, aku tahu Kak Damar telah sampai.Segera ku buka pintu dan memang Kak Damar yang datang.


"Udah siap Mel?"


"Udah mau jalan sekarang?"


"Ayo."


Kami pun pergi menjemput Sely dan Kak Afdal, suasana malam ini sedang cerah memang pas jika di habiskan untuk menaiki beberapa wahana di karnaval juga melihat indahnya langit.


Baru sebagian wahana yang kami naiki tapi rasanya sudah lelah, aku minta istirahat sebentar tapi Sely ngotot ingin segera naik wahana yang lain, alhasih Kak Damar yang pergi menemani Sely dan aku istirahat di temani Kak Afdal.


"Mel lu gak apa-apakan gue tinggal sendiri dulu, gue mau beli minuman"


"Oh iya gapapa, tapi jangan lama ya"


"Gak gue cuma beli minum ke Baghdad doang"


Ucap Kak Afdal seraya pergi meninggalkanku, tak lama dia datang kembali sambil minum dan duduk di sampingku.


"Arrhhhhhh segar" ucapnya setelah menghabiskan setengah botol.


"Punya aku mana Kak?" tanyaku karna tak melihat ia membawa botol lain.


"Oh lu mau, ngomong dong dari tadi tau begitu kan gue beliin buat lu.Gue cuma beli satu doang sih" jawabnya santai.


"Iihhhh.... dasar cowok gak peka gak liat apa aku cape kayak begini, bukannya sadar beliin minum malah beli buat sendiri doang"


"Gak usah ngambek minum aja yang ada, gue males jalan lagi"


Ucapnya seraya menyodorkan botol itu padaku, dengan kesal aku minum air itu hingga hampir habis.Melihat airnya tinggal sedikit dengan kasar dia merenggutnya dariku.


"Eh jangan di abisin woy" teriaknya.

__ADS_1


Kami saling berebut air yang sudah tinggal sedikit, aku tertawa senang karna Kak Afdal berusaha dengan keras merenggut air itu dariku belum lagi teriakan kagetnya saat aku pura-pura mau menggigit tangannya.


Kami tertawa senang dan tak berhenti bercanda sampai seseorang memanggilku, suara yang ku kenal.


__ADS_2