Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
Eps. 44


__ADS_3

Mereka saling menatap satu sama lain, sedetik yang terdiam itu lalu lewat begitu saja karena riuh tepuk tangan orang di sekeliling mereka.Mely merenggut bunga itu dari tangan kak Afdal dengan kasar.


"aku yang duluan megang, berarti aku yang duluan dapet" ucapnya.


"Eh.. jelas-jelas gue yang dapet duluan, bunga itu milik gue dong" bantah kak Afdal.


"Gak, bunga ini milik aku" kata Mely bersikukuh.


Hingga akhirnya perdebatan pun tak mampu di elakkan lagi, Nadin serta yang lain hanya tertawa melihat pertengkaran mereka yang memperebutkan bunga.


"Udah-udah, bunganya milik kalian" ucap kak Deni menenangkan.


"Gak" teriak kak Afdal dan Mely barengan, tetap pada ke egoisan masing-masing.


"Hhhhhh ampun deh, kalau udah berantem susah banget akurnya, sini bunganya" kata Kak Damar sambil mengambil bunga yang sedang di rebutan.


Kemudian dia membagi bunga tersebut menjadi dua, setengah dia berikan kepada Mely dan setengah lagi ia berikan kepada kak Afdal.


"Nah kalau gini adilkan? kalian sama-sama dapet" ucapnya.


"Ko setengah sih ka, terus nanti kalau jodoh aku cuma setengah gimana, bagian kanannya gak ada" protes Mely.


"Masih aja protes udah di buat adil juga" ucap Nadin yang di setujui kak Damar.


Meski masih kesal namun akhirnya Mely terima juga karena ia memang tahu persis bahwa bunga berhasil di tangkap nya dan kak Afdal barengan, jadi membaginya menjadi dua memang keputusan yang baik.


Acara di lanjutkan lagi, semua orang tertawa bahagia.Mely dan yang lain mengambil banyak foto untuk nanti mereka kenang, sampai tak terasa senja sudah tiba.Mereka pun pamit pulang, Mely dan Nadin di antar pulang oleh kak Afdal dan kak Damar ke rumah tante Isma.


Karena cukup kelelahan malam itu mereka tak bermain seperti biasanya, malam itu pun Mely habiskan dengan mengobrol di kamar bersama Nadin.Bunga yang dia dapat dari pernikahan Sely dia taruh di dalam vas bunga di kamarnya.


"Emang kalau dapet bunga ginian bakal dapet jodoh ya Din?" tanya Mely sambil memperhatikan bunga tersebut.


"Mitosnya sih gitu, katanya orang yang dapat bunga itu gak lama lagi dia juga bakal nikah.Tapi ya... terlepas dari semua itu gue yakin lu pasti bakal ketemu jodoh lu, orang yang bakal setia nemenin lu sampai akhir khayat.Cuma gue gak tahu kapan jodoh lu bakal dateng karena itu Rahasia Tuhan" jawab Nadin.

__ADS_1


"Terus kalau gue dapetnya setengah gimana?" tanya Mely masih penasaran.


"Ah, dasar lu....kan gue bilang itu cuma mitos, mau lu dapet setengah atau utuh ya tetep mitos namanya.Gak terlalu ngaruh juga lagian nih ya orang-orang berkumpul berebut bunga itu 90% karena itu adat istiadat yang emang seru aja gitu... " jawab Nadin mulai kesal.


Mely mengangguk-nganggukan kepala, ia memang tak terlalu percaya tapi setelah mendapatkan bunganya entah mengapa ia merasa memang jodohnya akan segera datang, teringat sebagian bunga yang di dapat kak Afdal membuatnya sadar selama ini kak Afdal selalu ada untuknya terlebih kadang ia merasa gugup bila sudah di situasi romantis dengan kak Afdal, mungkinkah ia menyukai kak Afdal? mungkinkah jodohnya itu kak Afdal?.


"Besok bangunin gue pagi ya?" ucap Nadin membuyarkan lamunannya.


"Oh, iya" Jawab Mely.


* * *


Nadin pulang ke Jakarta dengan cepat tentu karena ia harus bekerja, Mely dan yang lain juga kembali pada rutinitas mereka masing-masing, Satu-satunya yang merasakan hidup berbeda tentu Sely dan kak Deni yang memulai rumah tangga mereka.


Dalam waktu satu minggu itu mereka juga hanya bertemu dua kali untuk sekedar ngopi bareng hanya bertiga tanpa kehadiran Sely dan kak Deni, memang sepi kekurangan begitu terasa namun tak mungkin juga mereka mengganggu pengantin baru.


Di tengah malam itu Mely yang tak bisa tidur tiba-tiba berfikir bagaimana bila kak Damar juga sudah menikah apakah ia dan kak Afdal masih bisa main bareng walau hanya berdua? mungkin bisa karena mengingat mereka sudah sangat dekat, tapi bagaimana bila kak Afdal yang menikah? bisakah persahabatan mereka tetap terjalin? bisakah mereka tetap bertemu dan main bersama?.


"Sial, pikiran seperti sangat ku benci, tapi suatu saat mereka juga pasti menikah dan suatu saat kebersamaan ini pasti hanya jadi reuni" ucap Mely pada diri sendiri.


"Hai Din apa apa? ko malam banget nelponnya!"


"Mel, lu besok bisa ke Jakarta gak?" tanya Nadin gusar.


"Emang ada apa?"


"Ada yang perlu gue omongin sama lu, ini penting"


"Emang masalah apaan sih?" tanya yang di buat penasaran.


"Eh, gak usah deh Mel biar gue aja yang ke sana, lu libur kerja kan besok? paling gue nyampe siang ya"


"Oke, tapi masalah apa dulu sampe kamu bilang penting"

__ADS_1


"Udah pokoknya besok gue ke sana, ini udah malem gue tutup dulu telponnya ya bye"


Telpon pun di tutup tanpa menunggu Mely menjawab, rasa penasaran menghantuinya hal penting apa yang membuat Nadin menelpon di tengah malam dan memutuskan menemuinya besok? tentu hal itu yang membuat Mely tak bisa tidur nyenyak sampai pagi.


Sampai Nadin benar-benar datang siang hari dengan memasang wajah serius, tak banyak bicara dan seolah sedang mengumpulkan keberanian.Wajahnya gusar dan tak tenang meski sudah minum segelas air putih.


"Ada apa sih Din? ko kamu gugup gitu?" tanya Mely yang masih saja penasaran.


"Oke oke, tapi lu janji lu gak akan marah!"


"Oke aku gak bakal marah" jawab Mely tak sabar.


"Gak... gue maunya lu janji, pokoknya apa pun yang gue bilang lu gak bakal marah"


"Iya Nadin.. aku janji"


"Oke... karena apa yang bakal gue omongin pasti bikin lu kesel"


"Emang ada apa sih, tolong jangan bikin aku penasaran, ngomong aja langsung" ucap Mely mulai kesal.


"Oke.... " sejenak Nadin menatap mata Mely dan akhirnya ia memutuskan bahwa ia akan mengatakannya karena tujuan ia datang ke sini pun adalah untuk memberitahunya akan hal ini.


"Gue mau kasih tahu lu... kalau.... Jordan pengen ketemu sama lu" ucap Nadin akhirnya sambil menelan ludah.


"Apa?" tanya Mely pelan merasa tuli.


"Gue bilang, Jordan pengen ketemu sama lu" ulang Nadin.


Mely menelan ludah susah payah, berbagai pertanyaan muncul di kepalanya dengan serentak namun meski rasa penasaran menghantuinya ia berkata dengan dingin.


"Tidak"


"Mely, gue mohon lu dengar dulu penjelasan gue, Jordan yang ini beda.Dia adalah Jordan yang kita kenal dulu yang cinta sama lu, yang akan berniat buat nikahin lu"

__ADS_1


"Maksud kamu apa sih?"


"Jordan.. dia... dia kecelakaan"


__ADS_2