
Sesuai janji Mely dan Jordan pergi nonton bersama, Mely memilih film komedi walau hatinya sangat ingin nonton film horor. Ia tak tega melihat Jordan ketakutan, ia takut nantinya Jordan jadi mimpi buruk karena nonton film seram.
Semua berjalan lancar seperti biasa, mereka menikmati filmnya dan setelahnya asik ngobrol.
"Kata Nadin kamu lagi nyari kerjaannya ya di sini?"
"Iya, aku baru aja berhenti dari Kerjaan aku di bali, jadi mau nyoba di sini, siapa tahu ada jodohnya"
"Waktu di Bali kerja apa?"
"Di restoran, rencananya di sini juga ya nyari kerjaan di restoran lagi"
Mely mengangguk-angguk, sejenak kesunyian menghampiri mereka. Mely tak tahu harus bertanya apalagi, rasanya ia sudah kehabisan kata-kata.
"Ada apa?"
Tanya Mely saat sadar sedari tadi Jordan meneliti wajahnya, dan senyumnya yang membuat Mely salah tingkah.
"Tidak ada, aku hanya kagum melihat kecantikan kamu, begitu sempurna dan indah"
Mely tersenyum, senyum malu khas seorang gadis anggun. Jordan meraih tangan Mely, menggenggamnya dengan lembut dan matanya menatap mata Mely dengan lekat. Tindakan itu cukup memberi tahu Mely bahwa sedang serius.
"Aku gak tahu harus mulai dari mana, tapi sejak pertama kali ketemu kamu, aku..... udah jatuh hati sama kamu"
Jordan berhenti sebentar untuk melihat ekspresi Mely, dan yang ia temukan hanya senyum manis.
"Aku gak tau gimana perasaan kamu ke aku, aku minta maaf jika aku nyinggung kamu. Tapi sungguh aku sayang kamu, dan maaf aku belum bisa ngasih kamu apa-apa untuk membuktikan keseriusan aku, aku cuma berharap kamu bisa balas ketulusan aku, aku.... sayang... kamu.. "
Jordan masih menatap Mely mencoba mencari tahu isi hati Mely lewat matanya, dan ia tak menemukan apa-apa, Jordan mulai melepaskan genggamannya secara perlahan sembari menundukkan kepala. Namun Mely akhirnya bicara.
"Aku rasa aku bisa"
"Maaf?"
Tanya Jordan memastikan apa yang dia dengar.
"Aku rasa aku bisa menerima kamu, setelah hari-hari yang kita lewati semakin hari aku semakin mengenal kamu. Dan di hati ini juga mulai tumbuh rasa sayang yang sama"
Mely tersenyum, dan tentu Jordan membalas senyum itu sedang tangannya menjadi lebih erat menggenggam.
***
"Apa...?"
__ADS_1
Tanya Nadin lagi merasa tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Mely yang tak tahan berdiam diri tentu segera mengabari berita baik itu kepada sahabatnya, orang yang telah mempertemukannya dengan pria yang tepat, meski Mely hanya bisa memberi tahu lewat telepon.
"Gue bilang gue udah jadian sama Jordan"
"Serius? aaahhhh...... selamat ya my friend, gue yakin lu gak akan nyesel, Jordan itu orangnya baik dia pasti bisa bahagiain lu"
"Iya thanks juga karena lu udah mau support gue sampe sekarang, terimakasih buat semua nasihat dan perhatian lu"
"Sama-sama gue pasti dukung kalian, dan selamat ya buat kalian"
"Thanks ya Din, oke gue tutup ya teleponnya"
"Oke, bye Mel"
Setelah menutup telpon, Mely berbaring di tempat tidur di depan matanya langit-langit kamar berwarna putih dan lampu yang menyala terang tapi yang ia lihat adalah wajah tampan Jordan. Dia akui ia pun cukup terkesan pada lelaki itu.
***
Waktu terasa lambat berjalan bagi Mely, ia sudah cukup lelah bekerja dan ingin segera pulang. Dan tentu itu bukan alasan utama, ada hal lain yang membuatnya ingin cepat pulang.
Bel nyaring berbunyi tanda hari kerja telah usai, Mely segera merapikan diri dan bergegas keluar. Saat berjalan ia berpapasan dengan Dewi dan mereka pun jalan bersama sampai tempat parkir.
"Mel lu mau gue antar pulang?"
"Bener nih, kos-an lu kan jauh biar gue anter aja mumpung gue lagi baik"
"Beneran gak usah repot-repot , gue udah ada yang jemput kok" jawab Mely sambil tertawa.
"Hah siapa?"
Mely tak menjawab pertanyaan Dewi yang jelas-jelas penasaran, karena setahunya Mely tidak punya pacar. Mely berpamitan pergi duluan dan Dewi segera menghampiri motornya tancap gas untuk mencaritahu siapa yang menjemput Mely.
Tak jauh dari gerbang Dewi melihat Mely bersama Seorang pria tak butuh waktu lama ia langsung mengenali siapa pria itu.
"Bukannya itu Jordan ya, cowok yang waktu itu ikut jalan-jalan bareng. Owhhh jangan-jangan mereka pacaran lagi"
Ucap Dewi pada dirinya sendiri.
***
"Nunggu lama ya?"
tanya Mely saat ia sudah sampai di tempat Jordan menunggu.
__ADS_1
"Gak ko, cuma sebentar, ayo naik"
Mely menurut, mulai sejak hari itu Jordan sering mengantar jemput Mely kerja sampai semua teman Mely tahu kalau mereka pacaran.
Sejak hati itu juga Mely merasa kehampaan di hatinya semakin pudar dan mulai lenyap. Ia sungguh berfikir Jordan adalah segalanya baginya, kebahagiaan nya terus bertambah setiap kali Jordan membuatnya tersenyum. Kini bahkan rasa sayang dan cinta nya begitu besar untuk lelaki itu.
Tentu ia berbagi kebahagiaan itu dengan sahabat terbaiknya Nadin, Mely selalu menyempatkan waktu untuk ngobrol dengan Nadin. Seperti malam itu Nadin yang memilih untuk nginap di kamar Mely, menghabiskan sepanjang malam mendengar kebahagiaan Mely.
"Din lu kan sepupunya Jordan lu pasti tau kan Jordan tuh dulu orangnya kayak gimana sih, kan dulu lu juga pernah tinggal di Bali"
"Ya gue tau tapi gak banyak juga sih yang gue tau, tapi ada beberapa kenangan masa kecil dia yang gue inget"
"apaan tuh?"
"Gue inget dulu waktu kecil dia sering main tanpa pake baju, jadi tuh pas mandi kulitnya tuh belang badannya item dan pahanya putih sering banget dulu dia di ledekin uler belang eh dia jawabnya gapapa kan perpaduan kopi susu"
Mereka tertawa mendengar cerita Nadin, cukup lucu dan menghibur hati.
"Terus apa lagi yang lu tau tentang dia, tentang mantan-mantannya mungkin"
"Kalau masalah itu sih gue kurang banyak tahu, cuma sempet dulu tuh dia kan gak secakep sekarang dulu dia item dan jarang ngerawat diri, ya mungkin karena hobinya serving kali dan dia tuh di putusin pacarnya terus pacarnya itu milih cowok yang lebih cakep, eh gak lama Jordan langsung ngerubah diri dia ngerawat diri sampe bisa cakep kayak sekarang, dan pas ketemu mantan pacarnya mantannya tuh nyesel udah mutusin dia"
"owh gitu ya"
Nadin mengangguk, beberapa saat mereka saling berdiam dan Nadin kembali bicara.
"Dulu juga dia sempet nakal, gunta ganti pacar gitu asalkan seksi dan cantik pasti dia embat, tapi seiring berjalannya waktu, gue liat dia semakin dewasa dan kalau gak salah denger sih dia mau serius nyari calon istri"
"Masa? ko dia gak ngomong apa-apa sama gue, dan cuma ngajak gue pacaran gak ngajak nikah"
"Yaelah Mel, cowok tuh punya harga diri kali gak mungkin dia ngajak lu nikah sedang dia sendiri belum punya kerjaan.. Ntar lu mau di kasih makan apa sama dia kalau dia gak kerja, lagian kalian kan masih baru pacarannya, ya menurut gue sih dia ngajak pacaran sama lu karena dia sayang sama lu dan materinya tuh belum siap kalau harus nikahin lu"
"Iya ya."
"Kalau dia serius sama lu begitu dia dapet kerjaan dia pasti ngajak lu tunangan"
"Masa? ah sotoy lu mah"
"Dih lu gak percaya lu liat aja ntar"
Mely tak menjawab ucapan Nadin, tapi dalam hati ia pun berdoa semoga apa yang di ucapkan Nadin menjadi kenyataan. Ia sudah sayang dan siap untuk menikah kali ini ia berharap hubungannya akan sukses dan maju ke jenjang pernikahan.
Meski ia merasa khawatir harapannya akan menjadi mimpi lagi, tapi itu tak boleh terjadi. Kali ini harus menjadi kenyataan dan tak boleh ada satu pun penghalang. Tidak boleh.
__ADS_1