
Ia percaya bahwa kupingnya baik-baik saja tapi apa yang ia dengar sama sekali bukan hal yang biasa, selama hidupnya yang ia tahu inilah untuk pertama kalinya ada seorang pria yang memujinya.Antara gugup, malu dan bingung Nadin hanya bisa tersenyum kaku.
Tak banyak waktu yang mereka luangkan di rumah Nadin, mereka hanya santai-santai sebentar sampai rasa lelah hilang baru kemudian pergi lagi ke rumah orang tua kak Afdal, satu mobil kini lebih penuh, kak Deni sang supir tentu di temani Sely duduk di depan.Kak Damar dan Nadin duduk kursi tengah dan Mely duduk di kursi paling belakang bersama kak Afdal, tentu mereka paling berisik juga hingga suara mereka terdengar jelas di kursi paling depan.
Rupanya rumah orang tua kak Afdal tak terlalu jauh dari rumah Nadin, cukup waktu 30 menit saja dan mereka akhirnya sampai.
"Ah akhirnya kalian sampai juga" sambut ibu kak Afdal yang di susul Ocha.
"Hai tante, apa kabar?" tanya Mely yang memang sudah akrab.
"Baik, baik.. kamu sendiri gimana kabarnya?"
"Baik ko tan"
"Syukur deh kalau gitu, ayo semuanya masuk pasti kalian cape abis perjalanan jauh" ucapnya mempersilahkan.
"Lho ini Ocha kan?" tanya Nadin yang sambil mengingat.
"Iya, lu kalau gak salah Nadin ya" jawab Ocha yang juga mengingat.
"Kalian saling kenal?" tanya kak Afdal heran.
"Ya jelaslah mereka saling kenal, orang mereka pernah ketemu terus main bareng" jelas Mely.
"Lho ko bisa?" tanya pula Sely.
"Oh iya, jadi dulu tuh emang sempet di kenalin Mely kalau gak salah dulu kan bertiga ya" kata Nadin.
"Iya, Sarah ama Dewi"
"Ah, bener namanya Sarah ama Dewi eh gimana kabarnya?" tanya Nadin.
"Baik ko" jawab Ocha yang akhirnya mereka mengobrol sampai masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Kini Nadin pun tahu kalau ternyata Ocha adik kak Afdal, dan ia pun ikut tertawa begitu tahu cerita pertemuan mereka.Tak aneh juga bagi Nadin, karna ia tahu Mely mudah berteman namun kisah yang ini memang cukup lucu.
Sedang Mely tengah asik mengobrol dengan ibu Ocha yang di perhatikan terus oleh kak Afdal, untuk yang pertama kalinya ia menjadi dekat lagi dengan ibunya setelah sekian lama dan itu terjadi berkat Mely.
Sepulang mengantar Mely waktu itu dia sempat bicara dengan ibunya, meski hanya sebentar tapi waktu itu terasa menyenangkan.Ibunya terus saja memuji Mely dan seperti ibu kebanyakan ia menggoda kak Afdal soal kedekatan mereka meski mereka hanya berteman.
Mungkin tak ada senyum yang tersungging tapi dalam hatinya ia bahagia bisa bercanda lagi dengan ibunya, ayah tirinya pun malam itu rupanya memberitahu sebuah kabar gembira untuknya.Ia mendukung cita-cita yang tak seorang pun tahu sepenuhnya, dan dukungan itu di berikan dalam bentuk tiket.
Malam itu kak Afdal sadar ayah tirinya bukanlah orang yang jahat, ia hanya seorang pria yang mencintai janda beranak dua.Dan cinta tak pernah salah, ayah tirinya sudah meminta maaf berulang kali namun di umurnya yang sekarang ia tahu dirinyalah yang salah, anak berumur lima tahun tidak mengerti soal cinta dan menghadapi masa depan karna itu jika ada yang harus di salahkan anak itu akan memilih menyalahkan ibu dan ayah tirinya munkin juga ia menyalahkan Tuhan yang telah mengambil ayah kandungnya.
Semua sudah berlalu, sekarang dia datang kerumah orang tuanya buka sebagai tamu tapi sebagai anak yang rindu suasana keluarga karna itu tanpa canggung ia pergi ke dapur dan menyiapkan makan malam.
Senyum tak habis tersungging dari wajah ibu Ocha, melihat putra tersayangnya masak di dapurnya lalu makan bersama sekeluarga dan teman-temannya bahkan ia duduk di samping ayah tirinya.
"Itu sayur asem ya.. " tanya ayah tiri kak Afdal menunjuk.
"Iya, ayah mau?" tanya kak Afdal dengan nada dingin namun tersirat sebuah kasih sayang di dalamnya.
Kak Afdal pun bangkit dan mengambilkannya untuk ayah tirinya, sebuah momen bahagia di mata ibunya.Belum pernah ia melihat suami dan anaknya sedekat ini apalagi kak Afdal dulu menyimpan rasa dendam padanya, semua kebahagiaan ini berkat Mely.Entah apa yang di lakukan Mely tapi ia telah mengubah kak Afdal menjadi anak baik seperti dulu.
Makan malam itu habis dengan cepat, semua mengakui bahwa masakan kak Afdal memang enak.Semua pergi depan untuk santai sambil mengobrol sedang ibu Ocha sendiri sibuk mencuci piring.
"Tante ini piring terakhir" ucap Mely menyerahkan setumpuk piring kotor.
"Oh iya sayang sini biar tante cuci semua"
"Banyak juga ya cuciannya biar aku bantuin deh tan" ucap Mely tak tega melihat ibu Ocha yang bersih-bersih sendiri.
"Gak usah, kamu ke depan aja gih sama yang lain kamu kan tamu masa ikut bantuin cuci piring sih"
"Gak apa-apa ko tan, lagian gak enak masa aku cuma makan doang"
Karna Mely bersikukuh akhirnya ia di beri ijin membantu, asik cuci piring sambil mengobrol tak di sangka Ocha memperhatikan dari belakang saat ia hendak mengambil minum.Sejauh yang ia tahu Mely memang orang yang baik, mandiri, dan ceria.Tak hanya ibunya Ocha pun sadar kak Afdal berubah saat mengenal Mely, jika di perhatikan kedekatan mereka pun spesial.
__ADS_1
"Cha, eh... dasar tokek di suruh ngambil minum malah ngelamun di sini" ucap kak Afdal mengagetkan nya.
"Sssssstttt diem ******" jawab Ocha memberi isyarat untuk diam.
"Ada apaan sih?" tanya kak Afdal pelan.
"Gue lagi liatin pacar lu ngobrol sama mamah"
"Hah pacar gue siapa?" tanyanya heran, dan setelah dia ikut melihat rupanya Ocha sedang memperhatikan ibunya sedang asik ngobrol dengan Mely.
Seketika wajahnya menjadi merah padam tentu membuat Ocha semakin suka menggoda abangnya.
"Cieee, ko langsung merah sih mukanya"
"Apaan sih lu, pacar siapa lagi, dia bukan pacar gue cuma temen udah ah... ayo cepet ke depan minumannya udah di tungguin tuh."
Meski Ocha masih menggodanya tapi dengan kasar kak Afdal menarik tangannya untuk pergi dari tempat itu.
Menjelang sore mereka pun pamit untuk pergi lagi, karna tak memiliki waktu banyak akhirnya mereka hanya pergi ke Ancol dan kafe untuk mengobrol.Hingga tak terasa waktu sudah malam mereka memilih pergi ke monas duduk di bawah langit malam yang cerah dan saling bercanda.
"Eh kapan-kapan kita liburan ke Bandung yu, kita kemah pasti seru deh" ucap Nadin memberi saran.
"Kayaknya seru juga, nikmati udara bebas, liat pegunungan" jawab Kak Damar menyetujui.
"Boleh juga, tapi kapan? sebentar lagi kan kak Deni ama Sely mau nikah, apa kalian bisa ikut meski udah nikah nanti?" tanya Mely
"Kenapa gak? kalau ada waktunya ya kita berangkat" jawab kak Deni membuat Mely senang.
Entah kapan rencana itu bisa terwujud namun mendengar dan merencanakan pergi berlibur bersama mencoba hal baru sudah terdengar menyenangkan dan membuat semangat.
Sayangnya, kebersamaan yang ini harus berakhir.Malam semakin larut mereka harus pulang ke Bogor dan Nadin juga harus istirahat karna besok ia harus kerja.
Meski mereka pasti akan bertemu lagi nanti, mungkin di acara pernikahan kak Deni dan Sely tapi tetap saja kak Damar merasa waktu yang sudah ia habiskan dengan Nadin kurang cukup.Ia sadar bahwa hatinya terbuka cukup mudah untuk membuat Nadin masuk di dalamnya.
__ADS_1