Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
Eps. 59


__ADS_3

Semua bayi yang terlahir kedunia ini adalah anugerah suci dari Yang Maha Kuasa.Namun, sayangnya diantara mereka ada sebagian bayi yang terlahir dengan cap anak haram karena lahir dari hasil zina.


Berdalih cinta padahal nafsu, itulah yang Dina sesalkan saat ini.Andai ia simpan saja cinta itu, andai ia tak tergoda dekapan hangat itu, andai ia berbesar hati menggugurkan.Tapi, ia tak mampu menolak kenikmatan yang sesaat itu.


Ia yang telah berdosa melucuti pakaiannya sendiri, tersenyum dan membelai, kini harus menelan kepedihan di depak suami tercinta.Airmata yang hampir habis itu membuat matanya bengkak, sesekali tangan yang sedang membereskan barang-barangnya dia gunakan untuk menghapus airmata.


Nasi telah menjadi bubur, kini kakinya harus melangkah pergi membawa serta cinta yang masih ia jaga.Selesai sudah semua barang dan pakaian dia benah dalam tas, penuh pilu di tatapnya buah hati yang menjadi awal kebahagiaannya dulu.


Wajah mungil, dan senyum manis sesekali di tengah tidur nyenyak, betapa semua orang akan luluh melihat betapa imutnya bayi itu, tapi itu tak berlaku pada Dina meski dia adalah ibu kandung dari bayi itu.Karena mengandung bayi itu ia dapat posisi indah sebagai istri Jordan, tak di sangka karena bayi ini juga kini dengan mudahnya ia di usir begitu saja.


"Andai kau tak ada di dunia ini, mungkin aku tidak menikah dengan mas Jo, jika aku tidak menikah dengannya saat ini aku pasti tidak akan di buang begitu saja" ucapnya pada bayi yang masih belum bisa bicara.


Marah, kecewa dan benci membuat sepasang tanduk iblis mencuat di atas kepalanya, di liriknya sebuah gunting besar di atas laci.Tangannya yang sedari tadi terkepal mulai mengayun mengambil gunting tersebut.


"Kesalahanku telah melahirkanmu" gumam Dina.


Dengan kuat tangannya memegang gunting dan mulai mengayunkannya ke arah bayi yang sedang tidur itu.Hanya dengan satu ayunan, sudah cukup dan semua akan berakhir.


"Tidak.... " teriak Mely yang tiba-tiba datang dan mendorong Dina hingga jatuh tersungkur.


Dengan panik Mely segera memeriksa keadaan sang bayi, bersyukur Mely tak melihat sedikit pun luka padanya.


"Apa yang sedang kau lakukan? apa kau sudah gila?" teriak Mely memarahi.


"Heh, apa urusanmu? kau tidak berhak mencampuri kehidupanku" jawab Dina dingin.


Dengan perlahan Dina bangkit masih dengan memegang gunting, mata bencinya masih tertuju pada bayi itu.Dengan ngeri Mely menggendong bayi yang terbangun dan menangis keras itu.


"Aku tak menyangka, seorang ibu mampu melukai darah dagingnya sendiri, sudah hilangkah kasih sayangmu pada anak ini?" tanya Mely iba.


"Kenapa kau repot-repot melindungi anak itu, bukankah dia penyebab semua kekacauan ini? bukankah dia alasan mengapa mas Jo tega meninggalkanmu? bukankah dia pula alasan mas Jo kini membuangku?" ujarnya marah.

__ADS_1


"Tidak, kau salah.Selama ini adalah pertempuran antara kau dan aku, selama ini kita memperebutkan Jordan.Maka dari itu yang salah bukanlah bayi ini tapi Jordan, aku dan kau.Bayi ini tidak pernah bersalah meski dia lahir dari hubungan terlarang" jawab Mely tegas.


"Berikan bayi itu!" ucap Dina pelan namun dengan nada dingin.


Mely menggeleng, dan terus mendekap bayi yang tengah menangis itu dengan erat saat Dina memaksa dengan keras.


"Berikan, berikan bayi itu padaku... " teriak Dina yang mencoba melepaskan pelukan Mely.


"Tidak, tidak... " teriak Mely mendorong Dina hingga ia berhasil melepaskan diri.


Dengan cepat Mely berlari keluar kamar dan menuju tempat Jordan dan ibunya.Di tengah kekhawatiran Mely yang masih memeluk bayi itu dengan cukup erat sembuyi di belakang punggung Jordan.


"Mely ada apa?" tanya ibu Jordan bingung.


"Sayang kamu kenapa?" tanya pula Jordan berbalik dan memegang pundak Mely.


"Dina, dia... dia mencoba membunuh bayi ini" jawab Mely ketakutan.


"Tidak, aku tidak akan pernah memberikannya padamu" jawab Mely tegas.


"Kenapa? dia bukan darah dagingmu, kenapa kau harus melindunginya? bukankah bayi itu lebih baik mati? ayahnya sendiri sudah tidak menginginkannya lagi" tanya Dina dengan mata tertuju pada Jordan.


"Dina, ibu tak menyangka kamu bisa begitu kejam pada anakmu sendiri" ujar ibu Jordan ngeri.


Tak ada jawaban, Dina hanya menatap pada Jordan tanpa berkedip.Kepedihan hatinya telah membuatnya kalut.


"Tak ada yang menginginkan bayi itu, untuk apa dia hidup jika tak ada seorang pun yang menyukainya" jawab Dina akhirnya.


"Aku mau" ucap Mely mengagetkan semua orang.


"Kau... mau anak ini? kenapa? dia hanya anak haram dari wanita yang telah merusak kebahagiaan kita" tanya Jordan.

__ADS_1


Mely menggeleng, sebuah senyum manis khasnya mengembang, kini penuh dengan kasih sayang dan tatapan cinta tertuju untuk bayi yang masih menangis.Mely mencoba menghentikan tangisan pilu sang bayi sebisanya dan menjawab.


"Naluri seorang ibu takkan pernah bisa melihat bayi terluka, meski aku belum pernah mengandung dan melahirkan, tapi aku yang nanti akan menjadi ibu takkan pernah bisa tega melihat seorang bayi di bunuh di depan mataku.Aku tidak pernah membenci bayi ini meski dia anak dari wanita yang aku benci, kenapa? karena bayi ini tidak bersalah, yang salah adalah orangtuanya.Yang aku benci adalah Dina bukan anaknya"


Pantas Jordan sangat mencintai Mely, hati yang baik bak bidadari dengan wajah cantiknya.Penuh syukur Jordan menatap Mely dan dengan bangga ia berdiri di depannya untuk melindungi.


"Aku adalah ibu kandungnya, terserah apa yang akan kulakukan padanya kau tidak berhak ikut campur" ucap Dina yang tak goyah.


"Tapi aku adalah ayah tertulisnya, meski DNA ku tak ada padanya tapi dalam kartu keluarga aku adalah ayah dan walinya, meski kita bercerai aku masih berhak mendapatkan hak asuh atas anak ini, maka aku melarangmu untuk menyentuh bayi ini" jawab Jordan.


"Kenapa? bukankah mas tidak menerima kehadiran kami? bukankah mas benci pada bayi itu? kenapa sekarang mas Jo melindunginya"


"Karena aku punya hati, sama halnya dengan Mely siapa yang tega melihat seorang bayi lemah di lukai.Yang justru tak aku mengerti kenapa kau ibu kandungnya sendiri malah mau menghabisi nyawanya, apa yang membuatmu gila seperti ini?"


Dina tertawa keras mendengar pertanyaan Jordan, tawa yang mengerikan di penuhi amarah, benci, sakit, kalut.Dengan sedih di tatapnya Jordan dan menjawab.


"Kau bertanya apa? aku mencintaimu dengan seluruh jiwa dan ragaku, tak peduli kau kepunyaan oranglain dengan senang hati kuberikan tubuhku untuk kau nikmati, dengan senang hati ku kandung anakmu, dengan bahagia ku berdiri di sampingmu sebagai istri.Kau buat aku gila dengan membawaku terbang jauh dan ketika kita akan sampai di kebahagiaan yang haqiqi tiba-tiba kau jatuhkan aku dengan kasar.Bagaimana mungkin aku tidak gila sedangkan rasa sakit menggerogoti batinku."


Airmata mengalir di pipinya, kepedihan yang tengah dirasakan Dina saat ini telah lebih dulu di alami Mely karena itu airmata Mely pun ikut jatuh.Kini semua hutang telah terbayar sudah, Kegilaan yang di alami Mely telah Dina rasakan juga.


Pahitnya terbuang, sedihnya ditinggalkan, kecewanya di abaikan bahkan mencoba menghilangkan satu nyawa pun ikut Dina alami juga.


"Jordan, sebaiknya saat ini biarkan Dina tinggal di sini dulu.Biarkan dia tenangkan fikirannya dulu, aku gak mau sampe bayi yang tak berdosa ini kenapa-kenapa" bujuk Mely pelan.


"Aku tidak bisa menerimanya" jawab Jordan.


"Tapi aku takut dia akan mencelakai bayi ini lagi" ucapnya bersikeras.


Jordan menghembuskan nafas berat, ia paling tidak bisa menolak permintaan Mely maka dengan berat hati ia bicara kepada Dina yang masih menangis tersedu-sedu.


"Baiklah, aku sudah memutuskan kau boleh tetap tinggal di sini tapi dengan syarat.... "

__ADS_1


__ADS_2