Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
eps. 10


__ADS_3

Balon warna warni telah siap di pajang, bunga-bunga harum nan indah tak lupa menghiasi setiap sudut tempat, meja beralas kain putih bersih di hiasi juga oleh bunga mawar merah yang menyala dan sebuah cake bertuliskan happy unniversary.


Ya ini adalah hari jadian Mely dan Jordan, genap setahun sudah mereka pacaran dan begitu banyak cinta, perhatian, kasih sayang juga kebahagiaan yang telah Jordan berikan pada Mely.Ia tak tahu harus bagaimana membalasnya hingga tersirat dalam pikirannya untuk merayakan hari jadi mereka.


Mely sudah meminta Jordan datang ke tempat yang ia persiapkan, namun dua jam sudah Mely menunggu sejak Jordan bilang iya tapi ia masih blm datang juga.


Mely mulai gusar takut kalau-kalau Jordan tidak bisa datang, ia sudah menyiapkan semua ini demi hubungan mereka dan ia tak ingin momen bahagia ini hancur begitu saja karna prasangka buruk.Hari yang mulai sepi dan tak ada tanda-tanda kedatangan Jordan membuatnya lelah hingga tanpa sadar Mely ketiduran di meja.


* * *


Jordan berlari sekuat yang dia bisa, ia tahu ia sudah sangat terlambat dari janjinya tapi tetap saja ia pasti akan datang ke tempat yang di suruh Mely.Andai tadi ban motornya tidak kempes tentu ia sudah tiba, memilih naik taksi pun ternyata adalah pilihan yang salah karna ia terjebak macet yang parah.


Dalam hati ia sudah merasa bersalah dan takut Mely akan marah besar padanya, tapi yang ia temukan saat tiba di lokasi ternyata lebih menyakiti hatinya. Pemandangan yang indah dengan banyak balon dan bunga-bunga Jordan menemukan Mely yang tertidur di meja menghadap sebuah cake bertuliskan happy unniversary. Ia tak menyangka Mely menyiapkan ini semua demi dirinya, seketika hatinya hancur merasa tak berguna dan bodoh.


Ia ingat saat-saat kebersamaannya dengan sang pujaan hati betapa Mely hanya gadis sederhana yang cantik, sekecil apa pun itu Mely tak pernah meminta apa pun darinya, sejak ia masih menjadi pengangguran banyak wanita yang tak ingin menoleh padanya tapi Mely justru mau menemani hari-hari beratnya, hingga ia dapat pekerjaan ini pun hasil kerja keras Mely.


Mely..... kecintaannya, wanita yang ia perjuangkan justru berjuang sendiri demi dirinya. Jordan mengelus lembut rambut Mely dan selembut apa pun belaian itu tetap saja membuat Mely terbangun.


Mely menatap ke arah Jordan dengan kaget, dan Jordan hanya mampu membalasnya dengan senyum kepahitan.


"Jordan... kamu kapan sampai?"


"Barusan, maaf.... aku terlambat, maaf.... aku udah buat kamu nunggu, kamu bilang kamu ingin ngerayain hari jadi kita dengan ngabisin waktu sama aku, tapi justru kamu malah nyiapin ini semua demi aku"


"Bukan salah kamu, aku hanya ingin membuat hari yang istimewa ini lebih istimewa dari biasanya"

__ADS_1


Jordan kehabisan kata-kata mendengar ucapan Mely, ia tak tahu harus bicara apa atau berbuat apa.Melya yang sadar kecanggungan Jordan tahu apa yang harus ia lakukan.


sepanjang malam itu mereka kembali membicarakan apa saja yang telah mereka lewati selama setahun, terbilang cepat untuk memutuskan ke jenjang pernikahan tapi dari usia mereka sudah cukup matang untuk hidup berumah tangga. Jordan membicarakan konsep dan apa saja yang telah ia siapkan untuk acara pernikahan mereka, kini Mely menanggapinya dengan santai dan mendengarkan dengan seksama.


Tali yang rapuh itu kini terbungkus rapi hingga kuat terjalin, begitulah perumpamaan ikatan batin dua sejoli ini.Jordan kembali menjadi pria yang Mely banggakan dan Mely kembali menjadi pujaan hati yang cantik.


Sesibuk apa pun Jordan akan meluangkan waktu demi Mely, karna kebahagiaan yang sesungguhnya bukan terletak dari apa saja yang bisa ia berikan pada Mely tapi bagaimana cara ia memperlakukannya.


* * *


Ini bukan hari libur Jordan, esok juga bukan tapi Jordan mengirim pesan ia akan menemui Mely jam tujuh malam.Mely bertanya-tanya dalam hati apa yang ingin Jordan sampaikan secara langsung, padahal harusnya Jordan pulang kerja nanti malam sekitar jam 10-an.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Mely, saat ia membuka pintu senyum sumringan Jordan sudah mengembang di wajahnya.


"Ia aku buru-buru jalannya soalnya aku kan cuma istirahat sejam doank dan aku harus balik lagi ke tempat kerja"


"Ya ampun... kamu pasti kebut-kebutan deh di jalan, emang ada apaan sih sampe segininya?"


"Sebenernya di telpon juga aku bisa ngabarinnya, tapi aku lebih seneng kasih tau kamu secara langsung"


"Emang kamu mau ngasih tau apaan?"


"Aku mau kasih tau kamu kalau aku.... aku... udah... di angkat jadi kepala koki, aku jadi SPV"


"Serius? "

__ADS_1


Jordan mengangguk senang, Mely masih tak percaya dengan apa yang ia dengar tapi tubuhnya reflek memeluk Jordan.Senyum bangga dan bahagia tak bisa ia sembunyikan, kini Mely semakin dekat dengan mimpinya setelah pernikahan mereka Mely tak akan merasa resah bila Jordan tak ada kabar atau sibuk dengan pekerjaannya karna Jordan pasti akan pulang kerumah, dan Mely pasti menyambut kedatangannya dengan bahagia.


Mely masih ingin memeluk Jordan lama tapi Jordan malah melepaskannya dan wajah bahagia itu tiba-tiba berubah serius.


"Ada apa? "


"Selain kabar baik ini, aku masih ada kabar lainnya yang mungkin kamu gak seneng"


"kabar apa?"


Mely menelan ludah dengan susah payah, ia baru ingat Jordan baru tiga bulan kerja tapi ia sudah di angkat menjadi kepala koki. Demi mendapat jabatan itu tentu selalu ada harga yang harus di bayar.


"Aku terpilih jadi SPV karna pengalaman kerja aku yang bagus di tunjang dengan kinerja yang memuaskan, tapi aku gak akan mimpin di restoran ini.Aku di alihkan ke cabangnya di Bali, artinya seminggu lagi aku bakal pindah ke Bali"


"Kenpa? kenapa harus ke Bali? kenapa kamu di pindahin? "


"Katanya mereka memang membutuhkan SPV untuk di Bali, bukan buat di sini dan aku udah tandatangan kontraknya aku gak bisa nolak aku harus pindah ke Bali"


Tak ada kata yang bisa Mely ucapkan, ia ingin membantah tapi tak mampu, ingin marah tapi tak bisa.Bali tak terlalu jauh masih di negara yang sama Jordan pun berasal dari Bali, calon mertua Mely ada di Bali, setelah mereka menikah pun Mely mungkin tinggal di Bali apalagi kini Jordan di pindahtugaskan ke Bali.


Melya tak mampu berjauhan dari Jordan tapi ia pun tak punya kekuatan untuk mempertahankan Jordan di sini, senyum pahit merekah di wajah Mely, senyum yang menutupi keresahan dan kesedihan hatinya.


Dengan berat Mely melepaskan kepergian Jordan, dengan janji bahwa Jordan akan mengunjungi Mely setidaknya sebulan sekali paling lama.


Sebulan yang berat, yang penuh tanya..

__ADS_1


__ADS_2