Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
Spesial eps : Duri Yang Sesungguhnya


__ADS_3

Luka tusukan yang di dapat Mely cukup dalam, namun untungnya dia masih selamat dan bisa menjalani kehidupannya lagi dengan normal, meski begitu berita ini sangat mengejutkan tante Isma dia sudah berencana akan memberitahu kakaknya yang tak lain adalah ibu Mely namun Mely melarangnya, biarlah ini menjadi rahasia mereka saja.


Tentu karna semua yang sudah terjadi padanya telah membuat Mely di larang untuk hidup sendiri, jika berita ini sampai pada ibunya sudah jelas Mely akan di larang jauh dari orang tuanya, ia pasti tak kan bisa bertemu dengan teman-temannya.


Siang yang terik itu Nadin diantar tente isma pulang ke rumah untuk membawa pakaian ganti Mely, sedang di rumah sakit Kak Deni dan kak Afdal yang menjaga Mely.


"Itu kamar Mely, kamu bisa ambil pakaiannya di lemari" ucap Tante Isma pada Nadin.


Nadin segera masuk ke kamar yang di tunjuk dan dapat menemukan lemari dengan mudah, di keluarkan nya beberapa pakaian tapi matanya tak sengaja melihat sebuah kotak kecil saat memilah pakaian mana yang hendak ia bawa.


Rasa penasaran dalam hati Nadin mendorongnya untuk melihat kotak apa yang di simpan rapi itu, setelah memastikan keadaan aman dengan hati-hati ia membuka kotak itu, dan betapa kagetnya ia saat melihat isi surat yang ada dalam kotak itu.


"Rupanya ini surat yang di maksudkan Mely" gumam Nadin.


"Nadin, kamu sudah selesai merapikan pakaian Mely?" tanya tante Isma mengejutkan.


"I, iya sebentar lagi" jawab Nadin.


Dan dengan cepat ia membereskan pakaian Mely, di bawanya juga surat dari Kak Deni itu.Setelah tiba di rumah sakit dengan beralasan mencari buah-buahan segar untuk Mely, Nadin meminta keberadaan Reni kepada kak Afdal, tanpa memeberitahu maksud dan tujuan Nadin pergi ke tempat dimana Reni di tahan seorang diri.


Setibanya di tempat Reni di tahan, Nadin di beri ijin untuk bertemu meski dengan syarat waktu yang tak lama, di depan Nadin Reni bertingkah cuek dan tak peduli terlebih lagi ia tak mengenal siapa Nadin dan bahkan Reni seperti tidak peduli untuk apa kedatangan Nadin menemuinya.


"Apa kau tahu nomer loker Sely?" tanya Nadin tanpa basa basi.


"Aku tahu, memangnya kenapa? dan.... siapa kamu?"


"Berapa nomernya?" tanya Nadin lagi tanpa menghiraukan pertanyaan yang di ajukan Reni.


"205 memangnya kenapa? apa hubungannya denganmu?"


"Itu nomor lokernya yang dulu atau yang sekarang?"


"Yang sekarang, nomor lokernya yang dulu 301"


"Ya.... nomor loker Sely adalah 301 lalu loker itu di kosongkan dan di pakai oleh Mely, apa kau tahu itu? apa kau tahu Mely memakai nomor loker bekas Sely?" ucap Nadin menebak tapi bicara seolah ia sudah mengetahuinya dari dulu.


"Ya aku tahu, memang apa pedulimu?" tanya Reni tak sabar karna sedari tadi Nadin tak menjawab satu pun pertanyaannya.


"Kau mengetahuinya tapi orang yang kau cintai tidak"


"Maksudmu?" tanya Reni tak mengerti.


Nadin menyerahkan surat dari Kak Deni untuk Sely, dengan sedikit curiga Reni mengambil surat itu dan membacanya, awalnya dia seolah ragu tapi setelah semakin lama membaca ia semakin sadar bahwa surat itu adalah informasi berharga untuknya.


Reni membelalakkan mata, menatap kaget pada Nadin, tangannya gemetar seolah demam.


"Da.. dari mana kamu, bisa... mendapatkan surat ini?" tanya Reni gugup.

__ADS_1


"Sejak awal Deni tidak pernah mencintai Mely, jauh sebelum Mely ada Deni sudah jatuh cinta pada Sely namun ia tak kuasa menyatakan isi hatinya karna takut kau akan mencelakai Sely, lalu setelah Mely hadir Deni seolah memiliki kekuatan, ia berani mengambil keputusan untuk mencoba mendekati Sely lagi, coklat dan bunga di hari ulang tahun Sely tak sengaja Deni simpan di loker Mely karna ia tak tahu kalau Sely sudah berganti loker, dan di saat ibu Sely sakit dengan sukarela Deni memberi sejumlah uang untuk biaya rumah sakit, tentu ia juga menengok keadaan Sely dan ibunya"


Jelas Nadin panjang lebar, Reni menggelengkan kepala mencoba menolak fakta yang baru ia dengar.


"Jika kau memang benar mencintainya, harusnya kau bisa melihat mana orang yang dia cintai dan mana orang yang dia anggap seorang adik, bagi Deni Mely adalah adiknya yang dulu telah mati akibat kecelakaan, kasih sayang, perhatian dan kebersamaan mereka tak lebih dari seorang kakaberadik"


"Tapi Mely bertingkah seperti pacarnya, dan.... dan... dan dia juga terus membuatku cemburu, dia... " Reni tak sanggup mengatakan kalimat selanjutnya karna airmata sudah mengalir di pipinya tapi menyekat tenggorokannya.


"Tidakkah kau bisa merasakan bahwa Mely sedang melindungi kakak dan sahabatnya? tidakkah kau menyadari bahwa ia sengaja melakukan itu semua agar ia bisa jadi kambing hitam? agar Sely selamat dari ke egoisanmu? jika kau masih tidak percaya padaku mintalah pada polisi untuk mempertemukanmu dengan Deni dan tanyakan kebenarannya padanya"


Nadin bergegas pergi meninggalkan Reni yang sedang menangis tersedu-sedu.


* * *


Meski saat ini Reni sudah di tahan oleh pihak berwajib tapi hati Mely masih merasa tak tenang, ia takut kalau-kalau suatu saat Reni akan membalaskan dendam, Kak Afdal yang mencoba mengajaknya bercanda sedari tadi pun tak begitu ia layani.


"Mel, Kira-kira kalau infusannya gue cabut gimana ya?" tanya Kak Afdal iseng karna Mely yang terus saja melamun.


"Ih jangan di cabut dong kan sakit" jawab Mely marah.


"Abis lu dari tadi di ajakin ngomong gak nyaut" ucap kak Afdal sambil tersenyum.


Mely kembali pada lamunannya tanpa mempedulikan ucapan Kak Afdal, sadar di cuekin kak Afdal mendekati wajah Mely hingga nafasnya beradu dengan nafas Mely.Kaget tiba-tiba di dekati Mely menjauh tapi Kak Afdal terus mendekat hingga akhirnya kening mereka beradu dan dengan mata tertutup Kak Afdal berbisik.


"Gue tahu lu khawatir, tapi lu gak usah ampe ngelamun terus, semua pasti baik-baik aja"


"E, eh lu udah balik din" ucap Mely kaget.


"e... ya, gue udah bawain buah-buahan buat lu" jawab Nadin canggung karna merasa hadir di waktu yang salah.


"Kalau gitu gue keluar dulu ya, kalian ngobrol ja" ucap Kak Afdal dan dia pun pergi.


Dengan senyum nakal Nadin melihat ke arah Mely tentu dengan tatapan menggoda, wajah Mely seketika menjadi merah semerah jambu.


"Apaan sih din, senyum-senyum gitu" ucap Mely tak tahan.


"Dih kenapa? gue kan cuma senyum doang, eh ngomong-ngomong Deni mana?"


"Gak tahu, bilangnya keluar dulu"


Nadin tak bertanya lagi, ia hanya ingin memastikan Kak Deni menemui Reni dan semua rahasia yang di sembunyikan Mely segera terungkap.


* * *


Saat dalam perjalanan menuju rumahsakit kembali tiba-tiba Kak Deni yang mendapat telpon dari pihak kepolisian dan mengabarkan ada hal penting yang ingin di bicarakan Reni membuat Kak Deni putar arah dan menuju tempat Reni berada.


Meski sebenarnya ia enggan bertemu Reni tapi rasa penasaran dalam hatinya akhirnya membawanya pergi juga, sekalian ia juga ingin meminta Reni untuk berhenti mengganggu hidupnya.

__ADS_1


Setelah sampai petugas langsung mempertemukan Kak Deni dan Reni dalam satu ruangan.


"Tidak perlu basa basi, apa yang ingin kau sampaikan?" ucap Kak Deni dingin.


"Aku ingin bertanya padamu, apa kau tahu nomor loker Sely?" tanya Reni pelan tanpa memandang mata Kak Deni.


"Memang apa pedulimu? kenapa kau mempertanyakan hal ini?" tanya Kak Deni ragu.


"Karna ini akan menjawab semuanya, jadi jawab dengan jujur apa kau tahu nomor loker Sely" desak Reni.


"Ya aku tahu nomornya 301" jawab Kak Deni kesal setelah berfikir cepat bahwa menurutnya ini tak akan merubah apa pun.


"Lalu apa kau tahu nomor loker Mely?" tanyanya lagi dengan penuh harapan Kak Deni mengetahuinya tapi kak Deni menjawab tidak, yang artinya Nadin berkata jujur.


"Jadi kau tidak tahu kalau loker yang di pakai Mely saat ini adalah bekas loker Sely?" tanya Reni tak kuasa membendung air mata.


Kaget bukan main Kak Deni mendengar pertanyaan Reni,seketika ia terbayang akan bunga, coklat, dan kado berisi surat serta gelang yang Kak Deni simpan di dalam loker Sely yang ternyata itu adalah loker Mely.Reni menyerahkan surat yang di berikan Nadin padanya, meski ragu Kak Deni mengambil surat itu dan melihatnya.


Dan hal ini lebih mengejutkannya lagi.


"Bagaimana.... bisa... surat ini.. " tanya Kak Deni gugup.


"Surat dan gelang itu tak pernah sampai pada Sely, kau tahu kenapa? karna jika surat itu sampai padanya maka saat ini yang sedang terbaring di rumah sakit bukanlah Mely tapi Sely, bahkan mungkin saja Sely sudah tiada saat ini" ucap Reni.


Ia menghirup udara bebas dengan susah payah, mencoba menguasai diri agar mampu bicara dengan lancar meski air mata membanjiri pipinya.


"Aku mencintaimu Deni, sejak dulu dan aku tak bisa menerima kenyataan kau yang sudah membuangku, mungkin benar keegoisan ku sudah membuatku buta.Terbiasa di puja olehmu membuatku protektif bahkan gila perhatian darimu, mungkin cinta itu sudah lama punah tapi rasa haus perhatian mu membuatku tak ingin ada orang lain yang mendapat perhatian mu, aku ingin terus dan terus di perhatikan olehmu"


Kak Deni tak mampu bicara atau berbuat apa pun, Reni yang lemah yang butuh suport darinya tiba-tiba hadir kembali di hadapannya, Reni yang dulu ia cintai menangis tersedu penuh kemalangan.


"Saat melihat Mely mendekati mu aku sudah cemburu, aku hanya berniat memberinya pelajaran sedikit agar ia menjauhimu, awalnya itu berhasil menurutku tapi kau menyimpan bunga dan coklat di lokernya, lalu tiba-tiba saja kalian menjadi sangat dekat hingga membuatku terbakar emosi, merasa tersaingi dan gairah ku memuncak.Gairah untuk menghabisinya.... tapi.... tapi... aku salah paham, terlalu fokus pada Mely yang terus membuatku tersaingi sampai aku tak sadar bukan dia yang kau cintai"


Seiring tumpahnya keluhan hatinya airmata pun juga ikut tumpah tapi sentuhan tangan Kak Deni yang lembut membelai kepala Reni membuatnya sedikit lebih tenang.


"Aku tidak pernah mencintai Mely, bagiku dia adalah adikku yang berharga, dan kau tahu keluarga lebih penting dari segalanya.Mengetahui kau mencoba membunuh adikku rasanya aku ingin mencincang tubuhmu.Aku tidak ingin kehilangan adikku lagi" ucap Kak Deni sarat akan ancaman tapi ia utarakan dengan penuh pengertian.


"Aku merasa Mely adalah semacam duri bagiku, dia sangat tajam dan menusukku berulang kali, setiap aku mencoba memetik hatimu dia akan terus mencoba melukaiku.Tapi tak ku sangka duri yang kuanggap benalu justru sedang melindungimu, tajamnya hanya menghunus padaku bukan padamu.Andai duri itu tidak ada maka saat ini hatimu sudah ku petik dan akan layu seiring berjalannya waktu"


"Dulu ku pikir kaulah duri itu, yang hadir hanya untuk melukai" ujar Kak Deni dengan tersenyum.


"Siapa yang menjadi duri sesungguhnya aku tak tahu, tapi aku menyadari satu hal.Di tusuk oleh duri yang sama sebanyak aku mencoba memetik bunga itu akhirnya aku sadar bunga itu tak seharusnya ku petik."


Reni tersenyum, dan ada yang beda dari senyumnya kali ini terlihat begitu manis, begitu indah, begitu tulus.


"Aku akan mengakui semua kesalahan ku dan aku akan menebusnya, maafkan aku atas semua kesalahan ku dan tolong katakan pada adikmu, dia sangat tangguh meski dia hanya sebuah duri kecil, kau beruntung memilikinya"


Setelah sekian lama, untuk yang pertama kalinya lagi Kak Deni merasa goyah melihat Reni di bantu petugas meninggalkan ruangan.Wanita yang sempat ia cintai, dan lalu berubah menjadi wanita yang paling ia benci, kini berubah lagi menjadi ia sayangi.

__ADS_1


Ada rasa lega dalam hatinya karna kini ia sudah bebas dari belenggu yang selama ini mengekangnya tapi urusannya belum selesai hingga di sini, ia harus segera pergi menemui orang yang patas menerima tamparan darinya.


__ADS_2