Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
Spesial eps: Duri 19


__ADS_3

Semuanya serba putih, putih dan terang tak ada apa pun, tak ada siapa pun.Tapi tidak, sekarang aku melihat sesuatu, masih samar dia terlalu jauh.Aku berlari sekuat tenaga ingin sekali mengetahui apakah itu, dan aku tiba.


Sebuah pintu yang besar terbuat dari kawat berlapis emas, begitu megah dan indah.Di sebaliknya aku melihat padang rumput yang hijau, bunga-bunga bermekaran indah, air mancur yang mengalir terlihat segar. Aku ingin masuk ke dalam tapi di belakangku ibu memanggil.


Rupanya ingatanku di masalalu, tengah malam itu ibu bicara dengan serius.


"Ayah bangkrut Mel, semua aset sudah di jual buat ngelunasin hutang, rumah ini pun akan mamah jual"


"Terus kita mau tinggal dimana mah?"


"Kita pindah ke Bandung, mamah masih punya rumah warisan kakek"


"Bukannya rumah itu udah di jual ya"


"Gak jadi Mel, waktu itu tante kamu nyaranin buat di kontrakin aja lebih menguntungkan dan mamah setuju, mamah udah ngasih tahu sama yang ngontrak kalau kita bakal ngisi rumah itu, minggu depan kita pindah"


"Tapi mah, Mely udah betah di jakarta, Mely gak mau pindah"


"Terus kamu mau ngapain di Jakarta? mamah gak punya uang buat masukin kamu kuliah, mamah sama ayah udah sepakat kita bakal ngerintis usaha di Bandung"


"Gak apa-apa mah, Mel nyari kerjaan aja, lulusan SMA juga kan bisa kerja, entah itu di toko, di pabrik di mana aja.Biar Mely juga ngekos aja mah"


Saat itu mamah dengan terpaksa mengijinkan ku untuk bekerja, meski ia sangat ingin aku lanjut kuliah, tapi setelah aku berhasil mendapat pekerjaan terlebih hubungan ku dan Nadin terus berjalan mamah jadi lega.Karna aku bisa membantu perekonomian keluarga dan ada Nadin yang bisa ikut menjagaku.


Kenanganku kini beralih menjadi saat-saat aku bekerja di pabrik, selalu main dengan Ocha, Siska, dan Dewi.Saat-saat itu adalah hal yang paling menyenangkan, lalu berubah menjadi saat-saat dimana aku bertemu David.


Pria yang baik dan dewasa, kami cukup lama menjalani hubungan sampai satu ketika dia datang di derasnya hujan, beritanya membawa duka yang teramat dalam.


"Orangtua aku gak setuju Mel, dia minta kita akhiri hubungan ini"

__ADS_1


David sangat mencintaiku, dia sudah bicara akan meminangku tapi ibunya datang dan mengancamku.


"David itu pria baik-baik dari kalangan baik-baik, tidak mungkin saya merestui hubungan kalian ini yang sudah tentu beda kelas, sebentar lagi David akan lulus sarjana dan saya sudah menyuruhnya u ntuk lanjut kuliah di luar negri, kalau kamu memang mencintainya putuskan dia saat ini juga kamu tentu tidak ingin melihat dia di permalukan karna memiliki pasangan seperti kamu, yang tidak kuliah dan hanya kerja di pabrik"


Dengan berat hati aku harus rela mundur, lagi pun aku cukup sadar diri aku memang tak pantas mendampinginya.


Kenanganku berganti lagi, kini masa-masa indah bersama Jordan dan lalu penghianatannya, sebagian dari diriku merasa memang aku yang bersalah yang tak mampu menjadi pasangan yang baik bagi dirinya sehingga ia menjadi berpaling.


Tapi sebagian diriku yang lain menyalahkan pengkhianatan mereka, sehingga aku mencapai titip prustasi dalam hidupku, untuk apa aku hidup jika penderitaan yang terus ku alami.Di hina, dan di buang adakah hidup yang lebih baik dari ini? mungkin sudah saatnya aku meninggalkan semua kenangan itu, di sini lebih baik, lebih tenang, lebih damai.


"Mely, jangan tinggalkan aku"


Panggil seseorang padaku, suara yang sangat familiar.Kenangaku berubah, berganti menjadi wajah-wajah kak Afdal yang selalu ceria.Dia yang selalu rusuh, mengajakku berkelahi dan tertawa pada akhirnya.


Semua kenangan tentangnya, tentang kami berdua yang sedetik pun tak pernah memasang wajah cemberut.Hari-hari yang indah itu membuatku terharu, benar! aku masih punya dia yang selalu mengajakku tertawa.


Lalu ingatan tentang Masalalu Kak Afdal yang kesepian yang ditinggal pergi oleh orang yang paling berharga dalam hidupnya.Ya kami memang cocok mungkin selama ini kami tak menyadarinya tapi kami di pertemukan untuk saling mengisi kekosongan masing-masing.


Ya, aku tidak boleh pergi begitu saja, masih banyak hal yang belum aku rasakan, masih ada hal yang harus aku lakukan.


Tiba-tiba dadaku tetasa sesak, perlahan nafasku mulai tersekat dengan sekuat tenaga aku meronta-ronta menggapai apa pun yang bisa ku gapai.Aku merasakan sesuatu yang empuk menindih wajahku, aku coba menariknya, melepaskannya tapi sesuatu ataw seseorang memegangnya dengan kuat.


Ku coba untuk menggapai wajah orang itu tapi tanpa melihatnya itu sangat sulit di lakukan, terlebih nafasku terasa hampir habis.


"Haiiii.... " teriak seseorang.


Ku banting bantal yang menutupi wajahku yang tiba-tiba menjadi ringan, aku segera bangun menghirup udara bebas namun akhirnya terbatuk-batuk.


"Kak Mel, kak Mel baik-baik aja?" tanya seseorang yang ku yakin adalah Sely.

__ADS_1


"Tolong cepat panggilkan dokter" teriaknya.


Aku masih terbatuk-batuk dan mencoba bernafas sebisaku, meski begitu aku masih bisa mendengar seseorang yang sedang marah dan jeritan-jeritan.Dokter tiba secepat yang dia bisa, di suruhnya aku untuk menelantangkan tubuhku lalu dia memasang selang oksigen padaku dan menyuruhku untuk bernafas secara perlahan.


Aku menurut sampai batuk ku lama-lama berhenti dan aku bisa bernafas dengan normal, kulihat sekelilingku dan aku sadar aku sedang berada di rumah sakit, Sely menatapku dengan khawatir tapi dokter memberitahu bahwa aku baik-baik saja.


Kulihat juga Kak Afdal yang sedang mengawasi seseorang yang sangat mengejutkanku aku tahu siapa orang yang sedang dia awasi.


"Reni... apa itu kau?" tanyaku pelan.


Matanya yang merah menatapku tajam, bisa ku lihat jelas amarah yang berkecamuk di sana.Dia tak menjawab tak ada juga yang menjawab pertanyanku, setelah beberapa menit akhirnya aku bisa berfikir jernih dan menyadari apa yang telah terjadi, dengan mata hanya tertuju padanya aku bicara dengan jelas agar semua orang bisa mendengar.


"Reni... apakah kau yang menutup wajahku dengan bantal? apa kau yang mencoba membunuhku lagi?"


"Apa? lagi?" tanya Sely kaget.


"Ya, dia yang menusuk perutku dengan pisau dan sekarang menindih wajahku dengan bantal agar aku tidak bisa bernafas" jelasku.


Reni tak menjawab ia hanya masih memandangku dengan penuh benci.


"Aku gak percaya ini, kamu tega ngelakuin hal itu sama kak Mely, apa salah dia sehingga kamu berani mencoba membunuhnya?" tanya Sely penuh emosi.


"Sebaiknya aku membawanya ke kantor polisi agar kasus ini cepat di tangani" ucap kak Afdal.


"Tidak perlu membawaku ke kantor polisi, hari ini juga kita selesaikan masalah kita di sini" teriak Reni.


"Masalah? masalah apa?" tanya kak Afdal bingung.


"Deni itu milikku, hanya aku yang boleh memilikinya kau sama sekali tidak berhak, aku sudah mengikuti mu beberapa hari terakhir ini dan kau tidak pantas menjadi pasangan Deni, kau bilang Deni milikmu tapi kau pergi dengan pria ini, kau menghabiskan waktu mu dengan pria ini kau selingkuh dari Deni dengan pria ini, wanita seperti mu tak pantas menjadi kekasih Deni" teriaknya sambil menunjuk Kak Afdal.

__ADS_1


"Apa? kak Mel pacaran sama Kak Deni?" tanya Sely terkejut.


__ADS_2