Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
Spesial eps : Duri 10


__ADS_3

Hawa dingin begitu menusuk hingga ketulang, baru satu langkah kami masuk ke dalam sebuah benda melayang tepat di kepala kami, dengan mata merah dan rambut panjang aku tahu itu kuntilanak tawa hampanya begitu mencekam dan berganti tangisan yang pilu.


Sely menjerit ketakutan tapi untung ada Kak Damar yang menenangkannya, perjalanan kami lanjut.Di dalam sini cukup gelap satu-satunya cahaya hanya dari beberapa lampu berwarna merah dan lilin-lilin.Kami memasuki satu ruangan di mana pocong dengan wajah mengerikan tanpa mata menyambut kami, dia tak sendiri ada beberapa makhluk tinggi besar yang orang biasa panggil genderewo.


Kami berhenti sebentar karna aku ingin melihat jelas ada apa di ruangan itu tapi aku tak menemukan sesuatu yang menarik dan lagi Sely mulai menangis karna pocong itu mendekatinya.Aku tau sepanjang jalan ini dia tak sanggup membuka mata, kulihat dia berpegang kuat pada Kak Damar.


Kami melanjutkan lagi dan setelah tiba di ruangan berikutnya kami di arahkan naik ke sebuah kereta tanpa atap tentunya, hanya ada beberapa kursi untuk kami duduk.Setelah kami duduk rapi sang algojo yang mengarahkan kami mulai menggerakan tuas dan kereta pun melaju.


Ada banyak suara yang kami dengar dalam perjalanan menaiki kereta, ada tangisan pilu, tawa jahat, teriakan yang memekakan telinga, suara orang minta tolong dan suara-suara aneh lainnya.Belum termasuk dengan jumpscarenya, cukup menyeramkan dan lebih mengasyikan bagiku tapi tidak bagi Sely, dia benar-benar ketakutan dan aku tak tega melihatnya.


Untunglah setelah kereta berhenti kami hanya perlu melewati satu ruangan dan akhirnya menemukan pintu keluar, Sely berlari cukup jauh dari rumah hantu dan duduk berjongkok di tengah keramaian kami segera menghampirinya karna orang-orang merasa aneh melihat Sely yang ketakutan.


"Kamu baik-baik aja Sel?" tanyaku melihat wajahnya yang pucat.


"Biar aku cari minum dulu" ucap Kak Deni dan pergi.


Sely terlihat capek dengan nafasnya yang tak beraturan dan keringat di seluruh muka hingga lehernya.Kak Damar mengeluarkan sapu tangan dan me-lap kening Sely yang basah, dia pun mengintruksikan agar bernafas secara perlahan.


Ada sesuatu yang menarik perhatianku, tentang Kak Damar dan Sely. Entah hanya perasaanku saja ataw memang perhatian yang Kak Damar berikan sangat tulus, penuh kasih sayang dan cinta, mungkinkah Kak Damar memiliki perasaan lebih terhadap Sely?.


Sepanjang yang ku ingat Kak Damar memang memiliki sikap yang berbeda terhadap Sely, apa pun yang Sely lakukan selalu mendapatkan perhatiannya.


"Nih, minum dulu Sel" ucap Kak Deni membuyarkan lamunanku.


Kak Damar mengambil air yang di berikan Kak Deni dan membantu Sely minum.


"Maaf ya Sel, andai aku tahu kamu bakal kayak gini aku pasti gak bakal maksa kamu masuk" ucapku menyesal.


"Gak apa-apa ko Kak Mel, aku udah baikan ko" jawabnya dan mencoba tersenyum.


"Ya udah kita istirahat bentar ya, abis gitu kamu ngomong kamu mau ngapain nanti aku pasti lakuin"


"Apapun?"

__ADS_1


"Ya apapun yang kamu mau aku kasih sebagai permintaan maaf aku"


"Bener?"


Aku mengangguk sebagai jawaban, dan tanpa di duga Sely langsung bangkit dengan ceria dan berkata.


"Kalau gitu ayo ikut aku"


"Eh kemana? kamu gak mau istirahat dulu?" tanyaku kaget karna dia menarik tanganku.


"Gak usah bisa nanti istirahatnya" jawabnya.


Kami berlari mengikuti Sely dan dia rupanya membawa kami ke sebuah kedai eskrim.


"Lu pengen eskrim Sel?" tanya Kak Afdal.


"Iya, tapi bukan eskrim biasa"


"Eskrim jumbo....aku udah ngiler pengen eskrim ini tapi harganya mahal terus aku juga gak sanggup makan esnya sendirian, jadi kita patungan ya Kak Mel" ucapnya semangat.


"Ya ampun Sely cuma eskrim gini doank kamu tinggal ngomong aja ntar aku beliin" jawab Kak Damar yang membuatku makin yakin bahwa dia memiliki perasaan.


"Gak Kak, aku gak enak masa di traktir Kak Damar terus"


"Ya udah kamu beli aja yang traktir aku, kan sebagai permintaan maaf, yang lain mau juga gak?" tanyaku.


Kak Deni kurang berminat jadi kami hanya memesan dua saja untuk kami makan berempat, untuk pecinta eskrim melihatnya sekilas saja memang sudah bikin ngiler, ukurannya yang sebesar mangkuk dengan tiga rasa ada coklat, vanila, dan stobery di beri toping kismis, parutan keju, coklat batang, permen dan gula kapas.


Karna aku tak begitu suka manis jadi aku hanya sanggup makan beberapa suap saja, dan memilih minum kopi hangat bersama Kak Deni.


"Oh dalemnya ada potongan buah stobery, lu mau gak Mel? " teriak Kak Afdal.


"Mana mana?" tanya Sely karna ia tak menemukan.

__ADS_1


"Di dalem eskrim yang rasa stobery, lu cari aja paling dalam dia paling di dasarnya" jawab ka Afdal.


"Mau donk tapi buahnya aja jangan pake eskrim" jawabku.


Kak Afdal menyendok buah stobery itu dan memberikannya padaku tapi sebelum buah itu sampai ke mulutku dia tarik kembali tanganya dan memakan buah itu dengan ekspresi penuh kenikmatan.


"Kak Afdaalll.... " teriaku marah.


Dia hanya tertawa karna berhasil mengerjaiku, Ku ambil eskrim itu dari tangannya dan mengaduk-aduknya mencari buah stobery yang ku inginkan, tapi Kak Afdal melarangnya hingga membuatku berlari agar tak di ganggunya. Akhirnya kami malah main kejar-kejaran yang membuat yang lain tertawa.


"Udah cape belum? pulang yuk udah malam" tanyaku lebih tepatnya kepada Sely.


"Ayok pulang" jawab Sely.


"Mel kamu mau aku anter pulang?" tanya Kak Deni, aku melihat ke arah Kak Damar jika memang dia memiliki perasaan terhadap Sely maka sebagai kawan yang baik aku harus membantunya.


"Boleh, Kak Damar anter Sely pulang aja" ucapku.


"ok, ayo Sel" jawab Kak Damar.


Kami pun saling mengucapkan salam perpisahan dan pergi.


"Jadi kalian sering main sama Damar dan Afdal ya?" tanya Kak Deni di tengah perjalanan pulang.


"Iya, kenapa kak?"


"Gak ada apa-apa, cuma nanya doang"


"Owh... " jawabku singkat.


Setelah sampai di rumah aku mengucapkan terimakasih sebelum Kak Deni pergi meninggalkanku.


Hari ini begitu menyenangkan dan cukup melelahkan sampai-sampai aku tak sempat ganti baju karna sudah mengantuk dan tertidur begitu saja.Tak di sangka pagi hari aku mendengar kabar duka, Sely menelpon ku pagi sekali sambil menangis.

__ADS_1


__ADS_2