Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
Eps. 60


__ADS_3

Sepanjang hari, menit demi menit kak Afdal habiskan hanya untuk memikirkan perkataan Nadin.Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam ia tahu bahwa ada cinta yang tersimpan rapi untuk Mely, cinta yang belum siap ia utarakan dan sepertinya akan tersimpan terus.


Airmata Mely yang untuk pertama kalinya ia lihat, ungkapan cinta yang untuk pertama kalinya juga ia dengar dari mulut Mely sayangnya bukan untuk dirinya.Ia kini telah sadar sepenuhnya bahwa cinta yang ia simpan hanya akan membebani batinnya, maka dari itu di tulisnya sebuah surat khusus hanya untuk Mely.


Ketidakmampuan Kak Afdal berkata langsung, dan sadar betapa ciut nyalinya di hadapan Mely tak ayal membuatnya merelakan Mely memilih cintanya sendiri tanpa campur tangan dirinya.


Tinggal sehari lagi ia berangkat, dan pada saat itu ia akan titipkan suratnya pada Nadin.Karena ia tahu hanya Nadin yang mampu menyampaikan pesannya.


* * *


Dina kembali membereskan pakaiannya kedalam lemari, beruntung nasibnya masih baik Jordan menunda niatnya untuk bercerai hanya saja ia tidak boleh lagi mengasuh anaknya sendiri.Melylah yang di percaya untuk mengurus bayi itu, bersama Jordan dan di bantu ibunya.


"Apa tidak apa-apa jika dia hanya memakai pakaian tipis begitu? apa dia tidak kedinginan?" tanya Mely kepada ibu Jordan.


Di bantu ibu Jordan, Mely memandikan bayi itu dan memakaikannya pakaian.Syarat yang di ajukan Jordan hanya Dina tidak boleh ikut campur dalam mengurus bayi itu, karena itu meski serumah Dina tidak boleh sengaja menengok ataw melihat bayi itu bahkan Dina tidak boleh menggendong bayinya sendiri.


"Tidak apa-apa kan sudah siang udaranya panas jadi bayinya tidak akan kedinginan" jawab ibu Jordan.


Mely mengangguk tanda mengerti, ini adalah untuk pertama kalinya bagi Mely mengurus bayi jadi tentu ia merasa canggung bahkan sering takut salah, Ibu Jordan sangat paham bahkan mengerti maka dari itu dia sering membantu Mely.


Diam-diam Jordan sering melihat Mely mengurus bayi itu dan dia sadar Mely menikmati tugasnya, Mely sudah pantas menjadi seorang ibu, dan sifatnya yang ceria tentu bisa di sukai anak-anak.Hla inilah yang membuat Jordan semakin memantapkan hati untuk mempersunting Mely.


"Aku sudah memikirkannya, aku akan menceraikan Dina dan mengambil hak asuh atas anak itu, setelah itu aku akan menikahi Mely, aku yakin Mely bisa mengurus bayi itu meski bahkan bayi itu bukan anakku" ucap Jordan pada ibunya suatu malam.


"Ibu yakin Mely akan menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anaknya, kau lihat saja dia bisa mencintai anak yang bahkan lahir dari wanita yang telah merebut kebahagiaannya" jawab ibunya.


Mereka telah sepakat atas keputusan yang di ambil Jordan, dan dengan tidak sabar menunggu hari itu tiba.


"Ibu, bayinya terus menangis" ucap Mely yang tiba-tiba datang dengan wajah bingung.


"Ada apa sayang?" tanya Jordan.


"Aku tidak tahu kenapa tapi bayinya terus menangis, dia tidak buang air tidak juga kedinginan atau kepanasan aku jadi tidak mengerti harus berbuat apa"

__ADS_1


"Mungkin dia lapar" jawab ibu Jordan.


"Terus bagaimana?" tanya Jordan.


"Tentu saja kita harus memberikannya pada Dina, agar bayi itu bisa di beri asi" jawab Mely.


"Apa tidak akan terjadi apa-apa? aku takut Dina melakukan hal-hal yang mengerikan lagi" tanya Jordan khawatir.


"Tenang saja, kali ini dia pasti tidak akan macam-macam, biar ibu temani Mely" jawab ibunya.


Dengan segera Mely menggendong bayi yang masih menangis itu, dan di temani ibu Jordan mereka pergi ke kamar Dina untuk membangunkannya.


Dina yang walaupun sudah tidur tidak keberatan bangun untuk memberikan asinya, dengan di awasi ibu Jordan dan Mely seperti biasa Dina terlihat menyayangi bayi itu.


"Setiap malam kau akan terbangun dua sampai tiga kali karena mendengar tangisannya, biasanya karena dia buat air kecil, dia jarang lapar jika sudah malam begini di beri asi" ujar Dina memberitahu Mely, karena memang bayi itu tidur di kamar Mely.


"Baiklah, aku rasa aku bisa bangun, lagipula siapa pun tentu akan bangun jika mendengar tangisan bayi di tengah malam"


"Aku sudah sering begadang, dan sudah terbiasa jadi aku yakin aku tidak akan kekurangan istirahat"


Dina hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Mely, tentu saja sengaja begadang dan sering terbangun di malam hari karena mengurusi bayi sangat beda, tapi itu membuatnya pusing.Jika Mely berkata sanggup maka dia tak perlu menasehati dengan keras.


"Hmmmm, terimakasih telah mengkhawatirkanku" ucap Mely pelan.


"Aku hanya menasehatimu, kau tidak perlu besar kepala" jawab Dina dingin.


Mely tahu, hakikatnya Dina adalah perempuan baik-baik.Sebagai sesama wanita mereka memiliki hati untuk saling mengerti satu sama lain, di balik kata-katanya Dina tentu bersyukur anaknya jatuh dalam pelukan wanita yang tepat.


Jauh di lubuk hatinya ia memang mengagumi sosok Mely yang mampu melihat kesalahan hanya pada dirinya bukan anaknya.


Andai mereka tidak jatuh hati pada pria yang sama, tentu saat ini mereka bisa menjadi sahabat mengingat sifat mereka yang sama-sama ambisius dan penuh semangat mengejar keinginan.


Namun begitulah takdir Tuhan, mungkin karena sifat mereka yang hampir sama itulah kini mereka menjadi rival.

__ADS_1


Setelah bayi itu tertidur dengan pulas, Dina menyerahkannya pada Mely agar dia bisa membaringkannya di tempat tidur.


* * *


Mely mencoba tidur namun matanya tak mau menutup juga, hari yang sudah larut itu tak sedikitpun membuatnya mengantuk.Akhirnya dia bangkit dan melihat bayi yang sedang tidur pulas.


Geli hatinya melihat senyum di tengah wajah tidur sang bayi, kasih sayang yang dia berikan pada anak itu memanglah tulus tanpa kebohongan.


Justru ia bersedih atas takdir yang menimpa bayi itu, sayang dia harus terlahir diantara dendamnya.Namun meski begitu Mely berdoa juga untuk bayi itu agar kelak nasibnya baik, dan menjadi perempuan baik-baik juga.


Sudah cukup larut tak di sangka Nadin menelpon ingin bicara penting kepada Mely.


"Emang ada apa sih Din, udah malem gini kamu nelpon" tanya Mely.


"Gue pengen tau sebenarnya gimana perasaan lu sama Afdal" tanya Nadin tiba-tiba.


Mely tak langsung menjawab, tentu pertanyaan ini terlalu mendadak untuknya.Selama ini kak Afdal adalah kawan yang selalu setia ada untuknya, bagaimana perasaannya terhadap kak Afdal bahkan dia sendiri tidak tahu.


"Emang ada apa sih, ko kamu tiba-tiba nanya kayak gitu"


"Pokoknya lu jawab aja" desak Nadin.


"Ya.... biasa aja... " jawab Mely akhirnya.


"Denger Mel, gue tahu kalau lu cuma mau balas dendam sama Dina dan Jordan, gue tahu kalau lu udah gak ada rasa apapun sama Jordan.Dan gue tahu juga kalau lu sekarang ini udah ada rasa spesial sama Afdal, gue yakin itu adalah rasa cinta" ujar Nadin membungkam mulut Mely.


"Mel.... meski lu belum sadar tapi gue tahu lu selalu mikirin Afdal, gue harap lusa lu mau pulang ke Bogor buat nyatain perasaan lu sama dia, karena lusa adalah hari terakhir lu ketemu afdal" lanjut Nadin.


"Maksud kamu?"


"Afdal mau pergi Jepang buat nerusin kuliahnya, dan lusa kita semua udah janjian mau nganter dia sampe bandara."


Bagai ada petir yang menyambar hatinya, Mely tak mampu menerima berita yang terlalu mengejutkan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2