Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
Eps. 43


__ADS_3

Langit cerah itu menemani hari kak Afdal dan Mely menelusuri toko di sepanjang jalan, masih bingung mau memberikan kado apa membuat mereka masuk ka dalam toko lalu keluar lagi dengan tangan kosong.


Sampai mereka ke toko yang ke lima, pelayan toko menyambut dengan ramah.Di dalam rak berjejer rapi berbagai macam bentuk dan warna tas, sepintas terbesit dalam pikiran Mely untuk memberikan tas tapi jika ia hanya membeli tas wanita lalu apa yang harus dia berikan untuk kak Deni, desah putus asa dan muka lesu kembali terpampang di wajahnya.


Kakinya berjalan kembali melangkah perlahan sambil melihat semua benda yang ada, hingga akhirnya ia menemukan sesuatu yang cocok untuk pengantin baru.Sebuah teko kecil yang bulat dan dua gelas cantik, dia telah menemukan kado yang tepat.


Mely segera membawa satu paket teko dan gelas itu ke kasir untuk membungkusnya, setelah selesai membayar Mely sadar sedari tadi ia berjalan sendiri saja tanpa kehadiran kak Afdal.


Rupanya kak Afdal asik sendiri melihat-lihat, setelah memberitahu bahwa Mely sudah menemukan kado yang bagus akhirnya mereka beranjak lagi ke toko yang lain.Cukup lama mereka berjalan hingga pada akhirnya kak Afdal memutuskan memberikan selimut sebagai hadiah pernikahan.


"Cape gak?" tanya kak Afdal setelah selesai membayar barang yang ia beli.


"Lumayan sih"


"Ya udah kita cari minum yu!"


Mely mengangguk sebagai jawaban, dan mereka pun kembali menaiki motor untuk mencari kafe atau warkop agar bisa melepas lelah juga namun perhatian kak Afdal terpancing oleh toko buku yang ia lewati hingga akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dan mampir.


"Ada apa kak?" tanya Mely heran karena ia tak melihat kafe atau penjual minuman.


"Bentar dulu Mel gue mau nyari sesuatu dulu di toko buku, lu mau ikut?"


"Oh... ikut deh" jawab Mely.


Kak Afdal pun memarkirkan motornya dan masuk ke dalam toko, seperti sudah biasa datang ia langsung pergi ke rak bagian komik.Matanya intens melihat buku itu satu persatu dan begitu menemukan buku yang ia cari tangannya segera meraih dan membuka buku itu.


"Nyari apa sih kak?" tanya Mely penasaran.


"Ah ini, komik Anima"


"Kak Afdal suka baca komik?"


"Iya, bahkan lu tahu? Cita-cita gue pengen jadi seorang komikus"

__ADS_1


"Wah, serius? ngegambar itu kan sulit kak, apalagi ngegambar buat komik" tanya Mely tak menduga kak Afdal memiliki cita-cita seperti itu.


"Gue tahu, tapi dari kecil hoby gue udah ngegambar, melukis.Jadi gue punya cita-cita pengen jadi komikus"


"Semoga cita-cita kak Afdal bisa tercapai, semangat ya kakak pasti bisa.Dan aku pasti bakal baca karya kak Afdal" tutur Mely memberi semangat.


"Makasih Mel" jawab Kak Afdal.


Ia senang mendapat dukungan dari orang terdekatnya namun mengingat hadiah yang di berikan ayah tirinya membuat senyumnya pudar.Hadiah berupa tiket ke Jepang, rencananya ia akan pergi ke Jepang untuk melihat universitas di sana dan kuliah di Jepang.


Namun setelah bertemu Mely, rasanya sulit pergi jauh darinya.Tiba-tiba tekadnya untuk kuliah di Jepang menciut, bahkan tiket yang di berikan ayah tirinya malah membuatnya galau bukan senang.


"Mel, kita pergi ke rumah gue yu" ajak kak Afdal.


"Mau ngapain?" tanya Mely ragu.


"Gue mau nunjukin sesuatu sama lu"


Setelah menimang akhirnya Mely setuju dan mereka pun pergi, di rumah kak Afdal Mely di biarkan melihat semua hasil lukisan dan komik setengah jadi yang ia buat.Terpana pada gambar cantik dan indah Mely tak percaya bahwa itu hasil tangan kak Afdal.


"Bagus kak, aku gak nyangka lho kak Afdal pinter ngelukis"


Dia hanya tersenyum mendengar pujian yang di lontarkan Mely, mata sendunya menatap Mely lekat.Mencaritahu apa yang di miliki Mely hingga mampu membuat hatinya goyah, cita-cita yang sedari kecil ia jaga dan dia kembangkan karena itu adalah jalan hatinya bahagia, dengan menuangkan imajinasinya dalam bentuk gambar dan cerita.Ia masih payah dalam membuat cerita tapi semua orang yang sudah melihat lukisannya memuji karya indahnya.


Di ambilnya sebuah buku dan pensil, tanpa Mely sadari kak Afdal mulai membuat sketsa wajahnya yang sedang tersenyum kagum melihat hasil karya kak Afdal.


Senja datang tanpa di sadari, mereka ngobrol, bercanda hingga lupa waktu.Mely pun pamit pulang namun tentu kak Afdal tak akan membiarkan Mely pulang sendiri, diantarnya Mely pulang ke rumah.


"Makasih ya kak udah nemenin nyari kado terus di ajak liat lukisan bagus kak Afdal" ucap Mely setelah ia sampai.


"Sama-sama, makasih lu juga mau luangin waktu buat liat karya gue" jawab kak Afdal.


Tak banyak kata yang mereka ucapkan saat itu hanya pamitan kak Afdal yang mengakhiri perjumpaan mereka.

__ADS_1


* * *


Hari yang di nantikan akhirnya tiba juga, hari Jum'at Nadin datang ke rumah tante Isma dan semalaman ia dan Mely membungkus kado dan membuat parsel, hingga tiba hari Minggu dari pagi Mely sudah berdandan cantik dengan kebaya pink.


Nadin pun memakai setelan yang sama dengan Mely, tepat pukul tujuh pagi mereka di jemput mobil kak Deni.Setelah membereskan kado dan parsel di dalam mobil Mely dan Nadin pun naik dan berangkat ke rumah kak Deni.


Di sana semua keluarga dan ada juga kak Damar serta kak Afdal yang kompak memakai setelan jas sudah siap menunggu, dengan semua persiapan yang lengkap mereka pun pergi ke rumah calon sang pengantin wanita.


Bunga-bunga di tata rapi di setiap tempat, foto prewedding yang indah dan sambutan meriah menyambut kedatangan kak Deni dan keluarga.Detak jantung yang berdegup kencang, wajah gugup khas pengantin terpancar di wajah kak Deni yang duduk di samping Sely.


Tangannya menggenggam tangan penghulu dengan khidmat semua saksi menantikan dengan sabar kalimat sakral yang akan di ucapkan kak Deni.


"Saya Terima nikah dan kawinnya Sely Tegar Subakti binti Tegar Subakti dengan mas kawin tersebut tunai"


"Bagaimana saksi sah?" tanya sang penghulu menengok ke kiri dan kanan.


Semua mengangguk dan akhirnya di umumkan bahwa pernikahan ini telah sah, kak Deni dan Sely telah resmi menjadi pasangan suami istri.Mely menghembuskan nafas lega sambil menyeka sedikit airmata yang mengalir di pipinya.


Rasa haru dan bangga menyertai kedua pengantin, tentu kebahagiaan yang tak terkira ini membuat suatu momen yang tak akan terlupakan.


"Mel ayo sini" ajak Nadin meraih tangan Mely yang sedang anteng sendiri.


"Kemana?" tanya Mely sambil mengikuti langkah Nadin.


"Sely mau lempar bunganya, siapa tahu lu yang dapet"


"kalau aku dapat emang kenapa?"


"Menurut adatnya sih kalau lu dapet berarti gak lama lagi lu bakal nemuin jodoh lu" jawab Nadin.


Meski kurang percaya tapi Mely tetap ikut juga, ia dan Nadin berdiri paling depan namun tak dia sangka kak Damar dan kak Afdal juga ikutan berbaris.


Sely dan kak Deni mulai bersiap, tangan mereka menggenggam bunga dengan posisi membelakangi keramaian.Mereka saling menatap penuh cinta dan dengan hitungan ke tiga di lempar nya bunga tersebut ke belakang.

__ADS_1


Jeritan dan teriakan riuh menyambut bunga yang melayang di udara, wajah Mely menengadah menatap ke arah mana bunga itu akan jatuh, tangannya bersiap saat ia yakin bunga itu akan jatuh ke sampingnya, dan benar saja bunga itu jatuh di tempat yang sudah di perkirakan.


Tangannya juga sigap meraih dan ia berhasil memegang bagian kelopak bunga namun tangan orang lain secara bersamaan memegang bagian tangkainya.


__ADS_2